Pelangi Diujung Senja

Pelangi Diujung Senja
Kebimbangan 2


__ADS_3

Yusuf


yang mendengar perkatan adeknya itu langsung tertawa kecil, sedangkan Safa kebingungan


dengan apa yang akan ia perbuat kalau tiba – tiba Yusuf tanya yang aneh – aneh


padanya. Saat perjalanan Adel yang sedang asik baca novelnya sedangkan Usna


yang hanya melirik kanan dan kiri mobil. Tiba – tiba pandangan Safa dan Yusuf


pun bersamaan, ternyata mereka berdua saling melirik malu. Safa langsung


memalingkan wajahnya berlawanan dengan arah Yusuf dan tersipu malu. Ssafa


berusaha mengontrol tingkah lakunya yang aneh saat di dekat Yusuf itu.


‘’


Katanya kamu juga ikut lomba musikalisasi puisi bareng Yudha ya ? ‘’ tanya


Yusuf pada Safa


‘’


Iya kok kamu tau ? ‘’


‘’


Iya Anis yang bilang padaku. ‘’


‘’


Oh. ‘’ kata Safa lirih dan langsung memalingkan wajahnya kembali. Yang semula


mood Safa baik jadi jelek karna perkataan Yusuf tadi. Kali ini Safa hanya


terdiam dan melihat ke arah luar. Hatinya menyiut ketika Yusu mengucapkan nama


Anis dihadapannya itu.


Tak


begitu lama kemudia mereka telah sampai ditempat lomba olimpiade matematika.


Safa turun dari mobil sambil terus mengucapkan istighfar, mungkin ini hal


pertama Safa mengikuti olimpiade yang tingkatnya sudah tinggi dari sekolah.


‘’


Jangan taku, ada Allah dan aku. ‘’ kata Yusuf lirih pada Safa


Safa


hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Yusuf tersebut. Safa berusaha


menenangkan diri ketika mengambil nomor lomba. Ia mendapatkan bangku yang


paling depan sendiri, hal tersebut malah membuat Safa grogi.


‘’


Jangan gitu dong, ada Yusuf yang semangatin itu loh. ‘’ bisik Adel pada Safa


Waktu


lomba pun sudah hampir dimulai, Safa menyiapkan dirinya dan segera masuk ke


dalam ruangan tersebut. Saat Safa melangkah masuk Yusuf pun teriak kepada Safa.


‘’


Safa semangat! ‘’ kata Yusuf dengan tersenyum


Safa


yang menoleh ke belakang pun langsung tersenyum hingga pipinya merah. Lalu Safa


pun masuk ke dalam ruangan dimana teman – temannya tersebut menunggu Safa di


depan ruangan.


‘’


Kakak ini slalu buat kak Safa jadi salah tingkah. ‘’


‘’


Lucu dia kalau lagi salah tingkah. Kayak tadi kakak suruh dia ambil Hp. Eh


malah Hp nya dikasihin ke kakak. Kan nggak nyambung banget Hahaha. ‘’ kata


Yusuf tertawa dan Adel pun yang mendengarkan cerita Yusuf ikut tertawa.


Waktu


demi waktu, akhirnya lomba pun sudah selesai. Safa keluar dengan wajah yang


sangat cemas sekali. Dia terlihat pucat dan badannya gemetar.


‘’


Fa kamu kenapa ? ‘’ tanya Adel


‘’


Del aku laper banget, aku tadi belum makan. ‘’


Yusuf  yang mendengar perkataan Safa pun malah


tertawa dan menggandeng tangan Safa menuju kanting yang ada di dekat sana.


Tanpa disadari keduanya pun langsung Safa langsung melepaskan gandengannya


Yusuf.


‘’


Astaughfirullah. Maaf Fa. ‘’ kata Yusuf


Safa


yang salah tingkat tersebut langsung mencari kursi yang kosong untuknya dan dia


duduk disana. Adel yang melihat tingkah keduanya pun langsung tersenyum jahil


pada Safa. Safa malah memang wajah manyun, entah ia senang atau kah marah yang


pasti raut wajahnya sudah tidak enak.


