
Luka langsung menganga setelah kepulangan Mang Karya yang mengabarkan agar sementara melaksanakan tugas keseharian seorang direktur perusahaan, yang sementara cuty karena cacat mental, dalam keadaan mabuk melakukan hal menjijikan, menyekap seorang gadis didalam rumah dan yang melakukannya justru lelaki yang selama ini ia kira pinter, ganteng dan beretika! Ternyata ia hanya srigala berbulu domba, menyembunyikan begitu rapi, watak aslinya
"Menjijikan! Menjijikan!"
Begitulah Patimah berteriak dalam hati. Ia segera hapus air mata yang hampir saja keluar. Ia merasa tak pantas menangisi lelaki pengkhianat seperti Subarkah.
Tapi kemudian ia ingat pada pesan ibunya
"Libatkanlah Allah dalam setiap masalahmu, Nak. Karena hanya ia yang maha tahu masalah yang terjadi pada ciptaannya. Agar engkau berbaik sangka dulu dalam menilai sesuatu."
Maka usai shalat magrib, ia segera mengabil wudhu, lalu mendirikan sholat istiqoroh, minta petunjuk dan jalan agar hatinya bisa tentram.
"Ya Allah hanya padamu aku berlindung, hanya padamu aku memohon pertolongan, karena hanya engkau yang maha mengetahui. Amin ,"
Patimah mengusap wajahnya. Benar, ia harus berbaik sangka dulu, duduk sebagai hakim untuk mendengar, melihat, mempertimbangkan keputusan. Terlebih ketika mendengar dari Mang Karya bahwa Subarkah, hingga dibawa orang tuanya, dalam keadaan mabuk berat, kondisi yang baru sekali didengar Patimah, Subarkah mabuk? Ia mulai ragu untuk percaya sepenuhnya, kecuali ada faktor lainnya.
Malam itu, Patimah tidur minta ditemani ibunya. Ia bilang ingin mendengar lagi tarikh, tentang perasaan Siti Aisyah pada Siti Khodijah karena nabi selalu menyebut-nyebut tentang kebaikan dan kesabaran istri pertamanya itu.
"Kenapa ingin diceriterakan itu, Nak?"
"Ibu, aku sedang cemburu, Ibu."
Diraihnya tangan ibu, ia letakan di kepalanya. Lalu Ibu memulai ceritanya sambil tersenyum, memaut-maut rambut anaknya.
"Tidurlah,Nak."
Patimah benar-benar tidur nyenyak. Ia terbangun setelah mendengar suara mobil yang dipanaskan sopirnya, Amir. Ia ingat hari ini akan menggantikan Subarkah, mengelola perusahaan sambil melihat apakah kantor untuknya sudah selesai atau belum.
Hari ini ia benar-benar ingin melupakan atau setidaknya berbaik sangka atas kejadian yang menimpa Subarkah, diisyaratkan dengan pakaian serba putih, dari sweeter, celana, kerudung, hingga kacamata hitamnya bergagang putih. Ia anggap hari ini, tidak ada satupun yang dianggapnya berdosa.
Ia berjalan dengan dada dibusungkan, tak ingin nampak bersedih, hingga para perempuan yang bekerja di tempat sortiran, beberapa tak sempat menjawab salam yang diucapkan Patimah dengan senyuman.
Untuk yang kebeberapa kali, mereka hampir tak percaya, yang berdiri di depannya adalah Patimah yang dulu kurus, pendiam dan kalau berangkat mengajar ngaji, menaiki sepeda kumbang warna hitam.
"Saya tinggal dulu ya, ibu-ibu. Asalamualaikum!"
Setelah menerima kunci kantor Subarkah, ia pergi dari sana, menaiki tangga. Didalam ia duduk dulu dikursi kerja, membiarkan Mang Karya selesai membuka semua jendela.
"Mang Karya jangan jauh-jauh ya, nanti selesai melihat pembukuan, kita lihat-lihat lahan untuk pemeliharaan kambing, ranknya sudah siap belum."
"Ya, bu."
"Jangan panggil ibu, biasa saja, panggil Patimah."
Mang Karya mengiyakan dengan tubuh dibungkuk-bungkukkan, kemudian ia keluar
"Anak ini benar- benar tidak berubah akhlaknya, sudah kaya raya, masih saja santun dan ramah." Mang Karya berbisik dalam hati, terus ia duduk di bangku sebelah kanan sortiran, melihat para perempuan yang bekerja disana, sambil membicarakan Patimah.
