PATIMAH SAJA

PATIMAH SAJA
BAB 12


__ADS_3

Satu bulan terakhir Patimah merasa sangat heran. Suami dan dua anak sambungnya mulai suka memaksa. Pertama ia dibelikan mobil jenis van baru keluaran terbaru, kata suaminya khusus untuk dirinya bepergian


"Aku mau kemana ? Kalaupun mendesak kan bisa pakai mobii, Bapak ?


Ketika dijawab begitu, suaminya malah marah. Akhirnya Patimah menerimanya. Lalu besoknya datang anak sambungnya yang sulung, memaksa ia belajar membawanya sendiri diajari Tini dilapang bola. Besoknya Tina yang ganti mengajarinya hingga kurang dari sebulan Patimah bisa nyetir mobil sendiri.


Kedua. Sudah dua kali Tini dan Tini membawa dirinya belanja dibutik dan pusat pertokoan mahal, dibelikan hampir selusin pakaian, jam tangan hingga kacamata gaya dengan merk ternama. Ketika ia menolak, keduanya memaksa, akhirna ia menerimanya.


"Sesekali Mama Imah harus menikmati hidup, sampai ditemukan dalam agama, belanja itu dosa, bergaya itu dosa, nyetir sendiri itu dosa "


Kakak beradik itu cekikikan sambil mendandani ibu sambung yang disayanginya.


"Coba sekarang Mama Imah berdiri."


Patimah berdiri dengan perasaan geli melihat kelakuan kakak beradik itu


"Tuh kan, syantiiiiik !" Tini mengomentari penampilan ibu sambungnya dibalik cermin. Jujur ia cemburu melihat wajah dan tubuh ibu sambungnya itu, wajar kalau ayahnya sempat tergila-gila.


"Sekarang dicoba kacamatanya" Kali ini Tina yang memasang kacamata lebar berwarna hitam ke wajah Patimah.


"My God ! Mama aku ingin menangis, cantiknya Mama ! " Tina memekik hingga terdengar ke tengah rumah dimana Pak Marjuki sedang asyik nonton tivi. Ditariknya tangan Patimah, dituntun ke depan ayahnya. Pak Marjuki yang hampir tidak percaya kalau yang berdiri didepan adalah Patimah istrinya. Kerudung yang membungkus kepala dan Switer yang menutupi tubuhnya serasi dengan celana bray bray lebar yang dikenakannya, menjadikan Patimah terlihat, cantik, anggun, mempesona dan elegan, seperti muslimah modis yang sering dilihat Pak Marjuki di kota-kota besar. Ia hampir saja bimbang dengan keputusan yang telah direncanakan sejak awal dengan kedua anaknya.


Besok siangnya, padahal hari Minggu, Tini dan Tina kembali datang, suaminya terlihat gugup saat ia menyuruh Patimah ganti pakaian dengan alasan mau mengajak jalan-jalan.


Mobil disetiri Tini. Pak Marjuki di jok depan, sementara Tina dan Patimah berdua di jok tengah. Tak ada satupun yang bicara. Namun pada saat mobil mulai masuk ke jalan desa arah rumahnya, Patimah memberanikan diri bertanya


"Pak sebenarnya kita mau kemana? " Patimah mencondongkan tubuh ke arah suaminya


"Nanti juga tahu." Suaminya menjawab singkat, setelah itu menolehkan lehernya ke arah kaca jendela, memandang hamparan sawah yang mulai menguning.


Patimah coba menatap Tina. Tapi Tina juga langsung menoleh ke arah luar. Akhirnya Patimah diam hingga mobil berhenti di depan rumahnya. Kelihatan ibunya yang sedang duduk di tepas rumah kaget atas kedatangan Patimah dengan suaminya disertai dua anak tiri Patimah. Ia segera mempersilahkan masuk pada semuanya


"Sengaja saya datang menemui ibu, disertai kedua anak saya, biar mereka jadi saksi pada apa yang akan saya sampaikan "


Setelah beberapa lama mereka duduk di tengah rumah, beralaskan tikar pandan, Pak Marjuki mulai berkata.


Patimah dan ibunya tidak menyela, sampai ia tahu apa yang mau disampaikan Pak Marjuki.