Makanan


pun datang, mereka bersama – sama makanan yang telah dipesan tadi. Adel yang


terus menunjukkan kebiasaan humornya hingga semua orang tertawa atas tingkah


nya itu. Adel memang orang yang berani dalam segala hal. Namun ia akan menjadi


sangat manja ketika sudah ada didekat pacarnya itu. Entahlah kadang sikap


seseorang berubah setelah berada didekat oranag yang ia sukai. Begitu pula


denga Safa sekarang ini.


Setelah


makan Yusuf mengantar Safa pulang. Ketika didepan rumah Safa ternyata Ayah dan

__ADS_1


Ibu Safa sudah ada di depan rumah.


‘’


Assalamu’alaikum Yah Bu. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. ‘’


‘’Loh


ini bukannya Yusuf sama Usna ya ? ‘’ tanya Ayah pada mereka berdua


‘’


Iya Pak saya Yusuf. ‘’


‘’


Kalau ini siapa om ? ‘’


‘’


Iya kamu siapa kok om belum kenal ya ? wajahmu mirip kayak temen Safa namanya


Adel itu ya. Hehe ‘’


‘’


Masa om lupa ? nama Adel itu mudah diucapin tapi sulit dilupain loh. ‘’


Semua


tertawa dengan apa yang dikatakan Adel tersebut. Ibu mempersilahkan teman –


teman Safa masuk, namun Yusuf ingin segera pulang takut kalau nanti Abinya


bakal cariin dia dan Usna. Setelah Yusuf pulang Safa pun langsung menuju ke


kamarnya itu. Ia slalu terbayang – bayang akan kejadian yang menimpanya tadi.


Dia pun langsungmembuka buku puisinya lalu memulai menuliskan sesuai dengan


perasaannya saat itu juga.


‘’


Abdullah Yusuf El Fatah ‘’


Namamu...


Serumit


rumus ‘’FISIKA’’


Seluas


teori ‘’ MATEMATIKA ‘’


Sesusah


hafalan ‘’ KIMIA ‘’


Dan


semanis bacaan ‘’ CINTA! ‘’


Otak


Safa pun langsung berangan kemana – mana hingga Ibunya yang sudah lama


melihatnya pun langsung tersenyum.


‘’


Ibu


mencoba mendekati Safa yang sedang memperhatikan puisinya itu, lalu Safa


menutup buknya dan menghadap ke arah Ibunya itu.


‘’


Ehem kayaknya ada yang lagi kasmaran nih. ‘’


‘’


Nggak kok Bu. ‘’


‘’


Ibu tau nduk. Ibu sudah kenal kamu dari sebelum kamu lahir. Kamu suka sama


Yusuf kan ? ‘’


‘’


Hm, kalau suka aja nggak papa kan Bu ? ‘’


‘’


Ya wajar saja sih kan kamu sudah remaja. Tapi harus tau batas wajarnya saja


jangan sampai pacaran juga. ‘’


‘’


Iya Bu Safa ngerti kok. ‘’


‘’


Ya udah kamu istirahat pasti capek kan selesai lombanya. Kira – kira iru kapan


pengumumannya ? ‘’


‘’


Masih 2 minggu lagi Bu. Lagi pula Safa juga maish mau ikut lomba satu lagi. ‘’


‘’


Lomba apa ? ‘’


‘’


Musikalisasi puisi. ‘’


‘’


Kamu udah bicara sama Ayahmu nduk ? ‘’


‘’


Belum Bu. Safa takut kalau Ayah tau malah Safa nggak dibolehin buat ikut


lombanya itu. ‘’


‘’


Setau Ibu Ayahmu pasti nggak setuju kalau kamu ikut lomba diluar pelajaran


kayak gitu. ‘’


‘’


