
Dokter pun masuk dan langsung memeriksa kondisi Safa ulang.
‘’ Gimana dok ? ‘’ tanya Yudha
‘’ Kaki sebelah kiri Safa patah karena benturan yang sangat
keras. Maka dari itu Safa harus di oprasi, namun karena peralatan rumah sakit
ini tidak begitu lengkap saya sarankan kalau Safa dibawa ke rumah sakit yang
ada di Solo saja. ‘’
‘’ Terserah dokter saja saya ingin yang terbaik, dan semua
biaya administrasi biar saya yang tanggung. ‘’
‘’ Baiklah kalau begitu saya akan koordinasi dengan dokter
yang ada disana. ‘’
Dokter itupun pergi dan akan menghubungi dokter yang ada di
rumah sakit yang ada di Solo.
‘’ Makasih kamu udah baik banget ke aku. ‘’
‘’ Iya sama – sama. Aku bakal ngelakuin apa saja demi kamu
sembuh. Termasuk nyerahin nyawaku ini. Hehe. ‘’
Safa pun tersenyum mendengar apa yang dikatakan Yudha
tersebut, Yudha berusaha menghibur Safa. Sedangkan Safa masih terfikirkan
tentang Ayahnya. Bagaimana keadaan Ayahnya sekarang, mengapa hatinya rasanya
tak tenang sekali.
Safa pun dibawa ke rumah sakit yang ada di Solo. Adel dan
Yudha yang menemani Safa di rumah sakit tersebut. Ibu Safa tak dapat menemani
Safa karena Ibu Safa akan mengurusi acara doa yang ada dirumahnya untuk Ayahnya
itu.
Safa sudah sampai di rumah sakit, dia pun langsung diinfus.
Badan Safa gemeteran karena dia takut akan kata oprasi, baginya kata tersebut
sangat menyeramkan sekali.
‘’ Kamu kenapa Fa ? ‘’ tanya Adel
‘’ Aku takut Del. Gimana kalau oprasinya nggak berhasil ? ‘’
‘’ Heh kamu ngomong apaan sih. Husnudzon saja Fa. ‘’
‘’ Iya Del. ‘’
‘’ Jangan takut. Ada Aku dan Adel yang nunggu kamu disini.
‘’
‘’ Kalian nggak ikut masuk ? ‘’
__ADS_1
‘’ Ya kan kita sehat Fa, kalau ikut kamu bisa – bisa kita
ikut di oprasi juga. ‘’ kata Adel yang berusaha menenangkan hati Safa yang
gelisah itu.
Safa pun akhirnya masuk ke dalam ruang oprasi. Waktu demi
waktu, Yudha yang ada didepan ruang tersebut hanya mondar – mandir dan
berdzikir. Dia merasa cemas dengan oprasi yang dijalani oleh Safa saat itu.
Tak lama kemudian dokterpun keluar, Safa langsung
dipindahkan ke ruangan pasien. Safa yang tersadar pun langsung bisa bernafas
lega karena oprasinya kali ini sudah berhasil.
‘’ Alhamdulillah oprasinya sudah berhasil. ‘’ kata dokter
pada Adel dan Yudha
‘’ Alhamdulillah. Makasih dok. ‘’ jawab Yudha
‘’ Iya sama – sama. ‘’ dokter itupun langsung pergi
‘’ Gimana Fa rasanya ? ‘’
‘’ Ya gitu deh tapi masih sedikit sakit. Badanku lemes
banget. Ntar kalau aku udah ada dirumah aku bakal peluk Ayah sama Ibu. Aku
sudah kangen dengan mereka. ‘’
‘’ Iya makanya kamu cepet sembuhnya ya. Biar aku nggak
‘’ kamu nggak suka nungguin aku di rumah sakit ? ‘’
‘’ Aku nggak mau kalau kamu sakit Fa. ‘’
Adel yang melihat Yudha bertengkar seakan ingat kalau nanti
gimana ketika Safa tau keadaan Ayahnya yang sebenarnya. Pasti dia akan sangat
terpuruk sekali.Adel hanya khawatir tentang itu semoga saja Safa mengetahuinya
setelah kondisinya benar – benar siap untuk mendengarkan keadaan Ayahnya itu.
‘’ Adel kamu knapa ? ‘’
‘’ Oh nggak kok. ‘’
Sore harinya keluarga Yusuf pun datang untuk menjenguk Safa
namun Yusuf tidak ada disana. Usna yang melihat Safa terbaring diatas bed pun
langsung memeluk Safa dan menangis.
‘’ Eh jangan nangis, kak Safa nggak papa kok. ‘’
‘’ Kak Safa yang sabar ya dalam menghadapi cobaan ini. ‘’
‘’ Iya kak Safa slalu sabar kok. Mungkin semua ini ada
hikmahnya juga. ‘’
__ADS_1
‘’ Kak ini dari Kak Yusuf, dia titip surat untuk kakak kalau
kakak sudah siuman. ‘’ kata Usna yang menyondorkan surat dari Yusuf
‘’ Iya makasih ya dek. ‘’
‘’ Sama – sama kak. Kalau gitu Usna mau pulang dulu ya. ‘’
Umi Usna pun langsung menyium kening Safa itu dan berpamitan
pulang.
‘’ Umi turut berduka cita atas musibah yang menimpa Ayahmu.
Umi kemarin tidak datang ke acara pemakaman ayahmu. Kalau gitu umi pulang dulu.
Semoga kamu cepat sembuh. ‘’
Safa yang mendengarkan perkataan Umipun langsung meneteskan
air matanya. Safa tak menyangka kalau Ayah yang ia cintai telah meninggalkan ia
duluan. Safa langsung melihat ke arah Adel dan Yudha.
‘’ Kenapa kamu berbohong padaku ? ‘’
‘’ Aku harus bagaimana lagi Fa ? aku saja tak kuat melihat
dirimu seperti ini. ‘’ kata Adel yang ikut menangis
‘’ Kamu yang sabar Fa. ‘’ kata Yudha
‘’ Kenapa kalian seperti ini padaku. Aku seharusnya melihat
wajah Ayahku untuk yang terakhir kalinya. Dan kini sudah terlambat. Aku sedikit
pun tak dapat melihatnya. Lalu aku harus bagaimana ? ‘’
Adel dan Yudha hanya terdiam mendengar perkataannya Safa
yang merasa terpuruk tersebut
‘’ Aku harus pulang! Aku ingin liat Ayah. Aku nggak mau
kalau Ayah disana tanpaku. ‘’ teriak Safa yang berusaha melepas semua alat yang
menempel pada tubunya itu. Dokter dan perawat yang mendengar teriaknya Safa pun
langsung datang dan berusaha menenangkan Safa. Safa yang berusaha memberontak
pun akhirnya merasa lemas dan hanya menangis tersedu – sedu.
Hari demi hari Safa berada disana dengan terus berlatih agar
kakinya bisa digunakan kembali. Namun karena patah kakinya sangat parah makanya
Safa membutuhkan banyak waktu untuk dapat bisa berjalan normal. Namun kini Safa
hanya bisa memakai tongkat yang akan menuntunnyasaat berjalan.
‘’ Besok Safa sudah bisa pulang. Dan untuk kakinya harus
dilatih terus – menerus agar bisa berjalan dengan normal kembali. Namun Safa
tidak boleh melakukan kegiatan yang berat – berat dulu. Ini semua agar Safa
__ADS_1
cepat sembuh. ‘’
‘’ Baik Dok saya mengerti. ‘’ kata Safa senang