PATIMAH SAJA

PATIMAH SAJA
BAB 7


__ADS_3

Subarkah tidak pernah sebahagia ini dalam hidupnya ketika membuka email di gawainya. Semua rekanan memberitahu, semua alat pendukung, seperti gudang, area sortir telah berdiri. Benih, pupuk dan sebagainya sudah terkirim, diterima Mang Karya di desa. Besok rencananya Subarkah mencek ulang barang barangnya, setelah itu, action !


"Wah anak mami kelihatan gembira nih ?Bagi-bagi dong, mami ? "


"Iyalah Moooom, semua infrastruktur sudah siap ditempat ! Besok pagi Barkah langsung cabut !"


"Besok ? Cepet amat ? Kesepian lagi dong mami ?"


Maminya Subarkah sedikit protes, ia masih kangen pada anak sulungnya itu. Wajar, hampir tiga tahun tidak bertemu dengan dia.


"Lebih cepat lebih baik, Mom. Lagian ini waktu yang pas, kemarau terakhir, sebentar lagi musim hujan, lahan harus disiapkan, nanti musim hujan benih ditanam, Mom ?" Subarkah menjelaskan alasan mengapa ia menyegerakan meninggalkan rumah.


"Padahal Rencananya Nenti dengan kedua orang tuanya kesini, menentukan hari pertunanganmu loh ?"


"Mami dan Papi aja yang ngurus ! "


Jawaban terakhir agak keras, sambil berlari kecil ke tangga lantai dua. Subarkah tidak suka membicarakan hal itu, rasanya tidak nyaman saja ditelinga, karena asal ngobrol dengan papi maminya selalu saja ada bahasan itu. Lagipula Subarkah entah sebab apa sehingga tidak begitu suka pada Nenti, padahal dia cantik, modis, seksi ? Mungkin karena merasa diintimidasi saja oleh kedua orang tuanya, seolah-olah nama Nenti jadi sangat penting untuk dibahas.


Tapi dari semua kemungkinan itu, Subarkah tahu, papinya dengan Ayahnya Nenti adalah kolega bisnis yang yang sama kelasnya dan kalau ia dengan Nenti nanti menikah kedua bisnis itu jadi satu atap yang akan memonopoli jenis produksinya. Tentu pilihannya Subarkah yang akan memulai menacapkan dinasti dua keluarga yang sangat kuat secara finansial dibidangnya. Sayangnya mereka salah kaprah, produk yang dihasilkan mereka bertolak belakang dengan skill Subarkah yang gelar masternya dibidang agro bisnis, bidang pertanian !


"Nanti papi bantu dengan dengan membuat struktural baru. Staf ahli yang akan menadampingi kamu dalam mengambil keputusan "


Papanya pernah berkata begitu saat Subarkah ditawari mengganti papanya di perusahaan, tapi Subarkah tidak bergeming, ia tetap teguh merealisasikan mimpinya jadi petani modern, membawa hasil pertanian dalam industri.


"Apa jadinya jika pemimpin perusahaan bukan ahli dibidangnya, lalu mengambil keputusan berdasar orang lain, staf ahli? Preeettt ! "


Untuk itu, usai sholat tahajud, memohon pada Robbnya agar langkahnya direstui, Subarkah sudah meninggalkan rumah tanpa meninggalkan pesan apapun pada kedua orang tuanya, menggunakan mobil sejenis jeep salah satu nobil miliknya melaju menuju twmpat awal impian.


"Tunggu kedatanganku hai, lahan harapan !"


Ia berteriak didalam kendaraan. Menstel keras-keras musik yang disukainya dan baru dikecilkan setelah sudah memasuki jalan desa.


Lalu setelah melewati pos ronda, lehernya spontan saja melirik jendela sebuah rumah, tempat ia dulu melihat seorang perempuan berdiri disana. Tapi kali ini jendela itu tertutup, mungkin penghuninya juga telah menutup hati untuknya.