Lain halnya dengan Nenti, pagi ini berencana menemui Subarkah, dan ibu mertuanya yang sudah lama tidak bertemu. Ia dandan sedikit sopan, tidak memakai lagi rok mini, tapi celana jeans sebetis yang ujungnya direnda motif bunga. Atasannya juga memakai kemeja warna senada, ia berfikir dengan penampilannya itu bisa mengundang simpati mertuanya, terutama mertua lelaki, Pak Subrata, yang waktu ia nikahkan siri, wajahnya nampak menahan marah, jangankan menyapa, senyumpun tidak.
"Hai, Mami!"
Setibanya di rumah orang tua Subarkah, langsung menyapa Mami Subarkah yang sedang duduk di sofa, menonton siaran tivi.
__ADS_1
"Apa khabar, Mami?"
Setelah dekat, Nenti memeluk mertuanya yang terbelalak dengan kedatangan Nenti yang sok akrab. Lalu ia mencoba melepaskan diri, ia enggan cium pipi kiri, pipi kanan dengan mantu yang dianggapnya tak tahu diri.
"Ada apa ini?"
Ia berdiri menatap Nenti dengan tatapan sinis dan itu sebenarnya terasa oleh Nenti. Tapi Nenti tak perduli dengan sikap ibu mertuanya yang begitu, karena yang ia cintai bukan ibu mertuanya, tapi Subarkah, anaknya.
"Subarkah mana, Mami? Di kamar ya?"
Bertanya begitu ia jalan ke arah tangga dimana ia tahu, kamar Subarkah adanya dilantai dua.
"Hai, mau kemana kamu? Subarkah belum boleh bertemu dengan siapa-siapa, ia masih dalam pantauan dokter!"
Mami Subarkah menarik tangan Nenti, supaya duduk saja dulu di sofa.
"Ada apa ini ramai-ramai heh?"
Tak lama Pak Subrata keluar dari kamar, setelah mendengar ada yang biacara dengan nada keras.
"Ini lagi, ada apa kamu kesini? Tidakah kamu bersabar, sampai kami menghubungi kamu?"
Pak Subrata bicara begitu, ditunjukan pada Nenti.
"Tapi aku kan istrinya, Pih. Aku ingin tahu keberadaan suamiku." Nenti menjawab memelas
"Please, Pih, Please ...."
"Sekarang kamu pergi, jangan kesini lagi sampai saya menelphon bapak kamu."
"Tapi, Pih."
"Tidak ada tapi. Kami belum bisa menerima pernikahan kalian yang tidak tertib itu!" Pak Subrata marah.
"Ayo pergi, kamu kan tahu pintu keluar dari rumah ini?"
Nenti akhirnya berjalan ke arah pintu keluar, hatinya penuh dendam karena mendapat perlakuan dari mertuanya yang sama sekali diluar harapan. Padahal ia sungguh merindukan Subarkah, untuk menyembunyikan wajah didadanya yang bidang, dipeluk dengan tangannya yang kekar.
********************************************
Mami Subarkah senang sekali mendapat laporan dari Si Adung sopir pribadi suaminya, yang sementara Subarkah kurang sehat disuruh menjaga Subarkah di kamarnya di lantai dua. Ia memberitahu bahwa saat itu, Subarkah sudah mulai bisa tidur.
"Alhamdulillah, Ya, Allah "
Gumamnya. Kemudian ia segera memberitahu suaminya, Pak Subrata, yang kala itu baru selesai mandi. Mereka segera saja menuju ke lantai dua, ke kamar anaknya yang saat dilihat sedang teridur pulas. Tapi tak lama ia turun lagi ke bawah karena takut kehadiran mereka bisa mengganggunya
"Terima kasih ya, Dung. Tapi kamu tetep disini dulu sampai dia bangun, ya ?"
Pelan suara Pak Subrata pada sopirnya, yang lalu mengiyakan perintah majikannya itu dan dia tetep disana memantau keadaan Subarkah.
Hampir sehari semalam mereka menunggu hingga akhirnya pada suatu pagi, Si Komar memberitahukan lagi mereka, bahwa Subarkah telah bangun.
"Gimana keadaanmu, Nak ?"
__ADS_1
Mami Subarkah langsung bertanya pada Subarkah yang saat itu kelihatan seperti kebingungan.sambil mengusap-ngusap rambut anaknya, sementara Pak Subarkah duduk disisi ranjang, depan anaknya yang juga duduk bersila.
"Kok aku ada disini, Pih ? "
Pak Subrata senang sekali mendengar anaknya bertanya begitu. Ia yakin anaknya telah sadar dari mabuknya.
