PATIMAH SAJA

PATIMAH SAJA
BAB 26


__ADS_3

Pak Herlan, membuka lagi untuk yang kedua kali, surat pernyataan dari Subarkah yang menjatuhkan talak satu kepada Nenti, anak perempuannya.


"Ini dibuat setelah Pak Subrata dan Pak Subarkah mengetahui hasil medis darah yang dikirim ke Australia mendapat jawaban, yang isinya pengakuan putri bapak yang mengatakam telah dinodai Pak Subarkah adalah bohong, karena saat itu, fungsi kelelakian Pak Subarkah sama sekali tidak bisa penetrasi karena Over Dosis "


Lalu ia terdengar menghela nafas panjang beberapa kali, menyesalkan lagi tindakan anaknya, Nenti yang bukan hanya mempermalukan diri sendiri, juga akhirnya mempermalukan Pak Herlan dan keluarganya di depan Pak Subrata.


"Kemana dia anak ini, dari kemarin belum pulang tanpa mengabariku dan mamanya. Benar-benar liar anak ini."


Pak Herlan kesal, ia masukan kembali surat itu ke amplopnya, lalu ia menghampiri istrinya yang tidak keluar-keluar sejak kepulangan pengacara Pak Subrata yang mengantarkan pernyataan talaq anaknya dari Subarkah, mantunya.


Ia kasihan dengan Nenti karena sejak pernikahnnya selesai dilaksanakan, tidak bisa bertemu dengan suaminya yang terus menyembunyikan diri tanpa bisa dihubungi, sekali menghubungi hanya menyampaikan surat cerai, yang dibawa pengacaranya.


Ia merasa harga dirinya dihina, diluluh lantakkan persaannya sebagai seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan Nenti.


"Sudah, Mah. Kita lupakan saja, kita harus melihat kedepan. Kita tak punya tenaga untuk memikirkan ini lagi. Yang kita hadapi, orang terlampau kuat, dan orang yang telah meraih kita lagi dari kehancuran "


Pak herlan mencoba menghibur istrinya.


"Kamu bisa begitu, tapi aku tidak. Aku yang melahirkan anakku, aku tidak bisa menerima penghinaan ini. Tak akan bisa, sampai kapanpun !"


Pak Herlan diam, lalu pergi, tak ingin membahas itu lagi dengan istri yang sedang emosi. Semua orang yang ada dirumahnya, sepertinya mereka saja yang bersedih dan terhina


Tapi ia merasa harus mengabaikannya dan mengedapankan fikir daripada hati, ia yang kemudian bertanya-tanya mengapa Pak Subrata tidak mengkhabarinya lebih dulu sebelum surat itu dikirim pengacaranya dan bahkan beberapa kali ia telphonpun tidak diangkatnya.


"Itulah orang, kalau usahanya sudah lancar lagi, jadi besar kepala."


Istrinya bahkan tidak juga mengerti-mengerti, sebab apa ia mengabaikan perasaan terhinanya oleh Pak Subrata, karena ia sadar yang memulai perang adalah dirinya untuk membahagiakan Nenti, anaknya.


Pak Subrata sendiri, sejak bangun tidur, nampak gelisah, ia terus menimbang-nimbang rasa setelah mendengar dari polisi


"Saudari Nenti, membayar Gatot dan kawan-kawan, dengan bayaran tidak sedikit, tapi puluhan juta, Pak"


Darimana uang sebanyak itu kalau bukan dari orang tuanya ,? Dengan uang dia bisa semena-mena melakukan apa saja yang ia suka. Dan cara menghentikannya agar tidak mengulang lagi pada keluarganya atau pada orang lain hanya satu yang bisa ia lakukan, yaitu memutus kerjasama dengan orang tuanya. Itupun jangan sampai Subarlah tahu, anak itu terlampau perasa, ia tidak tegaan melihat orang lain dalam kesulitan.


Tapi Pak Subrata tetap pada keyakinannya, tanpa sepengetahuan Subarkah, ia perintahkan anak buahnya, untuk menolak semua barang kiriman Pak Herlan dan setelah itu, ia berbicara dengan pengacaranya untuk bersiap mengantisipasi resiko yang ditimbulkannya


Lain halnya dengan Tina, ia akhirnya mengetahui juga apa yang terjadi pada Subarkah. Ia juga akhirnya tahu kalau mama sambungnya ditinggal sendiri untuk pengelola bisnis sebesar itu. Lalu ia khabarkan kepada kakaknya, Tini. Ia ajak hari ini untuk menemuinya. Ia takkan tega membiarkan ibu sambungnya kebingungan mengurusi perusahaan yang sama sekali bukan bidangnya.


Tini, kakaknya setuju, ia bilang akan menelphn dulu suaminya di kantor yang bergerak di bidang perhotelan, setelah itu akan langsung menjemput Tina dengan mobilnya.


Tapi hingga ia dan kakaknya Tini, memarkirkan mobil didepan gedung sortiran, ia melihat orang yang dikhawatirkanya, terlihat happy-happy saja, sedang mengobrol dengan beberapa ibu-ibu para pekerja yang sedang menyortir sayuran, sesekali terlihat tertawa dan baru berhenti saat ia dan kakaknya turun dari kendaraan, berjalan ke arahnya

__ADS_1


"Tini, Tina ! "


Setengah berlari ia menyongsong anak-anak sambungnya, lalu bertiga berpelukan.