"Patimah.."


Tanpa sengaja mulutnya menyebut sebuah nama. Nama yang sudah ia lupakan sejak kepergiannya ke Bangkok. Tiba-tiba teringat lagi, seperti duri yang menusuk lagi hatinya dan perlahan membuka lagi kenangan lama bersamanya, perempuan yang telah membentangkan harapan indah pada dirinya jadi sedemikian luas menembus jutaan cakrawala, betapa bahagia saat berdua dengannya.


"Ah .., Patimah sedang apa engkau gerangan ?"


Mobil berhenti. Rumah kecil miliknya itu masih asri, ketika dimasuki dalam keadaan sangat bersih, Mang Karya merawatnya dengan sangat baik

__ADS_1


"Emang dan emak suka mengepelnya dengan ampas kelapa Den "


Mang Karya menjelaskan ketika ditanya bagaimana caranya sehingga lantai papan jadi begitu mengkilat. Lalu ia melihat Wati, ia sudah menjadi seorang gadis, kelihatannya tidak manja lagi seperti dulu, malah cenderung jadi pemalu saat ia menyalaminya.


Dunia begitu cepat berubah. Setelah istirahat sebentar, ditemani Mang Karya, Subarkah berkeliling ke Gudang, ke tempat sortiran dan beberapa tempat lain yang sudah dibangun dan disiapkan oleh rekanan. Ia puas, lusa ia berniat melaksanakan syukuran dulu sekaligus minta do'a dari masyarakat sekitar desa dengan niatannya menggarap 4 hektar lahan sawahnya dijadikan lahan pertanian berbasis industri. Dan niat mengadakan syukuran, hari itu juga dibicarakan dengan Mang Karya, dimulai dari menunjuk orang yang memimpin do'a, banyaknya orang yang diundang hingga catering yang harus dihubungi.


******************************************


"Pak, aku minta izin kalau boleh mau menengok ibu dan ayah ?"


Kala itu Patimah berkata pada suaminya usai sholat subuh, Suaminya tadi tidur-tiduran sambil mendengar ia mengaji, kebiasaan yang tak pernah sekalipun ia tinggalkan.


"Tapi kalau bapak keberatan, tidak apa" Patimah duduk disisi ranjang disamping suaminya.


"Kalau bapak keberatan ?"


Pak Marjuki menjawab sambil menyentuh hidung Patimah dengan telunjuk, senyumnya lebar.


"Ya tidak apa, aku takkan kemana tanpa izinmu ?"


"Kenapa begitu?"


Patimah naik ketempat tidur, menyandarkan kepala di bahu suaminya.


Pak Marjuki diam, diusap-usap rambut istrinya penuh kasih sayang. Ia bersyukur pada Tuhannya yang telah menyertakan istri yang sholehah dalam menghabiskan masa tuanya.


"Pergilah Patimah. Bapak mengizinkanmu.Jam berapa mau pergi ?"


"Nanti, paling jam 10, setelah bapa sarapan dan minum obat ?"


Patimah kembali duduk, menempelkan punggung jari ke kening suaminya, memeriksa suhu tubuhnya


"Bawalah oleh-oleh yang banyak, kan sudah lama kamu tak menengoknya, lagipula kenapa tidak sekarang saja pergi ? Makan dan minum obat biar bi Isah saja yang ngurusi?"


"Bi Isah ? Bapak mau mengurangi pahalaku dan memberikannya pada orang lain ? "


Patimah cemberut. Memalingkan muka dari suaminya, membuat suaminya tergelak melihat tingkah Patimah begitu.


"Ya, ya. Jam 10 kamu boleh pergi "


Bi Isah sendiri, adalah perrmpuan setengah baya yang dibawa Tina, anak bungsu Pak Marjuki. Sengaja dibawa untuk meringankan pekerjaan Patimah, mama sambungnya.. Sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang dirinya pada Patimah, juga biar menjadi teman ngobrol baginya yang selama ini hampir tidak pernah keluar rumah.

