PATIMAH SAJA

PATIMAH SAJA
BAB 14


__ADS_3

Patimah beberapa hari ini memperhatikan suaminya tambah kurus, semua celana yang ada dilemari sudah longgar semua. Jalannya juga sudah mulai ngongkong dan bungkuk, kalau dari duduk mau berdiri nampak meringis seperti menahan sakit.


Ia kemarin mengajaknya memeriksakan diri ke rumah sakit, tapi suaminya hanya bilang


"Ini penyakit tua, Patimah "


Wajahnya juga sudah lama mulai kelihatan pucat, Patimah khawatir gula darahnya naik kembali.


"Coba dibujuk, barangkali sama Tina ia mau diajak check up ke rumah sakit, terutama gula darahnya " Patimah juga pernah membicarakan ini pada Tina anak sambungnya.


"Mama, ayah sudah tidak mau mendengar.


Kita jangan memaksa, ayah sudah terlalu tua untuk dinasehati. Lagipula semakin tua, biasanya semakin peka. Aku takut kalau terlalu memaksa akan menyakiti hatinya, Biarkan saja dulu, kecuali keadaan memaksa baru kita bawa memeriksanya" Tina, sama juga sikapnya hati-hati dalam menyikapi ayahnya.


"Biarlah, kita ikuti apapun yang ia suka, apa yang ia senangi. Aku tahu mama cemas, begitu juga kami anak-anaknya. Tapi kita tidak bisa berbuat banyak. Satu hal saja yang sekarang kita harus jaga, jangan sampai menyinggung perasaannya."


Mungkin ada benarnya perkataan Tina. Maka Patimah juga kalau mengingatkan suaminya, sekedar saja.


Tapi siang tadi, setelah Patimah selesai menyapu teras, ia bermaksud menambah air teh hangat buat suaminya. Betapa kagetnya karena melihat suaminya terkulai lemas di kursi ruangan tengah, lalu ia coba menegakan kepala suaminya itu.


"Bapak puyeng, nafas sesek "


Ia berkata mengeluh. Patimah memanggil bi Isah agar memanggil Kang Amir, ia sendir segera ke kamar menyiapkan apa yang sekiranya diperlukan. Saat ini, mau atau tidak, suaminya harus dibawa ke rumah sakit.


"Aku tidak mau, Patimah " Yang dimaksudkan Pak Marjuki, ia tidak mau dibawa ke rumah sakit.


"Harus ! Sayang. Jangan halangi pengabdian istri untuk suaminya. " Tapi kali ini Patimah tegas, tetap akan membawa suaminya yang nampak tambah pucat, ke rumah sakit.


Sesampinya di rumah sakit, dokter cepat memeriksa dan tidak berapa lama kemudian di mulut dan hidung dipasangi alat penyuplai oksigen. Tini dan Tina juga datang beberapa jam kemudian,setelah sebelumnya ditelephon Patimah, saat suaminya sudah di bangsal rumah sakit.


Tapi justru setelah tibanya Tini dan Tina, tangan Pak Marjuki, seketika membuka alat penyuplai oksigen lalu dengan suara lemah meminta Tini, Tina dan Patimah mendekat pada dirinya.


"Ayah tidak kuat lagi.." Begitu katanya sambil sebentar mengedarkan matanya pada anak istrinya yang berdiri mengelilinginya.


"Ayah minta, kalian tetap menjaga silaturahmi kalian seperti sekarang, seperti ibu dan anak, sampai kapanpun, agar ayah tenang berada dimanapun"


"Jangan katakan itu lagi sayang. Kau tak akan kemana-mana, kau akan tetap berada disisiku "


Patimah menyela, diciumi pipi suaminya. Ia pegang telapak tangannya begitu erat membuat Pak Marjuki nampak bahagia.


"Terima kasihku padamu Patimah, engkau telah membawaku untuk mengenal Allah lebih dekat, kau telah membuat aku tidak takut untuk menyelesaikan sisa hidupku. Dan kau Tina, Tini, belajarlah pada ibumu, bagaimana mengurus suami " Nafas Pak Marjuki mulai pendek, seperti orang baru berlari jauh.


