
Patimah kaget dan cemas ketka pagi, Pak RT datang ke rumah, memberitahu subuh tadi ayahnya dibawa ke rumah sakit, penyakit stroke yang dideritanya menyerang lagi.
Ia dan suaminya langsung bergegas ke rumah sakit. Didapati ibunya menangis dan ayahnya terlentang tak bergerak dengan banyak selang ditubuhnya.
"Kata dokter, ayah kritis Nak, tubuh sebelah kanannya mati "
Ditengah isaknya, ibu menjelaskan perihal keadaan ayahnya pada Patimah yang saat itu sama, menangis,
"'Ia terjatuh saat sholat subuh, pingsan, lalu dibawa kesini oleh ibu dan tetangga"
Patimah hanya bisa terisak, tidak tahu harus berkata apa. Ia peluk ibunya dan baru dilepas setelah seorang perawat datang memeriksa suhu tubuh, dan mengambil sampel darah di jari tengah ayahnya, dan saat Patimah menanyakan kondisi ayahnya, suster perawat itu hanya menjawab, nanti dokter yang menjelaskannya, setelah itu lalu pergi.
"Kalau dokter membolehkan, ayah kita bawa ke rumah sakit dikota, dulu juga kan cepat kemajuannya "
Pak Marjuki bicara ditujukan pada Patimah dan mertuanya.
"Iya Pak, terima kasih " Patimah yang menjawabnya dan Pak Marjuki mengusap kepala istrinya, lalu berjalan keluar.
Beberapa saat saat berselang, ayahnya dibawa perawat ke bangsal VIP. Patimah menyangka mungkin itu atas permintaan suamnya pada pihak rumah sakit. Patimah sendiri merasa tidak perlu bertanya. Suaminya selalu memberikan yang terbaik untuk diri dan keluarganya.
"Bapa pulang saja, istirahat di rumah, disini juga tidak bisa berbuat apa-apa. Yang disini biar aku dan ibu saja dulu. Kalau ayah dirawat nanti gantian menunggunya. "
Pak Marjuki malah menatap Patimah yang nampak sedang berusaha menenangkan diri, setelah itu baru mengiyakan.
"Sebentar lagi waktunya minum obat. Awas jangan lupa makan dulu, nasinya nasi merah, jangan coba-coba minta nasi putih sama Bi Isah. Lalu diminum obatnya, ya ?"
Perkataan itu membuat Pak Marjuki terharu, dalam keadaan cemas begitu, istrinya masih bisa mengingatkan hal-hal kecil untuk dirinya.
"Ayo ?" Patimah menarik tangan suaminya untuk diantar sampai keluar rumah sakit.
"Sudah, kamu disini saja, Bapak bisa jalan sendiri, nanti mau naik ojek saja ke rumah ,"
Pak Marjuki melepas tangan istrinya, berjalan pelan arah keluar.
Satu jam kemudian, saat Patimah duduk disofa ruang VIP bangsal rumah sakit, melihat ibunya duduk dikursi bulat, kepalanya tersandar di sisi ranjang tempat ayahnya terlentang, terlihat ketiduran, mungkin lelah dan ngantuk, karena sejak subuh belum istirahat, terdengar pintu ada yang mengetuk, tapi sebelum Patimah membukanya, orang yang mengetuk, membuka sendiri pintunya. Seseorang melongokan kepala.
Patimah melongo menatap siapa yang datang. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ia gugup, hingga lupa untuk tersenyum. Bukankah wajah itu yang tersembunyi diceruk hatinya yang terdalam, lalu sesekali datang saat ia kesepian ?
"Kang ...."
Terlampau pelan untuk didengar, tidak cukup melampaui ucapan salam seseorang yang datang dengan sekilas senyuman.
"Asalamualaikum" Katanya.
"Alaikum salam " Sama dengan sebelumnya, tidak jauh lebih pelan. AC ruang bangsal terasa lebih dingin, hingga seluru bulu dikulitnya meremang.
__ADS_1
"Kang, silahkan masuk " Patimah cepat tersadar, kulit wajah yang tadinya pucat mulai sedikit memerah
"Oh, ya."
Subarkah juga sama, menjawat terlalu singkat pada umumnya. Ia langsung menghampiri ranjang tempai ayah Patimah dirawat dalam keadaan belum sadar.
