
Rombongan para tokoh dan sesepuh desa, jam sepuluh pagi sudah sampai di halaman dalam rumah Subarkah yang mengudang decak
Tenda dua lokalan besar dengan AC out door serta speacker jinjing sudah terpasang.
Mereka disambut tuan rumah sekeluarga dengan sangat ramah, apalagi setelah mereka mendengar sambutan orang tua Subarkah yang merendah dalam pidatonya, lalu setelah itu, Subarkah yang bicara lebih banyak mencerterakan kejadian waktu ia dituduh zinah dengan seorang perempuan, membuat banyak diantara mereka yang menyesal dengan tindakan mereka waktu itu, apalagi setelah Subarkah menjelaskan dua diantaranya sudah dingkap polisi.
Sebelum waktu dzuhur acara selesai, karena rombongan akan mengejar sholat di rest area jalan, dengan sebelumnya, mengucapkan terima kasih pada tuan rumah. Hanya saat Patimah mau pamit pulang, ditahan maminya Subarkah.
"Sayang, mau kemana ? Jangan pulang dulu, pulangnya nanti bareng mami."
Sambil berkata begitu, ia tarik tangan Patimah ke dalam kamarnya, membuka bungkusan besar berisi tiga set pakaian. Atasan Sweater dan bawahannya rok jeans selutut.
"Ayo coba, sengaja mami beli semalam ,"
"Tapi, aku tidak pakai rok ini."
"Kenapa ? Jangan nolak, pamali !"
"Tapi memang aku tidak pakai, Mami,"
"Kenapa ,?"
Patimah tersenyum.
"Aku takut pada Allah, karena kalau dipakai akan terlihat auratku, Mami, ?"
Patimah memegang sweater, diukurkan ke lebar dadanya.
"Aurat wanita kan sampai mata kaki, Mami"
Mami Subarkah diam, kemudian tersenyum lebar, dijembelnya pelan kedua pipi Patimah sambil berkata.
"Sayang, kamu memang luar biasa. Pantes si Barkah gak mau kesiapa-siapa, tahunya kamu penyebabnya..?"
Mami Subarkah membungkus rok jeans, ia langsung simpan dilemari, sementara sweater dimasukkan kedalam tas plastik dengan logo pusat perbelanjaan ternama.
Sesudah itu keduanya keluar kamar, bersatu dengan Pak Subrata dan Subarkah yang sedang menikmati kopi.
"Patimah, awas jangan kena rayu mami. Dia pasti ada maunya ?"
Pak Subrata mengolok-olok istrinya, setelah keduanya duduk di sofa Panjang
"Udah dicoba Pih, ngerayunya, cuman gak mempan ! Mami semalam beliin rok bagus, selutut, gak mau dia..'
"Kenapa, katanya ,? "
"Kelihatan aurat, katanya. Takut sama Allah. Coba kalau kita kasih sama si Nen....."
"Hus ! "
Pak Subrata menyela sambil melototin mami.
Mami diam memegang mulutnya, mengaku salah sudah kelepasan.
"Kenapa tidak diteruskan Mami, Nenti ya?"
Patimah ikut bicara sambil tersenyum ke arah mami Subarkah
"Hayo Pih, ngopinya di ruang makan, nanti tambah malu kita ,"
Mamih menarik tangan suaminya, meninggalkan Subarkah berdua dengan Patimah
Sepeninggalan papi dan maminya, malah membuat ruang tengah jadi sunyi. Subarkah dan Patimah tidak ada yang mulai pembicaraan, pura-pura sibuk dengan hapenya masing-masing.
"Bagaimana khabar istrimu, Kang ?
__ADS_1
Ternyata Patimah yang memulai bobrolan.
"Siapa ?"
"Kok, siapa? Tersayangmu lah?"
"Siapa ? "
"Nenti, lah "
"Kok tahu kalau aku sayang, sama dia ?
"Tau ajah,"
Kemudian mereka diam lagi, sesekali keduanya saling pandang. Subarkah melihat Patimah sudah sangat berubah, lebih dewasa, bicaranya lebih lepas. Adaptasi yang begitu cepat, kemampuannya melebihi rata-rata orang, bagaimana secepat itu ia bisa membersihkan namanya di desa. Cepat belajar sehingga dalam waktu singkat bisa menyelesaikan jika ada masalah di perusahaan, dan satu hal lagi, mulutnya tidak celometan untuk memberi tahu dirinya saat Neni sepuluh hari ada disana. Dia bukan type pengadu yang ingin dipuji siapapun.
