
Subarkah, sore itu sangat senang, karena dikunjungj Budi, temannya dulu masa kuliah di Fakultas pertanian Universitas ternama di Jakarta. Budi, beserta temannya yang tidak ia kenal yang kemudian menyebut namanya Gatot, saat bersalaman usai Subarkah menyalami Budi.
"Ayo masuk."
Subarkah meminta tamunya masuk ke rumah kecilnya. Kemudian mereka ngobrol, ngaler ngidul, walau sebenarnya lebih banyak membicarakan zamannya kuliah bareng, menggoda gadis gadis junior di kampus hingga makanan kesukaan.
Mereka tertawa-tawa hingga usai Subarkah sembahyang magrib, baru Budi berkata.
"Bro, gua datang kesini sebenarnya mau ngajak lu makan diluar, tempatnya udah disiapin sama temen-,temen gua yang sekarang sudah dilokasi ,"
Ia berkata begitu sambil melirik Iwan, temannya.
"Lokasinya di restoran lesehan dekat gapura selamat datang itu, sebelah sananya pom bensin yang sebelah kiri "
Teman Budi menjelaskan tepatnya lokasi.
"Ada acara apa sih, jauh-jauh ngajak makan disitu ? "
"Budi, Kang. Hari ini ulang tahun ! "
"Ulang tahun ? Bener Bud ?" Subarkah menatap Budi dengan senyum lebar.
"Ya, Bro ! Baru dua lapan ! "
Subarkah langsung menyalami dan memeluk kawannya itu.
"Panjang umur, Bud, sehat, banyak redzeki !"
Kata Subarkah.
"Amiin."
Lalu mereka berangkat dengan mobil Budi, dan sampailah ditempat yang dituju, disana ada tiga perempuan, modis-modis dan yang satu memungung, setelah dekat, ternyata Nenti !
Subarkah kaget dan bertanya-tanya dalam hati, tapi tidak berlanjut karena Budi menyuruhnya naik ke tepas lesehan papan tanpa gelaran tikar.
"Kuenya gak kebawa Bro, tadi dirayainnya di rumah sama keluarga,"
Budi berkata begitu setelah memperkenalkan ketiga perempuan yang duduk didepannya
"Ayo toast ! " Budi mengangkat gelas minuman ke tangannya
__ADS_1
"Sebagai rasa terima kasih gua. Gua minta minuman digelas masing-masing, satu tegakan , habis !"
Setelah toast, nampak Budi menghabiskan minuman digelasnya, juga yang lain, sama. Maka apa boleh buat, Subarkahpun menegak minuman jeruk digelasnya hingga tandas, diakhiri koor tertawa bersama.
Mereka kemudian memesan lagi minuman berbeda. Subarkah sendiri minta jeruk panas, tapi sebelum pesanan sampai, Subarkah bilang mau ke toilet, ia nampaknya kebelet buang air kecil dan tidak lama ia kembali lagi, dengan jalan swdikit gontai.
Setelah duduk kembali di tempat lesehan ia mencoba memijit-mijit keningnya
"Kenapa, Bro. Masuk angin ya, tadi mungkin gara-gara minuman dingin, coba ni yang hangat, minum yang banyak biar keluar keringatmu Bro ,?"
Budi mengambil minuman jeruk hangat di depan Subarka, disodorkannya pada Subarkah, yang langsung diminum Subarkah tiga per empat gelas.
Tapi tak lama, Subarkah merasa matanya berkunang-kunang, sebentar kemudian ia merasa sekelilinga terang. Matanya nyalang, wajahnya manggut-manggut mengikuti musik sunda dari speacker kecil diatas kepalanya.
Budi memperhatikan tingkah Subarkah, saling kedip dengan yang lainnya, kemudian memapah Subarkah masuk ke mobil sedan milik Nenti, sementara Nenti sendiri nampak menyerahkan dua amplop panjang, berisi sejumlah uang.
"Ayo kita selesaikan"
Kata Nenti setelah mereka berkumpul berempat di samping kanan mobil miliknya, sebentar kemudian, Budi merogoh saku celana Subarkah yang masih tetap angguk-anggukan, didapatnya pintu rumah kecil Subarkah, lalu diserhkan pada Nenti yang kemudian mengemudikan mobilnya ke arah rumah Subarkah.
"Bos, baru pulang berobat "
Sesampainya pos jaga, ia berkata begitu sambil membuka kaca memperlihatkan Subarkah yang sedang menggeleng-gelengkan kepala mendengar musik cadas dari CD mobil.
Dalam waktu yang bersamaan, ditempat terpisah, Budi dan kawannya,, sudah berganti pakaian, dengan pakaian yang lusuh, menggedor-gedor rumah Pak RT. Melapor bahwa istrinya sudah dua hari hilang dibawa oleh anak majikannya, pemilik perusahaan pertanian.