"Mama tambah bening saja?" Tini berkata, memegang kedua bahu Patimah


"Jadi hitam ya, Mama, sebulan ini mainnya dikebun terus, sih."


Patimah menjawab sambil memperlihatkan punggung tangannya, satu-satunya bagian tubuhnya yang tidak tertutup.


"Ah, dua hari juga hilang, kulit mama aslinya putih,kok ?"


Ucapan Tina tidak dijawab, Patimah mengajak keduanya untuk mengobrol di kantor. Kemudian mereka berjalan ke kantor Patimah diikuti tatapan para pekerja yang mulutnya berdecak melihat kecantikan mereka


"Seperti saya masih gadis "


"Iya ceu, yang kerudungnya putih, ya ,?"


"Kalau aku seperti yang dikerudung hitam,"


"Ya. "


"Ya."


Tapi belum lama ia bekerja lagi, ia melihat mobil jeep berhenti. Mereka merasa kenal dengan mobil itu, apalagi setelah yang mengemudikannya turun.


"Bos muda ! Bos muda ! "


Mereka berlarian menyalami orang yang baru datang, orang yang tersenyum lebar, yang setelahnya kemudian menaiki tangga, masuk ke kantor Patimah.


"Selamat datang kembali disini, Pak "


Patimah yang mulai membuka obrolan, sementara Tini dan Tina, tidak mengerti mengapa Patimah memanggil Subarkah dengan panggilan, Pak. Mereka berdua mengira Patimah dan Subarkah sudah berpacaran, jadi tak mesti manggil Pak.


"Ini Tini, Itu Tina..."


"Aku sudah kenal, Mamaaaa" Tini langsung memotong ucapan Patimah.


"Waduh, saya jadi gemetar, sendirian menghadapi satu keluarga?"


Subarkah menimpali ucapan Tini yang lemudian diakhiri gelak bersama. Mereka kemudian ngobrol mengalir begitu saja, hingga akhirnya Subarkah berkata

__ADS_1


"Saya percaya, takdir yang membawa kita hari ini bertemu berempat, tanpa rencana terutama sekarang bisa bertemu dengan Embak Tini dan Embak Tina."


Tini dan Tina merasa pembicaraan sudah mulai serius, maka mereka memilih diam dulu, tidak akan menyela kalau tidak penting. Lalu ia melihat Subarkah meminta ijin duduk ditengah, diantara Patimah, Subarkah, Tini dan Tina.


"Aku merasa ini waktu yang tepat karena disaksikan orang-orang yang tepat.,"


Subarkah diam lagi sesaat, ia juga beraku-aku bukan saya seperti awalnya datang.


"Aku mau mengabarkan, bahwa kemarin aku sudah menjatuhkan talak satu pada Nenti, istri siriku. Lalu aku mau menyampaikan amanat seseorang yang sangat aku kagumi dan aku hormat, karena keberaniannya datang padaku agar menikahi istri tercintanya yang akan ia ceraikan kemudian."


Subarkah lagi-lagi berhenti sebentar untuk berkata-kata, ia hanya lebih fokus menatap Patimah yang sepertinya gelisah dan serba salah ingin segera mendengar Subarkah melanjukan lagi ucapannya.


"Ia yang bahkan berani mengakui, tak ingin menyiksa perasaan istrinya karena ketidak mampuannya memberi nafkah bathin sejak ia menikahinya.."


Patimah seketika ingat mendiang suaminya.


Lalu ia ratakan wajah pada lahunannya sendiri, ia menangis, isakannya terlihat dari tubuhnya yang bergerak-gerak. Tini dan Tina-pun merasakan itu, mereka berdua berdiri memeluk ibu sambungnya dan baru dilepas setelah Patimah berusaha untuk duduk kembali.


"Kang, teruslah bicara " Patimah berkata itu dalam keadaan terisak


"Kang, teruskaaan ! "


Sekarang Patimah berkata cukup keras sambil mencoba membersihkan air mata dengan ruas jarinya, lalu menatap Subarkah begitu lekat


"Lelaki itu bapak, ya ? Bapak, ya? "


Patimah tiba-tiba saja merenggut kerah kemeja Subarkah, ditarik-tariknya hingga Subarkah berkata


"Ya, Patimah, ya Patimah "


Seketika Patimah berdiri, keluar dari kantor sambil menangis, meminta kunci mobil pada Mang Amir, ia menginjak gas sangat dalam, meluncur kencang menuju makam mendiang suaminya, diikuti mobil Tini yang didalamnya Subarkah dan Tna keluar area perkebunan dan tertinggal cukup jauh, tapi Tini dan Tina tahu, kemana ibu sambungnya itu akan pergi.


Benar. Patimah ada dimakam Pak Marjuki, mendiang suaminya. *******-***** tanah merah diatas kubur mendiang suaminya, sambil menguras semua air mata. Dadanya terlalu sesak untuk menerima kebesaran hati mendiang suaminya, bahkan dengan membuka aibnya sendiri hanya karena ingin melihatnya bahagia.


"Bapak, sayangku..."


Ia usap-usap nisan mendiang suaminya penuh sayang, tidak berhenti sampai kedua anak sambungnya datang, memeluknya lagi.


"Sudah, Mama, sudah. Lupakan bapak "


Tini dan Tina mencoba menghibur Patimah. Keduanya sekali lagi bersyukur pada Tuhan yang telah memberi Patimah, di akhir hidup ayahnya.

__ADS_1


"Mama Imah, kami sayang, Mama "


* Yuk Masih Lanjut *


__ADS_2