
Waktu telah ditentukan. Pernikahan akan dilangsungkan minggu depan. Ayah Patimah juga sudah di rumah, sudah bisa berjalan walau pelan dan bicaranyapun sudah lebih jelas, hanya mulutnya saja masih sedikit menyon. Ibunya juga sudah bisa tersenyum, uang pemberian Pak Marjuki cukup untuk kerperluan sehari-harinya selama setahun. Pun Patimah, ia tak lagi ingin keluar air mata, keinginannya untuk membuat ayah ibu bahagia, membuatnya ikhlas mempercayakan pada takdir yang tak harus dielakan. Ia berusaha lapang dada menerima lelaki tua untuk menjadi suaminya yang akan ia rawat kehormatan sekaligus aibnya.
"Sebaik-baik istri, adalah perhiasan suami"
Ustadz Mansur berkali-kali mengatakan itu pada tausiahnya. Tinggal satu ganjalan dalam hatinya. Bagaimana menjelaskan ini pada lelaki yang selama ini mengisi relung hatinya? Subarkah, ya Subarkah, lelaki yang telah menghamparkan harapan panjang tentang indahnya hari depan, hidup berdampingan, saling menguatkan atas suka duka, landasannya cinta yang setiap saat bergelora.
"Kang, andai aku kepanasan?"
"Aku Sidratulmuntaha, pohon surga yang akan meneduhkanmu selama 7000 tahun perjalanan berkuda."
"Kalau aku kehujanan ?"
"Aku payung lebar selebar semesta, yang mengikuti kemana saja kau pergi"
Ah...percakapan dalam khayalannya begitu menggoda. Ia terlalu berat untuk melupakan getaran asmara yang mencandu dalam jiwanya. Tapi harus! Semua itu harus segera diakhiri sebelum menjadi duri dikemudian hari. diantara lekaki itu tidak boleh ada yang terluka
"Kang, akhirnya kita harus saling melupakan..."
Lalu ia berjalan gontai menuju rumah kecil dipinggir sawah. Subarkah yang menahan marah, menggenggam kedua tangan Patimah setelah Patimah menyampaikan tentang pernikahannya dengan yang lain, bukan dirinya
"Aku ingin tahu, sebab kenapa kau menerima menikahinya, padahal ia jauh lebih tua darimu, Patimah ?"
Tentu saja Subarkah kaget mendengar penuturan Patimah yang menerima dinikahkan dengan lelaki yang jauh lebih tua darinya.
"Aku ini orang kecil Kang, tidak bisa melawan takdir, ketika ayah memerlukan uang puluhan juta untuk pengobatannya"
"Uang ?"
"Ya, Kang.Yang dipinjam pada calon suamiku, lalu kami tak mungkin bisa melunasinya."
"Kenapa kau tidak membicarakannya denganku ? Berapa banyak yang harus dibayar, aku mampu membayarnya, Patimah."
Patimah terdiam. Ya mengapa kemarin-kemarin tidak membicarakan itu dengannya.
"Aku terlalu berat untuk membicarakan iti denganmu, Aku takut kau mengira aku memanfaatkanmu, karena kutahu kau seorang kaya. Aku tidak ingin seperti itu, Kang?"
Akhirnya Patimah menjawab alasannya.
"Sudahlah Patimah, ayo kita kerumahmu, berapa hutang keluargamu. Aku akan membayarnya!" Subarkah berdiri, gemeletak giginya terdengar jelas, menahan kekecewaan dan marah. Wajah tampan itu jadi sangat menakutkan. Patimah merangkulnya, memeluknya, membenamkan wajahnya didada bidang kekasihnya itu. Sekali ini ia tak perduli dengan ikatan adat dan kepercayaan pada agamanya. Tak perduli dengan haramnya memeluk lelaki yang bukan muhrimnya. Ia mendesak Subarkah hingga terjajar ke kursi panjang.
"Kang, peluk aku, peluk aku "
Patimah menciumi bibir Subarkah, membuka kancing bajunya, membenamkannya ke wajah lelaki yang disayanginya.
