
Subarkah merasa kerja kerasnya tidak sia-sia. Kawan semasa kuliahnya dulu barusan menelphone, tahu keberadaan Budi.
"Hari ini gua gak kemana-mana, kapan lu siap, jemput gua di rumah"
Lalu telephon terputus, selanjutnya Subarkah juga segera menelphon papinya mengabarkan hal itu sambil naik ke atas taxi, menuju kantor papinya, biar dari sana bareng-bareng untuk menangkap Budi.
Tak sulit, Budi bisa ditangkap saat lagi merawat ibunya yang sedang sakit. Subarkah sebenarnya tidak tega waktu melihat ibunya Budi melepasnya dengan tangis. Ia memelas pada polisi agar jangan membawa anaknya.
Subarkah juga nyelekit ketika Budi menatap ibunya dengan tatapan kosong dengan tangan yang sudah diborgol
"Subarkah, aku minta maaf, sekalian minta tolong bagaimana dengan ibuku"
Budi keluar air mata, tapi polisi sama sekali tak perduli, membawanya pergi. Sedangkan
Subarkah tidak tahu harus bagaimana, sampai ayahnya balik lagi menyerahkan sejumlah uang padanya.
"Coba minta tolong kawanmu ini, untuk membawanya ke rumah sakit, kita sekarang tak waktu untuk segera ke kantor polisi."
"Ya, lu berangkat saja, biar ini gua yang nangani, gua maklum. "
Kawan yang tadi menunjukannya kesini, mengerti kondisi saat itu. Lalu uang dari papinya diberikan pada kawannya itu.
"Tar lu Wa, rekening lu, biar gua transf kalau duit itu gak cukup ya ?"
Subarkah tak menunggu jawaban, ia berlari menuju papinya yang sudah diatas mobil, lalu mengikuti mobil polisi yang mambawa Budi dari belakang.
Di kantor polisi, Budi mengaku tidak tahu tentang Narkoba, ia hanya dimintai tolong oleh Gatot yang ia kenal sebagai kekasih adik sepupunya
Ia ditawari sejumlah uang yang saat itu sangat dibutuhkan untuk oengobatan ibunya. Tugasnya hanya bagaimana caranya membawa Subarkah keluar dari rumah untuk dipertemukan dengan perempuan bernama Nenti.
"Kah, aku mohon, jangan sampai gua ditahan, gua khawatir kesehatan ibu."
Dibalik sel tahanan, Budi memelas, tapi sebelum dijawab, polisi memanggilnya dalam ruang pemeriksaan bersama papinya
"Rencana kami dari pihak kepolisian, tidak akan menahan Budi, dia akan dipakai umpan untuk memancing Gatot, lagi pula Budi belum memenuhi syarat untuk ditahan, tapi gerak-gerik dia kami pantau, agar dia melaksanakan arahan dari kami "
Petugas polisi menjelaskan hal yang melegakan Subarkahm Maka selesai itu ia kembali ke sel tempat Budi ditahan
"Bud, lu kemungkinan gak ditahan, soal ibu lu, sudah dibawa ke rumah sakit sama kawan gue. Soal biaya tar gua yang urus, yang penting lu bantu gua dan polisi nangkep si Gatot "
Budi mengiyakan sambil beberapa kali minta maaf, menciumi tangan Subarkah.
__ADS_1
"Ok thank kiu "
Subarkah pulang dengan papinya, mereka bersyukur telah melewati fase penyelidikan polisi, agar kebenaran dicekoknya dirinya dengan narkotik akan terbukti secara medis dan logis.
Dilain tempat, Patimah geregetan, harusnya diakhir bulan dia sudah bisa memetakan kondisi perusahaan, mulai dari kondisi perkebunan, peternakan, karyawan, lalu lintas keuangan dan lain sebagainya. Siang ini, ia membuka lap top yang biasa di pegang Subarkah, datanya nol karena ada yang menghapusnya. Setelah menelphon Subarkah, beberapakali jawabnya hanya 'masa iya'
"Masa iya aku menghapusnya, sedangkan aku yang memprogramnya? " Subarkah mengakhirinya dengan beberapa kali sumpah.
"Nenti..."
Ia tertuju pada sebuah nama. Tapi buat apa ? Patimah terus menguras otak, tapi buntu di motif, buat apa Nenti menghapus data, kecuali ada keuntungan dari perbuatannya dan itu sampai saat ini belum terlintas dalam kepalanya.
Untung anak sambungnya menelphone, minta diantar ke trafel umroh. Iseng-,iseng Patimah menceriterakan bahwa ia lagi kesel, karena data perusahaan yang disimpan dalam komputer hilang ada yang menghapus.
"Gampang itu mah, Ma. Tina punya temen ahli IT, yang dihapus tujuh tahun yang lalau juga bisa muncul lagi. Perlu sekarang ,? Kalau perlu, sekarang Tina langsung suruh kesana?"
Alangkah gembiranya Patimah, maka ia langsung mengiyakan tawaran anak sambungnya itu.
"Tunggu saja, Ma. Setengah jam nyampe!"
Benar, kurang dari setengah jam, yang disebut Tina datang, memeriksa lap top Subarkah dan tidak lama data bermunculan kembali
"Sepuluh hari yang lalu data ini didelet, Bu "
"Sudah,Bu. Ini urusan Bu Tina "
Setelah itu buru-buru pergi, katanya mau ketempat lain, sama tentang isi data lap top yang bermasalah.
