
Hampir tengah malam, ketika Pak Herlan menerima telepho dari anak perempuannya, sambil menangis
"Aku digerebek warga, Ayah. Bersama Bang Subarkah di rumahnya "
Terdengar suara anaknya disebrang telephon genggamnya diiringi isak serta suara ribut orang bicara dibelakangnya.
"Aku dan Bang Subarkah dituduh zinah.."
Katanya lagi, seterusnya Pak Herlan disuruh segera datang dengan disuruh menuliskan alamat dimana saat ini mereka berada, setelah itu telephon terputus.
"Dari siapa itu, Yah. Kok kelihatan panik?"
Isteri Pak Herlan nampak terbangun, lalu duduk disisi ranjang yang kemudian mendengarkan suaminya menceritrakan dengan apa yang terjadi dengan Nenti, anaknya.
"Sekarang, bangunkan si Komar. Kita berangkat sekarang."
Si Komar adalah sopir pribadi Pak Herlan, bujangan yang tidurnya di velt bed, di garasi.
Mereka berangkat bertiga. Sepanjang jalan ia berfikir, bagaimana anaknya bisa bersama dengan Subarkah
"Jangan - jangan...." Pak Herlan jadi ingat pembicaraan dengan anaknya waktu anaknya itu minta sejumlah uang
"Sekarang ayah duduk manis saja, biar aku yang mengurusinya sendiri..."
Itu yang dikatakan Nenti. Ia khawatir kejadian ini hanya akal-akalan dia untu mendapatkan Subarkah? Lalu ia ingat pada Pak Subrata, orang tuanya Subarkah. Orang yang pernah ia hancurkan usahanya tapi kemudian, ia juga yang menjadi penyelamat perusahaannya dari kebangkrutan. Lalu ia memutuskan, memberitahu rekanannya itu. Ia menelphonnya berkali-kali hingga kemudian tersambung.
"Ya, Pak. Malam ini juga saya berangkat. Terima kasih "
Itu terakhir pembicaraan dengan Pak Subrata.
di telphon. Pak Herlan sedikit lega, ia berharap kejadian ini tidak akan berpengaruh pada sikap Pak Subrata pada dirinya.
Sementara Pak Subrata, setelah menerima khabar itu langsung menelphon Subarkah. Tapi tidak tersambung karena beberapali dicoba, tetap yang didengar hanya kata mail box dari operator. Kemudian ia telephon pengacara perusahaannya. Dicerterakanlah kejadian yang menimpa anaknya, ia minta alamat kejadian.
"Bapak berangkat saja duluan, nanti saya menyusul"
Katanya diseberang telephon. Setelah itu,Pak Subrata dengan istrinya juga langsung berangkat bersama sopirnya. Istrinya tidak boleh ikut, takut menjadikan masalah ini melebar tidak karuan. Pak Subarkah tahu benar jika menyangkut anaknya, istrinya itu dipastikan mendahulukan perasaannya, emosinya ditimbang mencari tahu kejadian sebenarnya menggunakan akal logisnya.
Subuh, Pak Subrata sampai ditempat anaknya. Pak Herlan dengan istrinya juga sudah ada disana, mereka datang lebih awal. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Dua atau tiga orang yang berjaga rumah, tidak boleh menemui Nenti maupun Subarkah
"Nunggu Ustadz Mansur dan aparat desa serta para tokoh, baru bapak-bapak bisa menemuinya "
Begitu katanya dan paginya benar saja, ada sekitar dua puluh orangan datang, disusul rombongan lainnya dibelakang.
"Terima kasih sudah pada datang, kami hanya ingin memastikan, yang perempuan itu gadis atau punya suami. Sekarang terjawab bahwa dia masih gadis"
Setelah bersalam-salaman saling memperkenalkan diri, Ustadz Mansur mulai bicara mewakili puluhan warga yang sudah berkumpul disana.
"Kejadian ini bagi kami disini sudah dikatagorika aib, yang akan menjadikan kami dosa besar kalau dibiarkan, dan hanya bisa dibebaskan dengan memaksa mereka untuk dinikahkan siri, disini."
__ADS_1
Pak Mansur diam sebentar, lalu berdiri untuk mendiamkan sebagian warga yang berteriak
" Benar, benar ! Lalu usir mereka dari sini !" Kata mereka. Kemudian diam setelah Ustadz Mansur serta kepala dusun menyuruh mereka diam.
Sesaat kemudian pernikahan siri dilakukan, setelah selesai, lalu Nenti dibawa pulang oleh kedua orang tuanya, warga juga berangsur bubar, hanya Pak Subrata yang masih tinggal, berbicara dengan Mang Karya, siapa yang akan bertanggung jawab untuk menggantikan Subarkah selama ia dibawa pulang.
"Ibu, Patimah "
Mang Karya menyebut sebuah nama, yang kemudian diterangkan kepada Pak Subrata, siapa Patimah, bahwa Patimah pemilik saham terbesar di perusahaan ini dengan memodali sepuluh hektar lahan yang sudah sebagian besar dipergunakan.