__ADS_1
Ia tidak seperti Patimah biasanya, yang selalu menjaga agar tidak tersentuh lelaki bukan muhrimanya. Liar seliar kuda betina yang keluar dari istalnya, menjatuhkan Subarkah ke lantai papan.dipeluk erat Patimah yang sudah setengah telanjang. Seluruh tubuhnya yang peka telah dikuasai gairah durjana yang tertawa menyaksikannya
"Ambilah Kang, ambil. Hanya kau yang pertama boleh mengambil kesucianku.."
Untung Subarkah sadar. Ia tahu Patimah sedang menjadi perempuan lain, karena tekanan keadaan. Didorongnya tubuh Patimah.
"Istigfar sayang..."
Subarkah duduk masih dilantai, memakaikan baju kurung Patimah yang kemudian menangus sejadi-jadinya. Subarkah bersyukur pada Tuhannya yang telah memberi kesadaran, sehingga terhindar dari dosa besar.
"Ayo kita temui orang tuamu. Kita harus mencobanya, siapa tahu masih bisa membatalkan pernikahanmu."
Subarkah menarik tangan Patimah agar berdiri, mengajaknya pergi.
"Biar aku duluan,Kang. Nanti kau menyusul, kalau kita jalan berduaan, takut timbul fitnah dimata orang-orang." Sepertinya Patimah telah benar-benar sadar, berjalan keluar.
Setengah jam kemudian, Subarkah menyusul, mendatangi rumah kekasihnya yang menunggu ditepas rumah bersama ayah dan ibunya.
"Tidak bisa seperti itu Nak. Kami dididik oleh agama. Mengingkari janji, tanda orang munafik, perbuatan yang sangat dibenci Allah"
Ibunya Patimah yang bicara, setelah Subarkah menyampaikan maksud dan kedatangannya.
Jawaban singkat yang tidak menyisakan celah pada Subarkah untuk berkata lain.
"Ya Den. Ibu dan bapak minta maaf, karena keputusan telah diambil. Maaf juga karena kemarin tidak terlintas untuk minta tolong Aden, karena ketidaktahuan ibu tentang kebaikan Aden untuk bisa menolong keluarga ibu."
Subarkah terdiam. Hatinya terluka begitu dalam. Kebahagiaan terasa ada yang merampas dijiwanya, padahal kalau tahu lebih awal, ia pasti bisa mempertahankannya.
Setelah basa-basi mengucapkan selamat berbahagia untuk Patimah, ia pamit pulang, berjalan gontai menyusuri jalan yang seketika temaram
******************************************
Perkawinan itu dilangsungkan sederhana, hanya ada satu tenda kecil saja unuk memayungi undangan yang datang, tetangga sekitar. Tidak kerabat jauh, undangan hanya berupa bewara di mesjid-mesjid dan mushola
dikumandangkan setelah selesai sholat ashar.
Hal itu atas kesepakatan Patimah sebagai satu-satunya syarat yang diajukan kepada ayah dan ibunya. Patimah tak sanggup menerima tatapan orang bila harus duduk di kursi pengantin pada umumya. Patimah tak sanggup melihat orang mecibir, yang pasti kebanyakan orang mengira, ia mau menikah dengan lelaki yang bahkan lebih tua dari ayahnya itu, karena harta.
Pak Marjuki sudah sangat dikenal orang sedesa, memiliki sawah yang luas yang terhampar dibeberapa tempat. Sayang bukan hanya itu yang membuatnya begitu dikenal, tapi satu hal lagi, ia dikenal beberapa kali menikahi gadis belia, tapi tak pernah lama, satu dua tahun meninggalkannya menjadi janda.
"Yang sabar ya, Nak. Jangan didengar bisik-bisik orang di belakang " Ibunya membisiki Patimah sambil menuntunnya kedalam kamar usai akad nikah yang dilangsungkan ditengah rumah. Ibunya ingin Patimah tenang, tidak banyak fikiran.
Patimah baru keluar kamar sebelum magrib untuk mengambil wudhu. Sementara suaminya tadi bilang sama ibu mau keluar dulu mengambil sesuatu dirumahnya dan akan kembali mungkin setelah malam larut.
__ADS_1
"Kang, andai kau yang ada disini sekarang ?"
