
Safa
pun langsung naik motornya Adel dan melaju menuju kedai yang dikatakan Adel
tadi yaitu kedai es krim yang ada di dekat desanya Safa. Bahkan Safa tidak tau
kalau ada kedai baru disekitar taman tersebut. Adel yang rumahnya jauh saja
bisa lebih tau daripadapa Safa yang rumahnya dekat.
Mereka
pun telah sampai di kedai es krim tersebut. Safa kegirangan ketika melihat
kedai dengan suasana yang sangat unik tersebut. terdapat banyak hiasan dinding
sampai dreamcatcher yang sangat besar pun ada.
‘’
Eh Del dreamcatchernya bagus, besar pula. ‘’
‘’
Iya bagus yak. Kalo gitu aku mau pesan dulu. Kamu cari bangku kosong buat kita
yak. ‘’
Safa
pun cari bangku yang ada disudut ruangan dimana dia bisa liat keadaan luar
kedai tersebut. Adel yang sudah memesan es krim pun langsung duduk di bangku
yang telah Safa pilihkan tersebut. Tak begitu lama, es krim mereka pun datang.
‘’
Alhamdulillah udah dateng es krimnya. Waah’’
Pelayan
tersebut menyodorkan es krim mereka yang terlihat nikmat dipandang. Safa
menyendok es krim tersebut dang dengan lahab nya dia makan. Saat di tengah –
tengah mereka menikmati es krim tersebut, datanglah pria dengan membawa es krim
pula.
‘’
Kak boleh duduk disana ? ‘’
‘’
Loh Yudha. ‘’ kata Adel
‘’
Iya kak. ‘’
‘’
Iya – iya boleh. ‘’ sambil menyodorkan bangku yanga ada di dekat Adel.
‘’
Trima kasih kak. ‘’
‘’
Kenapa nggak milih bangku yang lain, padahal kan banyak. ‘’
‘’
Enak disini kak, es krim nya dingin, tapi kalau liat kakak jadi panas. ‘’
‘’
Eh kamu itu biasanya kan bilang kalau liat kakak jadi manis ini malah jadi
panas. ‘’ kata Adel tertawa
‘’
Iya kan hati saya membara kalau ada dideket kak Safa. Rasanya pengen acak –
acak kepalanya sekalian ditampol. Hehe ‘’
‘’
Nah kan anak ini ngajak ribut mulu Del. Usir gih dari hadapanku. ‘’
‘’
Kalo gitu aku menghadap kak Adel aja yak. Awas cemburu. ‘’
‘’
Eh cemburu hanya untuk orang yang nggak mampu. ‘’
‘’
Trus ? ‘’
‘’
Ya aku mampu lah. Lagipula perasaan cemburu itu adalah orang yang mengharapkan
lebih kepada hambanya, bukan Kepada-Nya. ‘’ kata Safa kesal
‘’
Iya – iya jangan gitu juga dong. ‘’ Kata Yudha tertawa bersama Adel yang
melihat ekspresi Safa manyun setelah mengatakan hal tersebut
‘’
Aku suka kamu marah. Aku bakal rindu itu. ‘’
‘’
Eh, apaan coba. ‘’ kata Safa hingga pipinya memerah
‘’
__ADS_1
Nah kan pipinya merah. ‘’ Kata Adel yang slalu menggoda Safa
Mereka
cukup lama disana hingga hujan pun mengguyur tempat itu.
‘’
Ya kok hujan sih ? ‘’
‘’
Iya nggak papa kak. Harus di syukurin dong. Lagipula ada hikmahnya juga. ‘’
‘’
Tumben kamu piter. ‘’
‘’
Iya hikmahnya bisa liatin kakak lebih lama lagi sih. Hehe. ‘’
Sontak
Adel yang mendengarnya langsung tertawa mengejek Safa. Yudha hanya tersenyum
melihat Safa yang salah tingkah terus – menerus itu. Sebenernya Safa dari tadi
ingin liat hujan dan matanya memandang ke arah sudut taman. Entah mengapa dia
saat itu slalu melihat ke arah tempat berteduh yang ada disana.
Tiba
– tiba ada seorang cowok dan cewek yang sedang berteduh disana. Safa yang
penasaran dengan siapa orang tersebut pun mulei membersihkan kaca yang berembun
itu. Safa pun terkejut jantungnya seakan tergoyah begitu keras. Yang dilihatnya
disudut pandang itu adalah Yusuf dan Anis.
‘’
Kenapa mereka bisa berduaan gitu ? ‘’ kata Safa lirih
‘’
Apa katamu ? ‘’ tanya Adel dan langsung melihat ke arah yang Safa liat tersebut
Yudha
yang penasaran dengan apa yang mereka berdua lihat langsung saja melihat ke
arah tersebut. Yudha pun terkejut ketika melihat suasana diluar yang hujan
sedangkan Anis dan Yusuf berduaan.