"Wasiat terakhirku untuk kalian, do'akan aku sepanjang yang kalian bisa. Belikan tanah waqaf pemakaman dan bangunkan mesjid besar atas namaku" Nafasnya semakin pendek, lalu terakhir suara Pak Marjuki seperti memekik


"La illaha ilallah "


Lelaki tua itu memegang erat tangan istrinya, disaat saat terakhir ia menyebut nama Robbnya. Ia bahagia, bahagia sekali, bisa pergi saat orang-orang yang dicintai berada disisinya.


Pak Marjuki telah pergi, menyelesaikan perannya didunia menuju alam keabadian. Meninggalkan anak dan istri yang menangis mengenang dirinya.


"Innalillahi wainna illaihi rojiun "


Setelah dokter memastikan Pak Marjuki telah meninggal, serentak orang yang ada disana mengucapkan itu dan hari itu juga jenazah Pak Marjuki dipulasara, dimakamkan tidak di pemakaman keluarga, tapi di pemakaman umum sesuai permintaanya dulu pada anak dan istrinya

__ADS_1


"Jika bapak mati, kuburkan bapak di kuburan umum kalau bisa tempatkan didekat orang yang semasa hidupnya, sholeh"


*****************************************


Dihari keseratus kepergian suaminya, pagi sekali ia rnininggalkan rumah, setelah sebelumnya berpesan pada Bi Isah, mungkin ia pergi seharian.


Yang dikunjungi pertamakali adalah makam suaminya, disana ia lama sekali berdo'a, meminta pada Robbnya, agar melapangkan kubur suaminya dan memohon diringankan hisab serta terhindar dari siksa kubur.


"Ya Robb, tidurkan suamiku dalam kuburnya, hingga Engkau bangunkan kembali di yaumil akhir, berada dalam barisan kaum mu'minin menuju jannahmu..Ia orang baik, suami yang baik yang semasa akhir hidupnya menyayangi banyak orang"


Patimah tidak tahu, doanya itu terdengar oleh Tini dan Tina yang berdiri dibelakangnya. Mereka berdua, sama akan ziarah ke makam ayahnya.


"Amiiiiin "


Patimah diam sejurusan, kemudian ia menoleh ke belakang, memastikan siapa orang yang mengamini do'anya.


"Tini, Tina ?"


Lalu mereka berpelukan bertiga, mendung air mata yang tadinya hanya berkaca-kaca, turun sangat deras.


"Mama.."


Tina dan Tini sebentaran melepas pelukan. Tina menyeka air mata perempuan didepannya dengan kerudung yang dikenakannya, mengabaikan air mata sendiri yang basah di wajahnya.


"Mama, aku sayang, aku sayang padamu, Mama Imah."


Tina kembali memeluk ibu sambungnya. Ia sedih mendengar do'a yang ditujukan untuk ayahnya. Semakin menguatkan rasa hormat pada ibu sambungnya itu yang begitu tulus mengabdikan diri pada suami hingga kematiannya.


Lalu Tina dan Tini-pun sebentar berdo'a, menaburkan bunga segar, menggantikan bunga yang telah mengering dikubur ayahnya.


Patimah mengiyakan. Tini dan Tina jalan lebih dulu, Patimah menyusul beberapa saat kemudian untuk menemui ibunya di tempat ia bekerja, ditempat sortir sayur dan buah-buahan milik Subarkah.


Ia sudah memikirkan sejak semalam. Untuk beretemu dengan ibu hari ini. Ia akan menyuruhnya berhenti bekerja dan membawa pindah ke rumahnya agar ada teman bicara, agar lebih menguatkan lagi dirinya pada agama.


"Agama itu nasihat buat Tuhannya, buat Rasulnya, buat para pemimpin umat dan buat orang-orang yang mengimani adanya Allah ,"


Begitu kata ibunya dulu, hingga ia mengutamakan agama lebih utama dibanding ilmu lainnya


Sesampai ditempat ibunya bekerja, orang-orang sepertinya pangling pada Patimah. Hampir semua orang yang ada disana, memandang Patimah dari atas kebawah, mulai dari kacamata, kerudung, sweeter, celana katun diatas mata kaki, hingga hight heel yang dikenakannya. Anggun, cantik dan teduh karena semua berwarna hitam yang dipercaya sebagai warna yang bisa menyerap cahaya dan panas.


"Bu..."


