
Tidak seperti beberapa hari yang lalu, Pak Marjuki meninggalkan rumah tanpa memberi tahu. Hari ini berbeda, ia pamit pada istrinya untuk melihat sawahnya disuatu tempat, ditemani Amir, pemuda yang biasa disewa untuk membawa mobil mewahnya.
Yang sama adalah Patimah tidak boleh ikut walau Patimah beberapa kali berkata ingin menemaninya, khawatir terjadi apa-apa pada suaminya.
"Sudah, jangan khawatir, kan ada si Amir. Kamu lebih baik jalan dengan Bi Isah, beli baju atau apalah, jangan dirumah terus, nanti tuanya nyalip bapa, mau ,? " Enteng jawaban Pak Marjuki, digandengnya pundak Patimah hingga halaman.
"Bapak pergi dulu ya ? Asalamualikum."
"Alaikum salam'" Jawab Patimah sambil terus menyertai suaminya naik ke mobil duduk di jok belakang. Ia pula yang menutup pintunya. Ia tidak beranjak dari sana hingga mobil tidak kelihatan lagi, menghilang ke kejauhan. Ia kemudian masuk lagi ke dalam melihat Bi Isah sedang menyapu halaman belakang.
Sesudahnya, ia masuk ke kamar, rebah-rebahan sambil memikirkan sikap suaminya akhir-akhir ini. Patimah tahu, Pak Marjuki sering menatapnya lebih dari biasanya, kalau ngobrolpun seadanya, seperti menyimpan sesuatu yang ditutup-tutupi. Yang ditakuti Patimah, suaminya merasakan sakit lain yang tidak boleh orang tahu.
Sementara itu Pak Marjuki tidak melihat sawah seperti alasan pada istrinya, melainkan ke rumah Tini anak perempuannya yang sulung. Disana juga ada Tina si bungsu, anaknya yang paling dekat dengan Patimah.
Tina memang hari ini sengaja disuruh datang ke rumah Tini oleh Pak Marjuki, ada yang akan dibicarakan masalah keluarga
"Jadi begini,Nak. Ayah ingin membicarakan tentang ayah dan ibumu, Patimah "
Setelah mereka bertiga kumpul di sofa ruang tengah, Pak Marjuki memulai pembicaraan.
"Ayah sudah lama bimbang, tentang harus bagaimana menyikapinya. ," Sebentar Pak Marjuki diam dulu, memandang kedua anaknya yang dari awal kelihatan sudah mau bereaksi
"Memangnya kenapa dengan Mama Imah ?
Sudah mulai bertingkah menyakiti ayah ?"
Benar saja Tini si sulung langsung bertanya
"Tidak, terlalu jauh panggang daripada api. Mamamu tetap begitu, mengurusi segala keperluan ayah. Masalahnya bukan dari dia, tapi dari ayah sendiri"
"Memangnya ayah kenapa? Mau nikah lagi ? Janganlah lah, Yah. Ayah sudah semakin tua, lagian ayah kan sekarang sudah jauh berubah dari sebelum ayah menikahi mama Imah?"
Tini kembali yang mengomentari.
"Ya benar, ayah mungkin sudah banyak berubah, ayah jadi ingat Allah, ayah jadi kerasan di rumah. Tapi justru itu yang kemudian jadi masalah buat ayah ?"
"Aneh," ujar Tina sekarang ia yang menyela
"Ya mungkin aneh, Tina. Karena kalian tidak merasakan fase dari ketidak tahuan menjadi tahu. Tentang hak dan kewajiban ayah sebagai suami pada istrinya" Pak Marjuki menjawab tenang, diteguknya air teh didepannya.
"Sudah tiga tahun lebih ayah menikahinya dan ia mengurus ayah dengan baik, menempatkan ayah sebagai imam setara raja, karena ia melayani ayah dengan ikhlas, tanpa pamrih karena kepercayaan pada agamanya, bahwa mengabdikan diri pada suaminya adalah ibadah yang utama "
Pak Marjuki diam kembali. Ia merasa dirinya sekarang menjadi begitu peka dan mudah mengeluarkan air mata. Juga Tini dan Tina yang juga diam, membayangkan ibu sambungnya itu begitu banyak berkorban untuk ayahnya, padahal ia terlalu muda untuk mendampingi ayahnya, ibu sambungnya itu sepantasnya seperti dirinya, suka belanja, suka jalan kemanapun yang ia suka.