‘’
Ngapain mereka berduaan coba ? bukannya Anis tau kalau Safa eh maksut nya kak
Safa suka ama Yusuf ? ‘’
Safa
memasang wajah tersenyum kepada Yudha dan Adel. Dia seolah – olah menutupi apa
yang dia rasakan saat itu.
‘’
Mungkin mereka ada urusan apa gitu trus kehujanan makanya mereka berteduh deh.
‘’
‘’
Hm,mungkin juga sih. ‘’ kata Adel yang percaya dengan perkataan Safa
Namun
Yudha yang melihat ekspresi Safa tersebut malah tau apa yang dirasakan Safa
saat itu. Safa berusaha menutupi semuanya pada teman – temannya itu. Yudha
masih memandang ke arah luar.
‘’
Maksutnya Anis itu apa sih ? ‘’ tanya Yudha dalam hatinya
Hujan
pun mulai berhenti. Adel mengajak Safa pulang kerumah, namun Safa menolaknya.
Safa hanya ingin menunggu Anis dan Yusuf pergi dari tempat itu dulu. Karna
kalau Safa keluar malah jadi runyam hatinya yang sudah hancur berkeping – keping.
‘’
Fa ayuk pulang. Hujannya udah berhenti. ‘’
‘’
Bentar lagi ya. ‘’
‘’
Apa mau pulang aja bareng aku ? ‘’ ajak Yudha pada Safa
‘’
Aku pulang sama Adel aja. Emang kamu berani nanti kalau ketemu Ayahku ? ‘’
‘’
Eh berani dong. Bilang kalau anaknya boleh diminta dibawa pulang. ‘’
‘’
Eh ya dimarahin lah. ‘’ Kata Adel yang malah menertawakan perkataan dari Yudha
tersebut
Safa
__ADS_1
hanya tersenyum dengan apa yang ditertawakan Adel tersebut. Safa melihat Yusuf
dan Anis yang akan beranjak pergi dari tempat tersebut. Safa pun langsung
mengajak Adel pulang karena hari sudah mulai gelap, takut kalau Ayahnya nanti
khawatir dengan dirinya itu.
Setelah
sampai rumah ternyata Ayahnya Sfa sudah menunggu mereka diluar rumah. Adel yang
takut dimarahin Ayahnya Safa pun langsung pamit untuk pulang sebelum akhirnya
dia benar ditanya yang enggak – enggak sama Ayahnya Safa. Safa pun masuk ke
dalam rumah.
‘’
Assalamu’alaikum. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. Dari mana aja nduk kok baru pulang ? ‘’
‘’
Tadi dari kedai es krim Yah. Mau pulang tapi hujan makanya nunggu hujannya
berhenti dulu. ‘’
‘’
Kok nggak bilang sama Ayah ? ‘’
‘’
Safa nggak punya Hp buat hubungi Ayah. ‘’ kata Safa dan langsung masuk ke dalam
rumah.
Ibu
yang melihat kejadian itu langsung ke depan dan berusaha untuk mencegah Ayah
yang akan memarahi Safa lagi. Ayah pun langsung duduk kembali dan meminum kopi
yang ada didekatnya tersebut dan ditemani Ibu yang berusaha membuat suasana
senyaman mungkin.
Safa
yang masuk ke dalam kamar pun langsung mengambil air wudhu dan sholat Maghrib.
Setelah sholat Safa membuka buku puisinya tersebut dan memulai menulis apa yang
ada di otaknya itu.
‘’
Pergilah! ‘’
Mungkin aku sudah lelah
Harus bertahan selama ini
Tapi yakinlah,,,
Takkan ada penyesalan padaku
Walau
meski aku bukan rembulan
Tapi
ingat, aku adalah sinarnya
Karna
tanpa sinarnya,
Rembulan
takkan bercahaya
Ikhlasku mengijinkanku merelakanmu
Meski hati takkan pernah rela
Namun aku mencoba terbiasa,
Pergilah...
Aku akan rindu,
Meski hati pernah teriris
‘’
Aku nggak boleh su’dzom sama Anis, dia kan temen aku sendiri. Paling mereka ada
urusan berdua. Kayak apa gitu. Lagipula kan Usna temannya Anis juga. Yusuf
nggak mungkin suka sama Anis. Tapi mungkin saja suka sih. Karna kan Anis udah
cantik kaya pula, dia kan juga sering jadi model. Aduh kalau beneran Yusuf suka
gimana? Tapi kan Anis nggak jilbapan, masa Yusuf suka cewek gituan? Tapi kan
Anis bisa jilbapan juga. Ah pusing. ‘’
Safa
pun langsung mendekap guling yang ada didekatnya itu. Pikirnya sekarang sudah
tak karuan lagi. Ingin rasanya dia mengetahui perasaan Yusuf padanya, namun apa
mungkin dia akan siap dengan apa yang akan dikatakan Yusuf. Kalau dia suka sama
Safa ya alhamdulillah. Tapi kalau tidak suka dan malah milih Anis hati Safa
bakal seperti gelas yang sudah pecah dan mungkin takkan bisa kembali lagi
seperti semula.
__ADS_1