Patimah berdiri hendak membangunkan ibunya yang tertidur tapi Subarkah mengacungkan telunjuknya di bibir dan tangan satunya digoyang-goyang, sebagai iayarat agar Patimah tidak membangunkan ibunya.
"Jam berapa beliau dibawa kesini ? Maaf baru bisa kesini, Mang Karya terlmbat memberutahunya ke saya " Hanya sebentar Subarkah melihat ayahnya, kemudian ia duduk di kursi.
Ada yang terasa mengganggu perasaan Patimah ketika Subarkah bersaya-saya padanya.
"Kata ibu, tadi subuh"
Patimah menjawab singkat. Entah apa, pembendaharaan katanya jadi begitu terbatas, lalu ruangan itu jadi hening, keduanya tidak tahu darimana memulai obrolan, mereka hanya terlihat sesekali mencuri pandang. Mereka benar-benar kelihatan kaku, tidak terdengar obrolan hingga Subarkah pulang.
Setelah kepergian Subarkah, mata Patimah nampak kosong. Ia sedang membayangkan Subarkah yang dimatanya jauh lebih dewasa dari yang dulu dikenalnya. Tubuhnya sedikit lebih atletis, sorot matanya juga jadi sedemikian berwibawa, kulitnya yang dulu putih sekarang agak hitam, perubahan yang malah dimata Patimah, membuatnya maskulin dan jantan.
Begitu juga Subarkah, sesampai di kantornya, langsung duduk dikursi panjang, tidur-tiduran, membayangkan saat Patimah berdiri, perempuan yang dicintainya begitu anggun, lekuk tubuhnya berisi, dan ketika melihat dadanya sekilas, sedikit lebih besar dari dulu, Subarkah membayangkan akan lebih hangat membenamkan wajahnya disana.
"Patimah, sampai kapan aku harus menunggu, untuk bisa menyentuhmu, memelukmu dikamar yang akan kita rias bersama, lalu memandangmu sangat lama, kau yang terelentang diranjang sebelum kita menempuh dakian pada malam malam panjang kita ,"
Subarkah akhirnya tertidur, ia menemukan lagi perempuan yang selalu dirindukannya dalam keadaan tanpa busana, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang indah, dalam mimpi tidur siang sebelum kemudian terdengar suara adzan dari mesjid besar di ujung jalan.
"Setiap manusia akan merasakan mati, kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan dan kamu hanya akan dikembalikan kepada kami ( Al Anbiya 21)
Benar penantian pasti yang ditunggu manusia hanyalah kematian, yang tak bisa dielakkan, ditangguhkan dan dimajukan walau sesaat.
Begitu juga dengan Pak Parmin, ayah Patimah. Setelah satu minggu dirawat di rumah sakit, akhirnya meninggal dunia, dimakamkan di pemakaman umum yang terletak diujung utara desa, meninggalkan hiruk pikuk dunia serta anak dan istrinya yang begitu lama menangisinya.
"Itu mungkin yang terbaik baginya, Nak. Karena itu pula yang diinginka ayah, bisa meninggal dalam keadaan sedang ibadah. Dikabul Allah karena ayah, langsung koma, tak sadarkan diri saat ia sholat "
Ibunya coba menghibur anak perempuannya, Patimah yang sesekali meneteskan air mata. Coba mengabaikan kesedihan diri sendiri dengan berfikir cepat dan lembatnya kematian hanya permainan waktu karena dirinya juga sama, seperti suaminya akan mengalami hal yang sama diambil pulang menghadap Robbnya.
Hingga hari ke delapan, Patimah menemani ibunya di rumah, sebelum akhirnya kembali ke rumah sendiri, melanjutkan peran sebagai seorang istri dari seoran suami.
Dan selama delapan hari itu juga, Pak Marjuki dengan kedua anak perempuannya, Tina dan Tini terus berkonsultasi menyiapkan semua kebutuhan Patimah agar nanti benar-benar siap untuk ditinggalkan sendiri tanpa Pak Marjuki, dengan berfokus bisa hidup berkecukupan.
"Aku ingin ayah berfikir lagi sebelum memutuskan menceraikan mama Imah "
Tini bertanya lagi pada ayahnya. Secara pribadi ia sangat keberetana dengan keputusan ayahnya. Bukan takut nantinya direpotkan dengan kesendirian ayahnya, hal itu bisa diatasi dengan mencarikan tenaga orang dengan ketrampilan sekelas perawat, tapi ia sudah terlanjur jatuh hati pada keikhlasan mama sambungnya itu, selama menemani ayahnya.
