
Yusuf
yang mendengar perkatan adeknya itu langsung tertawa kecil, sedangkan Safa kebingungan
dengan apa yang akan ia perbuat kalau tiba – tiba Yusuf tanya yang aneh – aneh
padanya. Saat perjalanan Adel yang sedang asik baca novelnya sedangkan Usna
yang hanya melirik kanan dan kiri mobil. Tiba – tiba pandangan Safa dan Yusuf
pun bersamaan, ternyata mereka berdua saling melirik malu. Safa langsung
memalingkan wajahnya berlawanan dengan arah Yusuf dan tersipu malu. Ssafa
berusaha mengontrol tingkah lakunya yang aneh saat di dekat Yusuf itu.
‘’
Katanya kamu juga ikut lomba musikalisasi puisi bareng Yudha ya ? ‘’ tanya
Yusuf pada Safa
‘’
Iya kok kamu tau ? ‘’
‘’
Iya Anis yang bilang padaku. ‘’
‘’
Oh. ‘’ kata Safa lirih dan langsung memalingkan wajahnya kembali. Yang semula
mood Safa baik jadi jelek karna perkataan Yusuf tadi. Kali ini Safa hanya
terdiam dan melihat ke arah luar. Hatinya menyiut ketika Yusu mengucapkan nama
Anis dihadapannya itu.
Tak
begitu lama kemudia mereka telah sampai ditempat lomba olimpiade matematika.
Safa turun dari mobil sambil terus mengucapkan istighfar, mungkin ini hal
pertama Safa mengikuti olimpiade yang tingkatnya sudah tinggi dari sekolah.
‘’
Jangan taku, ada Allah dan aku. ‘’ kata Yusuf lirih pada Safa
Safa
hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Yusuf tersebut. Safa berusaha
menenangkan diri ketika mengambil nomor lomba. Ia mendapatkan bangku yang
paling depan sendiri, hal tersebut malah membuat Safa grogi.
‘’
Jangan gitu dong, ada Yusuf yang semangatin itu loh. ‘’ bisik Adel pada Safa
Waktu
lomba pun sudah hampir dimulai, Safa menyiapkan dirinya dan segera masuk ke
dalam ruangan tersebut. Saat Safa melangkah masuk Yusuf pun teriak kepada Safa.
‘’
Safa semangat! ‘’ kata Yusuf dengan tersenyum
Safa
yang menoleh ke belakang pun langsung tersenyum hingga pipinya merah. Lalu Safa
pun masuk ke dalam ruangan dimana teman – temannya tersebut menunggu Safa di
depan ruangan.
‘’
Kakak ini slalu buat kak Safa jadi salah tingkah. ‘’
‘’
Lucu dia kalau lagi salah tingkah. Kayak tadi kakak suruh dia ambil Hp. Eh
malah Hp nya dikasihin ke kakak. Kan nggak nyambung banget Hahaha. ‘’ kata
Yusuf tertawa dan Adel pun yang mendengarkan cerita Yusuf ikut tertawa.
Waktu
demi waktu, akhirnya lomba pun sudah selesai. Safa keluar dengan wajah yang
sangat cemas sekali. Dia terlihat pucat dan badannya gemetar.
‘’
Fa kamu kenapa ? ‘’ tanya Adel
‘’
Del aku laper banget, aku tadi belum makan. ‘’
Yusuf yang mendengar perkataan Safa pun malah
tertawa dan menggandeng tangan Safa menuju kanting yang ada di dekat sana.
Tanpa disadari keduanya pun langsung Safa langsung melepaskan gandengannya
Yusuf.
‘’
Astaughfirullah. Maaf Fa. ‘’ kata Yusuf
Safa
yang salah tingkat tersebut langsung mencari kursi yang kosong untuknya dan dia
duduk disana. Adel yang melihat tingkah keduanya pun langsung tersenyum jahil
pada Safa. Safa malah memang wajah manyun, entah ia senang atau kah marah yang
pasti raut wajahnya sudah tidak enak.
