
Sampai saat ini Subarkah cukup puas dengan pencapaian hasil tanam dan panen yang didapat dari setengah lahan yang baru bisa digarap. Karena permintaan pasar yang makin meningkat terutama dari super market lokal yang menjual berbagai sayuran. Ia tak lelah melakukan terobosan-terobosan baru sesuai bidang keilmuan yang didapat selama kuliah di Bangkok. Tentang bagaimana membagi lahan dan waktu menanam agar bisa panen setiap hari. Memberi sentuhan teknikal untuk membantu kebutuhan nutrisi bagi setiap tanaman saat alam menggati musim dari hujan ke kekeringan. Pemberian pupuk dan pemangkasan sesuai takaran, hasilnya disortir sesuai peruntukan yang tepat untuk swalayan atau ke pasar tradisional. Dicatat, dibukukan, menjadikan keseharian Subarkah jadi cukup menyibukan. Dilain sisi, para pekerja yang rata-rata orang desa setempat, bisa belajar cara bertanam yang baru, jenis pupuk dan obat yang baru, memberi banyak manfaat bagi masyarakat sekitar.
"Bos muda kita ini, pekerja keras, sekolahnya luhur, prilakunya santun " Beberapa pekerjanya memberi penilaian.
"Sayang ya, dia tidak jadi nikah dengan orang sini, padahal kalau jadi dengan Patimah, sejak dulu kita bisa bekerja padanya "
Yang lainnya berkata yang lain pula. Sementara orang yang sedang dibicarakannya, penasaran karena mendengar suara ribut ibu-ibu ditempat sortiran, dilantai bawah tempatnya berada.
Ia melihat kebawah dari jendela yang terbuka, melihat pekerjanya yang perempuan sedang menyalami seorang perempuan lainnya yang mengenakan pakaian terusan berwarna hitam dan juga berkerudung hitam.
Subarkah terus memandang walau yang kelihatan hanya punggungnya saja, karena perempuan itu dalam posisi membelakanginya. dan ketia perempuan itu menolehkan wajahnya, Subarkah terbelalak, kakinya kaku tidak bisa bergerak,hingga tangannya spontan meraih kain gorden yang ia geser hingga menghalanginya untuk bisa dilihat dari arah luar.
"Patimah..."
Lalu dari balik gorden itu ia mengintip, menatap perempuan itu yang kemudian posisinya lurus menghadap ke arahnya
"Ya, Patimah...Ya Allah " Subarkah kembali menyembunyikan wajah dibalik tirai, jantungnya lebih kencang berdegup. Mengingat-ngingat wajah itu yang sekarang berubah lebih padat terbentuk dan auranya benar-benar keluar, seperti berkata
"Subarkah, aku muslimah yang taat ! Aku yang sehari bisa berkali-kali membasuh mukaku dengan air wudhu !"
Ia kembali melihat sosok perempuan itu menyeluruh, seperti takut tubuh itu hilang dari pandangannya. Takdir telah menuliskan, hanya Patimah, Patimah saja perempuan yang sanggup menggetarkan jiwanya.
"Andai aku bisa lebih dekat melihatmu, Patimah. Biarlah aku mati, asal aku bisa menatapmu lebih lama, agar aku bisa menyentuhmu walau hanya menyentuh bangir hidungmu.."
Subarkah rasanya gila. Bagaimana nanti kalau perempuan itu pergi ? Ia tahu akan sangat kehilangan, ia tahu duri akan datang lagi, menusuk-nusuk sepotong hatinya yang tertinggal karenanya.
__ADS_1
"Patimah, mengapa engkau menampakan wajahmu lagi ?" Subarkah terduduk dilantai, menjambaki rambutnya, menyesali mengapa dulu ia tidak peka saat ayah Patimah dirawat berlama-lama di rumah sakit, harusnya ia tahu keluarga Patimah tidak mungkin bisa membiayainya. Harusnya saat itu ia lebih cepat menawarkan sejumlah uang, dengan demikian Patimah tidak terjerat dengan hutang budi pada si tua bangka itu !
Beberapa saat kemudian Subarkah berdiri lagi, melongok keluar dari jendela. Patimah sudah tidak ada disana. Diedarkan matanya ke sekeliling, juga tidak nampak wujudnya. Subarkah segera turun kebawah, menuju ke arah jalan. Ia lihat perempuan yang dicintainya setengah mati sudah berada diatas motor ojek, melaju dan hilang di tikungan jalan.
Subarkah tak sadar, tingkah lakunya tak lepas dari perhatian seorang ibu, yang hingga kini menyesali dirinya menjadi orang yang kekurangan hingga tidak bisa menyatukan anaknya, Patimah dengan lelaki muda yang ia terus pandang dari kejauhan. Ia lama faham, hati mereka terikat satu sama lainnya, saling mencintai walau cintanya sudah patah ditengah jalan.
"Den Subarkah, Patimah. Maafkan ibu..."
Ia berjalan ke kamar mandi, disana Ia menangis sesegukkan, lama..., Lama sekali.
