Pedang Filsafat

Pedang Filsafat
Aku Begitu Mencintaimu, Tapi Tak Ada Kata yang Layak untuk Mengungkapkannya


__ADS_3

Selanjutnya hari hari Situ Meng dan Yan Ri sama seperti pelajar bela diri lainnya. Di pagi hari menimba ilmu dasar yang diberikan perguruan. Terkadang penyampaian moral dan kode etik seorang pembelajar seni bela diri. Kadang ada tugas bhakti untuk perguruan, semisal mengumpulkan tanaman herbal untuk persediaan, atau tugas level atas seperti menangkap penjahat buronan demi kontribusi untuk negara. Biasanya seorang murid luar hanya berurusan dengan penjahat kelas teri, seperti maling jemuran atau preman biasa yang mengacau keamanan. Dan tugas berurusan dengan penjahat kelas berat diserahkan untuk mereka yang dianggap lebih mampu. Seperti menghadapi pembunuh berantai yang merupakan pendekar, biasanya hal semacam itu dibebankan untuk murid dalam dengan kualifikasi baik. Dan karena ketua asosiasi murid dalam yang baru adalah murid yang cenderung menjaga adik seperguruannya, tugas ini tidak pernah sampai ke tangan murid luar. Meskipun Yan Ri sebenarnya memilki kemampuan, tapi sifat dasarnya yang tidak ingin menonjol membuat semua tugasnya seolah stabil di peringkat tengah tengah. Tidak menarik perhatian karena terlihat berilmu tinggi, atau bisa dibilang tidak terlihat bodoh juga karena di posisi terendah.


Kadang untuk mengisi waktu senggangnya Yan Ri keluar di malam hari untuk sekedar mengasah ilmu pedang yang dia kembangkan dari kebiasaannya menulis puisi di daun yang jatuh, di batu, di air kolam atau sekedar di udara. Dia sendiri menamai jurus pedang yang dikembangkannya : Jurus Pedang Menulis Kematian \( lagi lagi asal comot nama jurus, saya minta maaf ke pengarang nama jurus ini, Seno Gumira Dharma, pengarang NagaBhumi, Maaf ya \- penulis\) .


Kadang Situ Meng ikut berlatih juga, betapapun dia juga merasa ilmu silatnya penuh kelemahan dan harus terus diasah, gerakan jurus jurus airnya dari menarik air, mengalirkan air, selaras dengan aliran air, mengalir tenang dan kadang tajam seperti sayatan pedang, begitu anggun seperti bukan sedang memainkan jurus bela diri, tapi menari di bawah bulan purnama.

__ADS_1


Malam terasa sepi, tapi entah mengapa Yan Ri merasa ada yang aneh.


" Meng..... kamu mendengar itu? "


" Aku seperti mendengar alunan musik berdenting, tin tring tiiing, seperti ada yang memainkan alat musik kecapi, tetapi agak jauh di bawah kaki gunung, arahnya dari tepi danau Shang Ri La disana " ujar Yan Ri sambil menunjuk ke suatu arah di bawah. Dan memang Situ Meng tidak mendengarnya, jadi dia hanya merasa aneh.

__ADS_1


" Tunggulah di sini atau kembali ke kamar, aku ingin melihat ada apa di sana..... " .Kata Yan Ri sambil melesat dengan kecepatan tinggi. Situ Meng tertegun, bukan semata dia baru tahu Yan Ri menguasai ilmu langkah dengan kecepatan secepat kilat, entah mengapa ingatannya menuju trauma masa lalunya, saat Mo Ruyu dengan penampakan berbeda, melesat dengan kecepatan kilat, bahkan tubuhnya diselimuti petir ungu, menjejak arena dengan menimbulkan bekas pijakan penuh retakan. Rasa sakit itu sulit untuk dikatakan.


Tapi meskipun ada persamaan yaitu sama sama melesat dengan kecepatan tinggi, tubuh Yan Ri diselimuti aura petir berwarna kuning dan ketika menjejak untuk melesat turun gunung pun, Yan Ri meninggalkan jejak kaki dengan retakan di tanah. Tapi yang menakutkan bagi Situ Meng bukan itu. Menurut jalan berpikirnya, kslau benar ada yang memainkan musik kecapi, pasti dia perempuan, akan sangat menyesakkan bagi Situ Meng jika ternyata di sana ada perempuan , apalagi kalau ternyata sangat cantik. Karena menurut pengalamannya perempuan yang ahli bermain musik itu juga cantik, terlebih lagi keahliannya menggoda laki laki pasti sangat istimewa. Tapi memikirkan itupun, Situ Meng tidak mampu mengejar Yan Ri.


" Aaaahhhh apa sih yang kupikirkan, lebih baik aku pulang untuk tidur. " .

__ADS_1


__ADS_2