
Seperti tentara merayap mendekati musuh, merayap lewat sisi kanan yang diyakini lepas dari pandangan, anak dan tamunya. Mami dan papinya Subarkah mendekat hingga belakang kursi panjang, lalu disana keduanya tengkurap, mendengarkan Subarkah dan Patimah berbicara.
Patimah sendiri hanya beberapa kali menyela atau menjawab, selebihnya hanya diam dan mendengarkan ceritera Subarkah dari awal kedatangannya hingga pergi ke rumah makan lesehan, minum dua gelas air jeruk, setalah itu tidak ingat apa-apa.
"Bahkan ketika aku katanya dinikahkan secara siri, aku benar-benar tidak ingat."
Itu kalimat terakhir dari pengalaman dirinya setelah tadi bicara cukup panjang pada Patimah.
Patimah masih diam, dia sama sekali belum bereaksi dengan ceritera lelaki di depannya
"Kok, kamu diam saja, tidak percaya ?"
Subarkah menyusul dengan pertanyaan.
"Aku harus berkata apa? Percaya atau tidaknya cukup untukku saja, bagaimanapun diterima atau tidak, akang sekarang sudah menjadi suami orang, tidak ada hubungannya sama sekali dengan aku."
Patimah berbicara sangat datar, tidak terlihat ada mimik kecewa atau bersedih.
"Sekarang kita hanya dua orang yang pernah saling suka, setelah itu kita lupakan, karena kedatanganku sekarang bukan untuk itu, tapi mau membicarakan masalah pekerjaan, setelah beberapa hari ini akang tinggalkan ,"
Subarkah terkejut sekali dengan sikap Patimah, yang begitu tegar, bicaranya tak tampak terbebani. Bukan seperti bicaranya perempuan desa umumnya yang sangat hati-hati untuk berucap. Ia terlalu kuat dari yang diperkirakan Subarkah
Begitu juga dengan papi maminya Subarkah, mendengar ucapan Patimah seperti sihir yang membuat keduanya langsung suka pada Patimah, terutama maminya, ia bersumpah untuk mendapatkan Patimah jadi mantunya dengan caranya.
Setelah itu Patimah membawa pembicaraan pada soal pekerjaan, utamanya tentang undangan pengarahan dan pelatihan, yang kemudian diputuskan Subarkah.
"Aku belum berani kesana, takut masyarakat masih marah, untuk sementara karena hanya satu minggu, biar kita serahkan saja pada Mang Karya, dia sudah tahu teknisnya, sementara kamu yang memenuhi undangan."
Begitu, Subarkah memutuskan, yang lalu disetujui Patimah.
"Ya, memang itu satu-satunya cara sementara"
Tukas Patimah mengakhiri pembicaraan. Ia tak cukup alasan untuk berlama-lama disana, walau hati kecilnya jujur memohon diberi jalan, agar bisa menatap lebih lama lelaki yang dicintainya itu, yang nampak pucat, lebih pucat dari pertama, Patimah lihat.
"Tolong kasih tahu ibu, aku mau pamit ,"
Patimah akhirnya memilih segera pulang, ia takut terbawa suasana sepinya rumah
"Heit, mana boleh ?"
Tiba-tiba terdengar suara imaminya Subarkah, keluar dari balik lemari
"Tamu yang datang kesini, harus makan dulu "
Sambil begitu, ibunya Subarkah menarik tangan Patimah agar duduk kembali.
"Biiii... "
"Ya, Mami "
Seorang perempuan sepertinya asisten rumah tangga, muncul
"Siapkan makan untuk kami berempat sama papi"
Perempuan itu kembali ke belakang.
"Jadi merepotkan, Bu "
Patimah basa-basi, hatinya senang bisa lebih lama bersama Subarkah
__ADS_1
"Jangan panggil ibu, semua disini memanggilku Mami"
Welcome sekali ibunya Subarkah, fikir Patimah
"Ya, Mami "
"Nah begitu, biar gak kagok, siapa tahu kamu jadi mantu, Mami " Mami tergelak, sementara Patimah tersipu, ia merasa terbang ketika mami, berkata mantu. Rasanya hidup ini warna-warni, punya suami setia dan mertua yang ceria.
"Jodoh, pati, bagja, cilaka, semua tidak ada yang tahu, anging Allah, Nak, manusia hanya punya rencana,, bahkan buah yang sudah didepan mata jika Allah tidak menghendaki, maka kita tidak akan pernah bisa memetiknya."
Tapi ibunya Patimah beberapa kali berkata itu, Patimah pun berhenti membayangkan itu. Ia makan sambil menunduk, sesekali beradu pandang dengan Subarkah, yang juga tidak lepas dari perhatian kedua orang tua Subarkah, terutama mami, yang sudah jatuh cinta pada pandanga pertama pada Patimah, sejak tamu perempuannya itu turun dari mobil van mewahnya, begitu anggun dengan busana masa kini yang tertutup, kerudung hitamnya tidak membuat penampilannya kolot, malah menjadikan aura wajah cantiknya jadi menonjol enak dipandang mata.
