Pedang Filsafat

Pedang Filsafat
Apakah Kamu percaya pada Takdir ?


__ADS_3

Untuk mengisi waktu luang, kadang Yan Ri ikut membantu ayahnya Yun Xi di pantai. Ayah Yun Xi bekerja sebagai nelayan, yang itu artinya berangkat bekerja tengah malam untuk mengikuti angin darat berlayar di laut. Meskipun hanya membantu sekedarnya misalnya membawakan makan untuk bekal, atau sekedar mempersiapkan jaring dan alat alat lainya.


Malam ini Yan Ri berangkat dari desa menuju pantai untuk membawakan bekal pada ayahnya Yun Xi. Jalanan di pelosok provinsi seperti ini bisa terasa menyulitkan bagi yang tak terbiasa. Kadang jalan berbatu, memasuki ruang gelap di kerimbunan hutan. Seperti saat itu, Yan Ri berpapasan dengan sekelebat bayangan, mungkin Yan Ri pun paham, dengan cara berkelebat seperti itu , pasti bukan orang biasa, tentu seorang pendekar. Hanya saja karena berpakaian tertutup serba hitam, membuat penampakannya lebih gelap, tidak jelas. Dan orang yang mengejarnya tampak berseragam dengan mengumpat orang yang dikejarnya sebagai pencuri. Pencuri itu sempat terjatuh tersandung batu lancip yang menonjol di permukaan tanah. Setelah pencuri dan pengejarnya itu pergi, barulah Yan Ri melihat ada benda yang terjatuh dari bungkusan pencuri itu. Ternyata sebuah buku bertuliskan sampul depannya : " DEWA PETIR TERBANG " .


Tampaknya sebuah kitab ilmu meringankan tubuh yang cukup berharga. " Aaahhhh, seandainya aku mampu melatih kultivasiku dengan benar, tapi tidak apa apa, aku akan menyimpannya. " .gumam Yan Ri.


Yan Ri melanjutkan perjalanannya ke pantai. Dan kebetulan di dermaga tempat berlabuh kapal yang cukup besar terjadi keributan kecil. Kapal itu milik Situ Liang, saudagar kaya yang memiliki kekayaan terbanyak di kota itu. Yan Ri hanya mengenal sebatas bahwa Situ Liang memiliki putri seumuran dengannya bernama Situ Meng. Situ Meng cukup dimanjakan oleh orang tuanya. Saat anak lain masih berpikir " kira kira apa jiwa silatnya sendiri? " .Situ Liang memanggil pendekar dari kota untuk mengetes jiwa silat Situ Meng di umur 7 tahun. Dan mulai memberikan kitab kitab ilmu silat yang dibeli dengan harga mahal umtuk melengkapi metode latihan putrinya. Jadilah di usia Situ Meng 12 tahun, dia menguasai jurus jurus aliran jiwa silat air yang cukup baik untuk anak seusianya.


Kembali di keributan kecil itu, ternyata seorang pelayan kecil milik keluarga Situ tak sengaja menumpahkan air di dek kapal dan membuat terpeleset seorang anggota keluarga Situ.

__ADS_1


" Ampuuun tuan, saya tidak sengaja... "


" Dasar budak busuk, sudah bosan hidup kau rupanya.... " .


" Sudahlah ayah....., Mo Ruyu tak sengaja, maafkanlah dia.... " suara Situ Meng membela. ah andai dia tahu, bahwa yang dibelanya itu justru mengumpat dalam hati karena rasa iri dengkinya.


" Huh dasar munafik, kenapa kau harus pura pura baik membelaku "


" Apakah kamu mempercayai takdir?

__ADS_1


Sama seperti kepompong kecil.


Terperangkap dalam kegelapan tiada akhir.


Hanya untuk satu ketika, dalam wujud kupu


kupu melakukan lompatan kecil. "


Hanya berpikir untuk menyerahkan bekal makanan untuk paman Yun, lalu mencari sedikit penghasilan tambahan di pantai. Kadang Yan Ri berjalan di pantai bisa menemukan udang, kepiting, atau kerang kerangan yang menurutnya cukup lumayan untuk menambah lauk di rumah.

__ADS_1


Seperti entah keberuntungan apa Yan Ri malam itu, setelah turun dari perahu paman Yun, kakinya seperti menginjak kerang yang sangat besar seukuran penggorengan. Dan setelah dibuka Yan Ri menemukan sebuah mutiara bening yang memancarkan aura sejuk.


" Mutiara salju...... aku sangat beruntung, mutiara ini sangat bermanfaat untuk menyembuhkan tubuh yang luka dan menambahkan kekuatan tubuh setara 10 ribu lingkaran. bahkan asalkan masih bernafas, mutiara ini mampu menyembuhkan segala macam penyakit, seolah menghidupkan orang mati. Jangan jangan ini jawaban doaku selama ini yang ingin menyembuhkan sakit di meridian ku, terima kasih tuhan...... " .


__ADS_2