PATIMAH SAJA

PATIMAH SAJA
BAB 6


__ADS_3

Setelah selesai beres-beres pakaian satu tas penuh dan satu tas punggung yang juga sama penuhnya, Subarkah duduk bersandar di dinding selatan rumah bagian tengah dan kelihatan sangat lelah, terkulai merasakan harapannya yang seketika musnah. Cinta yang kandas dan hati yang patah.


Semalan ia hampir tak tidur, memikirkan kekasih tempatnya menyandarkan segala kegundahan, telah direbut orang tanpa ia bisa berbuat apa, tanpa bisa melawan lalu menyerah.


Patimah juga demikian, merasa seperti Dewi Kunti di di kerajaan Astina, diam tak bisa berteriak ketika kehormatannya dicabik-cabik Dursasana, sebelum berdirinya kerajaan Amarta.


Subarkah tahu, Patimah menerima dinikahi tua bangka itu karena keadaan yang memaksa pada tanggung jawabnya terhadap keluarga, berkorban sebisa-bisa untuk kesembuhan ayahnya, bersandar pada keyakinan yang sedemikian kuat pada agamanya bahwa membela ibu dan ayah sebagai sesuatu yang mutlak, karena keduanya sebagai salah satu jalan terbuka, menuju surga.


"Patimah, sayangku. Bagaimana aku bisa menyembuhkan lukaku ? Bagaimana aku bisa mendapatkan lagi perempuan kuat dan sehebat engkau ?" Subarkah, sesaat melepas dendam kesumat didalam hatinya, dengan berkata sendiri, menutup wajah dengan sepuluh jari, menatap kursi dan lantai papan, mengingat hangat dada kekasih diwajahnya. Hasrat yang selama ini tak seorangpun perempuan mampu membangkitkannya. Dengusnya masih tercium dihidung, dengus yang tak akan pernah ia baui lagi dikemudian hari.


"Patimah, sayangku"


Diluar terdengar suara mobil berhenti, Subarkah berdirì, ia sibak gorden rumah untuk melihat. Jemputan telah tiba yang akan membawanya ke rumah besar orang tuanya di kota. Kemarin ia sudah bicara dengan Mang Karya, untuk memelihara rumah kecilnya selama ia tiada, karena ia telah memutuskan meriset ulang semua rencananya untuk dua tahun kedepan, ia akan memenuhi keinginan kedua orang tuanya, meneruskan sekolah, mengambil gelar master bidang pertanian di Bangkok Thailand, bukan di Jerman.


Ia fikir itu jalan satunya-satunya untuk melupakan semua peristiwa disini dengan Patimah, tidak lagi cemas ketika akan kekota melewati rumah kekasih dengan jendela terbuka, melihat perempuan yang sangat dicintainya berdiri disana, melamun dengan senyum dikulum.


Sementara Patimah juga cemas, di luar bangsal VIP rumah sakit bersama ibunya, menunggu hasil pemeriksaan dokter, tentang sakit suaminya yang tergolek didalam dengan mulut dipasang alat penyuplai oksigen, belum sadar sejak dibawa kesini.


"SIapa keluarga Pak Marjuki ? "


seorang dokter didampingi dua perawat wanita berdiri dipintu bangsal. Patimah berdiri menghampirinya.


"Saya, dokter "


"Siapanya pasien "


"Istrinya, dokter "


dokter tersenyum seperti tidak percaya, melirik ibu patimah yang duduk di kursi panjang. Tapi kemudian ia berkata


"Pasien, menderita diabetes akut, hasil lab terhadap gula darahnya sudah sangat tinggi, 700.

__ADS_1


Padahal normalnya 100 sampai 150, Dik ? Dan dalam beberapa kasus dengan kadar gula setinggi itu ada beberapa mati "


dokter diam sebentar, memperhatikan perubaha wajah Patimah yang nampak mengernyitkan jidat.


