
Pak Herlan geram karena Pak Subrata menolak ketika ia akan mengirim barang yang biasa ia terima
"Maaf Pak, saya belum bisa menerima barang lagi dari bapak, saya merangkak lagi sekarang, order besarnya sudah memutus kerja sama."
Jawaban Pak Subrata datar saja terdengar ditelephone. Tidak ada kecemasan seperti empat bulan yang lalu ketika untuk pertama kali ia putuskan tidak mensuplai barang padanya, sementara barang di gudang sudah overkapasitas.
Ia pada akhirnya menyesali keputusan yang telah diambilnya dulu, karena ia kira bisa mendikte Pak Subrata dan bisa memaksa anak lelakinya, Subarkah untuk menikahi anak perempuannya, Nenti, yang begitu ngebet ingin bersuamikan Subarkah.
Sekarang ia bingung mau dikemanakan barang yang sudah bernilai milyaran harus didistribusikan menumpuk di gudang, sementara untuk membayar karyawan, pinjaman dari bank sudah menipis? Disisi lain, Nenti anak perempuannya terus saja mendesak
"Gimana, Yah? Mau bilang sabar lagi? Kalau gak becus, bilang saja, biar aku mengurus sendiri."
Kemarin anak perempuannya itu sudah marah-marah lagi. Terakhir dia memaksa meminta sejumlah uang puluhan juta.
"Sudahlah, sekarang ayah tidak usah melakukan apa-apa. Transfer saja uangnya sekarang juga!"
Kata-kata itu sebenarnya menohok hati Pak Herlan yang berfikir, anaknya makin kesini, makin tidak sopan. Tapi mau berkata apa? Ia sangat sayang pada anak perempuannya itu, hingga saat itu ia langsung mentransfer uang yang diminta ke rekeningnya, entah apa yang akan dibuatnya, terserah, ia percaya Nenti sudah lebih dari dewasa untuk bertindak dan mengurusi diri sendiri.
Ia sendiri kemudian memutuskan menghubungi lagi Pak Subrata, menawarkan barangnya lagi dengan penawaran jauh dibawah harga seharusnya. Ia tahu keputusannya itu akan membuat kerugian yang sangat besar. Tapi tidak ada pilihan lain, karena kalau barang tetap digudang terus, operasional perusahaannya bisa mati.
"Saya tidak janji, Pak. Saya minta waktu dua hari untuk menghubungi rekanan saya "
Jawaban Pak Subrata itu tidak sesuai dengan yang ia harapkan, tapi setidaknya cukup menenangkan Pak Herlan dihari itu.
Dilain pihak, Pak Subrata segera menelphon Subarkah, nadanya begitu memohon agar anaknya itu bisa menemuinya hari itu juga, dan syukurnya, Subarkah menyetujuinya. Ia respeck lagi pada papinya, setelah ia tahu, melakukan apa yang dulu disarankan olehnya.
"Ya, Pih. Barkah berangkat sore setelah jam kerja selesai."
Pak Subrata sungguh senang, makanya malam setelab anaknya datang, langsung ia ajak ke kantornya, memetakan kondisi perusahaan dengan prospek hingga resiko atas penawan Pak Herlan padanya. Ia percaya felling bisnis anaknya lebih baik daripadanya.
"Barkah hanya bisa menyarankan, Ayah bisa saja menerima kembali suplai dari Pak Herlan, tapi skalanya jangan melebihi volume suplier
yang sudah ada." Dan seterusnya, dan seterusnya hingga setelah bicara Subarkah selesai, Pak Subrata menepuk-nepuk pundak anaknya. Ia bangga pada Subarkah yang begitu hati-hati dalam mengambil keputusan dan malam itu juga Pak Subrata langsung mengirim berita via email tentang kesanggupan membeli barang dari Pak Herlan dengan volume dan harga yang akan diberikan
Keputusan itu sekali lagi tidak sesuai dengan yang diharapkan Pak Herlan, setelah membaca email yang diterimanya dari Pak subrata, tapi setidaknya membuka kebuntuan fikirannya, siapa tahu kedepan akan naik, naik dan pengiriman kembali seperti semula. Dalam hati Ia mengucapka terima kasih pada rekanannya itu, setidaknya, perusahaannya bisa operasional, sebulan kedepan.
Siangan, Subarkah pulang kembali ke rumah nya didesa, setelah menerima khabar via Whats app dari Patimah, yang meminta disiapkan lokasi untuk kantor Patimah, ia mengatakan akan membuat divisi baru dalam perusahaan, yang rinciannya nanti dibicarakan setelah bertemu. Khabar yang membuatnya berbunga-bunga, karena nanti ia akan melihat setap hari, perempuan yang sangat ia rindukan dan ia citai.