"Saya dengan Patimah, sudah empat tahun jalan, berkeluarga. Terima kasih terutama padamu Patimah, engkau telah mengurusiku dengan sabar dan telaten, hingga kesehatanku berangsur membaik, tentu ini terkait dengan ibu, ibu yang telah mendidik Patimah dengan baik hingga bisa menjadi perempuan sholeh, menjadi istri yang memuliakan suami,"


Pak marjuki diam beberapa saat. Patimah masih menunduk, menyimak apa yang diucapkan suaminya.


"Sampai saat ini, saya tidak pernah satu kalipun tersakiti Patimah dengan ucapan ataupun perkataan. Hanya saja beberapa bulan terakhir saya merasa jadi manusia yang paling berdosa, karena ketidak mampuan saya, menafkahi nafkah bathinmu, Patimah,"


Dikalimat terakhir, suara Pak Marjuki terdengar bergetar. Patimah mengangkat wajah dari menunduknya. Ia merasa suaminya tidak pantas membuka aib dirinya didepan ibu dan dua anak sambungnya.


"Aku tidak mengerti ke..."


"Diam dulu Patimah!" Pak Marjuki memotong perkataan istrinya, kelihatan agak marah.

__ADS_1


"Diam dulu, saya belum selesai bicara." Pak Marjuki tidak mau memberi kesempatan orang lain untuk bicara, sampai ia mengucapkan maksud sebenarnya.


"Dengar Patimah, kau masih muda dan kau berhak bahagia, jangan lagi kau terkungkung oleh ketaatanmu pada agama, empat tahun sudah, kau mengorbankan diri untuku dan tak pernah sakalupun kau mengeluh ! Itu membuatku sedih Patimah! "


Mendengar itu Patimah merasa sangat kasihan, ia rangkul Pak Marjuki. Tina, Tini dan ibunya Patimah terjajar dari duduknya


"Jangan katakan itu lagi, jangan katakan itu lagi, aku menyayangimu, aku menyayangimu !


Aku tak butuh nafkah bathin, aku hanya ingin bersamamu !" Patimah memukul-mukul kiri kanan pipi suaminya, lalu memeluknya lagi, terdengar tangisnya meruncing, menusuk hati yang mendengarnya, hingga semua ikut menangis.


"Dengarkan dulu Patimah, dengarkan dulu.."


"Tidak, aku tidak mau mendengarnya ! Tak perduli kamu marah karenanya. Aku tidak mau mendengar apapun! Aku tau kalian sudah sekongkol merencanakan ini, sepakat mejadikan aku jadi seorang istri yang gagal mengabdi pada suaminya " Mata Patimah mengedar wajah Tini dan Tina, yang langsung bergidik, betapa ibu sambungnya itu, ibu yang kuat.


"Ma, jangan libatkan aku dan Tina. Kumohon, ya benar apa yang dikatakan mama, tapi aku dan Tina, hanya mendukung saja. Aku, ayah dan Tina hanya ingin melihat mama bahagia, Ma?" Tini akhirnya memutuskan ikut bicara sambil berdiri, memeluk ayah dan Patimah, disusul Tina.


"Yah, Ma ayo kita pulang. Anggap pembicaraan ini tidak terjadi. Aku juga sama, Yah, tidak mau mendengar ayah berkata-kata lagi '"


Ditariknya tangan ayah dan ibu sambungnya itu supaya berdiri. Keduanya menurut. Lalu didorong keluar dengan sebelumnya minta permisi pada ibunya Patimah yang hatinya lega kembali. Ia bangga dengan anak perempuannya itu, karena telah menjadi istri yang dikatakan nabi, mendudukan suami ditempat paling tinggi.


*****************************************


Hampir tengah malam Subarkah menyuruh penjaga malam untuk memanggil orang kepercayaannya, Mang Karya. Barusan ia menerima telephon dari maminya yang mengabarkan, papinya sakit.


Subarkah memberitahukan Mang Karya, satu atau dua hari kedepan akan pergi melihat papinya yang mendadak sakit, sembari memberi arahan apa-apa saja yang harus dilakukan selama kepergiannya.


Mang Karya sepertinya mengerti, maka seterusya Subarkah pergi mengendarai mobil Jeepnya, setelah sebelumnya menyerahkan kunci rumah dan kantornya


Tiba dirumahnya jelang pagi. Ia langsung melihat papinya yang tergolek lemas di tempat tidur. Kata maminya, ia demam tinggi sepulang dari kantor, tapi sudah ditangani dokter pribadinya malam itu juga.


Baru siangnya Subarkah bisa ngobrol dengan ayahnya di kamar.