Makanan
pun datang, mereka bersama – sama makanan yang telah dipesan tadi. Adel yang
terus menunjukkan kebiasaan humornya hingga semua orang tertawa atas tingkah
nya itu. Adel memang orang yang berani dalam segala hal. Namun ia akan menjadi
sangat manja ketika sudah ada didekat pacarnya itu. Entahlah kadang sikap
seseorang berubah setelah berada didekat oranag yang ia sukai. Begitu pula
denga Safa sekarang ini.
Setelah
makan Yusuf mengantar Safa pulang. Ketika didepan rumah Safa ternyata Ayah dan
__ADS_1
Ibu Safa sudah ada di depan rumah.
‘’
Assalamu’alaikum Yah Bu. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. ‘’
‘’Loh
ini bukannya Yusuf sama Usna ya ? ‘’ tanya Ayah pada mereka berdua
‘’
Iya Pak saya Yusuf. ‘’
‘’
Kalau ini siapa om ? ‘’
‘’
Iya kamu siapa kok om belum kenal ya ? wajahmu mirip kayak temen Safa namanya
Adel itu ya. Hehe ‘’
‘’
Masa om lupa ? nama Adel itu mudah diucapin tapi sulit dilupain loh. ‘’
Semua
tertawa dengan apa yang dikatakan Adel tersebut. Ibu mempersilahkan teman –
teman Safa masuk, namun Yusuf ingin segera pulang takut kalau nanti Abinya
bakal cariin dia dan Usna. Setelah Yusuf pulang Safa pun langsung menuju ke
kamarnya itu. Ia slalu terbayang – bayang akan kejadian yang menimpanya tadi.
Dia pun langsungmembuka buku puisinya lalu memulai menuliskan sesuai dengan
perasaannya saat itu juga.
‘’
Abdullah Yusuf El Fatah ‘’
Namamu...
Serumit
rumus ‘’FISIKA’’
Seluas
teori ‘’ MATEMATIKA ‘’
Sesusah
hafalan ‘’ KIMIA ‘’
Dan
semanis bacaan ‘’ CINTA! ‘’
Otak
Safa pun langsung berangan kemana – mana hingga Ibunya yang sudah lama
melihatnya pun langsung tersenyum.
‘’
Ibu
mencoba mendekati Safa yang sedang memperhatikan puisinya itu, lalu Safa
menutup buknya dan menghadap ke arah Ibunya itu.
‘’
Ehem kayaknya ada yang lagi kasmaran nih. ‘’
‘’
Nggak kok Bu. ‘’
‘’
Ibu tau nduk. Ibu sudah kenal kamu dari sebelum kamu lahir. Kamu suka sama
Yusuf kan ? ‘’
‘’
Hm, kalau suka aja nggak papa kan Bu ? ‘’
‘’
Ya wajar saja sih kan kamu sudah remaja. Tapi harus tau batas wajarnya saja
jangan sampai pacaran juga. ‘’
‘’
Iya Bu Safa ngerti kok. ‘’
‘’
Ya udah kamu istirahat pasti capek kan selesai lombanya. Kira – kira iru kapan
pengumumannya ? ‘’
‘’
Masih 2 minggu lagi Bu. Lagi pula Safa juga maish mau ikut lomba satu lagi. ‘’
‘’
Lomba apa ? ‘’
‘’
Musikalisasi puisi. ‘’
‘’
Kamu udah bicara sama Ayahmu nduk ? ‘’
‘’
Belum Bu. Safa takut kalau Ayah tau malah Safa nggak dibolehin buat ikut
lombanya itu. ‘’
‘’
Setau Ibu Ayahmu pasti nggak setuju kalau kamu ikut lomba diluar pelajaran
kayak gitu. ‘’
‘’
Tapi kan Bu, Safa suka sama puisi. Lagipula hanya sekali ini saja masa Ayah
__ADS_1
nggak ngebolehin sih ? ‘’
‘’
Coba tanya saja pada Ayah mu itu nduk. ‘’
‘’
Iya Bu Safa akan tanya pada Ayah besok saja. ‘’
‘’
Ya udah sana istirahat Ibu kluar dulu ya. ‘’
‘’
Iya Bu. ‘’
Safa
pun teringat akan dulu saat dia ikut lomba puisi saat masih SD, ternyata Ayah
melarangnya untuk ikut seperti lomba – lomba tersebut. Safa teru memikirkan apa
yang dikatakn oleh Ibunya tadi. Gimana caranya dia bicara dengan Ayahnya itu.
