Pelangi Diujung Senja

Pelangi Diujung Senja
Perihal Senja 5


__ADS_3

‘’ hmm, gimana


ya perasaan Yusuf padaku? Aku sangat penasaran sekali dengan hal itu. Apa dia


suka atau atau bahkan aku hanya dianggap teman biasa baginya itu. Ternyata ini


yang Adel maksud digantung itu. Rumit juga kan. Yasudahlah nggak usah terlalu


difikir mending tidur dulu biar bisa sholat tahajud. ‘’


Safa pun tidur


dengan nyenyak berselimutkan selimut yang sangat lembut sekali dan didekapnya


ada boneka yang selalu menemaninya tidur. Jangan salah sangka, boneka itu


adalah pemberian dari Ayahnya saat ulang tahunnya 17 tahun kemarin.


Sekitar pukul


03.00 Safa bangun dan segera mengambil air wudhu lalu sholat tahajud seperti


biasanya. Kali ini dia bertingkah aneh sekali, Safa selalu senyum – senyum


kayak orang gila lagi. Safa mengingat kejadian kemarin saat Yusuf menghampirinya


dan ada didekatnya hingga suaranya nyaris selalu terngiang ngiang ditelinga


Yusuf.


Safa sudah siap


untuk pergi menuju kesekolah dengan mengayuh sepedanya seperti biasanya. Safa


kali ini mengayuhnya dengan sedikit cepat agar dia bisa bercerita dengan Adel


sahabatnya itu. Setelah sampai disekolah ditaruhnya sepedanya di parkiran dan


Safa langsung berlari menuju kelas. Tak disangka setelah dia sampai didepan


pintu kelas sudah ada Yudha yang menunggunya.


‘’ Pagi – pagi


udah buat mood orang ancur. ‘’


‘’ eeh Arafah


gimana nih latiannya itu? ‘’


‘’ Sekarang


jangan panggil saya Arafah. Panggil saja kak Safa. ‘’


‘’ Kak Safa?


Emangnya harus gitu? ‘’


‘’ Iya lah kan


aku lebih tua dari kamu. ‘’


‘’ Nggak ada


yang lain gitu? Kayak sayang atau beb atau honey atau say gitu. Masa aku harus


manggil kak sih! ‘’ gertak Yudha pada Safa


‘’ Mau atau


nggak? Kalau nggak mau ya udah aku juga nggak bakal latian sama kamu. Simpel


kan. ‘’


‘’ Oke oke. Tapi


aku juga ada syarat. ‘’


‘’ Eh ngapain


ikut – ikut ada syaratnya juga. ‘’


‘’ Ya kalau


nggak mau kamu bakal aku panggil sayang dan biar seluruh sekolah tau sekalian.


‘’


‘’ Oke oke apa


syaratnya? Jangan rumit – rumit. ‘’


‘’ Nanti saat


istirahat makan dikantin sama aku. ‘’


‘’ Aku nanti mau


sholat. ‘’


‘’ Iya aku


tungguin. ‘’


‘’ Ngapain nungguin.


Ikut sekalian gitu. ‘’


‘’ Hehe aku


masih berhalangan. ‘’


‘’ Berhalangan


apaan? Kamu kan bukan cewek. ‘’


‘’ Hmm, jujur ya


aku sebenernya udah lupa bacaan sholat. Makanya aku jarang sholat atau bahkan


nggak pernah sama sekali. ‘’


Safa tanpa


berkata apapun langsung masuk kelas. Safa merasa moodnya udah ancur ketika


melihat Yudha tadi. Apalagi dengan yang dikataka Yudha barusan tadi. Ingin


rasanya Safa nggak usah ketemu Yudha selama – lamanya.


‘’ Kamu kenapa?


‘’ tanya Adel


‘’ Seketika mood


ku ancur pas liat Yudha ada didepan kelas pagi – pagi. ‘’


‘’ Bagus dong.