"Beberapa kasus, menyerang mata, dari mulai berkurangnya penglihatan hingga kebutaan, dan fungsi kejantanan lelaki juga kemungkinan susah penetrasi hingga impotensi permanen "


Kembali dokter menghentikan bicaranya, sedikt tersenyum menatap Patimah yang mulutnya tiba-tiba mengangap.


"Ok sementara itu, nanti kalau pasien kelihatan sadar, tolong beri tahu piket perawat disana ya ? "


Sambil begitu, dokter menunjukan tangannya ke satu ruangan tempat perawat siaga.


"Ya, terima kasih, dokter " Patimah mengiyakan, dan dokterpun meninggalkannya yang seketika berfikir, bersedihkah atau bahagia saat mendengar kata ' Impoten pernanen ' yang mungkin akan dialami suaminya. Tapi tak lama ia masuk kedalam,melihat suaminya barangkali sudah sadar. Tapi tidak, ia masih terlentang pucat, sepucat waktu pertama datang larut malam, dimalam pengantin yang seharusnya ia telah mengambil mahkota keperawanan dirinya.


******************************************


Dua tahun terlewat, dunia berganti-ganti warna dan rupa, begitu juga manusia, ada yang dimudahkan, ada juga yang disusahkan sebagai bentuk keseimbangan, seperti si kaya dan si miskin yang saling keterkaitan.


Seumpama Patimah dan suaminya, keduanya menjalin rumah tangga yang rumit, Patimah yang muda, sehat tangkas dan enerjik sementara suaminya, tua, lemah dan cara berfikirnya mulai pesimis. Tapi mereka masih tetap bersama, satu rumah, satu kamar saling membutuhkan. Patimah perlu penghidupan, sandang dan pangan yang diberikan suaminya tiap ia memerlukan, sementara bagi suaminya, keberadaan seorang istri sesholehah Patimah adalah anugrah yang luar biasa. Ia mengurus suami dengan hati, sabar dan ikhlas, sejak berbulan-bulan di rumah sakit, siapa yang mau menggatikan pembalut pampers bekas kotorannya yang menjijikan ? Menyuapi makan, memandikan dengan melap hampir seluruh badan, meminumkan obat sedemikian terapti ? Hingga dua tahun kurang di rumah, juga tidak berbeda, ia istri yang hampir tidak pernah menyela permintaan suami.


Suatu pagi diteras rumah, ketika mereka duduk disofa berdua minum teh hangat, kebiasaan baru setelah Pak Marjuki membelikan rumah baru tidak jauh dari rumah sakit tempat ia dirawat, Pak Marjuki memanggil nama istrinya, ingin mengatakan sesuatu yang lama dipendamnya didalam hati


"Ya Pak, Perlu apa ?


Pak Marjuki tidak langsung menjawab, ia genggam.kedua tangan istrinya.


"Apa kamu tidak jenuh, sepanjang hari di rumah, jalanlah, Bapak tidak akan melarangmu ?"


Pak Marjuki meneruskan bicaranya. Ia merasa kasihan pada istrinya. Ia sadar perempuan seusia dia sedang sedangnya ingin jalan, dandan, membeli perhiasan, atau sekedar nampang di pusat perbelanjaan, tidak sepertì dia setiap hari hanya melihat dapur, kamar dan halaman.


"Mau kemana Pak ? Dipaksapun aku tidak akan mau meninggalkanmu sendiri, lagipula ini kan sudah kewajiban istri, tidak kemana-mana tanpa didampingi suami ?" Patimah menjawab disertai senyuman, sambil mengusap-ngusap punggung tangan suaminya

__ADS_1


"Tadi kan bapak sudah bilang, bapak tidak akan apa-apa, belilah kalung, gelang atau apalah ! Kau pantas mendapatkannya setelah tahun-tahun kau merawatku dengan sangat baik. Jutru kalau kau begini terus, mebatasi langkahmu, membuat Bapak sedih."


