Pedang Filsafat

Pedang Filsafat
Simbol Perlawanan melawan Takdir


__ADS_3

Tempat pertandingan yang diikuti Yan Ri terletak di bawah tanah kota terlarang. Berupa arena yang cukup luas dikelilingi tempat duduk berupa tribun yang mampu menampung sekitar 10 ribu orang. Beberapa ratus diantaranya berupa tempat duduk mewah dengan pelayanan terbaik, sebagai simbol status sosial mereka yang duduk di sana.



Berbeda dengan turnamen yang menjunjung nama perguruan, pertandingan ini cenderung demi menaikkan nama pribadi. Meskipun tetap saja ada beberapa orang, satu atau dua, jumlah yang menjadi minoritas, yang datang bertanding dengan wajah ditutup, menggunakan nama samaran. Tanpa peduli tambahan nama besar jika berhasil menjadi juara. Hanya sekedar mengincar hadiah, atau sekedar merasakan sensasi bertarung. Ya benar, bagi kaum pendekar sensasi bertarung, berada di garis perbatasan hidup dan mati adalah hadiah utama yang tidak bisa dibeli dengan uang. Berapapun nilai yang ditawarkan.



Yan Ri termasuk dalam golongan kedua. Dia datang dengan baju yang cenderung menutup. Bukan dengan alasan hadiah atau kejayaan seorang pendekar. Lebih karena, jiwanya sedang suntuk, jenuh, bosan dengan rutinitas hidup sehari hari, atau jiwanya sedang terguncang, sehingga mencari pelampiasan sebagai jalan keluarnya



Turnamen ini tidak memiliki batas untuk menentukan pemenang. Mereka yang kehilangan nyawa dianggap sudah sepantasnya. Ada harga yang harus diterima untuk mendaftar di sana, yaitu kesepakatan tentang kemungkinan terbunuh di pertandingan.



Ada alasan yang mendasari sikap seperti ini. Yaitu jalan pikiran tentang simbol perlawanan. Penyelenggara memiliki pendapat berselisih dengan turnamen antar perguruan sebelumnya. Bahwa kejayaan hanya bisa ditentukan sampai garis akhir, saat menyentuh garis hidup dan mati. Sedangkan kelompok penguasa saat ini berpendapat tentang kejayaan sudah cukup dengan pilihan kalah dan menang.



Jalan pemikiran adalah sesuatu yang sulit untuk dicabut dari masyarakat. Begitupun jalan pikiran pemberontakan atas kemapanan. Di permukaan bisa saja rakyat manggut manggut membayar pajak, tapi jauh di dasar hati mereka , mereka ingin melawan. Maka bisa saja muncul perlawanan yang hanya berupa simbol. Di masyarakat muncul cerita seperti seekor kera yang menantang langit misalnya. Itu adalah simbol betapa orang kecil pun memiliki perlawanan.

__ADS_1



Bahkan bentuk perlawanan yang muncul dari cerita Wu Ming tentang bangunan suci agama budha di jawadwipa pun sama. Rakyat yang terbelah antara budhisme dan hinduisme. Raja bisa saja membangun sebuah bangunan suci agama budha \( Shambara Budhura \) , karena raja rakai panamkaran dari trah Syailendra memang ber igama budha. Tapi rakyat yang memiliki kehendak berbeda, mungkin tidak langsung melawan dengan tidak membangun perintah raja, cukup rakyat membangun bangunan suci igama hindhu \( candi prambanan\) mereka, sebagai bentuk perlawanan.



Atau bagaimana cerita dari westeria , simbol perlawanan terhadap raja philip dari kerajaan bawahan, negeri catalan. Rakyat tidak perlu memberontak menumbangkan kekuasaan raja. Cukup ketika raja menyukai kelompok permainan tertentu dari ibu kota, maka rakyat membangun identitas perlawanan mereka dengan kelompok permainan mereka sendiri dari negeri bawahan yang ingin merdeka \( kelak rivalitas itu terjaga sampai terbangun kompetisi dengan gelar el clasico, barcelona yang dianggap sebagai simbol perlawanan catalan atas dominasi kekuasaan pusat di madrid \- penulis\) .



Inilah simbol perlawanan, seolah mereka menganggap bahwa munafik saja kemenangan ditentukan musuh telentang atau tengkurap di arena. Tapi banyak juga pejabat yang suka Bahkan kaisar secara tidak resmi memberi izin, dengan memberikan ruang bawah tanah kota terlarang untuk dijadikan arena pertarungan.




Bisa dibilang Turnamen bawah tanah ini adalah jalan pintas untuk mendekati kaisar. Dekat dengan kaisar, otomatis jalan pintas menjadi kaya, berjaya, atau jabatan yang cukup bergengsi. Lebih cepat dari menjadi juara turnamen antar perguruan sebelumnya, yang meskipun menang, masih harus ikut ujian kelulusan perguruan, bahkan beberapa kasus masih harus ikut tes masuk pegawai kerajaan.



Suasana pendaftaran saat Yan Ri masuk terlihat cukup meriah, banyak pasang mata yang saling mengawasi calon lawan.

__ADS_1



Tapi ada yang menjadi perhatian Yan Ri. Sosok lelaki mungil, yang tangan dan kakinya kecil. kulitnya tampak putih mulus, matanya bening seperti telaga.Bahkan bulu matanya lentik. Yan Ri yakin dia itu aslinya perempuan. Hanya saja dalam balutan pakaian busana laki laki. Kadang Yan Ri berpikir :" Ah, andai dia memakai baju perempuan, tentu tak ada yang bisa menolak untuk mengatakan dia cantik, ...."



Dan saat Yan Ri dan sosok itu mendekat, hidung Yan Ri bisa mencium aroma harum \( parfum chanel 5 \- khayalan penulis\) feminin yang khas. Dan entah bagaimana sosok itu terburu buru berlari, hampir tersandung Yan Ri menangkap punggung nya, agar tidak terjatuh. Saat 2 tatap mata bertemu \( persis iklan yang slogannya :" kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda " \- penulis\) , seolah ada perasaan yang tumbuh.



Mungkin musim semi tiba lebih cepat .Bunga bunga bermekaran. Semua manusia di sekitar adalah tamu restoran, mereka akan pergi setelah membayar.



Tapi kejadian itu cepat berlalu. Dan Yan Ri sulit mencari jejak sosok itu lagi.



" Tampaknya aku harus memusatkan pikiranku untuk acara ini " .Dan satu per satu nama mulai dipanggil memasuki arena. Dengan sorakan penonton, dan beberapa orang yang sibuk bermain judi. Mengira ngira siapa yang layak dijagokan ajang taruhan


__ADS_1


Terlihat, tak ada yang menjagokan Yan Ri. Murid yang tidak punya nama. Apalagi banyak peserta yang sudah memiliki nama besar sebelumnya.


__ADS_2