__ADS_1
"Terus bagaimana ?" Tini memecah keheningan sesaat. Ayahnya terlihat murung menatap plafon rumah
"Hak dan kewajiban itu Nak, andai kodrat ibumu bisa kubeli, Ayah akan beli semahal apapun harganya. Selama ayah memperistrinya, ayah baru bisa memenuhi kebutuhan lahiriahnya saja itupun dengan uang yang tidak seberapa. Tapi kebutuhan bathinnya ? Tak pernah sekalipun memenuhinya, bukan tidak mau, tapi karena ayah tidak mampu sejak diabetes ayah akut?"
Pak Marjuki terisak, ia terlalu peka jika membicarakan istrinya.
Tini dan Tina lidahnya tercekat, berbarengan mereka memeluk ayahnya, ayah yang telah jauh berubah tidak lagi formal dan pemarah seperti dulu. Kini mereka malah merasa ayahnya telah rapuh. Mereka bertiga berpelukan sambil menangis. Tina dan Tini merasa iba, karena ayahnya terlambat menemukan ibu sambungnya.
Setelah lama berpelukan, mereka duduk kembali tapi tidak terpisah seperti tadi, namun mengapit ayahnya itu di tengah.
Tiba tiba saja Tini dan Tina merasa begitu nyaman bersandar pada kiri kanan bahu ayahnya.
"Terus bagaimana rencana ayah ?" Akhirnya Tini mulai lagi bertanya, disekanya wajah ayahnya itu dengan tisue basah yang ada dimeja.
"Rencana ayah menceraikan mama kalian, bentuk rasa sayang ayah padanya, dengan membebaskannya dari keterikatan. Sudah selayaknya ia bahagia anak-anakku."
Ada halalintar diluar, cahayanya masuk kedalam, seperti lampu blitz pada kamera saat dipijit, sekilat membuat mata Tini dan Tina terbelalak. Mereka berdua mencubit kulitnya, mengira apa yang didengarnya hanya mimpi belaka.
********************************************
Benar kata orang, perempuan itu kalau sendiri maka sekitarnya sepi, berdua bisik-bisik, lebih dari itu, berisik !
Seperti ditempat sortir sayur dan buah-buahan, pabrik milik Subarkah, terlihat lima atau mungkin enam pekerja perempuan, sedang bekerja memilah, diselang selang ngobrol ringan
"Ya kalau dia kesini lagi, terus masih gak sopan kita aja yang telanjangi dia rame-rame "
Kata yang di ujung utara., sambil cekikikan.
Ternyata mereka sedang membicarakan Nenti yang khabar sampai ke mereka, adalah gadis dari kota yang mengejar-ngejar Subarkah bos mudanya. Mereka secara terbuka kurang setuju, bagaimana kalau benar Nenti dinikahi bos mudanya, mungkin suasana kerja jadi beda, mereka takut dia ikut-ikut ngatur cara kerja mereka.
"Alah, aku kalau dimarahi gak jelas, keluar aja, ngurus anak di rumah " Kata yang lainnya. Tapi percakapan mereka berhenti ketika ada mobil sedan berhenti diluar tempat sortiran.
"Pak Marjuki, suaminya Neng Imah " Kata salah satu dari mereka sambil melirik ibunya Patimah yang juga sama, bekerja disana.
"Menantunya tuh, bu ?" Katanya lagi, ditujukan ke ibunya Patimah yang pura-pura tidak melihatnya. Sementara Pak Marjuki ditemani Mang Karya naik ke kantor bos mudanya. Subarkah yang kala itu sedang duduk di kursi kerjanya menghadapi Laptopnya.
Subarkah tak kenal dengan tamunya yang datang, tapi kemudian diterangkan oleh Mang Karya sebagai pemilik sawah yang berbatasan dengan sawah Subarkah. Mang Karya sengaja tidak menyebut bahwa tamunya itu adalah suami dari Patimah. Maka setelah itu, Mang Karya keluar membiarkan dua orang kaya itu ngobrol berdua.
"Saya Marjuki, Pak Subarkah " Pak Marjuki mengenalkan diri. Subarkah juga sama menyebut namanya, lalu sebentar basa-basi, tentang tempat tinggal, usaha, dan orang-orang yang dikenal didesa itu. Hingga kemudian pak Marjuki berkata
"Kalau boleh, biar tidak terlalu formal, boleh tidak Pak Subarkah duduknya disini ? "
Sambil begitu Pak Marjuki menepuk nepuk jok kursi panjang yang didudukinya, agar lebih dekat ngobrolnya, yang kemudian di iyakan Subarkah yang kemudian duduk berdampingan dengan Pak Marjuki.