Tapi kan Bu, Safa suka sama puisi. Lagipula hanya sekali ini saja masa Ayah

__ADS_1


nggak ngebolehin sih ? ‘’


‘’


Coba tanya saja pada Ayah mu itu nduk. ‘’


‘’


Iya Bu Safa akan tanya pada Ayah besok saja. ‘’


‘’


Ya udah sana istirahat Ibu kluar dulu ya. ‘’


‘’


Iya Bu. ‘’


Safa


pun teringat akan dulu saat dia ikut lomba puisi saat masih SD, ternyata Ayah


melarangnya untuk ikut seperti lomba – lomba tersebut. Safa teru memikirkan apa


yang dikatakn oleh Ibunya tadi. Gimana caranya dia bicara dengan Ayahnya itu.


‘’


Aku udah tau jawaban dari Ayah nanti. Apa aku diam – diam saja ya, nanti kalau


aku menang baru bilang ke Ayah soal itu. Biar Ayah nggak ngelarang aku lagi


buat bikin puisi. Iya gitu aja daripada nanti Ayah marah sama Safa. ‘’ kata


Safa dalam hatinya yang masih ragu akan kepuusan yang diambilnya itu.


Safa


pun langsung tertidur pulas hingga jam 04.00 waktunya sholat Shubuh. Diambilnya


air wudhu dan melaksanakan sholat Shubu, setelah sholat Safa pun langsung


membaca Al Qur’an. Safa kepikiran tentang hal yang berkaitan dengan puisi


tersebut. Hatinya seakan ingin rasanya bilang ke Ayahnya, namun otaknya


berfikir resiko yang akan ia alami setelah ia bicara dengan Ayahnya itu.


Safa


pun mengambil keputusan yang ia buat kemarin hingga akhirnya ia tau kalau ia


tetap masih ragu dengan keputusannya itu.


Keesokan


harinya, Safa pagi – pagi sudah menuju ke sekolah, dimana hanya ada beberapa


siswa yang ada di sekolah. Safa berjalan menuju ke perpustakaan untuk mengembalikan


semua buku yang telah ia pinjam. Saat mengembalikan semua buku – buku tersebut


lalu Safa melihat novel yang menurutnya bagus. Diambilnya novel tersebut yang


berjudul ‘’ Cahaya Cinta Pesantren ‘’. Lalu ia pun membaca novel tersebut di


bangku kosong, lumayan lama dia disana. Hp Safa bergetar ternyata ada panggilan


masuk dari Adel. Safa pun langsung menjawab panggilan tersebut.


‘’


Assalamu’alaikum. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. ‘’


‘’


Kamu dimana ? aku cariin kamu. ‘’


‘’


Cie tumben cariin aku ? ‘’


‘’


Iya sebenernya bukan aku yang nyariin. ‘’


‘’


La trus siapa ? ‘’


‘’


Yudha tuh. ‘’


‘’


Hm, kesini saja aku di perpustakann. ‘’


Telfon


pun langsung mati seketika, Safa melanjutkan kegiatannya membaca novel


tersebut. Safa teringat akan kejadian kemarin saat Ibunya mengatakan bahwa


Ayahnya pasti tidak memperbolehkan dia untuk lomba musikalisasi puisi tersebut.


‘’


Assalamu’alaikum. ‘’ Salam Yudha


‘’


Wa’alaikumsalam. Loh Adel mana ? ‘’


‘’


Dia sama Bryan ke taman. Katanya kamu nggak boleh ganggu. ‘’


‘’


Aku nggak pernah ganggu mereka pacaran. ‘’


‘’


Ya udah ganggu aku aja nggak papa. ‘’


‘’


Bukannya terbalik ya ? ‘’


‘’


Ya nggak papa aku malah suka. ‘’


‘’


Bodoamat. ‘’


Safa


pun melanjutkan membacanya, namun Yudha yang ada didepannya hanya melihat ia


membaca. Safa merasa risih saat Yudha melakukan hal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2