
Di luar sebuah pesta pernikahan, Yan Ri yang baru keluar setelah mengucapkan selamat melangkah berat. Lebih berat lagi adalah air mata, dia jatuh seolah mendapatkan energi untuk terjun berupa gravitasi jutaan ton.
Di suasana senja seperti matahari berlomba terbenam, semburat sinar kemerahan menandakan jalan menuju malam.
Di jalan kota Chang'An, kerapatan pohon berupa keramaian manusia tetaplah sama. Yang berbeda adalah cara menghadapi waktu. Jika di siang hari banyak yang berdagang makanan minuman untuk menyegarkan, maka di malam hari yang dijual adalah makanan minuman hangat. Banyak juga yang keluar di malam hari untuk hiburan setelah penatnya bekerja di siang hari.
Tapi bagi Yan Ri, jalan yang ramai adalah dunia tersendiri, sedangkan kesadarannya adalah dunia tersendiri. Patah hati atau kesedihan memang bisa merubah sikap seseorang atau pandangannya terhadap dunia. Misalnya di hari biasa berjalan di keramaian sekalipun, akan berusaha menghindari senggolan. Tapi dalam kondisi saat ini, bahkan andai ada orang mabuk mencari gara gara, setelah menabrak, marah marah lalu memukul dan menebas senjata, semua itu justru sebuah anugrah. Karena rasa sakit di tubuh akan mengalihkan rasa sakit dari dasar hati.
Saat pikiran Yan Ri sibuk dengan kegiatannya :" Ahh dia tidak salah, akulah yang kurang peka, sekarang semua sudah terlambat, aku melewatkan sesuatu yang kuanggap berharga, dan baru menyadarinya setelah dia pergi menghilang. Tapi..... setidaknya aku sudah berusaha, inikah yang disebut tidak ditakdirkan bersama? " .Ada rombongan yang mencegat Yan Ri. Seragam mereka terlihat sebagai seragam perguruan Shang Ri La, dan sebagian terlihat sebagai seragam perguruan gunung bunga persik.
__ADS_1
" Cabut pedangmu !!! " , seru seorang wanita cantik yang Yan Ri beberapa saat lalu kenal sebagai temannya, teman wanitanya, sekarang dia menjadi istri orang lain, nyonya Shang, istri dari pendekar Shang Ti.
" Ada apa ? bukankah aku sudah mengucapkan kata selamat? bahkan aku tidak makan sedikitpun hidangan di acara pernikahan kalian. Aku tidak mencuri apapun, kalian tidak punya alasan untuk memperlakukan aku sebagai pencuri " .Agak kesal juga bagi Yan Ri dengan situasinya saat ini. Tentu bisa digambarkan bagaimana nada bicaranya. Saat semua terasa begitu embuh, Entahlah yang terjadi biar saja terjadi.
" Kau mewakili perguruan Shang Ri La untuk turnamen besok, Tapi jatah perguruan gunung bunga persik sudah menjadi milik perguruan gunung bunga persik faksi Dong Thian, Aku ingin mengambil jatah itu untuk suamiku, satu satunya cara adalah dengan mengalahkanmu, cepat angkat pedangmu !!!! " .Memang benar dengan menjadi suami istri, Shang Ti yang sudah kehilangan posisi mewakili nama perguruan bisa tampil dengan mewakili nama perguruan yang diikuti istrinya. Dan seluruh warga bisa menjadi saksi atas kemampuannya yang akan setidaknya ditunjukkan. Dia begitu percaya diri atas kemampuannya, bagaimana mungkin wakil perguruan tingkat ke 4 bisa kalah dengan murid tidak terkenal dari perguruan tingkat level ke 7 .
Bagi Yan Ri, dia tidak sedang selera untuk berkelahi \( mungkin bahasa gaulnya sedang tidak mood \- penulis\) .Serangan demi serangan hanya perlu dihindari. Jurus demi jurus mengalir berpasangan, dari musim ke musim, mungkin inilah maksud kaisar lebih menekankan agar Dong Thian mewakili nama perguruan gunung bunga persik. Dia mampu menggunakan jurus demi jurus seorang diri. Tapi fakta bahwa jurus yang dilatih Shang Ti memiliki keunggulan tersendiri juga tidak bisa diremehkan.
Dengan bakat Shang Ti pribadi sangat kecil dia menemukan pencerahan tentang cara menutupi kelemahan jurus pedang tunggalnya dengan metode berpasangan. Kecuali dia berlatih dengan orang yang melatih teknik pedang berpasangan, tentu saja Situ Meng, istrinya saat ini.
__ADS_1
Sedangkan jurus pedang Situ Meng banyak diajari oleh Yan Ri, Yan Ri tahu sekali setiap langkah demi langkah jurus yang diajarkannya dulu. \( Dulu ada serial berjudul Swordsman, atau dibahasakan menjadi pendekar hina kelana, Linghu Chong, yang mengajari jurus pedang adik seperguruannya Lam ping Chi, justru menggunakan jurus yang dilatih bersama dengan Ling Hu Chong untuk mengalahkan Ling Hu Chong. Ling Hu Chong bukannya tidak bisa menang tapi justru karena tahu setiap jurus demi jurus menggunakan penyatuan perasaan, keintiman membuat Ling Hu Chong semakin marah dan memilih kalah begitu saja, menangkap ujung pedang lawan dengan ujung jari, lalu mengarahkan ke dadanya sendiri. \- penulis\) .Bukan karena Yan Ri pasti kalah, tapi justru pasti menang, dengan mengetahui setiap langkah demi langkahnya. Bahkan kapan posisi bibir mendekat saat 2 pendekar berpasangan itu melakukan jurus. Membayangkan itu saja rasanya sangat sakit.
" Kumohon cepatlah selesai acara menjengkelkan ini. " , gumam penuh kesedihan Yan Ri. Lalu dengan seolah tidak sabar Yan Ri mencengkeram ujung pedang Situ Meng, ditusukkan ke dadanya sendiri.
Yan Ri jatuh setelah puas memandang wajah Situ Meng, seolah mengatakan :" sudah cukup, ini untuk yang terakhir.... " .
Yan Ri jatuh menelungkup. Antara sadar dan tidak sadar, dia mendengar rasa kebanggaan seseorang membuncah. Seolah menjadi wakil besok, dia pasti menjadi juara.
Itu tidak penting, bagi Yan Ri, jika sudah tersudut di ujung mati, jangankan kehilangan kesempatan untuk mewakili, hidup juga tak berarti.Mati seolah membebaskan. Biar saja mereka pergi, Aku adalah jalanku sendiri.
__ADS_1