Wajah Subarkah terpapar di jendela kamar, sedang malambaikan tangan. Wajahnya muram tanpa senyuman, tapi kali ini Patimah tidak mengejarnya untuk melukis lagi kebahagiaan bersamanya. Ia biarkan wajah kekasihnya memudar di balik jendela yang sejak terakhir datang kesini ia tutup rapat, sangat rapat, hingga tak perlu menyisakan celah. Kebahagiaan itu telah menjadi semu, menggantikannya dengan kesedihan yang ia percaya akan terhapus juga seiring waktu.
"Mah, Patimah."
Jendela diketuk dari luar. Suaminya datang, lalu mencium tangannya dengan lembut. Kelihatan suaminya lelah, dan Patimah memapahnya ke dalam kamar,
"Bapa mau mandi air hangat, atau makan dulu ? Biar imah siapkan."
Lelaki tua itu terpana betapa santun istri yang baru dinikahinya itu ? Wajahnya yang tadi pucat, sedikit memerah. Mulutnya kelu, tidak tau harus berkata apa, makan dulu, atau mandi dulu ?
"Ya sayang, Bapa mandi dulu, setelah itu baru makan " Akhirnya ia memilih kedua tawaran istrinya dalam satu jawaban.
Kemudian Imah membukakan kancing dan kaus dalam suaminya, memberinya sehelai handuk baru, lalu menuntunnya hingga ke dalam kamar mandi
Lelaki tua itu benar-benar kikuk, bagaimana ia mau mandi, sementara untuk membuka celana saja rasanya malu ? Patimah mengerti. Ia keluar dari kamar mandi. Menyiapkan makan untuk berdua.
"Ayo bapa dimakan, atau mau kusuapi ?"
Lagi lagi lelaki tua itu dibuatnya terkejut dengan sikap istrinya. Jauh berbeda dengan waktu belum dinikahi, terkesan judes, dan lirikan matanya juga nampak sinis. Kenapa sekarang jadi begini ? Bahkan hingga waktunya tidur. Ia naik ranjang lebih dulu, bawaanya tenang dan teduh, tidak nampak cemas atau ketakutan menghadapinya yang jelas jelas jauh lebih tua.
"Imah sayang, Bapa mau tanya, kenapa kamu sebaik ini, padahal dulu seoertinya kurang suka pada Bapa? " Pak Marjuki akhirnya mengeluarkan rasa penasaran sambil duduk menyamping di sisi ranjang.
"Bapa sekarang suamiku. Imam dunia akhiratku. Dan aku istri, perhiasan suami, harus nurut dan melayanimu " Patimah menjawab tanpa beban.Sementara suaminya hanya menatapnya lekat, menarik Patimah turun dari ranjang. Lalu memeluknya erat sekali. Tangannya mulai gentayangan keseluruh tubuh Patimah terutama pada tubuh yang paling peka dari seorang wanita. Patimah memejamkan mata mencoba menikmatinya.
"kang andai ini engkau.."
Bisik hatinya. Tapi segera ia tepis, membuka matanya, melihat lelaki tua yang sedang mencoba melucuti busana terakhir yang dikenakannya. Patimah pasrah, malam ini mahkota yang selama ini dijaganya harus terlepas.
Tapi apa yang terjadi, seketika tubuh suaminya ambruk ke lantai papan. Patimah mencoba menahannya, tapi tangannya tak cukup kuat untuk membuat suaminya berdiri.
Patimah panik, lalu mengenakan kembali busananya yang tadi terserak. Ia berjalan cepat mengetuk pintu kamar ayah dan ibunya. Tak lama ibunya yang keluar lebih dulu, bertanya ada apa, tapi tak sempat dijawab. Patimah mengetuk pintu tetangganya berteriak
"Tolong...toloong!"
Sesaat kemudian, beberapa lelaki dan perempuan datang, memeriksa tubuh suaminya yang terkulai lemah.
"ini harus segera dibawa ke rumah sakit!"
Seseorang menyeru mengingatkan Patimah yang lalu merogoh kemeja suaminya, ditangannya dijinjing kunci mobil, menyerahkannya pada seseorang yang mengaku bisa nyetir.
Malam itu juga Patimah ditemani ibu dan dua orang tetangga membawa suaminya ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1