"Aku lihat kemarin, sayuran yang afkir serta daun tanaman paska panen ditumpuk begitu saja, ya?"
Itu kalimat pertama yang dilontarkan Patimah pada Subarkah sambil berdiri didepan tempat sortiran, dimana beberapa perempuan bekerja dan sesekali memandangi keduanya.
"O,ya. Kenapa?" Jawab Subarkah yang sejak tadi matanya memandang Patimah dari atas kebawah, dari bawah keatas, mengagumi cara berpakaian Patimah yang makin kesini makin modis dengan tetap menonjolkan diri sebagi muslimah sejati, karena tidak sedikitpun memperlihatkan aurat di tubuhnya.
__ADS_1
"Aku terfikir saja, untuk menjadikannya ekonomis, misalnya memelihar kambing atau sapi, atau mungkin bisa dibuat pupuk?"
Wow, Subarkah benar-benar terkesan dengan ide Patimah begitu, tak menyangka perempuan yang dulu langkahnya hanya sejauh rumah ke halaman, sekarang langkahnya sudah sangat kedepan, melampaui fikiran yang selalu ia banggakan, sebagai master, lulusan S2 luar negeri!
Pembicaraan dilanjut dengan lokasi yang nantinya akan dibuat sebagai kantor Patimah. Ia kemudian menunjuk tempat berdampingan dengan kantornya, tapi dijawab dengan cekikikan kecil
"Maunya, ya? Aku ingin disana, dan harus disetujui. Siapa dulu yang meminta, Pak Subarkaaaaah. Yang meminta, kalau tidak salah pemegang saham terbesar ya?" Patimah tersenyum lebar, pamer giginya yang berbaris rapi.
"Disana! dan anda harus setuju,oke?"
Telunjuk bentik itu menunjuk lahan kosong di seberang kantor Subarkah yang geli dengan semua perkataan perempuan cantik didepannya.
"Iya, Bu. Perintah dilaksanakan." Subarkah mengiyakan sambil melakukan gerakan tentara dalam barisan. Sikap sempurna, sementara Patimah tersenyum pahit.
"Aku juga ingin disana, Kang. Ngantor berdampingan agar sewaktu-waktu bila aku merindukanmu aku mudah kemana harus menemukanmu, memelukmu, bersandar dibahumu."
Hati kecil Patimah berkata begitu, lalu ia pamit pulang pada pada Subarkah dan orang-orang yang bekerja di tempat sortiran, yang sebagian bertanya-tanya, ada hubungan apa antara bos mudanya dengan Patimah, perempuan yang mereka kenal sejak kecil. Perempuan ramah, prihatin, mandiri dan pendirian terhadap agamanya sangat kuat, sehingga selepas tamat tsyanawiyah, dipercaya untuk mengajar ngaji anak-anak dan remaja di mesji besar ujung jalan. Perempuan yang sekarang mereka lihat berpenampilan berbeda, anggun, cantik, menyetir mobil van mewahnya, sendiri, keluar dari area tempat mereka bekerja.
"Jika Allah berkehendak..." Bisik hati mereka, lalu kembali bekerja.
******************************************
Meeting hanya dikakukan sebentar, karena tidak banyak yang harus dibahas. Tujuan utamanya hanya membertiahukan tentang lahan baru yang sekarang sudah digarap dan sebagian besar sudah ditanami berbagai sayuran dan buah-buahan perdu, dijelaskan Subarkah sebagai milik Patimah
Subarkah menyampaikan hal pokok meeting hari itu. Ia kemudian menjawab pertanyaan dari beberapa pekerjanya
"Sampah mau diapakan, saya juga belum tahu, juga cara penggemukan ternak juga saya tidak tahu. Nanti beliau sendiri yang menyampaikan, Insya Allah minggu depan, setelah kantornya selesai didirikan."
Subarkah menghentikan dulu bicara, matanya menyapu keseluruh orang yang hadir. Orang-orang yang kala itu saling pandang.
"Patimah yang anaknya almarhum Pak Parmin?"
Nampak seorang lelaki setengah baya, bertanya pelan pada orang disampingnya.
"Iya, Kang. Beberapa hari yang lalu juga, katanya ia kesini."
"Anaknya saya tahu, tinggi kurus, dulu kan suka mengajar ngaji "
"Stttt..."
Orang yang sebelahnya, memberi tanda untuk diam, karena bos muda yang berdiri dibagian depan mulai lagi bicara.
"Tolong nanti kalau beliau sudah masuk, perlakukan dia dengan baik, serta laksanakan yang dia perintahkan. Anda harus tahu, sekarang beliau pemilik 60% saham perusahaan ini."
