Pedang Filsafat

Pedang Filsafat
Perguruan Shang Ri La


__ADS_3

Perguruan Shang Ri La didirikan di puncak gunung dengan ribuan anak tangga yang berkelok kelok. Hari itu sangat ramai, dimana yang datang mengular dari kaki gunung dan berkumpul di sebuah tanah lapang di Puncak gunung. Sebenarnya untuk masuk perguruan cukup mudah cukup menunjukkan bakat silatnya dengan menempelkan tangan di sebuah batu giok setinggi 10 meter. Warna batu giok akan berubah sesuai jiwa silat murid yang menyentuhnya.


Biru jika berjiwa silat air, Merah jika berjiwa silat api, Hijau jika berjiwa silat angin, Kuning jika berjiwa silat bumi / logam, dan beberapa warna yang merupakan pengembangan dari unsur dasar.


Setiap satu meter batu giok itu bertanda garis, yang menunjukkan sebatas mana kekuatan murid itu. Barulah setelah menyentuh batu giok, dewan guru menilai untuk calon murid masuk ke daftar murid luar atau murid dalam jika dianggap berbakat. Untuk sebuah alasan, di tanah lapang itu ditempatkan sebuah arena bertarung, untuk menentukan siapa yang layak menjadi ketua asosiasi murid luar. Dan ketua asosiasi murid dalam memiliki karena tersendiri di dalam perguruan. Selain biasanya pertarungan murid dalam lebih kuat sehingga butuh pengawasan guru, menjadi ketua asosiasi murid dalam memiliki kebanggaan tersendiri. Kadang jika yang terpilih menjadi ketua asosiasi murid dalam adalah laki laki brengsek mesum, bisa jadi untuk satu generasi murid murid perempuan dihantui ketakutan. Karena ketua Asosiasi murid dalam bisa berlaku seolah preman yang menjadi standar keamanan setiap murid. Sama seperti preman di pasar meminta jatah keamanan dari pedagang, dan tak ada pedagang yang berani melawan karena kekuatannya berbeda.


Hari ini, Situ Meng benar benar menjadi pusat perhatian. Setelah membuat batu giok jiwa bersinar biru setinggi 6 meter. Situ Meng berdiri di arena untuk memperebutkan posisi ketua asosiasi murid luar. Dan karena Situ Meng sudah mempelajari beberapa jurus air dari usaha ayahnya mengumpulkan kitab dan mendatangkan pembimbing, nyaris tak ada murid lain yang mampu disebut melawan. Jurus cambuk air milik Situ Meng bisa membuat peserta lain langsung terlempar arena dengan sekali serang.


Bagi murid biasa itu adalah pertunjukan yang mengesankan. Tapi itu membosankan untuk guru pengawas, apalagi tim peninjau dari perguruan Langit Merah, mereka sambil menguap berharap acara ini cepat selesai.

__ADS_1


" Ayo siapa lagi yang ingin berebut posisi denganku, naiklah !!!! " .seru Situ Meng. Semua murid saling pandang, mereka kalau bukan karena merasa tidak mungkin menang, ada lagi jenis seperti Yan Ri dan Yun Xi, mereka bukannya tidak yakin mampu menang, tapi malas berebut untuk sesuatu yang mereka anggap remeh, kurang kerjaan, tidak ada untungnya. Tujuan mereka ingin belajar, tidak lebih, apalagi sibuk berpolitik mencari popularitas.


Saat semua merasa hasil akhir sudah ditentukan, sesosok melesat dari bawah kaki gunung dengan kecepatan kilat dan menjejak arena dengan meninggalkan bekas telapak kaki. Mo Ruyu.


" Tunggu !!!!!! , aku belum mencoba " .


" Mo Ruyu ...... , aku senang sekali ternyata kamu selamat... " kata Situ Meng.


" Tak usah basa basi.... ayo kita bertarung " kata Mo Ruyu. Merekapun bertarung. Anehnya meskipun Mo Ruyu terlihat seharusnya mudah saja melempar keluar Situ Meng dari arena ,hal itu tidak dilakukan. Mo Ruyu hanya menghindari cambuk air dengan santai lalu menghajar Situ Meng tanpa ampun sampai babak belur. Saat merasa Situ Meng tidak sanggup berdiri lagi, Mo Ruyu terlihat bersiap melemparkan jurus terkuatnya. Semula Situ Meng mengira Mo Ruyu menyiapakan jurus gelombang air untuk menghempasnya keluar arena, jadi Situ Meng mempersiapkan jurus perisai pusaran air untuk membalik jurus Mo Ruyu agar Mo Ruyu terkena jurus nya sendiri. Ternyata Mo Ruyu melempar petir ungu yang sangat kuat. Bukan hanya perisai pusaran air seketika meledak menguap, tubuh Situ Meng juga terbakar. Tapi sebelum terlempar keluar arena, Mo Ruyu melesat dengan kecepatan kilat menghadang, memukul kembali ke dalam arena.

__ADS_1


Penampilan Situ Meng benar benar menyedihkan, kakinya patah, tubuh dan mukanya terbakar sehingga wajahnya tak lagi terlihat cantik. Lalu utusan perguruan Langit Merah turun ke arena dan mengumumkan untuk meminta Mo Ruyu bergabung dengan Langit Merah.


" Aku menolak, aku hanya bersedia masuk ke perguruan Langit Merah dengan satu syarat, kalian harus habisi keluarga Situ, jika tidak, lebih baik aku tetap di sini dan menjadi ketua asosiasi murid dalam agar tiap hari aku bisa menyiksa Situ Meng seperti hari ini " bisik Mo Ruyu kepada utusan itu.


" Itu hal mudah, anggap saja sebelum malam keluarga situ sudah musnah " jawab sang utusan


" Baiklah, aku setuju..... " kata Mo Ruyu, sambil berjalan keluar arena, dia menginjak tangan Situ Meng sampai gemeretak patah.


Selain mengumumkan ingin mengambil Mo Ruyu, utusan itu juga mengumumkan ingin mengambil Yun Xi , karena ketika meledak jurus pusaran air milik Situ Meng tadi, banyak murid yang terdorong ke belakang, dan Yun Xi tertahan pilar giok, pilar giok itu bersinar berwarna putih sebagai tanda jiwa silat es. Utusan itu berpikir Yun Xi bisa menjadi murid yang cukup baik untuk senior Tapak Es Putih. Tampaknya meskipun berat meninggalkan teman temanya, Yun Xi menganggap bergabung dengan pergurunan tingkat tinggi memberikan peluang masa depan yang lebih baik untuknya.

__ADS_1


" kak Yan Ri ...... maafkan aku, aku tidak bisa memenuhi janji kita belajar bersama, tapi aku mohon yakinlah, suatu saat nanti saat kita bertemu lagi aku tidak akan melupakanmu, kita akan menikah dan bersama selamanya nanti di hari tua kita "


\( entah kenapa penulis memilih kalimat ini, sangat lucu membayangkan anak kecil umur 9 tahun bicara pernikahan, menggemaskan saja gitu, ha ha ha \- penulis\) .


__ADS_2