*********************************************
Besoknya pagi sekali, Patimah sudah berangkat, takut keduluan dengan keberangkatan bagian expedisi mengirimkan barang. Ia harus menanyakan mereka, sepuluh hari ke belakang, apakah barang dikirim sesuai surat jalan atau tidak. Karena kemarinnya Patimah beberapa kali mememeriksa di data base, pengiriman barang selama sepuluh hari tidak ada data faktualnya, sehingga terjadi selisih pengiriman dan pembayaran dari rekanan sampai ratusan juta, kalau tidak ditemukan masalahnya selisih itu akan menanggung kerugian bagi perusahaan.
Sesampainya di kantor, para pekerja belum pada datang, tapi setelah hampir jam enam, sopir-sopir box truk mulai berdatangan. Patimah melihatnya dari kantor mereka seperti sedang berunding, berkumpul di dekat gedung sortiran dan baru bubar setelah Mang Karya datang membawanya ke ruang meeting.
Patimah tidak sabar, terus ia turun
"Sudah pada kumpul semua, Neng ,"
Mang Karya melapor, jalan mengikuti Patimah yang bergegas menuju ruang meeting juga, tapi sekarang tidak berdiri di podium melainkan di bangku depan, bangku yang biasa diduduki tempaf mandor kalau menerima arahan
"Saya minta kerjasamanya anda, untuk jujur terbuka dan ikhlas. Selama sepuluh hari ke belakang, apakah pengiriman barang sudah benar sesuai surat jalan atau bagaimana ,?"
__ADS_1
Setelah mengucapkan salam, Patimah langsung ke pokok permasalahan. Menatap tajam pada tiap orang yang ada didepannya.Tatapan yang dirasakan oleh mereka seperti algojo yang akan memenggal kepalanya.
Kemudian seseorang yang tadinya duduk di bangku kedua, jalan terbungkuk lalu berdiri tegap sejajar dengan Patimah.
"Kawan-kawan mending kita terus terang pada, Ibu. Kalaupun nanti kita dipecat atau bagaimana terserah pertimbangan ibu, bagaimana kawan-kawan ? "
Mereka menjawab setuju, lalu orang yang tadi berdiri, duduk di bangku depan dan mewakili yang lain berbicara. Ia menjelaskan bahwa barang tidak dikirim sesuai surat jalan, melainkan dipindahkan ke box truk yang lain disebuah tempat atas perintah ibu bos, yang dimaksudkan adalah Nenti.
"Kalau kami tidak melakukannya, ibu bos mengancam akan memecat kami Bu, tentu sja kami takut, kalau dipecat bagaimana kami harus membiayai anak istri kami ?,"
Mendengar itu wajah Patimah agak memerah menandakan marah atau geram, sebentar ia diam memandang orang itu yang sekarang posisinya jongkok mengisyaratkan minta maaf dan penyesalan.
"Mang Karya, sekarang juga mandor yang bertanggung jawab di expedisi pindahkan menjadi mandor di bagian Pupuk organik dan mandor bagian pupuk menggantikannya. Nanti setelah orang ini pulang mengirim barang langsung berikan SP 1." Setelah mengatakan itu, Patimah berdiri.
"Saya tidak akan memecat kalian, karena saya juga pernah punya ayah sebelum kemudian beliau meninggal. Saya faham bagaimana susahnya kami ketika ayah tidak punya pekerjaan, tapi ini sebagai pelajaran, lebih terhormat tidak punya pekerjaan daripada kalian harus membantu kejahatan "
Setelah itu Patimah pergi, kembali ke kantornya, menelphon Subarkah, menceriterakan tabiat Nenti yang telah menggelapkan uang perusahaan sebegitu banyaknya dan diujung telephon terdengar suara barang yang pecah. Subarkah yang marah tidak sadar melempar gelas kopinya mengenai keramik yang dibeli dari Singkawang oleh maminya.
"Dasar ****** ! Sialan kamu, Nenti !!"
Maminya lari dari arah dapur. Terbelalak melihat keramik kesayangannya dalam keadaan terserak bercampur pecahan beling gelas. Lalu ia lihat wajah anaknya, urat, urat lehernya keluar menandakan sedang marah.
"Kenapa, Nak? Kenapa ? "
Dipegang kedua tangan anaknya, ia sudah tidak perduli dengan pecahan keramik. Karena anaknya disayang melebihi dari segalanya.
Subarkah duduk disofa, sambil merenggut -renggut rambut, menyesalkan bisa kenal dengan perempuan binal seperti Nenti. Lalu ia ceriterakan semua kelakuan Nenti pada maminya.
"Siapa yang memberi tahu kamu"
"Patimah."
"Siapa ? "
"Patimah, Mih !"
Mami Subarkah jadi ingat gadis itu. Ia tak perduli dengan banyaknya uang yang digelapkan Nenti, mantunya. Uang simpanannya di bank jauh lebih banyak dari itu.
"Kamu telephon Patimah ya? Suruh sini, mami kangen sama dia ? "
"Mamiiiiiiiii !!!"
__ADS_1
Subarkah berteriak, membuat kaget asisten rumah tangganya yang sedang menyapu, membersihkan sisa pecahan keramik dan gelas. Ia kesal karena maminya lebih tertarik membicarakan Patimah daripada kerugian yang ditimbulkan oleh Nenti, isteri sirinya.
* BERSAMBUNG*