
Pagi sekali Patimah meninggalkan rumah sakit, membawa satu tas penuh, cucian. Matanya sembab bekas menangis hampir semalaman.
Seringai lelaki tua tambun itu, hampir sepanjang malam terbayang. Betapa bencinya ketika ia melingkarkan tangan dipundaknya, sambil terkekeh-kekeh menandakan manusia yang tidak punya empati, padahal didepannya ada ayahnya yang terbaring lemah dan ibu yang beberapa hari ini, terlihat seperti kebingungan kembali.
Patimah maklum, beberapa hari yang lalu, ibunya berkata bahwa uang yang dipegangnya sudah sangat menipis, sementara kondisi ayah belum ada perubahan, bahkan dokter menyarankan membawanya ke rumah sakit yang lebih besar di kota. Makanya kemarin pagi memutuskan, kembali menemui Pak Marjuki di rumahnya. Hasilnya bagaimana Patimah tidak tahu. Ibunya menghindar saat ditanya soal itu.
"Ya sudah ada. Pak Marjuki menyanggupi, menutupi semua pengobatan ayah "
Hanya itu. Tapi Patimah merasa, ada yang disembunyikan ibu, dari air mata yang berlinang setiap ditanyakan tentang itu. Pertanyaan yang terus terbawa hingga sampai di rumah, ia baru lupa ketika selesai mencuci dan membersihkan rumah, karena ada Wati datang, memberitahu bahwa besok ia mulai masuk ke sekolah barunya di SMP.
Patimah senang mendengarnya. Apalagi seterusnya Wati memberitahu bahwa Subarkah tadi pagi sudah pindah ke rumah barunya yang dipinggir sawah.
"Wati dan emak ikut mengantar. Ramai, ada Pak RT dan tetangga lainnya. Berdo'a. Yang berdo"a ustadz Mansur. Pulangnya dikasih nasi kotak dan uang dalam amplop. Om Subarkah itu orang kaya ya Kak?"
Wati benar- benar polos. Bagaimana Patimah tahu Subarkah orang kaya ? Walau memang Patimah menduga-duganya.
"Tadi ada mobil bagus dua. Katanya ayah dan ibu Om Subarkah juga ada " Wati terus mengoceh, tak memberi jeda untuk Patimah bicara.
"Tiap hari, Wati dikasih uang sama Om Barkah, tiap kali disuruh melihat Kak Imah disini. Padahal Kak Imah di rumah sakit terus kan ?"
Semakin senang perasaan Patimah mendengar ocehan Wati. Ternyata lelaki itu selalu mengingatnya. Sepadan rasanya karena ia juga sama, setiap saat merindukannya ?
Tak lama Wati pulang. Ia mengatakan akan menemui Subarkah, memberi tahu kalau Patimah ada di rumah. Ia bilang pasti diberi uang. Wati benar-benar polos dan menggemaskan.
Begitupun Patimah. Usai sembahyang ashar, ia lepas mukena. Hanya mengenakan pakaian dalaman saja, ia berlenggak-lenggak lenggok didepan kaca. Memandang kujur tubuhnya dari kaki hingga kepala. Sesekali ia pegang beberapa bagian tubuh pekanya, diakhiri dengan mengganti branya dengan yang lebih ketat, hingga buah dadanya yang ranum menyembul. Ia tersenyum dan bersyukur, Allah telah membirinya tubuh yang sempurna.
"Kang, andai engkau menjadi jodohku, aku bahagia menyerahkan seluruh tubuhku."
Lalu ia lilitkan sarung kebat di pinggangnya yang ramping, menutup pinggul yang padat. Setelah itu dikenakannya baju kurung berwarna biru dan penutup kepala, kerudung ungu yang paling baru.
Sekali lagi ia menatap tubuhnya. Lalu beranjak pergi, mengunci rumah, berjalan menyusuri jalan ditemani bayangan kekasih tampan, Subarkah yang berlarian dikedua kelopak matanya yang indah.
Tapi apa yang terjadi. Beberapa meter sebelum sampai di rumah kecil asri itu. Dibalik mobil mewah yang terparkir didepan rumah, terlihat seorang gadis berpakaian mini dan seksi, bergelayutan di lengan lelaki yang telah memberinya harapan indah.
"Siapa? "Bisik hatinya.
__ADS_1
Tak terjawab karena rasa sakit mendahului mengiris sepotong hatinya. Sakit teramat sangat, hingga ia lupa harus berbuat apa.
"Hai Patimah !"
Subarkah melihatnya. Setelah melepaskan tangan perempuan yang menggayuti lengannya, setengah berlari menghampiri Patimah yang berdiri kaku, karena kakinya terasa terbelenggu,mulai dirayapi rasa cemburu.
"Ayo masuk, ada Wati dan Mang Karya di belakang ?" Subarkah tidak biasanya, begitu berani memegang Patimah, menariknya ke arah rumah. Tapi kemdian ia lepaskan setelah sadar kalau hal itu sudah diluar kewajaran Patimah.
"Maaf "
Seketika itu juga Subarkah meminta maaf pada Patimah. Ia merasa lancang memegang tangan perempuan yang bukan muhrimnya. Padahal saat itu sebenarnya Patimah tidak apa-apa. Itu jauh sepadan dari kekurang ajaran lelaki tambun yang kemarin malam melingkarkan tangannya di pundak, hampir menyentuh buah dada Patimah.
"Ayo kedalam ?" Subarkah kembali meminta Patimah kedalam.
"Ya, Kang "
Patimah mengiyakan. Lalu berjalan kearah rumah, menyalami perempuan seksi yang berdiri disisi kolam yang nampaknya baru digali, tapi sudah rapi, pinggirannya sebagian sudah di pondasi.
