
Setelah menyelesaikan kuliah S1-nya di Fakultas Pertanian, Subarkah memilih pergi ke desa, minta pada ayahnya, untuk dibuatkan rumah panggung sederhana di pinggir sawah milik ayahnya juga yang dibeli sekitar 5 tahun terlewat dan sawah itu kemudian digarap secara konvensional oleh Mang Karya, kenalan ayah disana dengan cara bagi hasil bila saatnya padi dituai. Berapa hasilnya tiap panen, ia tidak tahu, karena kemarin-kemarin, itu urusan ayahnya dengan Mang Karya.
"Satu hektar biasa menghasilkan 2 atau 3 ton gabah basah, Den."
Mang Karya memanggil Subarkah dengan panggilan Den, menandakan rasa hormat pada ada muda didepannya.
Tapi kali ini Subarkah harus tahu, untuk data awal. Karena dikepalanya sudah begitu banyak rencana. Ia ingin mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah di lahan yang ia punyai. Lahan yang terbentang luas. Lahan yang selama ini digarap dengan tradisional, dengan pengetahuan turun temurun di desa yang sudah beberapa hari mulai ia tinggali.
Ia banyak sekali bertanya pada Mang Karya, Hasilnya ia catat di gawai miliknya, sedangkan panen kurang dari sebulan.
Ia ingin lahan seluas 5 hektar itu menjadi pertanian industri. Menjadi agro bisnis pertama disana, yang bisa menyerap banyak tenaga kerja. Terutama Mang Karya. Ia ingin keluarga Mang Karya punya penghasilan lebih daripada sekarang, yang mangandalkan hanya pada sawah yang hanya bisa dipanen 2 kali setahun.
"Mang Karya jangan cemas dengan kadatangan saya disini. Saya tidak akan mengurangi penghasilan Mang Karya, tapi justru insya Allah bisa menaikan. Setelah panen nanti, kita akan bersama mengolahnya dengan cara saya."
Pada suatu malam, Subarkah untuk kesekian kali menenangkan Mang Karya dan keluarganya.
"Emang percaya Den. Aden sekolahnya tinggi, pasti lebih mengerti lah, daripada Emang yang tidak sekolah"
Penutup obrolan malam itu, membuat Subarkah berbesar hati. Mang Karya sepertinya tidak merasa terganggu dengan kehadirannya disana. Tadi ia melihat Mang Karya semangat meratakan tanah untuk rencana dirinya, membangun rumah panggung kecil saja, sebagai tempat tinggal sementara. Tempat dimana ia akan merajut mimpinya menjadi petani kekinian.
Subarkah beranjak ke kamar. Merebahkan diri diatas selembar tikar, kepalanya diganjal tas pakaian, pengganti bantal. Ia tersenyum sendiri atas pilihan hidupnya seperti ini. menghindar dari kemewahan yang ditawarkan ayahnya untuk melanjutkan sekolah di Jerman.
"Terserah kamu! Hidup ini pilihan. Jika itu yang kamu inginkan, paling lama 2 tahun, ayah beri waktu. Jika berhasil, teruskan. Tapi bila gagal, bagian ayah yang menentukan, kamu harus kemana dan bagaimana ,!"
Sebentar terbayang, saat terakhir ayahnya bicara. Lalu beberapa hari kemudian ia ada disini, menikmati kesunyian dan angin dingin yang menyelinap pada celah bilik bambu, membawa suara-suara cihcir dan jangkrik sebagai musiknya malam
"Sedang apa hai, perempuan ?"
Seketika ia ingat wajah teduh, dengan kerudung tersulur hingga ke punggung.
"Patimah "
Lekat nama itu diingatannya. Subarkah gelisah, membayangkan senyum yang dikulum. Ada getaran ganjil menyergap kekosongan hatinya.
__ADS_1
Sekali ini ia benar-benar terjerat pesona dengan perempuan yang ia lihat pertama kali, berdiri di jendela. Perempuan yang bahkan menyembunyikan wajahnya untuk menghindari tatapan lelaki dan berlari.membawa merah pipinya.
"O, perempuan.""
Subarkah terjerat angan-angan. membandingkan Patimah dengan wanita yang ia kenal di kampus dan dikota tempat ia tinggal. Erna, Popy, Silvy dan banyak lainnya, yang modis dengan wajah berlumur mick up dan tak segan berangkulan dengan pria, kawan atau pacar di tempat terbuka. Memposisikan penampilan menjadi yang terdepan.
Sementara Patimah ? Bahkan terlalu bersahaja.
Masih memegang teguh tradisi umumnya perempuan desa, yang membenturkan segala sesuatu pada adat dan agama. Terutama Patimah, setelah tiga kali melihatnya, tidak berubah. Berbaju kurung dengan kain kebat sebetis dan kerudung sepunggung.
