
Setelah memejamkan mata, siang itu juga Subarkah pergi lagi meninggalkan rumah. Sepanjang jalan ia tak habis fikir dengan sikap papinya yang masih saja memikirkan dunia, dengan cara berfikirnya yang masih pada zaman Siti Nurbaya, menjodoh-jodohkan anak supaya bisa membangun keluarga dengan orang kaya.
Kemudian ia berhenti didepan super market, tempat belanja moderen satu-satunya di kecamatan tempat ia tinggal. Ia akan membeli makanan instan dan beberapa barang lainnya untuk keperluan rumah.
Ia memasuki gang gang stand makanan dan minuman yang ada disana, hingga gang terakhir matanya melihat sesosok perempuan memakai sweeter hitam, celana lebar hingga menutupi seluruh kakinya, sedang kepalanya tertutup kerudung, diatasnya tersimpan kaca mata yang juga hitam.
Ia terus melihatnya hingga perempuan itu membalikan badan
"Patimah .." Subarkah hampir terbelalak matanya. Betapa ia telah melihat Patimah begitu cantik, anggun dan elegan, dengan pakaian seperti itu. Dada Subarkah berdegup kencang.
"Kang..." Begitu juga Patimah, akal sehatnya hilang sejenak, melihat Subarkah tiba-tiba ada didepannya.
"Belanja juga ? " Subarkah mencoba mengusir kegugupannya
"Oh, ya, Kang ," Patimahpun begituu, akal sehatnya benar-benar hilang karena hanya itu yang bisa diucapkannya hingga melewati tubuh Subarkah. Ia hanya bisa membaui tubuh lelaki itu masih sama dengan ketika ia tersungkur didadanya, parfum yang dipakenya persis seperti itu.
Ia keluar dari super market tanpa menoleh, tapi setelah duduk didepan kemudi, ia lama menatap lelaki itu berdiri dibalik kaca sedang memandangnya.
Setiba dirumah, suaminya tidak ada. Kata Bi Isah, sejak sebelum magrib pergi ke mesjid.
Sedangkan Subarkah sejak sampai di rumah, langsung mandi, lalu sembahyang isya, setelah itu ia membaringkan tubuh di pembaringan, mengelanakan fikirannya pada pertemuan tadi dengan Patimah. Ia baru tahu bagaimana indahnya tubuh Patimah terlepas dari baju kurungnya, mengganti dengan kaus sweeter mengikuti lekukkan dari dada yang menggunung ke pinggang, melebar ke pinggul yang menyembul ke belakang, membuat air liur Subarkah keluar
Paginya, Subarkah bangun agak terlambat karena setelah sholat subuh ia baring-baringan lagi didipan ruang tengah, menikmati angin yang menelisik kulit, hingga ia tertidur lagi.
"Pak Bos, Pak Bos "
Suara Mang Karya memanggil dari luar sambil mengetuk pintu
"Ya, sebentar !" Subarkah bangun membuka pintu. Benar saja Mang Karya, ia memeritahukan ada tamu, dua wanita, menunggu di loby.
"Ya, Mang. Bilang tunggu, habis mandi, saya menyusul "
Benar, ada dua wanita sebaya Patimah menunggu di loby dan mobil sejenis sedan keluaran terbaru parkir didepan kantor.
Setelah salaman dan memperkenalkan diri, Subarkah mengajak tamunya untuk bicara di kantornya. Mereka berdua menanyakan prospek usaha agro bisnisnya yang dijawab apa adanya, baru menghasilkan dua puluh persen laba karena kendalanya ini itu kata Subarkah.
"Sudah bagus itu, padahal belum setahun kan ?" Salah seorang dari kedua wanita itu mengomentari
"Ya, Alhamdulillah mbak "
"jangan panggil embak dong, panggil saya Tini dan ini adik saya Tina ".
Seterusnnya mereka mengaku pemilik sawah puluhan hektar yang berbatasan dengan perkebunan Subarkah.
