PATIMAH SAJA

PATIMAH SAJA
BAB 20


__ADS_3

Mungkin tidak, mungkin tidak pertanyaan itu terus mengelayut difikiran Subarkah tentang mungkin tidak, dirinya telah berhubungan layaknya suami istri dengan, Nenti. disaat ia sedang tidak ingat apapun.


"Bukan masalah mungkin atau tidak, yang jelas dua orang lelaki dengan perempuan berada dalam satu rumah, tidur satu ranjang saja, itu tetap hukumnya haram, maka wajar kalau masyarakat kemudian mengambil tindakan."


Tapi kemudian ingat perkataan guru ngaji yang dibawa papinya ke rumah


"Lalu perkawinan itu, kan syaratnya sudah terpenuhi, kalian berdua sama-sama tidak dalam keadaan terikat perkawinan dengan yang lain, ada wali dari pihak perempuan, ada saksi dan ada ahli agama yang bertindak sebagai penghulu, menurut saya, perkawinan itu sah dalam agama yang kita anut"


Lalau terakhir guru ngaji itu menambahkan


"Perkawinan itu suci, tidak boleh ada keraguan didalamnya maka lalukanlah yang menjadi hak dan kewajiban sebagai suami istri,"


Subarkah benar-benar pusing memikirkan hal itu. Melaksanakan kewajiban sebagai suami terasa ada yang timpang dihatinya. Kalau nafkah lahir kemungkinan masih bisa diberikan pada Nenti, tapi nafkah bathin? Bagaimana ia bisa melakukannya, karena tak terbersit sedikitpun rasa cinta pada Nenti.


"Kalau kamu merasa berat tentang nafkah bathin, tida apa, kamu abaikan saja dulu, Nak, sampai menunggu hasil pemeriksaan sample rambut dan darahmu ada hasilnya dari lab forensik dari Australia yang sudah dikirim polisi."


Ingat ucapan papinya, membuat hatinya sedikit tenang, ia akan lakukan kewajibannya sebagai suami memberinya nafkah lahir, setidaknya enam bulan seperti kata papinya.


Ia kemudian pergi untuk mencari teman-teman semasa kuliah di Fakultas pertanian, mencari petunjuk dimana keberadaan Budi, temannya yang pertama kali memberi masalah besar dalam hidupnya.


Dilain waktu, Patimah yang sudah beberapa hari menggantikan tugas Subarkah, sudah bisa menggunakan kantornya sendiri duduk memandang ke seberang, fokus ke kantor lelaki yang pernah membuatnya begitu bahagia, sekarang lelaki itu tidak terlihat setelah terakhir kepergiannya dengan tak berucap sekatapun, kecuali tikamannya ke ulu hati Patimah, meninggalkan luka begitu dalam


"Kang, dimana engkau, aku masih menyimpan harapan, apa yang terjadi padamu bukan karena kesengajaan, tapi rencana Allah yang belum mengijikan kita berjalan berdampingan. Datanglah, Kang, andaipun sekarang engakau sudah menjadi milik orang, biarlah, aku hanya ingin melihatmu berdiri di jendala melempar senyuman."


Patimah terhenti bermain bayang, setelah melihat sebuah sedan mewah berhenti di depan kantor Subarkah, seorang gadis turun, menarik-narik ujung rok mininya dari bahan jeans berenda, berjalan menuju para ibu-ibu yang bekerja di tempat sortiran.


"Hei, kenapa kalian melotot ? Belum pernah lihat cewek cantik ya ?


Terdengar suaranya keras, melengking hingga ujung bangunan. Ibu-ibu langsung berhenti bekerja, sebagian ada yang berdiri menatap dari atas ke bawah, dari bawah ke atas.


"Eh ....malah pada diam ? Tau gak aku ini siapa? Aku istri bosmu tau ,? Dimana kunci kantor suamiku, bawa kesini !"


Tak lama terlihat Mang Karya tergopoh-gopoh menghampiri dan menyerahkan kunci pada perempuan itu yang kemudian naik tangga menuju kantor Subarkah, saat ia sedang membuka pintu, sekilas memandang Patimah yang berdiri di balik jendela. Patimah cepat mengalihka matanya ke hampar kebun sayuran


"O, itu diaaa "


Bisik hati Patimah yang kemudian keluar kantor, meminta Mang Karya untuk menemaninya melihat rank pemeliharaan kambing yang kemarin sudah ada penghuninya, ratusan anak kambing untuk penggemukan. Ia berjalan dengan dada dibusungkan, menarik topi koboynya sedikit ke depan untuk membantu kacamata lebar hitamnya melawan sinar. Patimah tahu seseorang mengawasinya dibalik kantor bekas kekasihnya.