Dan memang sedih, karena Pak Marjuki berlinang air matanya, air mata yang baru sekarang bisa keluar lagi setelah terakhir dulu mengucur ketika ibunya meninggal. Lalu sekarang keluar lagi karena sikap istrinya yang begitu ikhlas mengurus dan merawatnya setiap saat.


"Hai, papa !! "


Terdengar orang memanggilnya bersama suara derit pagar rumah dibuka. Ia toleh, ternyata anak perempuannya Tina datang menjinjing dua plastik besar bergambar logo pusat perbelanjaan tertentu.


"Tina ?"


Pak Marjuki berusaha berdiri, dibantu istrinya Patimah. Mereka sesaat berpelukan bertiga.


"Papa, kelihatan sehat ya ? "


Padahal sambil begitu, ia menyusut air mata papanya yang tersisa. Sebelum masuk, tadi Tina sempat melihat papa dan mama barunya saling pegangan tangan.


"Mama Imah juga sama, sehat kan ?"


Sambil begitu, Tina memeluk Patimah, mama barunya sangat erat. Ia begitu menyayangi mama barunya itu mungkin setahunan kesini, sebelum pada awalnya benci dan curiga mamah barunya seperti perempuan nakal lainnya, melakukan banyak cara untuk menggerogoti harta ayahnya. Beda dengan yang ini, Tina tidak melihat adanya udang dibalik batu, dengan sikap ikhlasnya merawat, mengurusi semua kebutuhan ayahnya dengan sangat baik.


Pernah beberapa kali ia menginap disini sehingga tahu bagaimana mama barunya itu mengurus ayahnya. Mendengar ia mengajari do'a do'a tertentu yang sudah sekian lama tidak pernah keluar dari bibir ayahnya. Dan satu hal yang membuat ia bergidik, bagaimana mama barunya mengajari perempuan seperti Tina, saat mendengar lantunan merdu membaca mushaf qur'an setiap habis sholat magrib dan subuh.suaranya merdu tersampaikan hingga ke kalbu.


Itu yang membuat Tina berbalik sangat menyangi sekaligus menghormati Patimah, terutama setelah melihat ayahnya sembahyang. Ia sampai menangis. Pemandangan yang baru baginya.


"Ayah ingin sehat,Nak. Ayah ingin sekali berhaji didampingi ibumu yang akan menjadi penunjuk jalan bagi ayah."


Suatu saat ayahnya berucap begitu. Semakin menambah panjang catatan perubahan ayahnya kedepan, sejak mama barunya hadir dikehidupan ayah dan dirinya. Mamah baru yang umurnya mungkin lebih muda darinya, telah merubah tatanan keluarganya menjadi dekat pada tuntunan agama. Tina yang bungsu dan Tini yang sulung, dua anak Pak Marjuki yang beberapa bulan terakhir memutuskan berhijab, mengikuti ayahnya belajar memilah yang haq dan yang batil, yang halal dan yang haram, agar ia bisa seperti Patimah, mamah barunya yang mengikat keras dirinya pada syari'ah, qur'an dan sunah yang diwasiatkan nabinya.


"Diantara Kalian ada yang dimudahkan dan ada yang disusahkan, tapi bagi yang berilmu dinaikan satu derajat diantara keduanya. "


Begitu juga dilain tempat, Subarkah keluar dari pesawat yang membawanya dari Bangkok, setelah studi masternya bisa diselesaikan dengan baik, dengan predikat terpuji, ia pulang menginjakan kembali kaki ditanah airnya dengan fikiran semakin positip.

__ADS_1


Setelah beberapa hari istirahat di rumah, ia ingin segera meneruskan ambisinya yang sempat tertunda. Membangun industri pertanian modern, membuka lahan kerja bagi orang-orang desa yang selama ini tidak terekspos kerja keras dan vitalitasnya pada profesi mengolah tanah, menaburinya dengan bibit, lalu dipelihara dengan baik, setelah dituai, disebar keluar.


Tulang punggung negara yang jarang dipuja oleh hampir setiap orang yang sudah terkena sihir gemerlapnya kota.


__ADS_2