__ADS_1


Patimah sendiri beberapa kali menolaknya, dengan alasan semua itu sudah menjadi kodrat seorang istri untuk mengurusi suami dalam keadaan apapun, namun Tina memaksanya


Tidak boleh menolak. Sudah lebih dari cukup mama sambungnya itu mengurus ayahnya yang sakit-sakitan. Mama sambung yang seharusnya sudah harus memetik apa saja yang telah ditanam dalam keluarganya, dengan memberi kelonggaran, bisa keluar bergaul dengan dunia luar.


Jam 10 seperti yang telah dibicarakan, Pak Marjuki menatap tubuh istrinya didepan cermin dengan pakaian dalaman, hasratnya begitu kuat untuk menyentuhnya, tapi tidak berani karena kejantanannya tak bereaksi sama sekali untuk penetrasi.


Hingga selesai dandan seadanya, Pak Marjuki memberikan amplop tebal pada istrinya untuk diberikan kepada mertuanya, tapi istrinya itu menolaknya


"Tidak usah, takut nanti jadi kebiasaan"


Tapi Pak Marjuki memaksa, memasukan amplop itu ke tas istrinya


"Bapak, ingin kamu mencatatnya sebagai shodaqoh bapak pada orang tuamu. Sebagai ibadah, bukan pemberian cuma-cuma. Bukankah kamu sendiri yang mengajari bapak untu banyak memberi ? "


"Ya, tapi tidak sebanyak ini Pak "


"Sudahlah Patimah, bapak tidak ingin berdebat. Berikan saja, urusan benar dan salah serahkan saja pada Allah "


Patimah tidak menyela lagi, diluar terdengar bunyi klakson motor beberapa kali, mungkin itu ojek yang dipesan suaminya telah datang. Ia cium tangan suaminya itu.


"Aku berangkat ya,Pak. Asalamualikum "


"waalaikum salam "


Patimah keluar, naik ojek dengan duduk menyamping. Hingga sampai di rumah, ayah dan ibunya tidak ada. Lalu ia tanya pada tetangganya yang mengatakan, ayah dan ibunya masih bekerja di pabrik milik Subarkah.


Patimah sontak tersentak saat mendengar nama itu, bukankah ia telah meninggalkan desa bersamaan dengan waktu ia menikah tiga tahun yang lalu? Tapi tak lama ia memutuskan naik ojek yang masih menunggu, pergi menyusul ayah ibunya.


Keputusan yang lebih didorong nalurinya, ingin melihat rumah kecil di pinggir sawah yang pernah meninggalkan cerita dihatinya, atau dorongan lainnya karena keingin tahuan, seperti apa Subarkah sekarang.


"Rumah ini akan menjadi awal cintaku padamu bersemi, sayang. Kelak kita akan mengisinya bersama, mendengar gelak tawa anak-anak kita" Dulu Subarkah pernah berandai-andai tentang rumah kecil itu.


"Kang..."


Hanya itu bisik hati Patimah, tapi rasa sakit mulai menelisik, karena goresan catatan masa indah itu kembali terbuka dengan sendirinya, hingga ia sadar sekarang, turun dari ojek, memandang rumah kecil itu masih asri Pemiliknya merawat dengan sangat baik.


Kepenasaran jadi begitu besar ketika pintu rumah itu sedikit terkuak, ingin rasanya masuk kedalam, berharap isinya masih sama. Ada kursi kayu jati tempat ia dulu menjatuhkan Subarkah dari sana ke lantai papan, menciuminya, membenamkan didadanya ke wajah lelaki yang sangat dicintainya itu. Fantasinya terasa lagi hingga tubuhnya seperti meriang, hati kecilnya menggoda ingin mengulang


* BERSAMBUNG*


* Bantu Like dan Komennya yah *

__ADS_1


__ADS_2