Sepanjang jalan ia tak lepas dari tatapan orang-orang yang sedang bekerja di perkebunan, sambil berdecak membayangkan tubuh tinggi putih dan padat ada disamping tempat tidurnya, seperti kucing melihat pindang di piring, ia tentu akan melahapnya hingga duri-durinya yang empuk, tak tersisa.


"Huuuhhhh"


Setelah jauh mereka baru sadar, yang dibayangkannya, anak perempuan tetangga, yang masa kecilnya kurus, kecil dan menderita karena kemiskinan yang menderanya.


Patimah sendiri sesampainya si rank, langsung memanggil pengawasnya, ia beritahu teknisnya hingga si pengawas benar-benar mengerti. Setelah itu, Patimah kontrol tempat sampah organik, ia sepertinya puas karena sebagian besar telah dangkut ke tempat peternakan sapi perahanya dan sebagial lain ke tempat pengolahan pupuk organik, semua yang menjadi tanggung jawabnya dalam divisi baru PT SUBARKAH.


"Mang Karya, sewaktu-,waktu bantu aku mengingarkan mereka, agar apa yang kita rencanakan sesuai target ya ?"


Sebelum pulang ia mengingatka Mang Karya. Lalu ia masuk ke mobil Van Alvard yang dulu dibeli mendiang suaminya. Sebelum mobil jalan, ia sempat melirik, perempuan yang diyakini istri Subarkah, berdiri dibalik kaca, menatapnya penuh tanya.


Patimah pulang ke rumah, sepanjang jalan ia bertanya-tanya, kemana Subarkah,? Kenapa malah istrinya yang datang bukan dia. Lalu ia harus memposisikan bagaimana padanya ? Atau barangkali ia sudah mendapat mandat dari Subarkah untuk menggantikan tugasnya?

__ADS_1


Kalau itu yang terjadi, ia akan mempertahankannya setengah mati. Ia akan perjuangkan haknya memimpin. Ia akan tegakkan aturan main, sebegai pemilik enam puluh persen lebih, saham perusahaan.


******************************************


Berawal dari undangan yang datang dari Departemen Perindustrian, dengan didalamnya ada kata ' HARUS' dan diujunga kalimat ada 'TIDAK BOLEH DIWAKILKAN', keduanya dalam huruf besar, agar para pimpinan mengikuti arahan dan pelatihan selama satu minggu dari departemen terkait


Patimah bingung, siapa yang harus menghadiri acara tersebut, karena kalau ia yang menghadirinya, nanti siapa yang mengurus perusahaan disini ? Kelalaian Subarkah adalah belum mengangkat wakil atau dibawahnya semisal divisi yang khusus menangani tenaga kerja.


Tidak ada pilihan lain selain menghubungi Subarkah, tapi telephonnya beberapa kali dihubungi, mati. Ia mencoba tanya Mang Karya dan beberapa orang lainnya, barangkali Subarkah memiliki nomor lain, hasilnya nihil.


Mang Karya hanya bisa membantu dengan memberikan photo coppy KTP Subarkah yang masih tersisa di dompet, katanya waktu ngurus domisili Subarkah ke Pak RT.


Patimah benar-benar pusing harus bagaimana, karena kalau undangan tidak dihadiri, khawatir perijinan atas perusahaan ini tidak dipermasalhkan, kalau ia harus menghadiri, artinya harus melepas tanggung jawab pada orang lain, tapi pada siapa ,?


Ia menatap lagi photto coppy KTP Subarkah untuk yang ke sekian kali, sampai akhirnya dalam satu setengah hari tersisa, ia memutuskan bagaimanapun harus bisa bertemu Subarkah.


"Mang Amir, pernah tidak ke Jakarta ,"


Saat pulang kantor, Patimah bertanya pada Amir, sopirnya.


"Jakarta ? "


"Ya, Jakarta"


"Bukan pernah lagi atuh, Bu. Saya dua tahun kurang disana, jadi kernet Metro mini " Mang Komar menjawab lagi dengan logat sundanya yang khas. Atuh !


"Bener Mang ?"


"Bener lah, Bu. Buat apa saya bohong ,?"


"Besok pagi, jam tujuh, kita berangkat ke Jakarta. Jangan lupa, jam tujuh ,!"


Patimah rasanya lega, beban fikirannya mulai berkurang, ia buka desboard mobil, disana ada cermin. Ia tersenyum dikulum.