__ADS_1
"Begini Pak Subarkah, saya ini suaminya Patimah, anaknya Pak Parmin yang rumahnya dekat pos ronda itu "
Subarkah sempat kaget mendengar pengakuan lelaki tua disampingnya itu, tapi kemudian biasa lagi karena ia berfikir tidak pernah berbuat salah.
"Oh, ya ya ya, terus apa, Pak ?" Subarkah sangat tenang mengomentari pengakuan Pak Marjuki pada dirinya.
"Jadi begini, saya sudah menikahinya tiga tahun lebih. Ia istri sholehah karena mengurus dan melayani saya dengan sangat baik, tak pernah sekalipun ia menyela pada suami. Ia sepertinya melakukan yang saya inginkan dengan sangat ikhlas "
Pak Marjuki berhenti sebentar, sementara Subarkah merasa kurang nyaman mendengar Pak Marjuki bicara begitu,
"Ini orang maunya apa, mau manas-manasi ?"
Bisik hati Subarkah.
"Semua pengorbanan Patimah, Bapak rasakan. Timbal balik dari saya ke Patimah juga secara lahiriah dicukupi. Hanya nafkah bhatiniah, sekali saja, saya tidak pernah bisa memberinya."
Kembali Pak Marjuki menghentikan perkataannya. Subarkah juga belum mau bereaksi, karena masih bingung ke arah mana pembicaraan ini akan dibawa.
"Kenapa begitu ? Pak Subarkah harus tau, waktu saya siang menikahinya, sorenya saya terlalu banyak minum obat kuat, karena ingin puas menikmati malam pengantin. Sayangnya malah jadi terbalik, malam itu gula darah saya naik sangat tinggi, pingsan dibawa ke rumah sakit, disana saya divonnis diabetes akut dan impotensi permanen."
Pak Marjuki lagi-lagi diam. Menatap Subarkah sebentar. Bagi Subarkah sendiri setelah mendengar kata impotensi permanen, jadi merasa pembicaraan mulai menarik
"Singkatnya, Patimah masih perawan, kesuciannya belum tersentuh saya atau siapapun"
Mendengar itu, Subarkah merasa terlempar ke angkasa, entah apa, seketika ia merasa bahagia.
"Maaf Pak, semua yang bapak bicarakan, saya sudah dengar, tapi saya penasaran, kenapa diceritrakan ke saya ? Apa hubungannya dengan saya ? "
"Tentu, ada hubungannya. Karena saya tahu, dihati kecil istriku masih ada Pak Subarkah. Saya tahu, hati kalian masih terikat, dan itu yang membuat hari ini saya menemui Pak Subarkah "
Subarkah kembali bingung dengan apa yang dikatakan terakhi tamunya.
"Saya ingin melepas Patimah, membiarkan ia terbang kemana saja, tidak seperti sekarang, ibarat burung dalam sangkat. Ia harus mendapat pasangan yang tepat dan saya melihatnya ada pada Pak Subarkah. Saya datang kesini ingin membuat kesepakatan dengan Pak Subarkah "
Subarkah benar-benar masih bingung, arah pembicaraan ini kemana, makanya ia masih memilih diam.
"Saya ingin Pak Subarkah berjanji pada saya, setelah Patimah saya ceraikan, selepas masa idah, Pak Subarkah harus segera menikahinya, agar saya tenang melihat perempuan yang saya sayangi, mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya."
Subarkah baru tahu arah pembicaraan, Ia benar benar sangat terkesan dengan keberanian Pak Marjuki mengutarakan isi hatinya pada orang yang baru dikenalnya. Cintanya yang begitu besar pada istrinya diungkapkan dengan cara yang lain.
"Beruntunglah engkau Patimah, pernikahanmu dulu yang kupastikan menyakitimu ternyata, tidak. Kau diberi jalan untuk menaikan derajat hidupmu oleh kesabaran dan keikhlasan hingga Allah membimbingmu ke tempat terbaik. "
Subarkah berjanji Pada lelaki hebat itu, ia menggandengnya hingga masuk mobil yang kemudian meninggalkan dirinya, berdiri dalam keadaan tercengang.
__ADS_1
* Berlanjut lagi *