"Nenti." Katanya menyebut namanya. Matanya menatap mata Patimah begitu tajam. Senyumnya sekilas saja.
*******************************************
Ini kali kedua Patimah giliran menjaga ayahnya di rumah sakit besar di kota. Berarti ini minggu ke tiga ayahnya dirawat disana. Patimah juga kemarin mendengar khabar menggembirakan dari tetangga yang pulang besuk, bahwa ayahnya sudah ada kemajuan, bisa berjalan walau baru selangkah dua langkah, juga bisa bicara walau belum begitu jelas. Itulah yang membuat Patimah sangat semangat untuk giliran jaga, mengganti ibunya yang sudah seminggu disana.
Sesampainya di rumah sakit, Patimah langsung memberikan kunci rumah pada ibunya. Tapi setelah diterima, ibunya tidak ada tanda-tanda mau pulang. Malah menuntunnya masuk. Menyuruhnya duduk disisi ranjang menghadap ayahnya yang juga duduk, punggungnya diganjal bantal
Ayah dan ibunya sebentar saling pandang, hingga kemudian ibunya berbicara.
"Nak,"
Hanya itu, lalu diam memandang lagi ayahnya Patimah, dadanya turun naik tidak karuan. Sebentar kemudian ayahnya menutup muka dengan kedua tangannya. Ia menangis terisak-isak, diikuti ibu yang juga menangis memeluk ayahnya.
Setelah beberapa lama, ibunya kembali duduk dibanggku bulat. Tangisnya berhenti, lalu meneruskan perkataannya.
"Nak, kemarin Pak Marjuki datang, menghitung pengeluaran bekas ayah berobat dan bekas keperluan sehari-hari ayah dan ibu, dipotong perkiraan hasil panen."
__ADS_1
Ibu diam lagi sebentar, mengusap air mata yang tersisa dengan ujung kebaya.
"restan hitungan meninggalkan hutang puluhan juta. Dan jika dibayar dengan apa yang kita punya, rumah dan kebun milik andai diuangkan jauh dari cukup untuk melunasinya"
Ibunya kembali diam, menatap mata Patimah
"Terus, apa yang kita bisa lakukan?"
Patimah mencoba menyela, karena ibunya terlalu lama diam, meletakan kedua tangannya di lahunan Patimah. Kelihatan ibunya seperti ragu untuk meneruskan perkataannya.
"Ibu tak punya jalan keluar lain, kecuali minta keikhlasanmu nak, untuk mau dinikahi Pak Marjuki, dengan demikian semua hutang dianggap impas dan kita tidak harus menjual apa yang kita miliki."
Mendengar itu, Patimah seperti mendengar petir disiang hari.
"Ibuuuu !"
Hanya itu yang bisa dikatakan Patimah. Menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya, ia lihat ibunya menundukkan kepala.
Patimah ingin protes, tapi protes apa, sementara ia tidak tahu jalan keluar lain ?Kemudian ia berjalan keluar bangsal, duduk dikursi panjang paling sisi. Bagaimana ia bisa menolak keputusan yang telah diambil ayah dan ibunya. Andaipun rumah dan kebun bisa melunasi utang pada si tua tambun itu, bagaima menjalani hidup selanjutnya? Tidur diemperan sementara ayahnya masih belum bisa berbuat apa-apa ? Bahkan untuk makanpun tidak jelas bagaimana mendapatkannya, bukankah hasil panen saat ini sudah tidak kebagian ? Patimah merasa kepalanya terbakar, berulang kali mencari jalan keluar, selalu saja buntu, hingga akhirnya ia kembali masuk ke bangsal, duduk disisi ranjang.
"Jika itu pilihan ayah dan ibu. Imah pasrah. Imah tak melihat lagi ada jalan keluar lebih baik, selain mengikuti. Mungkin itu jalan hidup imah yang di berikan Allah. Imah terima, Bu"
Meledaklah tangisan Patimah yang sedari tadi ditahannya, Ia susupkan wajahnya pada lahunan ibu. Tempat paling nyaman setiap ia dilanda kesedihan.
"Bagi perempuan, menikah itu penyempurna ibadah, karena kamu akan mendapatkan imam untuk duniamu dan juga akhiratmu "
Teringat ucapan Ustadz Mansur di pengajian ibu-ibu. Itu sedikit meringankan beban Patimah. Walau kemudian ia merasa jijik bila ingat seringai lelaki tua tambun itu kala melihat tubuhnya hanya dililit sehelai handuk, seperti kucing melihat lauk.
"Maafkan ibu, Nak. Seandainya ada jalan keluar lain.....ibu takkan memilih jalan ini."
Ibunya mengusap-usap kepala anak perempuan semata wayangnya itu, yang kala itu fikirannya tertuju pada lelaki tampan yang telah mengikat jiwanya begitu erat. Bagaimana cara mengatakannya pada dia, tentang rencana pernikahannya dengan lelaki lain? Lelaki yang jauh lebih tua, bahkan lebih tua dari ayahnya ? Dan yang paling menggenaskan, bukan masalah tuanya, tapi karena keterpaksaannya dari keadaan keluarganya yang ditakdirkan hidup miskin. Hidup yang melampaui batas kesusahan sehinngga tiada daya lagi hak untuk menawar.
"Surga di telapak kakimu ibu, biarlah aku menanggung semua ini, asal aku tidak sekalipun melukaimu walau segores "
Patimah kali ini benar tertidur, dipangkuan ibunya yang sangat ia sayang. Hatinya sudah lapang untuk menerima jodoh yang diberikan Tuhannya.
__ADS_1
* Duh Karunya si eneng ....*