‘’
Aku udah tau jawaban dari Ayah nanti. Apa aku diam – diam saja ya, nanti kalau
aku menang baru bilang ke Ayah soal itu. Biar Ayah nggak ngelarang aku lagi
buat bikin puisi. Iya gitu aja daripada nanti Ayah marah sama Safa. ‘’ kata
Safa dalam hatinya yang masih ragu akan kepuusan yang diambilnya itu.
Safa
pun langsung tertidur pulas hingga jam 04.00 waktunya sholat Shubuh. Diambilnya
air wudhu dan melaksanakan sholat Shubu, setelah sholat Safa pun langsung
membaca Al Qur’an. Safa kepikiran tentang hal yang berkaitan dengan puisi
tersebut. Hatinya seakan ingin rasanya bilang ke Ayahnya, namun otaknya
berfikir resiko yang akan ia alami setelah ia bicara dengan Ayahnya itu.
Safa
pun mengambil keputusan yang ia buat kemarin hingga akhirnya ia tau kalau ia
tetap masih ragu dengan keputusannya itu.
Keesokan
harinya, Safa pagi – pagi sudah menuju ke sekolah, dimana hanya ada beberapa
siswa yang ada di sekolah. Safa berjalan menuju ke perpustakaan untuk mengembalikan
semua buku yang telah ia pinjam. Saat mengembalikan semua buku – buku tersebut
lalu Safa melihat novel yang menurutnya bagus. Diambilnya novel tersebut yang
berjudul ‘’ Cahaya Cinta Pesantren ‘’. Lalu ia pun membaca novel tersebut di
bangku kosong, lumayan lama dia disana. Hp Safa bergetar ternyata ada panggilan
masuk dari Adel. Safa pun langsung menjawab panggilan tersebut.
‘’
Assalamu’alaikum. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. ‘’
‘’
Kamu dimana ? aku cariin kamu. ‘’
‘’
Cie tumben cariin aku ? ‘’
‘’
Iya sebenernya bukan aku yang nyariin. ‘’
‘’
La trus siapa ? ‘’
‘’
Yudha tuh. ‘’
‘’
Hm, kesini saja aku di perpustakann. ‘’
Telfon
pun langsung mati seketika, Safa melanjutkan kegiatannya membaca novel
tersebut. Safa teringat akan kejadian kemarin saat Ibunya mengatakan bahwa
Ayahnya pasti tidak memperbolehkan dia untuk lomba musikalisasi puisi tersebut.
‘’
Assalamu’alaikum. ‘’ Salam Yudha
‘’
Wa’alaikumsalam. Loh Adel mana ? ‘’
‘’
Dia sama Bryan ke taman. Katanya kamu nggak boleh ganggu. ‘’
‘’
Aku nggak pernah ganggu mereka pacaran. ‘’
‘’
Ya udah ganggu aku aja nggak papa. ‘’
‘’
Bukannya terbalik ya ? ‘’
‘’
Ya nggak papa aku malah suka. ‘’
‘’
Bodoamat. ‘’
Safa
pun melanjutkan membacanya, namun Yudha yang ada didepannya hanya melihat ia
membaca. Safa merasa risih saat Yudha melakukan hal tersebut.
__ADS_1