
Di sebuah jalur menembus pegunungan yang gelap, rombongan Situ Meng menyusuri jalan bersama para pembantu dan pengiringnya. Rencananya Situ Meng akan mendaftar bersama Mo Ruyu. Bagi Mo Ruyu ini adalah kesempatan bagus untuk merubah nasib, tapi tidak begitu pemikiran keluarga majikan Situ. Mo Ruyu dimaksukkan hanya untuk menjadi pembantu, melayani apapun kebutuhan Situ Meng, putri kebanggaan keluarga Situ. Keluarga kaya yang kebetulan beruntung dalam bisnis perniagaan. Atau lebih tepatnya, Situ Meng menjadi ajang obsesi ayahnya. Ayahnya yang gendut, profil model sempurna dari kegagalan belajar ilmu bela diri, sangat ingin, dan terobsesi putrinya menebus kegagalan nya di masa lalu. Agar putrinya kelak menjadi pendekar yang membawa nama keluarga menjadi tersohor di kalangan masyarakat.
Tapi takdir terkadang berlaku kejam, Jalan yang mereka pilih hanya memiliki ujung buntu karena dihadang sekelompok orang yang berniat kurang baik.
" Nona.... cepatlah kabur, aku akan menahan mereka, jangan hiraukan aku, cepat.... " seru Mo Ruyu.
Dan Situ Meng selamat bersama beberapa pengiring, sisanya tewas di tangan perampok. Dan setelah tinggal Mo Ruyu sendirian di kelilingi perampok .Mo Ruyu sempat berpikir inikah kematian?
Tapi pandangan Mo Ruyu terarah ke sepatu para perampok itu, sepatu mereka cukup bagus untuk ukuran kaum yang terpaksa berbuat jahat untuk mengatasi kemiskinan. Setelah menentukan siapa yang kira kira menjadi pemimpin mereka, Mo Ruyu bersimpuh bersujud, memegang kaki ketuanya.
__ADS_1
" Tuan tolong jangan bunuh saya, Saya bersedia melakukan apa saja asal tuan sudi melepaskan saya.... tolong tuan " , pekik memohon Mo Ruyu.
" Haaaahhh Apa saaaja katamu.....? " , seringai ketua perampok itu, sambil tersenyum licik penuh keculasan.
_________________________________________________
( skip - penulis ingin menghindari banned tidak lulus sensor dari pihak mangatoon, ha ha ha ha)
" Bagaimana? apakah kau sudah menargetkan siapa tumbalmu nanti? ingat aku sudah memberi tahumu bahwa nanti di ujian penerimaan murid luar yang baru juga hadir para penguji dari perguruan Langit Merah. Kalau kau bisa menarik perhatian mereka, jangankan membalas dendam kepada keluarga Situ, masa depanmu akan cerah....., saranku carilah mereka yang memiliki jiwa silat api, dengan begitu kekuatan mu akan meningkat pesat. " .Ucap nya sambil memakai baju dan celananya, sedang Mo Ruyu masih di tempat tidur menggenggam erat sprei berselimut menutupi dirinya.
__ADS_1
" Teen tentu sudah kakak senior... " .jawab Mo Ruyu.
" siapa? Aaaaachhhh..... apa ini? " .Ternyata saat membelakangi Mo Ruyu, Kakak senior itu tertusuk konde yang cukup panjang dan tajam, dia tak kuat melawan karena ternyata Mo Ruyu sejak semalam menyiapkan dupa peluruh otot. yang membuat dia kehilangan tenaga, sedang Mo Ruyu sendiri sudah menelan obat penawarnya.
" pilihanku memang menggunakan pesilat jiwa api, apakah aku harus mencari lagi jika orang yang dimaksud ada di hadapanku? "
Murid murid anak buahnya tak ada yang menyadari karena mereka berjaga di tempat yang agak jauh. Tapi setelah malam ini, Mo Ruyu bukan lagi Mo Ruyu yang sebelumnya. Dia jauh lebih kuat dari kakak seniornya yang berelemen api hitam, jiwa silatnya berubah dari air menjadi elemen petir ungu. Gabungan antara jiwa silat air miliknya dan jiwa silat api hitam kakak seniornya, menjadi petir ungu. Jenis petir yang sangat kuat ,cepat, tak bisa dihindari dan tak bisa ditangkis. Begitu murid murid dalam menyadari kondisi kakak senior mereka sudah terbunuh, Mereka dihajar tanpa ampun oleh petir pembunuh ungu. Mo Ruyu tidak langsung membunuh mereka, hanya terserempet sedikit, tapi efeknya, semua murid dalam itu tunduk menjadi budak baru Mo Ruyu.
Secara pilihan, pilihan Mo Ruyu agak salah. Tapi menilik hasil yang diperolehnya jelas itu hasil yang banyak diincar orang lain. Meskipun orang lain tidak tahu resiko yang Mo Ruyu miliki. Tapi Konsekwensi yang muncul jelas membuat karakter Mo Ruyu berubah, dia menjadi kejam, licik dan siap menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalannya.
__ADS_1
Jadi apakah sebuah jalan yang dipilih disebut jalan salah atau benar, terkadang berpulang kembali ke nurani masing mading untuk menilainya.