"Bukankah itu milik Pak Marjuki?"
"Ya, beliau ayah kami"
__ADS_1
"Terus maksud kedatangan kalian kesini ?"
Subarkah langsung ke sasaran, memandang mereka satu persatu.
"Kalau prospeknya bagus, kami mau menawarkan kerjasama, menjadikan sawah kami yang berbatasan dengan area ini, Pak Subarkah jadikan perkebunan seperti ini dan benderanya perusahaan Pak Subarkah ,"
"Modal kerjanya ?"
"Modal dari kami, Pak Subarkah tinggal sebut berapa yang dibutuhkan untuk sekitar sepuluh hektar lahan"
"Sebelas, Ceu" Tina yang dari tadi diam, meluruskan jumlah luas lahan
"O, ya sebelas hektar " Tukas Tini.
"Boleh, boleh boleh. Kapan pelaksanaannya?"
"Bulan depan setelah lahan, padinya dipanen "
"Oke, sambil saya siapkan draf perjanjiannya. Nanti saya kordinasi dulu dengan notaris."
Subarkah berdiri, menghampiri Tini dan Tina hendak menyalami keduanya
" Saya mendahului kerja sama kita dengan mengucapkan selamat, anda pemilik saham terbesar perusahaan agro bisnis ini ,"
Setelah Subarkah duduk kembali, Tini berkata
"Saya ingin dari pihak kami, diatas namakan ibu saya, Patimah "
Subarkah kaget mendengar itu, lalu dilihatnya photto coppy KTP, tertera nama Patimah.
Sekali ini Subarkah merasa, dunia terbalik di fikirannya, karena yang ia fikirkan anak tiri Patimah judes, membenci ibu tirinya. Ternyata? Diluar dugaan malah Patimah diperlakukan layaknya ibu kandung sendiri.
"Kenapa diatas namakan ibu ?" Subarkah penasaran, menanyakan itu.
"Ia bukan sekedar ibu sambung. Ia malaikat yang datang pada keluarga kami, memberi penerang yang memberitahukan pada kami, bahwa sebaik-sebaik manusia adalah yang bisa memberi manfaat pada yang lainnya "
Subarkah terdiam menyimak perkataan tamu didepannya.
"Maka dengan diperluasnya area ini memastikan manfaat itu. Banyak orang disini bisa ikut bekerja, mendapat penghasilan lebih baik dari sebelumnya."
Bermanfaat bagi yang lainnya? Kalimat yang sangat bijaksana, kalimat yang terus terngiang ditelinganya, hingga kedua tamunya pulang menaiki sedan, keluar meninggalkannya, didepan kantor, berdiri termanggu.
*******************************************
Sebulan kemudian, Nenti nampak gusar, ia hancurkan segala apa yang ada didalam kamar sambil menjerit-jerit ia jambak rambutnya sendiri hingga acak-acakan dan kamarnya tak ubah kapal pecah. Ia kesal karena ayahnya lagi-lagi bilang sabar. Karena tidak bisa memaksa papihnya Subarkah untuk segera menentukan tanggal pertunangan dengan Subarkah, lelaki yang membuat jiwanya menggelepar-gelepar.
Ia ingin segera merasa hangatnya tidur di dada bidang lelaki itu setelah mendaki sepuas hati, melepas semua gairah kewanitaannya yang belum pernah terpuaskan oleh beberapa pria yang pernah ia gumul disela pergaulannya yang bebas dan liar.
__ADS_1
"Ada apa, nak, Sayang "
Ibunya datang memeluknya setelah tadi terdengar beberapa barang yang pecah di kamar anak kesayangannya. Disusul ayahnya yang berdiri di pintu.
"Tanya ayah, Bu !"
Pak Herlan mendatanginya. Ia usap-usap kepalanya.