"Gimana proyekmu disana ?" Papinya langsung bertanya begitu, setelah subarkah duduk di sisi ranjang tempatmya duduk menyandar.


"Sudah sembilan puluh persen digarap, Pih"


Jawab Subarkah


"Prospeknya ?"


"Sekarang sudah dua puluh persen menghasilkan laba"


"Sudah bagus itu "


Lalu keduanya diam sebentar


"Sebenarnya papi tidak sakit sakit amat, tapi kalau tidak begini papi tidak yakin akan pulang,"


Papinya Subarkah kembali diam sebentar. Ia tatap lagi anak lelakinya itu.

__ADS_1


"Perusahaan kita sudah dua bulan ini ini merugi "


"Kok bisa ?" Subarkah menggeser duduknya lebih dekat ke papinya.


"Supliyer bahan yang selama ini menyuplai


sebagian barang yang sangat dibutuhkan, mengurangi volume pengiriman, hingga papi tidak bisa memenuhi volume pengiriman pada relasi pemesan sesuai kontrak. Mereka tadi siang seperti kompak akan out bila bulan depan papi tidak bisa memenuhi target."


"Kok bisa begitu ya ? Memangnya selama ini papi punya berapa banyak penyuplai ?"


Subarkah kembali bertanya, tapi papinya seperti berfikir panjang untuk menjawab, walau pada akhirnya pertanyaan anaknya itu dijawab juga.


"Salahnya papi hanya bekerja sama dengan satu perusahaan penyuplai "


Jawaban papinya itu membuat Subarkah heran, kok bisa begitu. Papinya yang sudah puluhan tahun mengelola perusahaan bisa memutuskan kerjasama dengan suplier tunggal. Sama saja dengan menyerahkan leher pada orang untuk disembelih kapan saja.


"Suplier kita siapa, Pih?"


"Pak Herlan, ayahnya Nenti "


Tiba-tiba maminya Subarkah sudah berdiri dibelakang, menjawab pertanyaan Subarkah pada papinya.


Subarkah kecewa sekali pada papinya. Ia berfikir papinya begitu karena ambisinya kelak menjadikan perusahaan yang dikelola papinya, jadi satu payung denga perusahaan Pak Herlan dan jalan masuknya dengan menjodohkan ia dengan Nenti, perempuan yang dimata Subarkah, ceriwis !


Subarkah tidak menyangka papinya masih berkutar diambisi lamanya.


"Kalau sudah begini, apa alasan papi berharap Barkah datang ?"


Sebenarnya Subarkah sudah mengira apa yag ada di fikiran papinya. Tapi pertanyaan itu tetap ia lontarkan, siapa tahu jawaban papinya tidak sama dengan apa yang ada dalam fikirannya.


"Kemarin Pak Herlan memberi solusi, kamu bisa menikahi anaknya, Nenti, lalu perusahaan kita disatukan menjadi perusahaan sangat besar, bisa memonopli barang sejenis dan kamu kelak yang akan mengelolanya."


Benar perkiraan Subarkah. Mendengar itu langsung dari mulut papinya.


"Barkah sudah duga, itu !" Subarkah berdiri, berjalan mondar mandir mengitari kamar.


"Teganya papi, menilai rumah tanggaku nanti berdasarkan kalkulasi bisnis. Cita cita menjadikan perkawinan anaknya sebagai mesin pencetak uang. Dan itu akan Barkah jawab sekarang. Aku menolak apa yang direncanakan papi ! "


"Apa ?! " Papi Subarkah tegak dari sandarannya.


"Ya, aku menolaknya, aku tak perduli perusahaan bangkrut. Tak akan menjadikan kita langsung miskin. Lagian sudah sepatutnya papi dan mami tidak lagi memikirkan uang, uang, uang !"


Subarkah mengeluarkan kekecewaan pada papinya.


"Papi, mami, sudah tua, sepantasnya sudah tinggal menikmati kerja keras masa muda. Jalanlah kemana papi suka arau berangkat berhaji dengan mami, jangan lagi memikirkan dunia ! Hidup terlalu singkat, Pih ! "


Setelah bicara begitu, Subarkah keluar kamar, masuk kekamarnya sendiri di lantai dua rumah, meninggalkan papi maminya yang saling tatap memikirkan ucapan anak kesayangan mereka.


* BERSAMBUNG*

__ADS_1


__ADS_2