
Pelangi Di Ujung Senja
PERKENALAN
Kisah ini
dilalui oleh seorang gadis yang bernama Nisafa Arafah yang biasa dipanggil
dengan nama Safa. Safa anak tunggal dari keluarga yang sangat sederhana, buah
hati dari Bapak Rudi dengan Ibu Ria. Safa dididik oleh Ayahnya untuk menjadi
orang yang serba bisa dalam segala hal, termasuk dengan pekerjaan laki – laki.
Badannya yang kecil dengan bola mata coklat yang sangat menarik, pipinya yang
cabi dan tinggi badan sekitar 152 cm dan slalu memakai hijab panjangnya. Dia anak
yang pintar dan sangat dibangga – banggakan oleh kedua orang tuanya. Safa juga
mempunyai seorang sahabat yang slalu bersamanya setiap saat senang maupun sedih. Adelya Pratiwi
biasa dipanggil dengan nama Adel. Safa sudah melewati masa – masa SMA nya yang
begitu menarik baginya. Bulan terakhir yang ia jalani sangat berkesan baginya.
Ada sedih maupun gembira semua itu dilaluinya melalui goresan tulisan yang
terpampang dalam bukunya. Benar ia sangat suka sekali dengan menulis atau
bahkan membuat sebuah puisi.
PERIHAL SENJA
Pagi sekitar jam
03.00, Safa bangun langsung kekamar mandi untuk wudhu. Dengan mata yang sedikit
sipit karena mengantuk, namun ia tetap berteguh untuk melaksanakan ibadahnya
tersebut. Dipakainya
mukena dan ia pun sholat dengan khusyu’. Setelah sholat ia pun meneteskan air
matanya
‘’ Segala Puji
hanya BagiMu Ya Rabb. Ya Allah seminggu lagi aku akan menghadapi Ujian
Nasional. Ini adalah ujian terakhirku pada masa SMA ku. Semoga aku bisa
mengerjakannya dengan lancar dan mendapatkan nilai yang bisa membanggakan kedua
orang tua ku. Aamiin Ya Rabbal Alamin. ‘’
Safa menghela
nafas panjang dan segera mengambil buku yang ada dimeja belajarnya. Dibukanya
buku dan mulai berlatih soal soal untuk mengasah kemampuannya. Safa sangat
pintar dalam bidang pelajaran Matematika. Safa juga sering membagikan ilmunya
kepada teman – temannya, makanya ia sering disukai banyak orang disekitarnya.
Adzan Shubuh pun sudah terdengar ditelinga Safa. Diambilnya wudhu dan segera
melaksanakan sholatnya. Sekitar pukul
06.30 Safa sudah siap – siap untuk menuju ke sekolah. Dipakainya seragam dengan
hijab yang panjang yang dikenakannya. Lalu diambilnya sepeda sederhananya yang
ia tumpangi setiap hari. Gayuh demi gayuh yang sekolahnya tak begitu jauh dari
rumahnya tersebut. Safa tak pernah iri pada temannya yang sering pakai motor
atau bahkan diantar oleh orang tuanya dengan naik mobil. Dia sekolah hanya demi
membuat orang tuanya bangga akan prestasinya, bukan untuk pamer atau bahkan
bangga dihadapan siswa yang lain dengan kekayaan yang orang tuanya miliki.
Sesampainya disekolah ia bergegas untuk masuk kedalam kelas. Safa berjalan ia melihat seorang siswa laki – laki yang
berseragam lain dengannya. Safa pun mendekatinya, Safa rasa ia sedang
kebingungan dengan sesuatu hal.
‘’
Assalamu’alaikum. Bisa saya bantu mas? ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. Saya sedang cari ruang guru. Kira – kira dimana ya? ‘’
‘’ Mari ikut
saya. ‘’
Safa pun
mengantarkan laki – laki itu menuju ke ruang guru. Sampainya didepan ruang
guru, tiba – tiba bel masukpun berbunyi. Tanpa berkata apapun Safa langsung
pergi berlari
‘’ Hay siapa
namamu? ‘’ teriak pemuda itu
‘’ Arafah! ‘’
Safa pun berlari
menuju kelasnya tersebut. Nafas nya tak dapat ia kontrol karena lari cepat
tadi. Safa duduk didekat Adel, dengan wajah yang penuh dengan keringat.