"Nanti, papi ceritakan, sekarang gih kamu mandi dulu, biar seger. Papi tunggu dibawah ya? Ayo Mih, biar jagoan kita mandi dulu ?"
Setelah setengah jam, mereka kumpul di ruang tengah, sambil sarapan, Pak Subrata dan Subarkah bertukar ceritera tentang pengalaman masing-masing selama tiga hari terakhir ini.
Ada hal yang tidak bisa diterima Subarkah, ketika kenyataan dirinya sudah menikah dengan Nenti dan kenyataan dirinya telah melakukan zina dengan Nenti, disaat ia memikirkan rencananya dalam waktu dekat akan melamar Patimah untu menjadi istrinya dan akan membawa perempuan yang dicintainya kesini, diperkenalkan pada mami dan papinya.
"Kenapa, apa yang kamu fikirkan, Nak ?"
Mami Subarkah bertanya demi melihat anaknya termenung, menjambak rambutnya sendiri. Ia langsung duduk mengusap-ngusap punggung anak kesayangannya.
"Aku tidak mengerti dengan tuduhan keji dari orang-orang disana, bagaimana bisa terjadi, Mih. Aku juga tidak mengerti, apakah pernikahan yang terjadi sah atau tidak ?,"
Subarkah menjawab dengan raut kecewa.
"Kalau tuduhan orang, Papi bisa mengerti, Nak. Kita kesulitan untuk minta penjelasan pada orang banyak disuatu lingkungan yang masih menjaga tradisi dan agama yang masih kuat. Tapi kalau masalah pernikahanmu dengan Nenti, Nanti sore, Papi akan mengundang ulama, untuk minta penjelasannya, Hanya untuk sementara, Papi minta, kamu tenangkan dulu fikiranmu."
Pak Subrata mencoba menenangkan anaknya.
"Iya, kamu tidak sendirian, Nak. Masih ada papi dan mami."
"Ya, Mih. Terimakasih."
Subarkah berdiri, lalu berjalan ke teras rumah, duduk di kursi goyang, biasa ayahnya duduk disana memikirkan banyak hal.
Begitu juga Subarkah, ia membayangkan betapa marahnya Patimah saat mendengar kejadian itu dan Subarkah tidak tahu lagi bagaimana menjelaskannya nanti.
Sementara itu, Tini dan Tina sedang saling pandang di makam orang tuanya. Lalu rautnya nampak bersedih. Ia seperti menghitung-hitung beberapa lembar kertas kecil yang ia temukan di bawah batu bata diatas makam ayahnya.
Berulang-ulang ia baca tulisan diatas kertas itu yang ia percaya ditulis Patimah, ibu sambungnya. Air mata mulai menetes, terharu dengan caranya Patimah mengungkapkan sayang dan pengabdiannya pada suami, bahkan hingga kematian yang memisahkan.
"Mama lebih sering mengunjungi ayah ya, Teh, daripada kita anaknya "
Tina berkata pada kakaknya, Tini yang jongkok disampingnya. Kakaknya itu tidak menjawab, tapi mengambil kertas yang dipegang Tina, ia membaca lagi salah satunya, tak lama mereka berdiri, berangkulan. Mereka merasa ayahnya sangat beruntung karena disaat-saat terakhir hidupnya, didampingi seorang istri yang sangat berbakti, mungkin lebih banyak do'anya daripada do'a anak-anaknya.
Mereka semakin yakin dengan keikhlasan ayahnya yang mewasiatkan dua puluh persen harta peninggalannya untuk Patimah, sebagai sesuatu yang haq, karena hasilnya nyata, berapa banyak do'a yang dialirkan Patimah untuk membersihkan dosa-dosa ayahnya.
"Mama, bagaimana caranya membalas keikhlasanmu, agar sepadan ? "
Tini berbisik, lalu menaruh lagi kertas-kertas itu, ditindih lagi batu bata dengan pelan diatas kubur ayahnya. Kemudian mereka pergi untuk menyerahkan dokumen hasil perhitungan kurator, pada ibu sambungnya, Patimah.
Benar kata Allah dalam firmannya
" Diantara kalian, ada yang dimudahkan,dan ada pula yang disusahkan, tapi bagi yang berilmu dinaikan satu derajat diantara keduanya "
Ilmu itu, ilmu agama yang dikuasai lalu dilaksanakan dalam perikehidupan, Patimah yang mengimani, agama adalah petunjuk jalan agar selamat dalam dunianya, agar selamat dalam akhiratnya.
* BERSAMBUNG*
__ADS_1