*********************************************
Pak Marjuki tak melepaskan pandangan walau sedetik pada sosok Patimah yang dari tadi sibuk menyapu halaman dilanjutkan menyiram tanaman menggunakan selang panjang. Cantik dengan baju kurung berwarna berwarna hijau daun dan kerudungnya dililitkan dileher lalu ujungnya digulung dibelakang kepala, menyerupai gelung, kelihatan menjadi lebih anggun. Apalagi kalau orang tau, dibalik pakaian yang dikenakannya, orang mungkin akan mati berdiri, bagaimana tidak ? Ia tahu benar setiap lekuk tubuh istrinya pada saat berdandan sehabis mandi.berlama-lama didepan cermin dengan pakaian dalaman saja, ia benar-benar buah yang ranum, takkan pernah cukup sekali untuk memetik dan mencicipinya.l
"Hai ! "
"Matanya, sayaaaang !"
Tersadar, tahu- tahu Patimah sudah berdiri dihadapannya, memegang kedua pipi Pak Marjuki, diakhiri dengan memencet hidungnya, lalu berjalan lagi kehalaman, membereskan semua peralatan, menyimpannya ditempat asalnya.
"Aku mandi dulu ya Pak ? Atau mau kutambahkan dulu air tehnya? "
"Sudah cukup. Mandilah !" Pak Marjuki benar-benar dibuat senang melihat tingkah istrinya pagi ini. Seandainya tak ada dia dirumah mungkin sulit menghabiskan bergulirnya hari, tak akan ada orang yang akan mampu membuatnya tersenyum, walau kemudian ia bertanya pada diri sendiri.
"Mau sampai kapan ?"
__ADS_1
Lalu ia menghampiri cermin, melihat wajah tua berdiri disana, tambun dengan gelambir daging bergayut dibawah matanya. Berdirinya mulai bungkuk sebatas tengkuk dan andai cermin bisa melihat caranya berdiri, ia sudah mulai limbung dan matanya berakhir di resleting celananya yang sedikit longgar.
Ia menarik nafas panjang sadar isi dibaliknya sudah lama tidak berfungsi. Harusnya itu menjadi resiko bathin bagi istrinya yang tida pernah bisa diberikanbahkan istrinya. Bahkan suatu ketika istrinya itu pernah keceplosan berkata
"senggama dengan istri itu shodaqoh "
Tapi setelah ia menyadari kalimatnya itu tidak pantas diucapkan didepan Pak Marjuki, suami yang tak mampu melakukan itu, istrinya menambahkan.
"Kulu Ma'ruf shidaqotun. Setiap kebaikan itu shodaqoh."
Tapi wajahnya berubah pucat. Pak Marjuki tahu mungkin ia takut dirinya marah, makanya Pak Marjuki mengalihkan ke pembicaraan lain. Tak ada yang salah dengan ucapannya itu, yang salah adalah dirinya, dulu sebelum menikahi Patimah dan masih beristri perempuan muda dari desa lain, Pak Marjuki sudah mulai merasakan tanda-tanda penurunan itu, hingga perkawinannya terdahulu berakhir, karena istrinya lari dengan lelaki lain yang jauh lebih muda darinya.
Sementara istrinya yang sekarang, belum kelihatan tanda-tanda dalam dirinya menyimpan pengkhianatan, karena selalu menyelimuti kehormatan atas agamanya, atas ibadahnya yang kuat, selalu mengukur akhlak prilakunya dengan syari,'ah.
"Ya Allah, beri aku petunjuk jalan dalam menghadapi masalah ini "
Seketika Pak Marjuki ingat pada Robbnya, dzat yang begitu lama tidak diserunya. Ia begitu takut suatu waktu istrinya berubah dan meninggalkannya, tapi disisi lain ia iba pada istrinya itu, ia buah yang ranum, sudah selayaknya dipetik dan dinikmati sebayanya, dibawa ke puncak gairah mudanya. Sudah cukup ia mendampinginya, lelaki tua yang tak bisa memberikan nafkah bathin kepadanya. Padahal Pak Marjuki sadar, istrinya bukan malaikat, tapi manusia biasa, menginginkan pemenuhan hasrat alamiahnya, dihangatkan dalam dingin malam-malamnya yang selama ini hanya didampingi lelaki tua yang telah dimatikan hasrat kelelakiannya.
Maka sebelum istrinya selesai mandi, ia pesan pada Bi Isah pembantunya, bahwa ia akan pergi ke rumah anak sulungnya, Tini.
Ia telah membuat keputusan yang hanya dirinya yang tahu.
"Ya Pak, nanti saya sampaikan pada ibu."
Pak Marjuki tertatih- tatih keluar halaman, naik angkutan umum, karena takkan cukup waktu jika harus memanggil sopir yang biasa ia sewa untuk membawa mobil mewahnya, yanga lama terparkir di garasi. Ia tak ingin istrinya ikut, yang pasti akan menjadi penghalang tekadnya, tekad membuat istrinya, Patimah yang baginya sudah lebih dari layak untuk bahagia.
__ADS_1
"Patimah, maafkan bapak "
* BERSAMBUNG*