Pedang Filsafat

Pedang Filsafat
Istana Tanpa Dewa


__ADS_3

Yan Ri terbangun di tepi sungai. Ternyata jauh di bawah tanah ada sebuah sungai yang mengalir, mengisi terowongan yang menuju entah kemana. Karena merasa terdampar setelah mengalir entah dari mana kemana, membuat Yan Ri tidak tahu harus menuju kemana. Jika menuju ke hulu, samar samar ingatannya merasa jalan keluar di sana telah tertutup saat ledakan. Jadi pilihannya adalah mengalir mengikuti jalan sungai, berharap di ujung sana terdapat jalan keluar, baru setelah itu mulai mencari posisi untuk menentukan arah jalan pulang.


Sebelum memutuskan berjalan, Yan Ri membuat api unggun kecil dari sisa sisa pohon atau sulur kering seadanya, sekedar untuk mengeringkan tubuh dan membantu memasak beberapa udang dan ikan sungai yang ditangkap.


Setelah selesai baru memutuskan untuk kembali menyusuri jalan terowongan. Meskipun suasana agak gelap dan remang remang, setidaknya dengan obor dari sisa api unggun yang dibuat tadi, cukup membantu berjalan.


Saat sedang berjalan tiba tiba bulu kuduk Yan Ri merinding. Di sudut atas dinding gua yang gelap terlihat sosok serupa bayangan manusia menempel di dinding. Mata nya memerah, dan meskipun suasana gelap tubuh bayangan itu memancarkan aura \( atau bahasa aslinya aurora \- penulis\) yang berwarna hijau pekat. Sekaligus memancar hawa yang membuat bernapas menjadi berat. Apalagi melangkah, lebih sulit lagi.

__ADS_1


" Tuan..... , saya mohon maaf, saya tersesat di sini, dan hanya sekedar untuk lewat mencari jalan keluar, sama sekali tidak bermaksud mengganggu tuan atau bermaksud buruk, jika tuan sudi berkenan, saya mohon biarkan saya lewat..... " .Yan Ri berkata dengan hormat.


Begitu sosok itu turun dari tempat gelap dan terlihat melalui cahaya obor, Yan Ri melihat lawan bicaranya tak lebih seperti dirinya. Manusia juga, berpakaian kusut karena tak pernah beli baju di pasar, terjebak di gua ini bertahun tahun. Tapi meskipun berwujud kakek tua berbaju kusut kusam compang camping, Tak terlintas di kepala Yan Ri untuk meremehkan siapapun kini yang ada di hadapannya. Karena sudah banyak contoh, kasus kasus di dunia persilatan tentang pendekar tingkat tinggi yang justru tersungkur oleh mereka yang berpenampilan kurang meyakinkan. Terlebih sifat Yan Ri memang lebih suka mencari jalan aman untuk mencapai tujuan. Jika pendekar yang memiliki Ego tinggi, bisa bisa langsung menebas tanpa memikirkan kemungkinan mereka memiliki ilmu tinggi, setidaknya kemampuan mereka teruji karena hidup bertahun tahun di dasar bumi seperti ini.


" kita... tubuh.... kita ... jiwa..... karena.... ada..... " .Kakek itu justru meracau tidak jelas.


" Oh ya.... benar itu... Tubuh kita ada karena ada jiwa kita... Haaaa haaa haaaa " .kakek itu justru meloncat ke belakang, terus meloncat ke sana ke mari sampai menghilang tak lagi terlihat.

__ADS_1


Yan Ri termenung, kalimat itu selaras dengan aliran mengolah dari kitab seni jiwa miliknya. Hanya saja seolah dari sumber berbeda. Lebih seperti Aliran Budhisme dalam pencerahan dari Hinayana menjadi Mahayana. Tentang ilusi yang menjadi bagian kesadaran mutlak. Itulah sebabnya banyak bhiksu merapal mantra : " isi adalah kosong, kosong adalah isi, semua bermula dari hati, jika di hati ada kesadaran budha, maka semua tak lagi penting.... " .Ini adalah dasar dari seni menciptakan kenyataan dari wujud penjiwaan.


Jadi misalnya ada yang dihipnotis seolah memiliki luka, atau dihipnotis tangannya putus, maka kesadaran nya akan menciptakan kenyataan bahwa tangannya benar benar terputus. Bahkan di tingkat lebih tinggi, seorang kultivator seni jiwa tingkat tinggi , mampu mengubah pohon delima menjadi emas, atau bahkan pasir menjadi emas.


Tapi sepanjang sejarah, belum pernah ada yang terang terangan mencapai tingkat itu. Kecuali seorang tetua dari istana Tanpa Dewa \( atau justru karena kekuatan seorang tetua itu sudah setara dewa, berarti ada satu dewa dong ya, ya tetua itu. he he he he \- penulis\) .Merinding Yan Ri jika mengingat kemungkinan kakek itu adalah tetua yang dimaksud. Untung tadi masih bersopan santun, jika dikutuk jadi kodok atau kecebong, habis sudah.


Tapi jika seorang tetua Istana Tanpa Dewa yang begitu masyhur bisa menjadi seperti itu, membuat Yan Ri berpikir tak ada ilmu yang benar benar sempurna. Dan jawaban mengapa tetua itu menjadi seperti ini, terjawab saat Yan Ri melihat sebuah kertas undangan pernikahan. Tampaknya sangat tua sekali. Dan guratan di dinding yang namanya sama dengan di kertas undangan membuat Yan Ri bergidik, ternyata cinta bertepuk sebelah tangan bisa membuat tokoh sakti seolah remaja umumnya yang patah hati.

__ADS_1


__ADS_2