"Sabar, Sayang, dan apa tidak ada lagi pria di dunia yang lebih menarik selain anak Subrata bodoh itu ?"
Terdengar nada suara Pak Herlan memendam marah. Ia kesal dengan Pak Subrata yang masih minta dan minta waktu lagi karena belum berhasil membujuk anak lelakinya untuk dijodohkan dengan Nenti anak perempuannya, padahal suplai barang kepadanya sudah banyak dikurangi
"Kurang ya, Subrata ?"
Ia berkata sendiri lalu ia ambil hand phonennya, ia telephon anak buah dikantornya
"Bulan ini, kiriman barang ke Pak Subrata distop! Jangan ada pengiriman kesana, yang sudah terlanjur dimuatpun turunkan, ke gudangkan !" Itu usaha terakhir Pak Herlan untuk Nenti anaknya.
"Rasakan kamu, Subrata, bagaimana rasanya perusahaanmu dead lock. Itu karena kamu menyepelekan aku yang sudah membuatmu kaya. Sekarang aku pulalah yang akan memiskinkanmu "
Benar ancaman Pak Herlan terbukti. Perusahaan Pak Subrata sekarat. Rekanan hanya memberi waktu satu minggu untuk segera merealisasikan pengiriman barang sesuai kontrak.
Tak ada pilihan, ditemani istrinya, ia bertolak menemui Subarkah, anaknya.
Tapi betapa kagetnya setelah ia sampai disana, beberapa mesin pernanian hilir mudik sedang menggarap tanah seluas memandang, padahal ia tahu, tanah milinya tidak seluas itu.
"Itu kamu juga yang garap ?" Ia langsung bertanya setelah anaknya sampai di kantornya tempat ia disuruh menunggu oleh anak buah, anaknya
"Ya, Pih, dimurahkan ridzki oleh Allah, mendapatkan rekanan besar." Subarkah menjawab penuh bangga, sambil melapkan handuk kecilnya ke leher, yang tadi becucuran keringat.
"Terus papi dan mami kesini, untuk menengoku atau jangan-jangan..soal perjodohan lagi ? Jangan, Pih. Sia-sia saja !"
Berkata begitu, Subarkah sambil tersenyum sinis.
"Denger Pih, Nenti bukan type perempuan yang bisa dibawa rumah tangga. Barkah tahu, imformasi dari kawan-kawan, kalau dia penghoby dunia malam, sering ganti-ganti pasangan !"
Subarkah terus bicara, tanpa memberikan kesempatan papi maupun maminya menjawab atau berkomentar.
"Tapi, kamu tega perusahaan kita sekarang sekarat ? Pak Herlan sudah stop suplai barang ke ayah, sementara rekanan mengancam memutus kerja sama?" Sebelum Subarkah bicara lagi, Pak Subrata mendahuluinya.
"Terus kalau aku mau dijodohkan dengan Nenti, suplai lancar kembali, begitu ? Gimana papi ini ? Kalau begitu, selamanya kita akan didikte sama dia, Pih ? Menurutku biar kita dead lock dulu. Kurasa kedua belah pihak ada resikonya. Biar kita rugi besar dulu, merangkak lagi dari nol sambil melihat, kemana Pak Herlan membuang barang yang biasa dikirim ke kita. Memangnya mudah mencari rekanan sebesar kita ?"
Pak Subrata diam, hati kecilnya membenarkan apa yang dikatakan anaknya. Lebih baik merugi dulu, mencari rekanan lagi dengan kontrak kecil, daripada harus didikte terus. Ia bangga dengan cara berfikir anaknya, tak percuma ia mengeluarkan biaya besar menyekolahkan anaknya ke luar negeri.
Tidak lama ia pulang, hatinya benar-benar lapang, sepanjang jalan ia menghitung-hitung kerugian dengan mesin penghitung uang, sepanjang jalan pula ia membayangkan hidup tenang kemudian.
* BERSAMBUNG*
__ADS_1