
Usai sholat subuh. Ayah ibunya sudah pergi dengan mambawa begitu banyak makanan untuk orang-orang yang gotong-royong memperbaiki tanggul irigasi yang jebol tadi malam, sehingga membanjiri banyak sawah yang sebentar lagi dituai. Termasuk sawah garapan ayah dan ibunya Patimah
Kali ini hujan lebih awal datang. Padahal biasanya setelah panen besar. Siklus tahunan telah berubah tanpa tanda-tanda dari awal. Biasanya petani memperkirakan musim dengan melihat bintang dan arah angin.
Patimah juga ikut prihatin. Pengasilan ayah pasti banyak berkurang. Dan Patimah hanya bisa pasrah, tahun ini tidak jadi mengganti sepeda kumbangnya yang rusak. Sepeda yang biasa ia gunakan untuk pergi mengajar ngaji di mesjid besar ujung desa.
Sementara diluar, hujan yang tadi sempat berhenti, kembali turun lebih besar. Patimah juga masuk ke kamar, rebah-rebahan, memandang langit-langit rumah, dimana si pencuri hati bersembunyi. Subarkah, ya Subarkah lelaki yang bukan hanya mencuri hatinya, tapi menemaninya kemanapun pergi.
"Kang, andai engkau jodohku. Menjadi suami yang diserahkan Allah untukku. Aku ingin rumahmu yang kecil itu menjadi lebih kecil lagi, agar aku mudah menemukanmu."
Patimah berandai-andai. Lalu ia raih guling disampingnya. Ia peluk erat sekali. Dua bukit besar didadanya berdebar membayangkan wajah Subarkah terjerembab disana. Seluruh kujurnya yang peka, menjalar liar seolah tangan kekar Subarkah menyentuhnya.
Tapi ada kekhawatiran, saat Mang Karya memanggil lelaki itu "Den", Tuan ! Orang yang sangat disegani oleh Mang Karya. Jangan- jangan Subarkah adalah pemilik sawah yang digarap Mang Karya?. Kalau ya ? Patimah berkecil hati untuk bisa menjadi istrinya. Ia sadar, keluarganya orang pas-pasan. Hidup hanya mengandalkan hasil sawah yang dibagi dua dengan pemiliknya. Kalaupun ada lebihnya, itu didapat dari kerja serabutan ayah, yang punya kepandaian jadi tukang bangunan rumah.
"Langsung bawa masuk saja ! Tidak apa belok juga. Kasihan kedinginan!"
Lamunan Patimah seketika buyar. Terdengar orang ribut didepan rumah. Ia cepat keluar kamar. Didapati banyak orang ditengah rumah dengan pakaian pada basah.
Ia melihat ayahnya sedang dipakaikan kain sarung oleh ibu, sambil menangis. Seorang lelaki lainnya sedang mengenakan ayah dengan jaket tebal.
"Ceu, baiknya hari ini juga bawa ke rumah sakit. Kalau setuju, saya mau kedepan cari angkutan pedesaan ya, Ceu?"
Sepertinya Pak RT yang berkata begitu pada ibunya. Sementara ibunya sekilas menatapku, lalu menatap Pak RT. Tidak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Ia seperti orang bingung, Pak RT juga tidak berkata apa-apa lagi, selain pamit, keluar bersama yang lainnya, meninggalkan Patimah berdua dengan ibunya.
'Ayah, tadi mendadak terserang Stroke saat kami rehat di saung karena hujan terlalu lebat dan tanggul yang dari pagi diperbaiki, jebol lagi membanjiri sawah lebih tinggi."
Patimah mendengarkan, lalu menangis mengeringkan rambut ayahnya yang basah. Dilihatnya mulut ayah ketarik ke kanan, hingga hanya bisa menatap Patimah, kesulitan untuk bicara.
"Terus kita harus bagaimana, bu ?" Patimah mencoba bertanya pada ibunya yang masih terisak sambil memijiti kaki ayah.
"Nanti kita berusaha bicara dengan ayah. bagaimana cara mencari biaya untuk membawa ayah ke rumah sakit. Ibu tidak punya uang banyak. Kecuali padi di dapur bekal kita hidup hingga panen nanti."
Ibu sekarang sedikit tenang. Ia usap air mata yang tersisa, dengan ujung kebaya.
"Atau bagaimana kalau kita mencoba pinjam pada Pak Marjuki. Nanti kita bayar dari hasil panen ?"
Ibu memanjangkan lehernya supaya lebih dekat pada Patimah.
"Pak Marjuki ?" Patimah kaget mendengar nama itu. Nama pemilik sawah yang ayahnya garap. Lelaki tua dengan mata jelalatan. Tak malu berdecak saat suatu kali melihat Patimah keluar kamar mandi hanya dibalut selembar handuk. Kebetulan Patimah tidak tahu lelaki itu sedang bertamu di rumahnya.
Tapi mau kemana lagi ? Meminjam pada tetangga yang tidak lebih baik keadaan ekonominya ?"
"Mungkin iya, Bu. Tapi siapa yang akan kesana ?" Patimah bertanya.
"Pastinya harus ibu, nak. Kamu masih anak-anak. Do'akan saja Pak Marjuki mau memberi."
__ADS_1
Jawab ibunya, tangannya mengusap-ngusap rambut Patimah yang tergerai melewati pundak. Hitam mengkilap.
*********************************************
Sudah lebih dari seminggu, Subarkah menahan diri. Jendela Patimah tak pernah terbuka. Ia tak lagi bisa memandang perempuan itu berdiri disana.