Ia yang tidak menempatkan penampilan menjadi yang terdepan, melainkan sikap malu-malu dan kesantunannya itu yang menjadi terdepan.
"O, perempuan, Aku ingin datang, melihat senyumu. Lalu kita pergi kemanapun yang kau mau..."
Subarkah akhirnya tertidur. Didalam mimpinya ia bertemu Patimah yang mengajaknya terbang melintasi awan, disana keduanya berbagi senyuman, menerangkan isi kamar.
Subarkah tertidur nyenyak dengan kedua kaki direngkolkan seperti udang dipanggang.
*********************************************
Tak ada tempat untuk berlindung dari basah, kecuali rumah panggung kecil yang nampak baru selesai dibangun. Maka ia berlari kesana, berdiri diujung tepas, lalu mengibas-ngibaskan kerudungnya yang basah
Ia sejenak merasa jad kura-kura dalam tempurung. terlalu membatasi penglihatan matanya hanya dari rumah sampai halaman, hingga ia tidak tahu sejak kapan rumah ini berdiri. Kecil dengan banyak jendela kaca. Sepertinya pemilik rumah ini menginginkan angin leluasa keluar masuk.
" Ehem ! "
Seseorang membuka pintu dari dalam. Patimah terkesiap mengetahui siapa. Bukankah ia lelaki yang terakhir ini telah merasuki hari-harinya ? Sementara hujan semakin lebat, airnya terbawa angin hingga ke tepas.
"Hei, masuk saja, disana basah ?!"
Ia menyuruh Patimah masuk, tapi Patimah ragu, bagaimana mungkin ia masuk sementara didalam hanya ada lelaki itu.
"Ayo masuk, dibelakang ada Mang Karya kok ?"
__ADS_1
Lelaki itu sepertinya mengerti keraguan Patimah untuk masuk. Lalu ia berteriak memanggil Mang Karya, melampaui suara angin dan hujan yang bergemuruh diluar.
"Ya, Den !"
Terdengar suara jawaban. Mang Karya muncul dari arah belakang bagian dalam. perkiraan mungkin berfungsi sebagai dapur. Patimah lega, lalu ia masuk duduk dikursi bambu. Sebentar ia sapukan matanya ke sekeliling, melihat semua barang dan perabotan yang semuanya baru.
"Masih ingat saya ?"
Patimah kaget, menatap sekilas. Lelaki itu duduk dikursi berhadap-hadapan, tangannya menaruh gelas berisi teh yang masih panas. sementara Mang Karya sudah menghilang lagi ke belakang, eepertinya meneruskan lagi pekerjaan disana.
"Ya. Kang Subarkah kan ?"
Patimah menjawab pelan, suaranya sedikit bergetar, terpengaruh dadanya yang berdebar.
Sepertinya hari ini Tuhan memberi terlalu banyak. Ia ingin melihatnya, tapi tidak sedekat ini ?
"Ayo diminum, biar badanmu hangat ?"
Subarkah menawarkan agar Patimah meminum teh hangat didepannya.
"Ya, sebentar, terima kasih."
Sekali ini mereka beradu pandang, saling lempar senyuman, saling bertukar debaran. Mereka mungkin sedang berterima kasih pada hujan yang masih turun diluar. karenanya mereka bisa cepat untuk dekat, karenanya kemudian mereka bisa mengobrol lancar. Kadang Subarkah terlihat tergelak, atau patimah yang lupa mengulum senyum, menggatinya dengan tawa lepas yang ia tutup dengan kain kerudungnya.
Setelah hujan berhenti, Patimah pamit. berjalan ringan menuju rumah, sesekali ia menoleh ke belakang, barangkali rumah kecil itu masih terlihat, ia masih ingin berada disana, ia masih ingin menatap lelaki itu lebih lama, tapi itu tidak mungkin, tradisi itu mengikat dalam dirinya. Jangan berlama-lama berdua karena akan ada setan yang ketiga.
Subarkah juga begitu. Ia terus berdiri di pintu, menatap punggung perempuan yang telah menguasai hatinya, hingga hilang dibelokan jalan.
"Patimah... "
Ia panggil nama perempuan itu, pelan tapi pasti. Ia ingin mengatakan pada Patimah tentang cinta dihatinya yang ia tahan, karena takut dianggap terlalu cepat untuk disampaikan.
"Suatu saat nanti, Patimah..."
__ADS_1
Ia biarkan pintu terbuka. Angin benar-benar menyelinap kedalam, hingga pori-pori tubuh. Subarkah yang sejuk sejak ia lebih dekat melihat senyum Patimah lepas dari sebelumnya yang hanya dikulum.