__ADS_1
Orang-orang terdiam hingga meeting selesai dan bos muda kembali masuk ke kantor kerjanya. Setelah itu mereka baru gaduh, terdengar seperti ratusan tawon terbang, membicarakan Patimah, gadis desa yang mereka tahu, melewatinya dengan kemiskinan, karena hanya anak kuli serabutan, tiba-tiba menjelma menjadi perempuan hebat dengan kekayaan yang banyak.
"Dia lain, tidak seperti umumya, kaya sedikit sudah beda tingkahnya, langsung ingin di puji-puji dan dihormat, lihat orang miskin, mencibir "
"Kamu tahu dari mana? Memangnya sudah bertemu ? "
"Belum sih, itu khabar dari ibu-ibu di tempat sortiran, beberapakali mereka bertemu, katanya Patimah hanya penampilannya yang berbeda, jadi ngota, tapi tetap ramah dan santun kalau bicara"
Mereka baru berhenti bicara setelah mendengar suara bel yang dipijit penjaga didepan, ditempat jaganya, menandakan lima belas menit lagi waktunya shalat dzuhur berjamaah. Lalu mereka bubar, yang laki-laki berjalan menuju mushola di area perusahaan, sedangkan ibu-ibu biasanya makan dulu, nanti mereka nenyusul setelah yang laki - laki keluar dari sana.
Sementara itu, Patimah duduk dijok kiri mobilnya, kelihatan agak mengantuk, disopiri Mang Amir keluar dari tol menuju jalan arteri arah rumahnya. Ia keletihan setelah setengah hari out door mengikuti materi pelajaran di tempat kursus kilat pemeliharaan sapi, setelah minggu kemarinnya juga, Patimah mengikuti kursus kilat juga tentang pengelolaan sampah. Ia benar-benar fokus untuk proyeknya.
Mata Patimah baru kelihatan sedikit segar ketika Mang Amir membuka pintu gerbang rumahnya. Ia turun sebelum pintu garasi. Setelah ia didalam, nampak ibunya sedang ngobrol ditengah rumah. Kemarin ia senang karena akhirnya ibu mau diajak pindah kesini, setelah beberapa kali mengulur waktu.
"Bi Isah, siapa dulu yang mengurut aku disini, Ibu-ibu tua itu ?"
Setelah mengucap salam, dan mencium tangan Bi Isah dan ibunya, Patimah bertanya sesuatu pada bi Isah.
"Ma Esih, maksud, Eneng ?"
"Ya, itu. Dimana rumahnya ?
"Deket, Neng dibelakang rumah Si Amir"
"Tolong dong, kaki aku pegel sekali dan bilang sama Mang Amir, suruh istirahat saja di rumah, hari ini aku tidak kemana-mana lagi "
Kata Patimah sambil masuk ke kamar, mengganti pakaian denga celana span pendek dan kaus oblong menunggu orang yang akan mengurutnya datang, ngobrol dengan ibunya, seperti anak kecil, ia sandarkan kepala di lahunan ibu yang kemudian mengusap-ngusap rambut Patimah. Ia ingat ketika anaknya itu menangis karena tidak dibelikan baju lebaran terisak-isak dilahunannya hingga tertidur, Besoknya ketika anak-anak lain yang sebaya dengannya suka cita, hilir mudik dijalanan, ia hanya mengintip dibalik pintu, menggigiti kuku jari dengan wajah basah air mata.
Tapi sekarang apa yang terjadi ? sekarang ia telah tumbuh begitu dewasa, menjadi perempuan mandiri dan bisa menaikan derajat keluarga sedemikian tinggi.
"Anakku, ..."
Air mata terhimpun disudut mata, ia sentuh dengan ujung jari telunjuk, lalu fikirannya melayang
"Ya Allah, beri hambamu ini umur panjang, aku ingin melihat anakku bahagia. Tidak apa walau sebentar, sebelum engkau menjemputku mati."
Doanya terpotong. Terdengar Bi Isah membuka pintu, ia datang bersama seorang perempuan tua yang mengikutinya dari belakang.
"Nak, ayo bangun "
Ia tepak-tepak pipi anaknya yang tertidur, kemudian bangun dan tiduran kembali di tikar di dalam kamar dengan posisi tengkurap, merasakan pijitan Mak Esih di bitis, lalu ia tertidur lagi sejenak dan terbangun lagi ketika Bi Esih menyuruhnya terlentang memijit pelan dari perut ke dada. Ia ingin lebih lama disana, karena di kepalanya sudah menjelma lelaki yang selalu dirindukannya. Ia terjerat lamunan, ketika tangan itu tangan Subarkah, memijit-mijit dua gumpal daging didadanya, pelan penuh gairah.
* MASIH BERLANJUT*
__ADS_1