Besok paginya Patimah, berpakaian ringkas, bercelana jeans, Sweeter hitam dengan kerudung senada tanpa kacamata. Ia semangat menaiki mobil diikuti mata Bi Isah dengan ibunya.


"Patimah, ibu bahagia, terbangmu semakin lepas "


Benar, Mang Amir bisa diandalkan. Setelah sampai dialamat sesuai KTP, ia hanya memerlukan dua kali bertanya, hingga menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah besar berlantai dua, halamannya tertata rapi dan sangat rapi.


Mang Amir turun masuk lewat pintu kecil, disisi pintu gerbang besar. Entah apa yang dibicarakan, sebentar kemudian Mang Amir sudah didepan stir, masuk ke halaman diikuti


penjaga rumah yang tadi bicara dengan Mang Amir.


Patimah sedikit berdebar, ia ikuti penjaga tadi hingga pintu besar yang terbuka, berdiri perempuan setengah baya, kelihatan masih cantik yang lalu menghampiri, mengajak salaman.


"Patimah "


Setelah mengucapkan salam, Patimah memperkenalkan diri, tapi hanya dijawab dengan senyuman, lalu mempersilahkan Patimah masuk.


"Cari siapa ya ? "

__ADS_1


Setelah keduanya duduk, perempuan pemilik rumah langsung bertanya, dengan wajah datar


"Kalau ada, saya mau ketemu Pak Subarkah beliau teman kerja saya, Bu"


"O, ya ? Subarkah ada, sebentar ya ? ,"


Lalu ia berteriak sambil menoleh ke ujung tangga lantai dua. Sesaat kemudian ia mematung. Ia merasa seperti di hipnotis, langsung suka pada tamunya.


"Subarkaaaah, turun, Nak ! Ada tamu untumu ,!" Setelah itu ia kembali memanggil nama anaknya.


"Siapa..suruh naik saja, Miiih.."


Hati Patimah berdegup mendengar suara jawaban dari atas. Suara itu sangat dikenalnya, suara yang sanggup membuat matanya terbuka sepanjang malam.


"Ehhhh, ini perempuan ! Patimaah ,!,"


Dari atas tak ada jawaban, musik juga seketika dimatikan.


"Ayo cepet turuuun !"


Perempuan didepannya kembali berteriak, tapi tetap tidak ada jawaban, hingga seorang lelaki turun menuruni tangga, lalu ditangga kedua, ia berdiri sebentar untuk menatap tamunya.


"Patimah..."


Tenggorokkannya terasa tercekat, terasa mimoi, karena perempuan yang selalu ia rindukan tiba-tiba begitu dekat.


"Hei, kenapa ? Melihat hantu ,?"


Perempuan yang ternyata maminya Subarkah menegur anak lelakinya yang tidak melepas pandangan pada tamunya.


Subarkah turun lagi. Patimah berdiri untuk bersalaman dengan Subarkah.


"Apa khabar, Say..,, eh Patimah ,"


Subarkah hampir keceplosan memanggil sayang, tapi itu cukup membuat maminya curiga, tamunya ini orang istimewa bagi anaknya.


Ia tatap keduanya yang nampak gugup, Subarkah yang kemudian duduk di sofa kecil, sementara tamu perempuannya juga duduk dengan kepala ditekuk. Tapi jujur ia tertarik dengan Patimah sejak turun dari Van mewahnya. Kelihatan teduh dimatanya, sopan dan kecantikannya seperti terurai dengan kata-katanya yang pelan tapi jelas dan gerak tubuh yang mengisyaratkan rasa hormat pada dirinya. Ia lalu meninggalkan keduanya, masuk ke kamar memberitahukan tentang kedatangan patimah, pada Pak Subrata, suaminya


"Patimah ? "


Pak Subrata langsung bangun dari rebah-rebahannya, rasanya ia kenal dengan nama itu, kemudian ia ingat nama itu yang disebut oleh Mang Karya waktu di perkebunan Subarkah.


"Tua dan cerewet ya ? Ya pantes dia kemari, pasti karena gak becus ngurus perusahaan, sejak anak kita istirahat disini "


"Hus ! Mulut papi tuh asal ngecap saja. Cantik tau ! Kalau dia bisa jadi mantu kita, mami syukuran, Pih "


Mendengar itu, Pak Subarkah langsung berdiri keluar kamar, dari balik lemari ia mengnitip Patimah yang sedang bercakap-cakap dengan anaknya, Subarkah.


"Gimana, Pih ? "


* BERSAMBUNG*

__ADS_1


__ADS_2