Pagi – pagi udah apel. ‘’


‘’ Bukan itu


masalahnya. ‘’


‘’ La trus


kenapa? ‘’


‘’ Tau nggak sih


kemarin aku ketemu sama Yusuf lagi. Ternyata dia anak pemilik pondok pesantren


yang ada sebelah kampungku itu. ‘’


‘’ Masa? Waah


ternyata dia anak orang alim juga ya. Trus kamu mau masih sama dia? Berat loh


ya. ‘’


‘’ Kalau itu aku


nggak tau. Karna kan emang aku suka dia dari sejak SMP rasanya aneh bila aku


ketemu dia juga. ‘’


‘’ Aneh


maksutnya? ‘’


‘’ Iya masa


kalau ketemu dia rasanya aku nggak pernah liat matanya apalagi jantung ini


rasanya ingin copot seketika. ‘’


‘’ Haha itu


namanya kamu sudah Cinta sama dia. ‘’


‘’ Iya kayaknya


malah dari dulu. ‘’


Tiba – tiba bel


masukpun berbunyi nyaring di teling semua warga sekolah. Seperti biasanya


kegiatan belajar mengajarpun dilaksanakan kembali. Safa sama sekali tidak fokus


dengan pelajaran matematika, padahal dia sangat senang dengan pelajar itu. Bu


Titin yaitu guru matematika slalu memperhatikan Safa yang tidak konsen pada


pelajaran tersebut. Bu Titin pun menghampiri Safa lebih dekat untuk


menanyakannya.


‘’ Safa kamu ada


masalah dari tadi kok kayaknya gelisah. ‘’


‘’ Maaf bu saya


mungkin kurang enak badan. ‘’


‘’ Baiklah nanti


setelah istirahat kamu ke ruang ibu dulu ya. ‘’


‘’ Siap bu. ‘’


Bu Titin pun


kembali lagi ke bangku guru untuk mengajar matematika


‘’ Mampuskan


kalau kamu gini terus. ‘’ kata Adel lirih


Safa hanya


mengeluh pasrah dengan semuanya, mungkin kali ini dia akan ditanya macam –


macam oleh Bu Titin atau bahkan akan dimarahi. Karna Bu Titin slalu


mengedepankan atau bahkan mendahulukan Safa daripada siswa yang lain. Karna


Safa adalah murid Bu Titin yang paling dibanggakan. Nilai matematika Safapun


tidak pernah turun, bahkan naik terus.


Setelah


pelajaran matematika kini pergantian pelajaran yaitu pelajaran PKN, Namun karna


gurunya tidak ada makanya hanya diberi tugas. Safa dengan cepat mengerjakannya,


karna kalau istirahat takutnya dia malah nggak bisa nepatin janji semuanya


yaitu bertemu dengan Bu Titin dan Yudha yang resek itu. Setelah selesai Safa


pun pergi ke ruangan Bu Titin. Diketuknya pintu itu dan masuklah Safa.


Dilihatnya ada anak perempuan disana.


‘’


Assalamu’alaikum. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. ‘’


‘’ Bu Titinnya


ada? ‘’

__ADS_1


‘’ Bu Titin


masih ngambil berkas sebentar kak. ‘’


Safa pun lalu


duduk didekat anak itu. Safa sepertinya kenal dengan anak yang ada didekatnya


itu. Lalu Safa pun penasaran dengan dia.


‘’ Memangnya


kamu ada urusan apa disini dek ? ‘’


‘’


Oh aku wakil ketua osis kak mau tanya tentang program sekolah pada Bu Titin. ‘’


Lalu


Safa teringat akan kata Yusuf yang adeknya adalah wakil ketua osis. Sontak Safa


langsung teriak tentang hal itu pada anak itu.


‘’


Loh kamu Usna yak. Kok kamu berubah gini dek. Aku hampir tidak mengenalimu. ‘’


‘’


Kak Safa bukan hampir tak mengenaliku, tapi kak Safa sudah lupa dengan wajahku.