"Bisa saya bertemu sekarang ?" Kata Pak Subrata
"Tidak tahu, tapi yang saya dengar, Ibu Patimah sedang mengikuti pelatihan peternakan, paling nanti sore saya susul ke rumahnya " Ujar Mang Karya.
"Untuk hari ini, insya Allah saya bisa menanganinya, Pak "
Jawaban Mang Karya sudah cukup menenangkan Pak Subrata. Hanya ia penasaran seperti apa Patimah, karena Subarkah belum pernah menyebut atau menyinggung nama itu. Dari namanya, ia menduga ia orang kaya lokalan, setengah baya, cerewet, mungkin seorang janda yang mau menanam saham sebegitu besarnya, karena ketertarikan pada anaknya semata.
Pak Subrata kemudian pergi, membawa anak lelakinya yang duduk di jok tengah sambil terus saja menggeleng-gelengkan kepala.
Dilain tempat, hari ini Patimah tidak kemana-mana, hanya tadi pagi saja ia pergi disopiri Amir yang sekarang sudah menjadi sopir pribadinya, dibayar gaji bulanan, dibelikan pakaian beberapa baju sapari untuk keseharian menemani Patimah melakukan aktivitas resmi.
Patimah ziarah kubur ke makam ayahnya lebih dulu. Setelah itu baru ke makam mendiang suaminya. Disana ia lama sekali berdo'a, memohon pada Robbnya untuk menjaukan ruh lelaki yang telah menaikkan derajat hidupnya itu, dari panasnya api neraka dan menempatkannya di surga.
Tanpa air mata lagi, karena pada akhirnya ia harus berpegang teguh pada agamanya yang melarangnya untuk sedih berkepanjangan. Hanya beberapa kali terakhir ini, entah sebab apa, ia suka menuliskan sesuatu yang khusus ditulis untuk lelaki itu dan diletakan dikuburnya, ditindih batu bata sebelum ia meninggalkan lokasi pemakaman.
----- Sayang, jika kelak aku mendapat pengganti jasad lelaki lain dikehidupanku, jangan marah, karena kau selalu ada diceruk hatiku terdalam hingga jasadku kelak menghilang dari kefanaan dunia. Terima kasih, Sayang..karena engkau pernah membuatku tersenyum, marah, putus asa dan bahagia walau sesaat saja.-----
"Kang, sedang apa engkau sekarang"
*******************************************
"Enam bulan ? "
"Ya, Pak. Empat sampai enam bulan"
Pak Subrata terperangah mendengar pernyataan polisi berpakaian preman yang memeriksanya.
"Lab kami belum bisa mendiagnosa, berapa banyak, seseorang yang menggunakan narkoba dengan resiko perubahan motorik otak ke organ tubuhnya seperti yang diminta bapak melalui lawyer bapak "
Pak Subrata hanya manggut-manggut mendengar keterangan lanjut dari yang memeriksanya.
"Seperti pemeriksaan DNA darah, tidak semudah sekarang. Dulu kami harus memeriksakannya Laboratorium Forensik Kepolisian Australia."
Pak Subrata, hari itu memang tidak langsung pulang kerumah, hasil pembicaraan dengan pengacaranya diputuskan membawa Subarkah ke rumah sakit khusus perawatan narkoba. Ia meninggalkan Subarkah dibawah pengawasan medis disana. Sedangkan ia dan pengacaranya langsung kantor pusat kepolisian, koordinasi denga petugas bidang narkoba dan bidang kriminal umum.
Akhirnya dibuatkan laporannya disana, setelah selesai, tak lama dua petugas minta melihat keadaan Subarkah dirumah sakit.
Sesampainya ditempat Subarkah dirawat, polisi itu hanya mengamat,-ngamati saja dengan waktu yang cukup lama, sesekali berbicang pelan dengan pengacara Pak Subarkah.
__ADS_1
"Kalau mendengar ceritera tadi,, bahwa pasien hingga sekarang belum tidur, saya melihatnya karena pasien mengkonsumsi zat doping berlebihan sperti biasa terkandung dalam narkoba sejenis extasi. Tapi kalau melihat bibir matanya yang bengkak, dan reaksi bola matanya yang lambat sepertinya pasien mengkonsumsi juga zat adiktif cuku banyak, sehingga pasien lebih banyak juga berhalusinasi, seperti umumnya orang sudah menghisa ganja dalam jumlah yang banyak ,"
Pada akhir pengamatan, petugas memberi gambaran singkat tentang kondisi Subarkah.
"Berapa lama, kondisi ini berlajut, pak ,?" Pak Subarkah mendengar pengacaranya bertanya.
"Tergantung kondisi pasien, ada yang sehari, dua hari, bahkan ada yang seminggu.
