
Nenti sangat kesal pada ayahnya, karena tetap tidak mau saat diminta menemaninya ke rumah Subarkah
"Ayah tidak mikir, aku jadi istrinya sudah tiga bulan lebih, tapi jangankan hidup serumah, bertemupun tidak pernah ? Perkawinan apa ini ?"
Dikatakan seperti itu, ayahnya seperti tidak terpengaruh, matanya tetep tertuju pada layar tivi yang sedang menyiarkan acara kriminal.
Nenti sewot, diambilnya remote diatas meja, lalu tivi dimatikan, ibunya pura-pura sibuk memijit-mijit hape dengan telunjuk.
"Yah, Mah ! Mana tanggung jawab kalian pada anaknya ? Apalagi ayah, ayah kan wali nikahku saat itu "
"Penikahan semprul ! Pernikahan yang telah mencoreng muka ayah ?!"
Ayah Nenti langsung menjawab dengan nada keras dan marah, ia sungguh kesal dengan sikap anaknya yang tidak ada sopan santunnya bicara pada orang tua.
"Apapun itu, kenyataannya, sekarang aku, istri sah dari Bang Subarkah, Yah ? Lagian apa susahnya, sekali ini saja, Ayah berbuat sesuatu yang benar buat anaknya ?,"
"Memangnya ayah tidak pernah melakukan yang benar ? Dari kecil, ayah dan mamamu tidak pernah membiarkan kamu kesusahan, uang, mobil, pakaian, apa yang kamu mau, kami berikan, tapi apa timbal balikmu heh ? Kuliahmu tidak beres, kalau main tidak tahu waktu ?! " Pak Herlan lagi-lagi menjawab dengan nada masih marah
"Dan masalah Subarkah, kamu harus tahu, sekarang hidup kita sudah sangat tergantung dengan mereka ! Ayah harus sangat hati-hati supaya tidak menyinggung mereka, karena kalau sempat menyinggung hati mereka, kemudian hengkang dari persahaan kita, maka selesailah, kita bangkrut, bangkrut, bangkrut, Nenti ! Kamu mau itu terjadi ?! "
Setelah mengatakan itu, Pak Herlan berdiri
"Sekarang saatnya kamu, untuk tidak memaksakan diri, mulai menyadari diri, tidak sumua yang kamu inginka harus didapatkan !"
Setelah itu, Pak Herlan berjalan masuk ke kamar masih dalam keadaan kesal, meninggalkan anak istrinya berdua di ruang tengah. Ibunya Nenti juga lalu berdiri menghampiri Nenti, diusap-usap punggung anaknya. Ia dapat memahami sikap suaminya begitu, karena kondisi usaha suaminya sedang berada dititik terendah, tapi disisi lain, nalurinya sebagai seorang ibu, tetap saja menyayangi anaknya dalam keadaan apapun
"Sabar, Nak..."
"Sabar, sabar, diem aja, Mah. Bosen dengernya !"
Sambil berkata begitu, ia banting remot ditangannya ke lantai hingga pecah berserak lalu masuk ke kamar, meninggalkan mamanya yang menarik nafas panjang, tidak tahu harus berbuat apa.
Sesaat kemudian Nenti sudah keluar lagi. Tanpa pamit, tanpa berucap ia meninggalkan rumah dengan mobil sedan citycardnya, ngebut membelah jalanan sore hari yang ramai, ia nekat akan ke rumah Subarkah, tak perduli bila nantinya mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari mertuanya. Dia akan berusaha menemui Subarkah denga cara apapun, kalau perlu menyembah-nyembah, karena hanya Subarkah yang bisa membalaskan sakit hatinya pada perempuan yang ia anggap telah merendahkan dirinya dihadapan para pekerja diperusahaan yang ia kira sepenuhnya milik Subarkah. Ia akan minta Subarkah membeli saham perempuan itu hingga ia bisa mengusirnya lebih hina, lebih yang ia rasakan saat itu.