‘’


‘’


Hehe kan emang udah lama dek. Udah hampir 3 tahun kakak nggak ketemu kamu lagi


kan. Lagipula kenapa kamu nggak nyari kakak dari dulu sih. Kakak kan rindu sama


kamu. ‘’


‘’


Hehe saya kira kakak bakal tau saya sendiri, padahal kan saya wakil ketua osis


disini. ‘’


‘’


Iya saya jarang sekali tau tentang berita – berita seperti itu. ‘’


‘’


Aku aja tau kalau kakak sekolah disini dari kak Yusuf makanya aku nyusul disini


biar bisa ketemu Kak Safa terus, eh malah Kak Safa nggak kenal aku lagi. ‘’


‘’


Yusuf? Bukannya dia tau nya karna kita kemarin ketemu ya. ‘’


‘’


Loh kak Yusuf sudah tau dari dulu kalau kakak sekolah disini. Mungkin Kak Yusuf


malu mau bilang atau dia punya alasan lain untuk nggak bilang ke kak Safa. ‘’


‘’


Iya mungkin saja sih. ‘’


Tiba


– tiba datang Bu Titin yang membawa banyak buku matematika yang ada


ditangannya. Lalu Bu Titin duduk dihadapan mereka berdua.


‘’


Loh Safa kamu udah disini aja. Apa lagi jamkos? ‘’


‘’


Hehe iya Bu tapi saya sudah mengerjakan tugasnya kok. ‘’


‘’


Baiklah. Usna saya bicara dulu sama Safa ya. Kamu disini aja dengerin nggak


papa. ‘’


‘’


Iya Bu. ‘’


‘’


Safa minggu depan bakal ada olimpiade matematika. Kamu disuruh untuk mewakili


sekolahan ini. ‘’


‘’


Maaf Bu bukannya saya nggak mau, tapi saya rasa yang pantas untuk ikut adalah


adik kelas Bu. Karna saya kan akan ujian. ‘’


‘’


Ibu yakin kamu yang bisa, karna Ibu tau kemampuanmu nak. Sekolah saat ini


sangat membutuhkan kamu. Lagipula kalau Ibu ngambil adik kelas bakal lama untuk


ngelatihnya. Tapi kalau Ibu nyuruh kamu, Ibu tau kamu udah menguasai semua


materinya itu. ‘’


‘’


Tapi Bu saya juga ada lomba musikalisasi puisi. Saya takut jika saya ikut


semuanya tapi malah saya nggak bisa fokus ke semuanya Bu. ‘’


‘’


Ibu yakin kamu bisa. Lagipula kalau soal musikalisasi puisi ada renggang waktu


3 hari setelah olimpiade matematika kan. Ini adalah kesempatan kamu nak, karna


Ibu liat hadiahnya lumayan besar. Kamu bisa mendapatkan beasiswa juga kalau


‘’


Kalau begitu beri saya waktu berfikir dulu Bu. Saya takut mengambil keputusan


yang malah bakal jadi kerugian buat semua orang yang udah mempercayakan kepada


saya. ‘’


‘’


Baik besok kamu harus sudah ada keputusannya ya. Karna Ibu juga nggak bisa


digantungin seperti ini. ‘’


‘’


Siap Bu. Kalau begitu saya permisi dulu Bu. ‘’


‘’


Baiklah. ‘’


‘’


Duluan ya dek. Assalamu’alaikum. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. ‘’


Safa


pun keluar dari ruangannya Bu Titin tersebut. ia berjalan menuju ruang kelas


kembali. Entah mengapa saat itu Ia sedang menabrak seorang perempuan yang tak


asing baginya lagi.


‘’


Safa. ‘’ kata Anis


‘’


Maaf Nis aku nggak sengaja. ‘’


‘’


Iya nggak papa. Sepertinya kamu sedang melamun. Memangnya ada apa? ‘’


‘’


Oh nggak kok Nis. Aku permisi dulu ya mau kekelas. Assalamu’alaikum. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. ‘’


Safa


pun melanjutkan perjalanannya menuju ke kelas. Sampai dikelas yang ternyata jam


kosong dimanfaatkan para siswa untuk mengobrol sesama temannya, atau bahkan


main Hp atau bahkan tertawa bersama. Suasana disanapun sangat ramai sekali, hal


ini sudah biasa untuk anak jaman sekarang ini. Safa mendekati Adel yang sedang


membaca sebuah novel karya dari J.K Rowling yaitu buku Harry Potter yang dia


suka. Bahkan dia sudah mempunyai komplit buku dari karyanya J.K Rowling tersebut.


iya dia pecinta dunia sihir makanya sifatnya kayak penyihir jahat apalagi dia


suka sama grup nya shylethrin yang ada di serial Harry Potter itu. Rasanya


ingin ku tampol ketika dia bicara tentang Novelnya itu.


