
Yan Ri terbangun dengan tubuh terombang ambing di atas seekor unta yang melintasi gurun. Yan Ri hanya ingat kemarin setelah melarikan diri dari penempatan diri yang salah , Yan Ri langsumg berhadapan dengan sebuah pemandangan gurun. Ada sih Jalur yang lebih mudah, Tapi jalan itu sering ditunggui begal, rampok atau malah mungkin bertemu siluman yang ingin menelan keperjakaannya. Mo Ruyu bisa melewati jalur aman itu, karena dia dikawal ribuan pasukan pilihan yang dikirim kaisar untuk menjemput calon istrinya. Tapi justru karena Yan Ri tidak ingin berpapasan dengan Mo Ruyu, Yan Ri memilih jalur lain, jalur sulit menembus gurun pasir, tapi jalur pilihan para pedagang yang ingin pergi ke westeria, benua hitam , negeri berhala atau setidaknya negeri bharat. Karena gurun pasir itu panas, semua serba terlihat kuning, dan nama jalur itu disebut Jalur Emas. Bukan karena yang lewat di sana pedagang emas semua, tapi karena panas terik matahari membuat gurun pasir terlihat seperti emas tanpa batas \( Ada jalur lain dari dataran tengah menuju westeria, yaitu lewat laut, jalur itu dijuluki Jalur Sutra, karena sepanjang jalan dipenuhi gulungan biru, seolah penuh sutra biru, bukan karena yang lewat semua adalah pedagang kain sutra\).
Yan Ri bertemu rombongan kafilah suku Hui yang baru pulang dari negeri berhala untuk kembali ke dataran tengah. Rombongan ini berbaik hati menampung dan membawa Yan Ri. Mereka beranggapan, Mungkin Yan Ri sama seperti mereka, pedagang juga yang kebetulan bertemu rampok. Jadi dengan menanam budi baik, mereka yakin akan mendapat karma baik. Sehingga bantuan berupa tumpangan dan air minum, sesuatu yang berharga di tengah gurun pasir, akan terasa ringan diberikan. Bukan semata untung rugi yang jika dibayar akan dikerjakan dan ketika tidak dibayar, jangankan dibantu, dilihat saja tidak.
__ADS_1
Setelah beberapa lama bersama, Yan Ri mulai berkenalan masing masing dari mereka. Tapi yang menarik perhatiannya adalah seorang pendekar pedang kidal, yang tangan kanannya sudah putus. Pasti ada cerita menarik, jika ada pendekar pedang dengan tangan tidak lengkap, bertahsn menjadi pendekar pedang. Tidak beralih profesi menjadi tukang amplas meja atau tukang memancing ikan.
Namanya Suma Sun tayhiap \( tayhiap diartikan harfiah sebagai pendekar besar\) , julukan nya adalah dewa kematian berambut merah \( entah kenapa penulis ingatnya batousai kenshin himura \- penulis\) .Dia bercerita bahwa dia bangga kehilangan tangannya itu sebagai lencana pangkat atas pertarungan hidup matinya melawan pendekar pedang ternama bernama pendekar Kam Seu Pay \( kalau saya, jujur saya mencuri dari adegan dari novel kisah para penggetar langit karya Norman Tholle, tapi agak menyedihkan jika saya pasang semua nama sama, misalnya pendekar Kam Ki Hiang, bagi rekan yang suka membaca novel, novel itu sangat bagus, dan untuk mas Norman Tholle, saya minta maaf mencuri adegan \- penulis\) .Singkat kata dalam pertarungan itu, Suma Sun Karena tidak mampu menjangkau pendekar Kam Seu Pay, dia mengumpankan tangan kanannya. Dan Begitu pendekar Kam Seu Pay termakan jebakan dan mendekat di melakukan penghabisan. Sebuah tindakan pemberani baginya karena setiap luka adalah pangkat jabatan seorang pendekar pedang. Kenang2an berharga yang kelak diceritakan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
" Tapi pendekar, jika suatu saat bertemu pendekar yang sehebat pendekar Kam Seu Pay lagi, apakah anda akan mengumpankan tangan kiri yang tersisa, dan begitu bertemu pendekar hebat lagi, ganti mengumpankan kaki?. Saya jadi ingin membandingkan jika Suma Yan sangat suka bertarung, lalu tiba tiba ada pendekar wanita yang sangat cantik, sebut saja Bunga Plum Mandarin, lalu ' pedang ' Suma Sun tidak cukup panjang, apakah ' pedang ' milik Suma Sun akan dipotong lalu didorong pecahan ' pedang ' itu dengan tongkat yang panjang agar mencapai luka sedalam yang diinginkan Suma Sun dan Bunga plum Mandarin? habis dong. Kalau Suma Sun ingin bertarung dengan pendekar wanita lain, yang mungkin cantik tapi berambut perak, berjuluk Ang Lin Soat misalnya, ' pedang ' nya khan sudah habis. " .
Pertarungan dunia persilatan yang penuh dengan kebanggaan semu, untuk apa? jika lawan terbunuh, terus apa? pilihan menjalani hidup di jalan pedang sama seperti mejalani jalur emas. Begitu panas, jika demi sebuah kebanggan perut kenyang hati lapang, mungkin pantas. Tapi jalan pedang tidak sama dengan jalur emas. Jalan pedang hanya untuk melukai atau terbunuh. Yan Ri juga berpikir :" ah bukankah aku juga di jalur emas ini, sama seperti dia yang memilih kebanggaan, aku juga memilih kemerdekaan, dari pada jalur mudah tetapi menjadi budak, setidaknya di depan jalur emas ini ada kota Luo Zhun. Kota kecil ini setidaknya bisa menjadi titik awal untuk meniti jalan kembali. "
__ADS_1
Yan Ri bersiap berpisah, karena jalan selanjutnya tidak sama, dan urusan yang berbeda. Rombongan pedagang itu menuju Chang 'An untuk terus berniaga sebelum ke wilayah utara. Sedangkan Yan Ri menuju wilayah selatan, tempat asalnya dan perguruan Sinnan.
\( Setidaknya jalan pikiran penulis sudah ditulis tentang pilihan antara memutus tangan atau kebanggaan sebuah pertarungan, agak berbeda dengan jalan logika Mas Norman Tholle tentang bagaimana logika memutus tangan dalam rencana sebuah pertarungan \- penulis\) .
__ADS_1