‘’ Baru dikejar
anjing? ‘’ tanya Adel
‘’ Hehe dikejar
nejizen’’
‘’ Apaan kamu
aja kudet masa ada netizen yang mau ngejar? ‘’
‘’ Hehe Ada. ‘’
‘’ Siapa? ‘’
‘’ Kamu. Hehe ‘’
Adel pun
menunjukkan wajah musamnya dihadapan Safa yang membuat Safa menertawakan Adel.
__ADS_1
Tidak begitu lama kemudian waktu belajar mengajarpun dimulai. Semua murid
mendengarkan apa yang diterangkan oleh guru yang sedang mengajar. Waktupun
berlalu dan kini saatnya jam istirahat.
‘’ Safa kamu mau
sholat Dhuha dulu atau ke kantin? ‘’
‘’ Sholat dulu
baru ke kantin, lagipula aku bawa bekal. Bisa makan di taman sekolah juga. ‘’
‘’ Kalau gitu
aku ke kantin dulu ya. ‘’
‘’ Loh kamu
nggak ikut sholat? ‘’
‘’ Aku masih
datang bulan. ‘’
Safa pun
mengangguk mengerti apa yang diucapkan Adel tersebut. Safa menuju mushola
sekolah yang dekat dengan kelasnya tersebut. Iya Safa adalah anak yang sering
menjaga sholatnya. Kadang banyak yang suka Safa, namun juga banyak yang tidak
suka. Kadang Safa dibilang sok alim atau yang lainnya. Namun Safa bodoamat
dengan apa yang dikatakan mereka. Ibarat kata masuk telinga kanan keluar
telinga kiri. Safa pun mengambil air wudhu dan sholat di mushola tersebut. Saat
ia sholat, ada laki – laki yang mengawasinya dari belakang kaca. Tak lain laki
– laki tersebut adalah sosok yang Safa bantu tadi pagi. Namun ia tidak melihat
bahwa seseorang yang sholat itu adalah Safa yang ia temui tadi pagi.
‘’ Subhanallah.
Ada cewek idaman. ‘’ kata laki – laki tersebut dan beranjak pergi sebelum ada
orang yang mengetahuinya sedang mengintip Safa.
Setelah sholat,
Safa pun menuju kantin. Dilihatnya ternyata Adel sedang bersama pacarnya, Safa
tak ingin menganggu sahabatnya tersebut. Safa pun beranjak pergi dan mencari
tempat lain untuk memakan bekalnya tersebut.
Dilihatnya
bangku kosong yang ada ditaman sekolah tersebut. Tiba – tiba datang seseorang
yang mengagetkan Safa dari belakang.
‘’ Safa! ‘’
teriak orang itu
‘’ Eh Anis kamu
ngagetin aku aja. ‘’
Anis adalah
ngobrol karna memang mereka mempunyai kesibukan masing – masing. Anis anaknya
sangat cantik dan manis. Ia sosok yang banyak diidamkan oleh kebanyakan laki –
laki yang ada. Ia juga sering ganti – ganti pacar. Tapi bukan playgirl, hanya
saja ketika ia putus langsung dapat pengganti lagi. Ibarat kata punya cadangan
ketika yang lain pergi. Rambutnya yang panjang dan lurus menambah
kecantikannya. Ia juga pernah menang menjadi model saat acara ulang tahun sekolah.
Secara tidak langsung ia adalah idola sekolah. Maka dari itu Safa jarang
bertemu Anis karna memang Anis sibuk dengan kegiatannya yang padat.
‘’ Ngapain
disini sendiri? ‘’
‘’ Aku mau
makan. Tumben kamu sempet ngomong sama aku. ‘’
‘’ Iya aku mau
undang kamu sama temen mu yang namanya Adel buat gabung di pesta ulang tahunku
2 hari lagi. Kamu masih inget kan ulang tahunku kapan? ‘’
‘’ Iya inget lah
kan kita udah temenan dari kecil nis. ‘’
‘’ Kalau begitu
kamu harus dateng. Jangan telat ya. ‘’
‘’ Siap. Asal
aku dapat makan. Hehe ‘’
‘’ Banyak dong.
Hehe aku tinggal dulu ya. ‘’
‘’ Makasih Nis.
‘’
‘’ Iya sama –
sama. ‘’
Anis pun pergi
meninggalkan Safa disana sendiri yang sedang melihatundangan yang
diberikan Anis tadi. Sepertinya Safa merasa kebingungan dengan undangan
tersebut.