Suasana makan jadi hening, sesekali hanya terdengar denting sendok dengan piring. Mami yang tadinya begitu bawel, saat itu tak banyak bicara. Mami merasa, di tubuh Patimah, tersembunyi kharisma yang magis, membuat ia jadi hati-hati bicara dengannya.
Setelah numpang sembahyang dzuhur, Patimah pamit pulang, walau mami dan papinya Subarkah berusaha menahan-nahannya
"Maaf, Mami, Papi, Imah harus siap-siap untuk acara besok, insya Allah lain kali saya mampir lagi kesini"
Ada desir angin menerpa wajah maminya Subarkah demi mendengar ucapan santun dari tamu anaknya itu, ia pandangi Patimah hingga menaiki mobilnya.
Patimah pulang, sepanjang jalan ia lebih banyak tidur, diiringi lagu kasidahan yang ia stel pelan. Ia sepertinya tak ingin mengingat lagi pertemuan dengan Subarkah, apapun alasannya ia telah menjadi suami orang, tak pantas diingat-ingat lagi, ia ingat lagi ucapan ibunya, Subarkah seperti buah yang sudah didepan mata, jika Allah tidak menghendaki, maka kita tidak akan pernah bisa memetiknya
"Hai lelaki, siapa selanjutnya yang akan datang meminta pada ibu untuk meminangku, lalu aku akan mengikuti kemanapun engkau pergi, karena aku perhiasan yang akan dikenaimu..."
Ia benar-benar terhanyut dalam kantuk, hingga tidak ingat ketika Mang Amir mengganti musik di mobilnya dengan musik dangdut.
******************************************
Seminggu terlewat, Patimah sudah menyelesaikan kewajibannya mengikuti pengaran dan pelatihan. Lumayan, menambah wawasan serta menambah relasi dari pertemanan selama disana.
Pagi ini ia nampak semangat, membawa begitu banyak snack dalam kotak-kotak kardus yang dinaikan ke mobil oleh Mang Amir dibantu oleh Bi Isah. Hari ini patut dirayakan sedikit bersama para pekerja di perkebunan, karena hari ini bersejarah bagi Patimah, ia lebih tua setahun menjadi 27. Makanya hari ini Patimah pergi ke tempat kerja dengan banyak rencana di kepalanya, terutama tentang rank kambing, tempat sapi perah dan pupuk organik yang perlu lagi sedikit sentuhan hasil dari pelatihan.
Tetapi sesampainya didepan kantor, penglihatannya jadi tak nyaman karena saat turun dar kendaraan, ia melihat Nenti, istri Subarkah sedang mencak-mencak pada para pekerja yang sepertinya sengaja dikumpulkan.
"Mang Karya, kunci !"
Suaranya melintasi suara Nenti yang sedang marah. Ia spontan menoleh ke arah suara, memandang Patimah. Tapi hanya selintas.
"Mang Karya !! "
Suara Patimah lebih keras dari sebelumnya. Naluri manusiawinya tak tertahan, merasakan perempuan didepannya adalah lawan.
Seketika tempat itu hening. Semua pekerja menatap Patimah dengan tajam, sementara Nenti, tiba-tiba meninggalkan tempat, masuk ke kantor Subarkah.
"Bukakan kantor, buka juga semua jendela ya Mang "
Ia memberi instruksi pada Mang Karya, ia sendiri menghampiri para pekerja, mengucapkan salam, kemudian tersenyum dikulum.
"Kenapa ibu-ibu, bapa-bapa, wajahnya tegang, belum ngopi dan sarapan ya ? "
Sambil begitu, Patimah memberi tanda pada Mang Amir untuk menurunkan kardus kotak berisi snack.
"Tolong yang laki-laki, bantu Mang Amir, ya ?"
Para pekerja terperangah saat setiap orang diberi satu kotak.
"Ayo dimakan, setelah itu wajahnya harus tersenyum, ya ?"
Orang yang ada disana langsung pada tersenyum sambil membuka kotak berisi beberapa makanan ringan yang tampak enak
__ADS_1
"Barokaaaaah, Neng !"
Serentak mereka berkata begitu sambil melihat punggung Patimah menaiki tangga, masuk ke kantornya dengan masih tetap menyunggingkan senyumya yang dikulum
Tidak jauh dari sana, didalam kantor Subarkah, Nenti masih bertanya - tanya siapa wanita tadi ? Yang ketika menatap dirinya begitu tajam, sehingga ia tak mampu melawannya seperti kepada yang lain, ia tiba-tiba merasa jadi seekor tikus yang ditatap seekor kucing, ia merasa hilang kehebatannya menjadi srigala betina yang memimpin klannya. Mata wanita itu seperti mematikan keberaniannya, bahkan hanya untuk beradu pandang, hingga tadi ia memutuskan pergi menghindarinya.