Tapi usahanya belum apa-apa sudah terhambat. Seorang lelaki hitam berbadan tegap dengan pakaian satpamnya, tidak membolehkan ia masuk, dengan alasan dirumah tidak ada siapa-siapa
"Kamu tidak tahu siapa saya ? Saya istrinya Subarkah, majikanmu, tau ? Ayo buka ! "
Tapi yang dibentak-bentaknya hanya tersenyum, melipat kedua tangannya didada dan dua kaki dilebarkan, sikap siaga. Ia terus saja dalam sikap begitu tidak terpengaruh dengan caci-maki, Nenti yang kemudian mengalihkan matanya ke lantai dua rumah. Nampak mami subarkah sedang berdiri teras, memperhatikannya dengan wajah datar tapi puas dengan sikap penjaga rumah dalam memperlakukan tamunya. Lalu Ia masuk kedalam dengan wajah sinis,setelah Nenti tidak kelihatan lagi, naik mobilnya, menembus jalan, meniggalkan pintu gerbang
Lain halnya dengan Patimah, ia baru saja selesai diskusi dengan para pekerja, tentang sebab perusahaan merugi dibulan ini, yang diyakini terjadi saat kekosongan figur pimpinan profesional perusahaan, yaitu figur Subarkah yang menguasai benar manajemen agro bisnis.
"Kalau kita sadar, Pak Subarkah jadi nafasnya perusahaan ini, maka cara kita sekarang adalah bagaimana meyakinkan masyarakat disekitar sini, bahwa dengan di usirnya Pak Subarkah sebulan yang lalu akan mengakibatkan perusahaan bangkrut, ya memang dimungkinkan, karena hanya beliau yang tahu bagaimana memperlakukan tanaman disini "
Itu yang pertama kali disampaikan Patimah pada para pekerjanya, bahasan yang hampir memenuhi kebenaran siapa yang bisa mengurus tanaman yang semuanya berbasis teknologi ? Kemana mereka mencari kerja lagi kalau perusahaan ini bangkrut ? Dan banyak lagi pertanyaan lain di hati mereka, himgga mereka berjanji akan bersama-sama memulihkan nama baik Subarkah semaksimal mungkin. Lagi pula semua pekerja dari awal sudah kurang percaya dengan kejadian yang telah menimpa Subarkah, terutama para perempuan yang bekerja di divisi penyortiran, karena mereka tahu, siapa perempuan yang bersama bos mudanya saat itu. Perempuan sombong, bengal dan tidak punya sopan santun sama sekali.
__ADS_1
"Sayah mah merasa, bos muda di jebak."
"Iya "
"Perempuan haram jadah, tah ,"
"Iya "
Beda sekali dengan Neng Patimah "
Mereka bergosip, membandingkannya dengan Patimah, yang dimata mereka sebagai perempuan cantik, tegas, santun solehah dan jadi begitu manis saat ia tersenyum dikulum
*****************************************
Subarkah segera memanggil taxi, menuju kantor papinya yang baru saja mengabarkan bahwa Gatot temannya Budi, yang mencekoki dirinya dengan narkoba telah berhasil dtangkap polisi.
Dari sana nanti bareng papinya melihat Gatot . Ia penasaran, pengakuannya sejauh mana serta siapa aktor dibelakangnya, walau ia sudah mengira-ngiranya tertuju pada sebuah nama, Nenti istri sirinya.
Setibanya di kantor polisi, Subarkah tidak ads keinginan untuk melihatnya, buat apa ? Biarlah polisi yang menanyanya dan ia cukup mendengar saja dari polisi.
"Si Gatot kami tangkap setelah dipancing si Budi, dari rumahnya kami sita banyak beberapa
jenis narkoba, diantaranya dua jenis yang diminumakan pada saudara, yaitu kenis extaci dan ganja sintetis, atas suruhan seorang perempuan bernama, Nenti.,"
Subarkah sendiri tidak begitu minat melihat kedua barang itu. Ia hanya melihat selintas saja, karena fikirannya terbelah pada Nenti, yang ia sebut sebagai psycopat. Karena Nenti, sama sekali tidak memperlihatkan penyesalan atas perbuatan buruknya.
"Dan ada satu lagi khabar gembira. Jawaban dari departemen forensik kepolisian Australia, sudah sampai disini, tapi masih di meja, Komandan. Saya kira satu dua hari ini, bisa saya perlihatkan kepada anda.,"
"Apa ? Sekali lagi, Pak "
Mendengar penjelasa terakhir, Subarkah langsung nyamber. Ia ingin tahu hasilnya, mengembirakan atau tidak. Hasil itu akan menggambarkan dirinya akan manjadi apa dan bagaimana, kedepannya.
"Ya surat dari kami ke Kepolisian Australia sudah ada jawabnya "
Subarkah menoleh papinya yang duduk disampingnya.