‘’ Pestanya
malam sekali. Aku datang nggak ya? ‘’ tanya Safa dalam hati
Safa pun
__ADS_1
melanjutkan makannya yang tertunda tadi. Safa terus berfikir gimana caranya ia
bicara dengan orang tuanya terutama Ayahnya yang sangat ketat padanya. Safa
juga merasa takut bila membicarakan ini kepada Ayahnya itu. Tiba – tiba bel
masukpun berbunyi.
Kegiatan belajar
mengajarpun dimulai kembali dan berakhir dengan bel yang terakhir yaitu bel
pulang. Safa memasukkan bukunya dan bergegas untuk pulang.
‘’ Del tadi Anis
ngasih aku undangan katanya kamu disuruh hadir diacaranya. ‘’
‘’ Hah nggak
salah? Bukannya kamu yang diundang dan mungkin karna Anis merasa kalau kamu
punya sahabat makanya dia juga undang aku sekalian. ‘’
‘’ Hehe kayaknya
juga gitu sih. ‘’
‘’ Memangnya
kamu boleh keluar malam Fa? ‘’
‘’ Aku nggak tau
sih. Apa aku suruh Ayah aja ya nganterin terus nanti aku disana Cuma mau ngasih
kado sama ngucapin aja. Daripada nggak hadir kasian dianya udah berusaha
ngundang aku.’’
‘’ Iya gitu aja
nggak papa. Aku juga nanti kerumahmu buat bareng sama kamu. ‘’
‘’ Oke kalau
gitu aku pulang dulu ya. ‘’
Mereka pun
menuju parkir dan mengambil kendaraannya masing – masing. Safa mengambil
sepedanya dan mengayuh sepedanya untuk menuju rumahnya. Sesampainya dirumah dilihatnya
ibu yang sedang memasak didapur.
‘’
Assalamu’alaikum. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. Udah pulang nduk? ‘’
‘’ Udah buk. Loh
Ibu memangnya ada pesenan makanan kok masih masak didapur? ‘’
‘’ Iya nduk tapi
udah selesai tinggal nganter. Nanti kamu bantu Ayah buat anter makanannya ya.
Sekarang kamu ganti baju terus makan dulu. ‘’
‘’ Siap buk. ‘’
Safa pun segera
ganti baju dan makan makanan sederhana namun baginya makanan itu adalah makanan
terlezat yang pernah Safa makan, karna itu adalah buatan dari kasih sayangnya
ibu pada Safa.
Safa dan Ayah
mengantar pesanan makanan dengan motor sederhana yang Ayah punya. Cukup jauh
makanan itu diantar, sesampainya dirumah yang dituju ternyata rumah itu sangat
besar dan megah sekali. Hingga Safa pun terkagum kagum melihatnya.
‘’ Safa disini
aja. Biar Ayah sendiri
yang antar. ‘’
Safa pun
mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan Ayah padanya itu. Setelah
beberapa menit kemudian Ayah datang dan mengajak Safa untuk pulang kerumah
lagi.
‘’ Yah, nanti
kalau Safa sukses bakal kasih Ayah rumah yang kayak gini. ‘’
Ayah pun hanya
tersenyum mendengar apa yang dikatakan Safa tadi. Sebenarnya Ayah terenyut
mendengar hal tersebut, namun ia tak ingin bahwa Safa mengetahuinya.
Ditumpangiya motor melaju menuju rumah sederhana yang sangat disayangi oleh
keluarga itu. Sesampainya dirumah, Ibu sudah menunggu didepan rumah dengan
wajah yang sangat gembira sekali.
‘’ Alhamdulillah
tadi yang pesan makanan senang dengan masakan Ibu. ‘’
‘’ Iya dong
masakan Ibu itu terlezat sedunia. Hehe ‘’
‘’ Yasudah ayo
kita masuk rumah. ‘’ kata Ayah yang ikut senang juga
Safa menuju
kamarnya dan dibukanya buku yang sering ia buat puisi atau curhatannya itu.
Ditulisnya buku tersebut dengan tulisan
‘’ Kemegahan apapun didunia takkan mampu mengalahkan
kebersamaan luar biasa ini. Atau bahkan dunia berusaha memecahkannya, aku akan
__ADS_1
tetap berusaha menjadi benteng dimana aku yang akan dihancurkan terlebih dahulu
demi sosok yang aku jaga yaitu Ayah dan Ibu. ‘’