
Di atas panggung berdiri peserta baru, sosok tampan, berbaju putih, memakai kipas, dan sepertinya golongan terpelajar.
Belum selesai peserta itu memperkenalkan diri, datang dengan loncatan salto peserta baru lagi. Seorang dengan tampilan bhiksu, sedikit tua, botak tentunya, tapi memiliki jenggot dan kumis yang lebat. Di lehernya terkalung tasbih yang tiap butirannya cukup besar. Meskipun di bawah penonton ramai kasak kusuk menggunjing " kok ya bisa bisanya seorang bhiksu ikut perlombaan mencari suami " , tapi tampaknya bhiksu itu tidak peduli.
" Heh anak muda, .... jika kau masih sayang pada nyawamu, cepat turun, dan biarkan aku yang melanjutkan, jika tidak,.... maka tak usah bermimpi kau melawan gadis cantik itu, aku akan membunuhmu sekarang juga..... " Bhiksu itu mulai menebar intimidasi.
" Amitabha... salam bhiksu, bukankah budha welas asih, mengapa begitu mudah mengatakan membunuh. Kita sekarang di panggung yang sama, saya akan mundur, jika tuan bhiksu bisa mengalahkan atau menjatuhkan saya " .Jawab Pemuda itu.
" Ha ha ha ha, Aku Shen Kun... kau adalah orang pertama yang tidak lari setelah kuberi kesempatan untuk pergi, karena itu bersiaplah !!! " .
__ADS_1
" Oh jadi anda adalah pendekar bergelar Si Maut Tersesat, silakan..... "
Bhiksu itu melepaskan sebuah pukulan fisik tanpa jurus, meskipun bergitu angin pukulannya terasa berat. Selain kuat, cepat dan tepat, pukulan itu seolah biasa dan tanpa keistimewaan sama sekali. Tidak memiliki ciri ciri jurus. Tapi justru disitulah letak keistimewaannya, pukulan yang dilatih sampai terus menerus, tanpa nama jurus, hanya butuh kuat, cepat, tepat dan manusia hidup sebagai sarana latihan, menciptakan originalitas jurus pukulan itu. Pukulan itu bergitu berbahaya, tak sedikit sarana latihan yang terbunuh dengan tubuh hancur meski dengan hanya satu pukulan. Dari sanalah julukan Si Maut Tersesat berasal.
Tapi rupanya pelajar itu masih tenang dan memutar tangannya menciptakan perisai berbentuk pat kwa cahaya. Begitu 2 jurus berbenturan, imbasnya menciptakan gelombang kejut.
Sedangkan pelajar itu hanya menggunakan sedikit tenaga untuk melempar tenaga jurus serangan lawan, dengan metode putaran tertentu. Meskipun seolah hanya kalimat sederhana, tapi jurus yang di dunia persilatan dikenal sebagai jurus Meminjam kumala itu butuh latihan yang terus menerus, konsisten dan tidak berhenti, sekali lengah, energi yang diterima bukannya berhasil dibelokkan dan dilempar ke arah lain, justru bisa melukai serius.
Jadi benturan yang sekilas dahsyat sebenarnya menemui jalan buntu. Kekuatan dari Shen Kun seolah membentur dinding pertahanan, dan arah energi serangannya dilontar ke atas. Sedikit demi sedikit kaki pemuda itu mulai masuk ke lantai panggung.
__ADS_1
Saat semua seolah mencapai jalan buntu, Miao Ren Ying melesat masuk diantara celah pertarungan mereka. Tangan kanan Miao Ren Ying mencengkeram tangan Shen Kun dengan jurus Cakar Harimau, tangan kirinya menahan pat kwa cahaya dengan tapak naga. Selanjutnya Cakar Harimau menarik Shen Kun dan disambut jurus Tendangan Elang. Sementara sisi kirinya dilanjutkan jurus Jari Belalang sembah menusuk tepat di tengah putaran cahaya pat kwa. Shen Kun di sisi kanan terpental kuat karena setelah ditarik lalu ditendang. Sedangkan pelajar muda Di sisi kirinya terlihat mengalami luka di titik tertentu, karena sebenarnya putaran badai sekuat apapun tetap memiliki mata badai yang relative lemah dan bisa ditembus.
" Tuan tuan sekalian, harap ikuti aturan pertandingan .Menurut peraturannya saya lah yang jadi pengujinya, Nah siapa yang akan maju lebih dulu dari kalian " .Dengan gagah Miao Ren Ying menantang masing masing peserta yang ingin maju lebih dulu.
Di sisi penonton, Miao Ren Ying tampak cantik meskipun busana adat Miao terkesan desa, bahkan Miao Ren Ying memakai baju kulit singa dan bawahan kulit harimau, ikat pinggat kulit ular sisik emas, dan hiasan secukupnya.
Tapi bagi Shen Kun, dadanya nyeri seolah remuk karena beberap tulang rusuknya retak. Dan pemuda itu terkena jurus jari di titik akupuntur tertentu yang membuat seluruh tubuhnya seolah tersengat lebah listrik.
Jangankan untuk mencoba melawan selanjutnya, bahkan untuk menjawab Miao Ren Ying saja, nafas mereka berat sekali.
__ADS_1