"Maksudnya, yang membawa istri anda adalah Pak Subarkah ,? " Setelah didalam rumah, Pak RT balik bertanya
"Bagaimana anda tahu ? Istri anda ad didalam didalam rumah, Pak Subarkah?"
"Saya membuntutinya sejak ia keluar rumah makan, tadi. Cuma saya tidak bisa masuk kedalam karena dilarang penjaga."
"Oh begitu...," Pak RT manggut-mangut sebentar, kemudian ia mengajak tamunya keluar. Ia lalu membangunkan beberapa tetangganya, sebagian ia suruh membangunkan Ustadz Mansur sebagai tokoh di dusun itu. Setelah lebih dari duapuluh orang, mereka berangkat menuju area perusahaan Subarkah.
"Buka pintunya ! " Bentak Pak RT pada Pak Karim penjaga malam.
"Ada apa, Pak RT ? "
"Buka saja, kita tidak perduli siapapun yang membawa perempuan bukan muhrim, apalagi istri orang kita usir ! Dosa bagi semua orang !"
"Ia buka, cepet ! "
__ADS_1
Beberapa yang lainnya juga ikut berteriak, membuat Pak Karim ketakutan, maka kemudian pintu gerbang ia buka.
"Buka pintunya, Pak Subarkah ,!"
Orang ramai didepan rumah Subarkah, beberapa menggedor-gedor pintu dengan keras.
"Dobrak saja ! Dobrak saja !"
Setelah beberapa kali diterlakan tidak dibuka, salah seorang tinggi besar langsung mendobrak pintu hingga terbuka, dan orang,-orang berhamburan ke dalam. Didapatinya seorang perempuan setengah telanjang sedang menangis, duduk ketakutan disudut kamar, sementara Subarkah hanya memakai ****** ***** menggeleng,-gelengkan kepala, sepertinya tidak sadar dengan apa yang terjadi.
Ada satu atau dua orang yang sempat memukul Subarkah sampai mereka ditarik disuruh keluar oleh Pak RT dan ustadz Mansur
"Hei, jangan anarkis ,! Biar yang tua'- tua yang menyelesaikannya !"
Sambil berkata begitu Ustadz Mansur menyuruh salah seorang yang ada disana mendudukan Subarkah dan menyelimutinya dengan seprai. Begitu juga pada perempuan yang nampak ketakutan di sudut kamar disuruh Pa RT berpakaian, lalu orang-orang yang ada dirumah disuruh keluar semua. Yang tinggal didalam hanya tinggal 5 orang yang rata -rata sudah tua.
"Begini saudara-saudara. Ini fardu kifayah, seperti pada orang mati, tugas kita adalah menyegerakan pemulasaraan dan penguburannya. Sedang untuk kasus zinah seperti ini tugas kita adalah segera menikahkannya secara siri dulu, kalau si perempuan tidak ada penghalang ,!"
Setelah orang -orang pada diluar, Ustadz Mansur segera menenangkan mereka.
"Tapi kata Pak RT katanya yang perempuan punya suami ,?"
Pak RT, sebelum menjawab, ia mencari,-cari tamunya diantara kerumunan orang. Tapi tidak menemukannya.
"Ada yang lihat tadi orang yang melapor ke rumah saya, laki-laki yang mengaku suaminya dan mengatakan istrinya sudah dua hari dibawa sama Pak Subarkah ?,"
Orang-orang yang mengetahui tamunya Pak RT langsung mencari diantara mereka sampai seseorang berteriak
"Tamu Pak RT yang dua orang tadi, terburu-buru keluar dari sini Pak RT ,!"
Pak RT jadi bingung, terus menoleh ke Ustadz Mansur.
"Jangan difikirkan itu, coba kita tanya yang perempuannya, apa masih gadis atau sudah bersuami ?"
"Masih Gadis Pak. Nama saya Nenti, sedangkan Subarkah, pacar saya."
Waktu ditanya, Nenti masih pura-pura terisak lalu Pak Ustadz minta agar Nenti memanggil orang tuanya sekarang juga untuk datang kesini.
"Kalau masih ada wali Nikahnya, kita tunggu mereka datang dulu, lalu kita nikahkan mereka"
Kata Ustadz Mansur ke Pak RT, kemudian menyuruh orang,-orang bubat, tapi besok setelah orang tua Nenti datang, diharapkan mereka hadir lagi disini untuk menjadi saksi pernikahan Subarkah dengan perempuan bernama Nenti
__ADS_1
* Duh sungguh Terlalu .. *
* Like dan Komennya yah *