Ibunya terbelalak, hampir tidak percaya yang memeluk dirinya itu Patimah, maka sebentar kemudian, didorongnya tubuh Patimah. Ia pegang bahu anaknya lalu menatap tubuh anaknya lekat-lekat.


"Patimah ,? Patimah ? " Ia menyebut nama anaknya itu seolah ingin meyakinkan kalau matanya salah


"Ya, aku Patimah, Bu"


Semua pekerja perempuan, berhamburan menghampirinya, menyalmiinya sambil menyebut namanya cukup keras


"Patimah ! Patimah !"


Keributan itu membuat Subarkah yang ada di kantor penasaran. Lalu ia berdiri mendekati jendela, dilihatnya para perempuan yang bekerja disana sedang mengerubuti seorang perempuan berkerudung hitam,dengan sweeter hitam, berdiri ditengah, tinggi berisi.

__ADS_1


"Patimah.."


Ia terus memperhatikan, berharap ia membalikan badan, agar kerinduannya teruraikan.


"Ada apa, nak kesini ?"


Ibunya langsung bertanya. Ia takut anaknya hanya ingin bertemu Subarkah, padahal ia belum begitu lama diinggal suaminya. Ya walaupun tidak ada yang salah kalau anaknya mulai mencari pengganti, tidak ada larangan untuk itu.


"Aku ingin menjemput ibu. Ibu tidak usah lagi bekerja. Aku ingin ibu bisa menemani Imah di rumah. Imah kesepian, tidak ada teman bicara."


Imah mejelaskan alasan kenapa ia sampai di tempat ini. Alasan yang cukup melegakan hati ibunya, karena akan menghindari fitnah.


"Ya tidak seperti itu, Nak. Kamu ngomong dulu sama bos muda. Kalau ibu setuju-setuju saja.


Ayo bicara sana, mumpung bos muda sedang tidak kemana-mana. "


Sambil begitu ia menunjuk ruang kantor Subarkah, diikuti leher Patimah yang menoleh ke arah kantor dimana Subarkah langsung menyembunyikan wajahnya ke balik tirai.


"Saya tidak bisa menahan kalau ibumu tidak bekerja lagi disini" Subarkah menjawab, setelah Patimah menyampaikan maksudnya


"Ya, terima kasih kalau begitu, Pak " Tiba-tiba Patimah ingin membalas bersaya-sayanya Subarkah, dengan menyebutnya Pak, sambil berdiri mau pamit.


Dampaknya langsung oleh Subarkah, kata Pak yang diucapkan Patimah terasa tidak enak dan reaksi seterusnya, Subarkah segera berdiri lalu memegang tangan Patimah supaya duduk.


Patimah juga duduk kembali


"Ada apa lagi, Pak ?," Patimah langsung bertanya, yang langsung dijawab Subarkah


'"Pak, pak, pak, memangnya aku bapakmu?"


"Kamu juga kenapa bersaya-saya ke aku ,?"


Lalu keduanya diam. Subarkh duduk disamping Patimah.


"Terus terang, sejak kau bersuami, aku jadi serba salah" Subarkah mulai lagi bicara, ia putar-putar ballpoint ditangannya.


"Kenapa begitu ? Pak ?"


Subarkah menoleh menatap wajah Patimah


"Sengaja lagi ?"


"Sengaja apa ?" Patimah juga menoleh menatap wajah Subarkah


"Itu tadi bilang lagi Pak, harusnya Kang lah seperti biasa"


"Tidak akan, sebelum saya-sayamu juga kau buang "


Subarkah tersenyum, mencubit pelan tangan perempuan disampingnya yang jiga tersenyum sambil berdiri lalu pamit, mengabaikan keinginan Subarkah yang masih ingin mengobrol sebentar lagi


"Jangan, Kang. Nanti jadi gunjingan,"


Subarkah tidak bisa memaksa, ia faham, perempuan itu sangat hati-hati dalam bersikap, teguh, kuat dan menyimpan kehormatan jauh didepan. Itu juga yang membuat Subarkah makin tergila-gila bukan hanya pada kecantikan wajahnya, tapi lebih dalam pada kecantikan akhlaknya. Perempuan yang membentengi dirinya dengan kepercaan terhadap kekuatan agama, kekuatan yang akan memberinya keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup di dunianya dan akhiratnya.

__ADS_1


* BERSAMBUNG *


__ADS_2