Itu yang disebut over dosis atau OD dalam istilah orang sekarang. Terus, itu pasien bawa pulang saja, sebelum dia sadar kemudian ngobrol dengan pasien lainnya. Takut terpengaruh. Rawat dirumah saja, disini juga tak ada yang bisa dilakukan secara medis kok ?"
Itu akhir pembicaraan Pak Subrata dengan petugas kepolisian. Iapun melaksanakan sarannya untuk membawa Subarkah ke rumah.
Dilain tempat, Nenti, sebentar,-sebentar tersenyum, ia sunggu bahagia, rencananya berhasil sempurna, hingga hari ini hatinya berbunga-bunga atas status barunya, menjadi istri dari lelaki yang begitu lama dipujanya. Subarkah, lelaki tinggi besar dengan tangannya yang kekar, mulai hari ini juga sepenuhnya milik ia. Besok ia akan menemuinya, memeluknya sepanjang malam, sepanjang yang ia inginkan.
"Abangku sayang, aku ini srigala betina, sedikit dari makhluk hidup di dunia, yang meneruskan klan calon para putra makhota atas kehendakku bukan kamu. Badanmu yang tegap, wajahmu yang cakap tak berimbang dengan kelemahanmu yang terlalu menjunjung etika !"
Nenti sekarang mengganti senyumman dengan tertawa lepas.
"Lihat balasanku sekarang, Bang, atas beberapa kali pengunduran waktu, beberapa kali penolakan cintaku. Aku bersumpah akan membuatmu bertekuk lutut di kakiku, memohon- mohon atas cintaku !"
Kali ini, Nenti memperlihatkan wajah sinis, sejuta rencana sudah mengisi kepalanya dan iblis begitu baik mengasuhnya dengan memeberinya kepintaran untuk membuat jerat, agar orang lain mudah terperangkap, dalam pemenuhan segala hasrat yang memenuhi jiwa Nenti.
Sementara Pak Herlan, berfikir berbeda. Walau melihat Pak Subrata kelihatannya baik-baik saja, tetap ia khawatir suatu saat tiba-tiba berubah, kalau itu terjadi, maka selesailah sudah, perusahaannya yang ia rintis sejak masih kecil, lalu besar seperti sekarang,
Tiba-tiba harus runtuh karena perbuatan anak perempuannya.
Maka ia kembali menelphone Pak Subrata, ia ingin bicara lebih banyak, jika pernikahan siri anak perempuannya dengan Subarkah, anaknya Pak Subrata dikatakan tidak pernah terjadi, ia akan menerimanya. Tapi telephon itu hingga beberapa kali, tidak diangkat, membuat Pak Herlan jadi sangat cemas. Ia lalu ketuk-ketuk pintu kamar anaknya
"Ayah minta, kejadian sebenarnya seperti apa ?"
Setelah pintu terbuka, ia menarik keras tangan Nenti, anaknya, disuruhya duduk di sofa.
"Apa lagi yang harus diceriterakan ? Kan tadi malam sudah jelas? " Nenti menjawab keras, sama sekali ia tak merubah sikap didepan ayahnya.
"Bagaimana bisa kamu bisa bersama Subarkah, sementara kamu normal dan dia kelihatan tidak sadar dan mabuk berat ?"
"Apa perduli ayah ? Itu caraku bagamana mendapatkan lelaki yang kusuka? Atau ayah protes karena ini harusnya tugas ayah, menyenangkan anaknya ? Ayah yang tidak becus mengurusnya !! "
Nenti, terakhir mengatakanitu dengan nada membentak. Lalu berdiri dengan mata nyalang, berjalan lagi kearah kamar dan waktu tangannya ditangkap Pak Herlan, tangan itu ia tepis keras.
"Sudah ayah, jangan mengurusi aku lagi,, uruslah diri sendiri ' "
Nenti mengunci pintu, meninggalkan ayahnya duduk terpaku. Ia menyesal telah membiarkan anaknya dididik hanya dengan uang, hampir tidak pernah ditunjukan mana jalan yang salah dan mana jalan yang benar. Ia seperti dirinya kemarin, menempatkan uang lebih dari segalanya. Sekarang anaknya, seperti buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jika saja waktu diputar balik, ia ingin membawa anaknya itu ke madrasah dan tempat ngaji terdekat, belajar agama dan sembahyang seperti yang ia akan lakukan. Pak Herlan ke kamar mandi, ia mencoba wudhu, tapi ia lupa urut,-urutan dan lupa bacaannya. Tapi ia juga terus melakukannya. Ia Sholat untuk yang pertama lagi, setelah puluhan tahun ia tinggalkan
Diluar malam merangkak dalam gelap, menggapai bintang diketinggian langit, kelipnya menjadi cahaya kecil di sebuah kamar dimana seorang lelaki setengah baya, bersujud dan menangis di atas sehelai sajadah, mohon ampunan dan kesempatan untuk bertobat, memperbaiki hubungan dirinya dengan Tuhannya.
"La haula walaquwata ila billah ,"
* BERSAMBUNG*
__ADS_1
.