"Akang kapan mulai ngantor ?" Kembali Patimah memulai obrolan
"Diupayakan minggu depan"
"Lama sekali, ?"
"Satu minggu ini ada yang mau dilakukan dengan papi, masalah aku dengan Nenti"
"Memangnya bermasalah ?"
Patimah berkata begitu sambil tersenyum lebar, lalu berjalan ke belakang, pamit pada mami dan papi, Subarkah.
"Kalau mami suruh nginep gimana ,?" Mami Subarkah agak keberatan
"Jangan, Mami, nanti jadi fitnah." Jawaban itu menohok lagi dada Mami Subarkah ,"
Ternyata memang masih ada perempuan seperti ini ? Lalu ia antar Patimah hingga naik mobil van mewahnya sambil menjinjing kantung plastik berisi tiga kaus sweeter untuk gadis yang telah meluluhkan hatinya
"Hati-hati, Sayaaaang !"
"Kang.. "
Jalanan terasa lengang dimata perempuan yang isi kepalnya kembali dipenuhi lelaki tambatan hatinya. Subarkah.
******************************************
Waktu berjalan terasa lambat. Entah yang ke berapa kali, Subarkah melihat jam dihapenya, yang ditunggunya tidak juga keluar dari ruang rapat.
Subarkah tak sabar untuk mengetahui hasil lab darah dan rambutnya yang jauh-jauh dikirim ke Australia yang akan menentukan ia berzinah atau tidaknya ia dengan Nenti
Sebenarnya Subarkah sudah yakin ia tidak melakukannya setelah dari awal diberi penjelasan oleh polisi, bahwa seseorang dalam kondisi over dosis akut, fungsi kelelakiannya hampir 90% tidak berfungsi, karena saat sepert itu kerja otak tidak maksimal. Otak tidak bisa memerintahkan hampir ke seluruh saraf tubuh.
Tapi itu hanya pendapat dari pengamatan polisi dan dokter ahli jiwa, bukan hasil pemeriksaan medis atau hasil pemeriksaan faktual, sehingga tidak bisa dipakai alat pembuktian secara hukum dan di kita, teknologinya belum punya, maka polisi memintakan ke departemen forensik kepolisian Ustralia yang sudah tersedia teknologinya.
Maka kenapa dari awal, Subarkah tidak mau hidup bersama dulu agar kalau hasilnya sama, Subarkah tidak terlalu terbebani dosa yang akan ditanggungnya dunia akhirat.
"Ayo Nak, polisinya sudah nunggu di ruangan "
Subarkah kaget dari lamunannya, langsung mengikuti papinya yang sudah duluan jalan
"Selamat siang, mohon maaf Pak, harus menunggu lama "
Polisi berpakaian preman itu basa-basi, ditangannya memegang amplop berisi dua surat yang satu berbasa inggris dan satunya bahasa Indonesia
"Surat ini sama isinya, hanya beda bahasa saja, yang bahasa Indonesia adalah terjemahan dari bahasa inggris, silahkan baca, mau yang mana ,?"
Subarkah memilih yang berbahasa Indonesia agar lebih afdol masalahnya bahasa kedokteran banyak bahasa latinnya. Setelah dibaca, Subarkah tiba-tiba turun dari kursi, lalu bersujud di lantai
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, terima kasih.."
__ADS_1
"Kenapa, Nak ? "
Pak Subrata mengusap-usap punggung Subarkah sambil mengambil kertas yang tadi dibaca anaknya. Beberapa saat ia juga menadahkan tangan ke atas
"Alhamdulillah, ya Allah, engkau maha besar."
Bisiknya setelah membaca kalimat terakhir dari bab kesimpulan surat itu
-----------Dengan keadaan kandungan narkotika sebanyak itu dalam darah, seseorang disebut Over Dosis Akur, maka fungsi kelelakian/genital seseorang, tidak akan bisa berfungsi dengan baik sementara, atau tidak bisa tegang/penetrasi.--------"
Subarkah dengan papinya pulang lagi ke kantor dengan perasaan lega dan ia langsung berbicara denga pengacaranya, agar surat pernyataan jatuh talaq dari Subarkah hari ini juga harus segera disampaikan pada keluarga Nenti.
"Setelah selesai, hari ini juga kita serahkan pada yang bersangkutan "
"Siap, Pak Subrata."