"Kan sudah ayah terangkan, terkadang kita tidak boleh egois, hanya memikirkan diri sendiri tanpa empati dengan yang lain ? Mamamu sudah pantas untuk bahagia. Dan ayah minta jangan dibahas lagi."
Setelah itu Tina dan Tini tidak bereaksi lagi,ia harus menghargai apa yang telah diputuskan ayahnya yang sekarang sungguh sangat berbeda, banyak membandingkan segala perbuatan dengan agama. Sepertinya ia telah diberi jalan oleh Allah, untuk istiqomah.
__ADS_1
Dilain sisi, Patimah juga merasa ada sesuatu yang lain. Seperti ada luka yang tidak sengaja ditoreh, lalu terbuka lagi, bila mengingat Subarkah. Ada perasaan yang sesekali datang untuk protes pada Tuhannya, mengapa membiarkan Subarkah selama empat tahun tidak diberi pasangan, sehingga harapan dihatinya kembali terbentang. Ia kira andai Subarkah sudah memiliki istri, ia yakin bisa lebih mudah menutup rapat dan membiarkan harapan mati dengan sendirinya. Hati kecilnya mulai memanggil, terdengar..
"Datangilah Patimah ! Engkau terlalu lama membiarkan keindahan terlantar dan terkurung dibatas angan-angan ! " Ah...., begitu menggodanya.
"Ya,.....ya, aku menginginkannya ! Aku rindu senyumnya, suaranya, rindu tubuhnya merengkuh semua yang ada ditubuhku "
Ia pamit pada suaminya untuk menengok ibunya. Dan untuk yang pertama kalinya, setan berhasil membujuk Patimah untuk berkata bohong pada suaminya, karena niat sebenarnya, ia ingin melihat lelaki yang sangat ia cintai, ya ia ingin melihat Subarkah walau hanya sekilas.
"Kang,....aku datang"
Saat sampai ke rumah, ibunya tidak ada. Kata tetangga sejak pagi sudah pergi bekerja.
Setan masih mengasuhnya dengan baik, karena dengan alasan menyusul ibunya akan menjadi alasan menghindarkan kecurigaan orang bahwa sesungguhnya bukan mau menengok ibunya, tapi ada yang lain.
Tapi setelah sampai dan sudah bertemu ibunya, Patimah malah dituntun lagi keluar, menyuruhnya naik ojek lagi
"Tunggu di rumah "
Ibunya menyusul minta tolong seorang lelaki yang juga bekerja disana, mengantarnya menggunakan motor inventaris yang biasa dipakai bos mudanya mengontrol kebun yang agak jauh.
"Kebohongan itu candu Nak, akan memaksa kamu mengulangnya. Ibu tahu apa yang kamu fikirkan"
Setelah di rumah, ibu Patimah langsung mengajak Patimah bicara, duduk berhadapan di tengah rumah.
"Tapi aku rindu pada ibu, makanya.."
"Makanya apa ? Mau membohongi ibu juga ? Jangan Nak, Allah maha melihat. Kau istri orang, terikat sucinya perkawinan. Ingat azab Allah sangatlah cepat. Makanya ibu ingin sekarang juga engkau pulang, penuhi kewajibanmu pada suami, jangan biarkan ibu bersedih melihat anaknya menabrak urusan agama"
Mendengar itu, Patimah langsung sujud, menangis dipangkuan ibunya
"Maafkan aku,.......maafkan aku,Ibu.."
Ibunya mengusap-ngusap rambut Patimah penuh sayang.
"Tidak apa,Nak. Mungkin engkau tengah diuji." Lalu ibunya meraih pundak Patimah agar duduk lagi
"Camkan ini, Nak. Mungkin pertanda bahwa sebelum ayah pergi, meninggalkan kita. Ayah wanti-wanti pada ibu, agar engkau jangan pernah meninggalkan suamimu dalam keadaan apapun "
Patimah kembali bersujud ke pangkuan ibunya
"Tidak ibu,,, tidak.."
Patimah kembali menangis, ia ingat suaminya di rumah, mungkin ia kesepian tanpanya.
* MASIH LANJUT*
__ADS_1