Ia mengintip ke seberang dari balik tirai, melihat Patimah yang juga sama, sedang memikirkan Nenti walau dengan masalah berbeda. Tersirat dari obrolan dirinya dengan Subarkah seminggu yang lalu, tidak mengulas hubungan istrinya dengan perusahaan. Tapi kenapa dia berani-beraninya memarahi para pekerja ? Waktu itu juga Patimah memang sengaja tidak memberi tahu tentang Nenti yang ada disini, karena merasa belum tepat waktunya. Tapi kalau sudah begini, tidak bagus juga kalau tidak segera diambil keputusan, setidaknya memberi tahu para pekerja agar tidak mengindahka setiap perintah Nenti jika menyangkut masalah pekerjaan. Maka saat itu juga ia minta Mang Amir yang ada dibawah supaya memanggil Mang Karya.
"Jam berapa bagian expedisi paling lambat pulang lagi kesini, Mang ,?
Setelah Mang Karya sudah diruangan, Patimah langsung menanyainya.
"Paling lambat sore jam tiga, Neng Jawab, Mang Karya.
"Kalau begitu, setengah empat seluruh pekerja kumpul di tempat meeting, saya mau bicara pada mereka semua "
Setelah itu Patimah turun, minta kunci sepeda motor iventaris kantor, menuju rank kambing, melihat kesediaan garam dan gula merah untuk penambah nutrisi dan tanaman rumput yang minggu lalu ditanam.
Sore, jam setengah empat seperti yang direncanakan, para pekerja sudah berkumpul di tempat meeting terbuka.
Patimah berdiri didepan, menyapu mata hadirin yang hadir dan setelah mengawali dengan salam langsung bicara pokok masalah.
"Maaf ibu-ibu, bapa-bapa, tahu kan matahari ? Matahari di dunia itu hanya ada satu, tidak dua apalagi tiga."
Patimah berhenti dulu sebentar, selintas menyapukan matanya pada setiap tubuh orang yang juga sedang menatap dirinya.
"Begitu juga diperusahaan kita ini. Sementara mataharinya juga satu, yaitu saya. Saya yang bertanggung jawab atas maju mundurnya perusahaan ini "
Kembali Patimah diam dulu untuk melihat reaksi orang didepannya.
"Kenapa saya bicara begitu, karena tadi pagi saya melihat dengan mata sendiri, seorang wanita entah jabatannya apa di perusahaan ini, memarahi para pekerja dan saya minta jangan terulang lagi, kalau terulang segera lapor saya"
Nenti yang sedari tadi menguping dengar tidak jauh dari sana, merasa perkataan itu ditunjukan padanya, seketika hatinya panas, merasa terhina sehingga tumbuh keberaniannya,
setengah berlari, ia mendatangi ruang meeting
'"Hei, Nona ! Saya ini istri bos pemilik perusahaan ini, suka-suka saya mau berbuat apa ?!"
Ia berkata hampir berteriak, telunjuknya menunjuk-nunjuk muka Patimah, setelah itu ia menoleh pada para pekerja
"Kalau kalian membangkang pada sayapun, lihat saja, akan saya pecat ,!! "
Setelah itu, Nenti menatap lagi wajah Patimah, walau dihatinya agak gemetar melihat mata perempuan didepannya itu yang malah menantang dengan tatapan begitu terasa menikam.
'"Sudah bicaranya ? Atau perlu waktu agar tenang dulu ?"
Patimah berkata datar sambil tidak melepas tatapannya pada Nenti, dan anehnya, Nenti hanya diam.
"Bu, ini perusahaan corporasi, modal bersama, dan sayangnya, saya orang yang menguasai saham terbesar disini. Jadi setelah Pak Subarkah tidak ada disini, otomatis saya yang memotori jalan tidaknya perusahaan ini. Bagaimana, ibu mengerti ?"
Terdengar suara 'huu' para pekerja seperti koor. Tapi Patimah segera mengacungkan telunjuk tanpa melepaskan tatapan pada wanita didepanya.
"Kalau enam bulan Pak Subarkah tidak datang kesini, saya akan beli sahamnya, Bu. Semoga ibu mengerti, dan dalam seminggu ini, saya beri waktu, ibu untuk segera meninggalkan area ini."
Patimah menutup pembicaraannya, sambil berjalan kedepan Nenti.
Mendengar itu, Nenti sungguh merasa dipermalukan, tapi ia tak punya bahan untuk menjawab, kemudian ia pergi dan sesaat kemudian keluar area perkebunan, membawa mobilnya sangat kencang. Ia harus segera menemui Subarkah agar membeli saham Patimah, agar ia nanti bisa mengusir perempuan sombong dan menyebalkan itu dari area perkebunan ini.
"Haaaaahh, sialan ! Awas kau nanti !"
__ADS_1
Ia berteriak didalam mobil, memukul-mukul gagang kemudi.
* BERSAMBUNG*