"Patimah. Hatiku terlalu gelisah. Harusnya besok aku pindah rumah, ke rumah kecil itu. Tapi entahlah. Aku ingin engkau yang pertama kali mendengar khabar ini. Tapi bagaimana kusampaikan jika aku tak tahu engkau dimana."
Subarkah kembali memandang jendela. Kerinduannya menjelma menjadi kecemasan teramat sangat. Ia cemas perempuan itu melupakannya.
"Om Barkah, nyari Kak Imah, ya ?"
Wati bergelayut dilengan Subarkah. Seperti tahu apa yang ada difikiran Subarkah
"Kak Imah, paling juga di Rumah Sakit, Om "
Wati tengadah, melihat raut Subarkah yang kaget.
"Ayah Kak Imah sakit"
Wati meneruskan ucapannya. Melepaskan gayutannya di lengan Subarkah, berlari ke arah temannya yang berdiri di sisi tepas rumah.
"Sakit ? Sakit apa hingga harus rawat inap ?"
Besoknya Subarkah mendapat khabar dari Mang Karya, sakitnya ayah Patimah dan dirawatnya dimana. Hari itu juga, Subarkah pergi untuk menengok ayah Patimah. Membeli dulu buah-buahan dan kue, sekedar oleh-oleh di Pasar Kecamatan.
Sesampainya di bangsal tempat ayah Patimah dirawat, ia melihat Patimah duduk bermenung di kursi panjang teras Rumah Sakit.
"Asalamualaikum."
Subarkah mengucapkan salam. Patimah terjenghak demi melihat lelaki didepannya.
"Alaikum salam."
Pelan, hampir tidak percaya, bayangan lelaki yang selalu mengikuti kemana ia pergi, tiba-tiba sosoknya nyata, berdiri dihadapannya.
"Kang.." Masih sama pelan.Lalu berdiri
"Dengan siapa Kang ?" Lanjutnya sambil mengedarkan mata ke sekeliling.
"Sendirian. Mang Karya masih ada sedikit pekerjaan "
Patimah diam. Hatinya penuh debar kebahagiaan.
Sejenak bisa melupakan kesedihan dan kecemasan pada ayahnya yang berbaring lemah diranjang bangsal.
__ADS_1
Subarkah menyerahkan bawaannya, sambil minta diperkenalkan pada ayah ibu Patimah, yang kemudian menerimanya dengan ramah. Mereka berempat hanya mengobrol ramah tamah, memperkenalkan diri masing-masing. Terutama Subarkah yang merasa jadi pendatang baru di desa. Hingga akhirnya keluarga Patimah tahu bahwa Subarkah orang dari kota, pemilik sawah yang selama ini digarap oleh Mang Karya.
Tapi hal itu justru membuat Patimah menjadi was-was. Dugaannya berarti benar. Subarkah, anak orang kaya.
"Kok diam saja ? Jangan terlampau bersedih, karena tiap orang membawa takdirnya sendiri."
Setelah diluar, duduk berdua di kursi panjang, Subarkah mulai membuka obrolan demi melihat Patimah hanya diam.
"Aku tidak tahu, harus berucap pada Akang,
selain rasa heran, Akang menjenguk kesini, padahal Akang bukan siapa-siapa keluargaku "
Patimah menjawab ucapan Subarkah sambil menunduk mempermainkan ruas jarinya.
"Tadinya ya bukan siapa-siapa, makanya aku datang kesini, agar aku bisa jadi siapa di keluargamu "
"Maksudnya ?"
"Maksudnya, aku ingin mengenalmu dan keluargamu lebih dekat"
Subarkah menjelaskan, lalu diam beberapa saat. Ia nekat saat ini ini akan menyampaikan
perasaan yang lama ia pendam.
"Patimah, tataplah mataku " Subarkah meneruskan hingga Patimah menatap tajam matanya.
"Sejak pertama kali aku melihatmu berdiri di jendela, aku tak bisa menahan diri untuk melihatmu lebih dekat. Lalu Tuhan mempermudahnya saat aku bisa melihatmu lebih dekat di rumah yang nantinya akan kudiami " Subarkah lagi-lagi diam sejenak. Tenggorokannya terlalu kering dan berat untuk menyampaikan niatnya.
"Lalu ? " Patimah menyela. Lelaki itu terlalu lama untuk meneruskan kata-katanya.
"Lalu,... Lalu aku merasa sejak itu, engkau telah mengikat hatiku teramat erat, dengan selalu mengingingatmu, dan aku sadar, aku telah jatuh cinta padamu, Patimah." Tenggorokan Subarkah kembali basah, lega rasanya telah bisa menyampaikan perasaannya dengan lugas.
Sama halnya dengan Patimah. Ia merasa bahagia, bahagia sekali mendengarnya. Ia tak menduga Allah secepat itu menjawab pertanyaan dalam jiwanya, tentang lelaki yang akan diberikan untuknya.
"Terus, bagaimana jawabanmu, Patimah?"
Subarkah menunggu jawaban dari perempuan yang hanya diam, menatap begitu lekat dirinya yang berharap-harap cemas
"Aku juga Kang, sama," Patimah akhirnya menjawab lemah.
Langit di ubun-ubun Subarkah terang benderang karena kebahagiaan. Gayung itu bersambut. Ingin sekali ia memeluk perempuan yang ada didepannya, lama, lama sekali.
"Terima kasih, ya Allah.."
* Aih si Akang Berbunga... ayok kang semangat yeuhhh... *
__ADS_1