Pelangi Diujung Senja

Pelangi Diujung Senja
Ungkapan Yusuf 4


__ADS_3

Dokter pun masuk dan langsung memeriksa kondisi Safa ulang.


‘’ Gimana dok ? ‘’ tanya Yudha


‘’ Kaki sebelah kiri Safa patah karena benturan yang sangat


keras. Maka dari itu Safa harus di oprasi, namun karena peralatan rumah sakit


ini tidak begitu lengkap saya sarankan kalau Safa dibawa ke rumah sakit yang


ada di Solo saja. ‘’


‘’ Terserah dokter saja saya ingin yang terbaik, dan semua


biaya administrasi biar saya yang tanggung. ‘’


‘’ Baiklah kalau begitu saya akan koordinasi dengan dokter


yang ada disana. ‘’


Dokter itupun pergi dan akan menghubungi dokter yang ada di


rumah sakit yang ada di Solo.


‘’ Makasih kamu udah baik banget ke aku. ‘’


‘’ Iya sama – sama. Aku bakal ngelakuin apa saja demi kamu


sembuh. Termasuk nyerahin nyawaku ini. Hehe. ‘’


Safa pun tersenyum mendengar apa yang dikatakan Yudha


tersebut, Yudha berusaha menghibur Safa. Sedangkan Safa masih terfikirkan


tentang Ayahnya. Bagaimana keadaan Ayahnya sekarang, mengapa hatinya rasanya


tak tenang sekali.


Safa pun dibawa ke rumah sakit yang ada di Solo. Adel dan


Yudha yang menemani Safa di rumah sakit tersebut. Ibu Safa tak dapat menemani


Safa karena Ibu Safa akan mengurusi acara doa yang ada dirumahnya untuk Ayahnya


itu.


Safa sudah sampai di rumah sakit, dia pun langsung diinfus.


Badan Safa gemeteran karena dia takut akan kata oprasi, baginya kata tersebut


sangat menyeramkan sekali.


‘’ Kamu kenapa Fa ? ‘’ tanya Adel


‘’ Aku takut Del. Gimana kalau oprasinya nggak berhasil ? ‘’


‘’ Heh kamu ngomong apaan sih. Husnudzon saja Fa. ‘’


‘’ Iya Del. ‘’


‘’ Jangan takut. Ada Aku dan Adel yang nunggu kamu disini.


‘’


‘’ Kalian nggak ikut masuk ? ‘’

__ADS_1


‘’ Ya kan kita sehat Fa, kalau ikut kamu bisa – bisa kita


ikut di oprasi juga. ‘’ kata Adel yang berusaha menenangkan hati Safa yang


gelisah itu.


Safa pun akhirnya masuk ke dalam ruang oprasi. Waktu demi


waktu, Yudha yang ada didepan ruang tersebut hanya mondar – mandir dan


berdzikir. Dia merasa cemas dengan oprasi yang dijalani oleh Safa saat itu.


Tak lama kemudian dokterpun keluar, Safa langsung


dipindahkan ke ruangan pasien. Safa yang tersadar pun langsung bisa bernafas


lega karena oprasinya kali ini sudah berhasil.


‘’ Alhamdulillah oprasinya sudah berhasil. ‘’ kata dokter


pada Adel dan Yudha


‘’ Alhamdulillah. Makasih dok. ‘’ jawab Yudha


‘’ Iya sama – sama. ‘’ dokter itupun langsung pergi


‘’ Gimana Fa rasanya ? ‘’


‘’ Ya gitu deh tapi masih sedikit sakit. Badanku lemes


banget. Ntar kalau aku udah ada dirumah aku bakal peluk Ayah sama Ibu. Aku


sudah kangen dengan mereka. ‘’


‘’ Iya makanya kamu cepet sembuhnya ya. Biar aku nggak


‘’ kamu nggak suka nungguin aku di rumah sakit ? ‘’


‘’ Aku nggak mau kalau kamu sakit Fa. ‘’


Adel yang melihat Yudha bertengkar seakan ingat kalau nanti


gimana ketika Safa tau keadaan Ayahnya yang sebenarnya. Pasti dia akan sangat


terpuruk sekali.Adel hanya khawatir tentang itu semoga saja Safa mengetahuinya


setelah kondisinya benar – benar siap untuk mendengarkan keadaan Ayahnya itu.


‘’ Adel kamu knapa ? ‘’


‘’ Oh nggak kok. ‘’


Sore harinya keluarga Yusuf pun datang untuk menjenguk Safa


namun Yusuf tidak ada disana. Usna yang melihat Safa terbaring diatas bed pun


langsung memeluk Safa dan menangis.


‘’ Eh jangan nangis, kak Safa nggak papa kok. ‘’


‘’ Kak Safa yang sabar ya dalam menghadapi cobaan ini. ‘’


‘’ Iya kak Safa slalu sabar kok. Mungkin semua ini ada


hikmahnya juga. ‘’

__ADS_1


‘’ Kak ini dari Kak Yusuf, dia titip surat untuk kakak kalau


kakak sudah siuman. ‘’ kata Usna yang menyondorkan surat dari Yusuf


‘’ Iya makasih ya dek. ‘’


‘’ Sama – sama kak. Kalau gitu Usna mau pulang dulu ya. ‘’


Umi Usna pun langsung menyium kening Safa itu dan berpamitan


pulang.


‘’ Umi turut berduka cita atas musibah yang menimpa Ayahmu.


Umi kemarin tidak datang ke acara pemakaman ayahmu. Kalau gitu umi pulang dulu.


Semoga kamu cepat sembuh. ‘’


Safa yang mendengarkan perkataan Umipun langsung meneteskan


air matanya. Safa tak menyangka kalau Ayah yang ia cintai telah meninggalkan ia


duluan. Safa langsung melihat ke arah Adel dan Yudha.


‘’ Kenapa kamu berbohong padaku ? ‘’


‘’ Aku harus bagaimana lagi Fa ? aku saja tak kuat melihat


dirimu seperti ini. ‘’ kata Adel yang ikut menangis


‘’ Kamu yang sabar Fa. ‘’ kata Yudha


‘’ Kenapa kalian seperti ini padaku. Aku seharusnya melihat


wajah Ayahku untuk yang terakhir kalinya. Dan kini sudah terlambat. Aku sedikit


pun tak dapat melihatnya. Lalu aku harus bagaimana ? ‘’


Adel dan Yudha hanya terdiam mendengar perkataannya Safa


yang merasa terpuruk tersebut


‘’ Aku harus pulang! Aku ingin liat Ayah. Aku nggak mau


kalau Ayah disana tanpaku. ‘’ teriak Safa yang berusaha melepas semua alat yang


menempel pada tubunya itu. Dokter dan perawat yang mendengar teriaknya Safa pun


langsung datang dan berusaha menenangkan Safa. Safa yang berusaha memberontak


pun akhirnya merasa lemas dan hanya menangis tersedu – sedu.


Hari demi hari Safa berada disana dengan terus berlatih agar


kakinya bisa digunakan kembali. Namun karena patah kakinya sangat parah makanya


Safa membutuhkan banyak waktu untuk dapat bisa berjalan normal. Namun kini Safa


hanya bisa memakai tongkat yang akan menuntunnyasaat berjalan.


‘’ Besok Safa sudah bisa pulang. Dan untuk kakinya harus


dilatih terus – menerus agar bisa berjalan dengan normal kembali. Namun Safa


tidak boleh melakukan kegiatan yang berat – berat dulu. Ini semua agar Safa

__ADS_1


cepat sembuh. ‘’


‘’ Baik Dok saya mengerti. ‘’ kata Safa senang


__ADS_2