"Terus, Nenti ditangkap enggak ya? Kalau boleh, jangan dulu sampai saya membaca surat jawaban itu." Sebentar kemudian Subarkah malah bertanya lagi pada polisi dihadapannya.
"Lagipula kalau ia ditangkap atau walau dalam kondisi apapun, dia masih terikat sebagi istri siri saya. Saya takut menabrak aturan agama yang saya yakini, Pak "
Mendengar itu, Pak Subrata agak kecewa, tapi dia bijaksana, membiarkan Subarkah memutuskan sendiri.
Polisi mengabulkan permintaan Subarkah, tapi tetap subarkah harus mengajukan hal itu denga surat yang lalu dibuat dan ditanda tangani.
Lain halnya diperkebunan, Patimah mendapat tamu dari aparat desa, RT, RW dan para tokoh agama serta pemuda, yang menyatakan mempersilahkan kembali bekerja dan memimpin perusahaan, sehubungan banyaknya keluhan dar masyarakat disini terutama para pekerja dan keluarganya yang ketakutan kehilangan pekerjaan dengan ketiadaan Subarkah yang menguasai pola tanam dan manajemennya.
__ADS_1
Disamping itu banyak yang percaya kalau kejadian perzinahan yang dituduhkan pada Subarkah, hanya akal-akalan sekelompok orang yang tidak suka pada Subarkah.
"Jadi silahkan kalau Neng Patimah mau membawa lagi Pak Subarkah kesini, kami tidak keberatan ,"
Ustadz Mansur sebagai tokoh da sesepuh di desa itu yang mewakili bicara pada Patimah.
Pernyataan yang membuat para pekerja bertepuk tangan, gembira karena dengan itu, kebangkrutan perkebunan bisa dihindarkan.
Patimah sendiri hanya mengucapkan banyak terima-kasih, dan saat itu juga dihadapan orang-orang yang hadir, ia menelphone Subarkah.
"Bener ini ? Kok bisa ?" Terdengar diujung telephon Suara Subarkah.
"Terlalu panjang kalau dijelaskan. Begini saja besok, aku akan bawa para tokoh dan sesepuh bertemu kamu di Jakarta, bagaimana ?"
Lama Subarkah tidak menjawab, seperti sedang berfikir.
"Tunggu lima menit, nanti kutelephon "
Setelah itu telephone diputus dari seberang.
Tapi belum sampai lima menit, telephone Patimah berbunyi, lalu langsung ia angkat
"Halo, Patimah, sayang....Halooo, halo?"
Mami, bisik hati Patimah, itu pasti suara mami Subarkah yang menggunakan hape Subarkah. Ia kaget maka tadi tidak labgsung menjawab.
"Ya, ini, Mami ya ? Asalamualaikumm "
"Ya, Sayang. Subarkah tadi ceritera, kamu kesini dengan para sesepuh. Langsung bawa ke rumah saja. Lagian mami kangen sama kamu, sayang ... !"
Bla bla bla, maminya terus saja bicara dan baru berhenti setelah hapenya diambil Subarkah yang membenarkan besok para sesepuh desa dibawa ke rumah saja.
Patimah, tadi merasa tidak menginjak lantai, tapi terbang dipanggil sayang oleh mami Subarkah, hati kecilnya senang dipanggil begitu, tapi tak lama karena Ustadz Mansur mulai berdiri.
"Maaf bapa-bapa, sebelum Pak Subarkah kesini, Pak Subarkah dan keluarga mengundang kita untuk beramah tamah di rumahnya, di Jakarta. Kendaraan dan sedikit uang jajan nanti kami siapkan. Kita berangkat jam tujuh pagi dari sini"
Patimah langsung memberitahu yang hadir tentang undangan keluarga Subarkah untuk datang ke rumahnya di Jakarta.
Orang-orang yang hadir bersorak, bukan masalah undangannya, tapi banyak diantara mereka yang belum tahu Jakarta. Kapan lagi?
Kata mereka sambil satu dua orang bersuit memperlihatkan kegembiraan mereka, sedangkan para pekerja, untuk yang kesekian kalinya kagum pada Patimah, yang cekatan mengambil keputusan dalam situasi apapun.
Cantik, tegas, santun dan selalu menyenangkan banyak pihak.
* BERSAMBUNG*
__ADS_1