Setiba di kantor, Subarkah langsung menelphone Patimah, mengabarkan besok pagi ia akan mulai bekerja.
"Dipercepat ? Katanya, kemarin minggu depan baru kesini ?"
Suara Patimah diujung telephone seperti heran
"Ya, aku kangen, ada hadiah mahal yang aku mau beri sama kamu, Sayang."
"Sayang, sayang, inget kang, kamu punya istri belum layak bilang sayang pada yang lain?
Ya, hari ini juga khabar ini akan kusampaikan pada pera pekerja "
Setelah itu terdenga di hapi Subarkah ada bunyi tut tut tut, menandakan telephone telah ditutup dari seberang. Subarkah tersenyum, ia tahu Patimah orangnya prinsipil, ia sangat menghormati perkawinan.
Benar, Patimah sangat menghormati kata itu, kata yang membuatnya ia menerima Pak Marjuki, suami yang awalnya ia benci, tapi setelah Pak Marjuki jadi suaminya, ia ikhlas menyerahkan jiwa raganya untuk suami, ia jaga kehormatan dan aib suami, hingga ajal akhirnya memisahkan mereka.
"Bapak, sayang. Maafkan imah, minggu kemarin tidak bisa mengunjungimu.."
Patimah langsung menghubungi Mang Karya agar segera memberitahukan pada semua, tentang Subarkah yang besok akan datang lagi kesini, menakhodai perusahaan yang ia bidangi
Setelah Mang Karya pergi lagi, ia urungkan untuk mengontrol rank kambing. Ia hanya berdir di jendela, membayangkan besok, dari sana sudah bisa memandangi lelaki yang selalu membuat jiwanya ketar-ketir.
Lalu ia duduk memikirkan apa yang dikatakan Subarkah tadi, tentang hadiah mahal yang akan dibawanya kesini, ia berfikir menilai dari kepantasan dirinya untuk menerima atau menolaknya, karena ia sadar, Subarkah bagaimanapun masih suami orang, tapi disisi lain, ia juga tidak bisa memungkiri hatinya, atas kebahagiaan yang ia rasakan disaat-saat ia merindukan kehadiran lelaki disampingnya, selalu dan selalu hanya lelaki itu yang hadir dalam lamunannya, tak pernah sekalpun tergantikan.
"Kang..."
Ia tersenyum sendiri ketika ingat kejadian sebelum ia dinikahi mendiang suaminya. Di rumah kecil itu, melepaskan kekesalan atas perjalanan hidupnya dengan sikapnya yang membabi buta, dikuasai berahi yang seakan meledak, memeluk, mencium dan meminta lelaki itu untuk menodai kegadisannya.
"Kang, andai itu terjadi..."
Ya, andai itu terjadi, perjalanan hidupnya mungkin berbeda. Tidak akan setenang ini, karena sepanjang hidup akan dihantui oleh dosa besar. Tidak akan setenang ini karena walau lelaki itu tidak menjadi miliknya, setidaknya ia masih bisa memandangnya dari kejauhan bahkan bisa lebih dekat walau harus dibatasi benang halus yang harus tetap direntangkan agar ia bisa mempertahankan diri menjadi seorang muslimah
"Sebesar-besar fitnah bagi seorang muslimah adalah lelaki yang bukan muhrimnya."
Ia harus memegang teguh nasihat ibunya, agar tidak tersentuh lelaki lain selain para kerabatnya.
Hingga waktunya pulang ke rumah, mandi dan berganti dengan pakaian rumahan, Patimah langsung menghampiri ibunya yang sedang duduk nonton tivi di sofa, menyandarkan kepala ditempat paling nyaman dalam hidupnya, lahunan ibu yang kemudian menelisik, memaut-maut tiap lembar rambutnya.
"Kamu capek, Nak...?" Pelan suara ibunya
"Bu, ceriterakan lagi tarikh Siti Aisyah "
"Kenapa itu lagi yang engkau minta?"
"Aku sedang rindu, Ibu."
Ibunya tersenyum, ia mulai berceritera sambil tersenyum melihat anaknya seperti tahun-tahun terlewat, merangkak dewasa, tapi masih seperti remaja, masih ingin tidur di lahunannya.
"Anakku...engkau akan tetap menjadi jimatnya ibu..."
__ADS_1
Patimah tertidur, berharap dalam mimpinya dipeluk lelaki yang dicintainya sebagai lelaki yang tidak memiliki istri."
* BERSAMBUNG*