‘’


Assalamu’alaikum. ‘’


‘’Wa’alaikumsalam.


Gimana gimana kamu dikasih hukuman apa? ‘’


‘’


Kamu suka kalau aku dihukum ya ? ‘’


‘’


Ya bukannya gitu, tapi kan seru pas kamu dihukum gitu. Hehe bercanda kalik


jangan manyun lagi dong. Nggak cantik lagi loh. ‘’


‘’


Aku bingung. Aku harus milih mana ya antara olimpiade matematika atau lomba


musikalisasi puisi? ‘’


‘’


Pilih aja keduanya. ‘’


‘’


Tapi aku takut kalau nanti aku malah tidak fokus keduanya. ‘’


‘’


Kamu sukanya yang mana ? ‘’


‘’


Aku suka musikalisasi puisi sih. Karna kan emang aku suka puisi. ‘’


‘’


Suka puisi atau yang menggiringi itu. Cakep loh dia. ‘’


‘’


Aku nggak suka brondong Del. Lagipula dia masih bocah bagiku. ‘’


‘’

__ADS_1


Ya sudahlah terserah kamu. Ayo kita sholat trus ke kantin. ‘’


‘’


Hmm, aku nanti kekantin bareng ama tuh bocah Del. ‘’


‘’


Eh, tadi katanya nggak suka kok ini makan mau makan berdua sih. ‘’


‘’


Aku ada janji ama dia. ‘’


‘’


Ya udah kalau gitu ayo sholat dulu aja yuk. ‘’


Safa


dan Adelpun pergi menuju ke mushola. Safa dari tadi melirik ke sudut – sudut


ruangan. Ia meraa bahwa Yudha belum terlihat disekitarnya saat itu. Safa dan


Adel pun sholat, setelah sholat Adel duluan menuju kantin. Safa masih menunggu


Yudha didepan mushola sekolahan.


‘’


Dimana sih anak itu. Keburu jam istirahat habis nih. ‘’


Tiba


– tiba Yudha datang dan membawa makanan yang Ia pesan tadi.


‘’


Loh makanannya kenapa ditaruh disini? Bukannya kita mau kekantin ya? ‘’


‘’


Kita makan di taman saja. Dikantin ramai banget aku males liatnya. ‘’


Lalu


Safa dan Yudha pun pergi menuju taman yang tak jauh jaraknya dari mushola


tersebut. mereka duduk dibangku kosong dibawah pohon yang rindang dan sejuk


sekali.


‘’


Tadi katamu kamu nggak suka namanya ramai. Kenapa ? ‘’


‘’


Oh, karna saat aku dikeramaian rasanya umpek. Ingin pindah aja. ‘’


‘’Ohh.


‘’


‘’


Safa. Eh maksutnya Kak Safa aku mau tanya. ‘’


‘’


Iya apa? ‘’ sambil makan makanan yang dibawa Yudha tadi


‘’


Kakak udah punya pacar? ‘’


‘’


Oh, belum. ‘’


‘’


Alhamdulillah. Ada kesempatan dong aku? ‘’


‘’


Nggak. ‘’


‘’


Loh kok nggak? ‘’


‘’


Aku nggak mau pacaran. ‘’


‘’


Aku setia kok kak. ‘’


‘’


Iya setiap tikungan ada. ‘’


‘’


Enggak kak beneran aku setia. Ingin liat buktinya? ‘’


‘’


Enggak. ‘’


‘’


Trus kenapa nggak mau pacaran. Padahal kakak ini imut loh. ‘’


‘’


Pacaran itu hanya mendekatkan pada zina. Lagipula itu nggak penting buatku. ‘’


‘’


Tapi ada orang yang kakak suka ? ‘’


‘’


Hmm,,’’


‘’


Ya kan pasti ada. Siapa kak ? ‘’


‘’


Itu nggak penting buat kamu. ‘’


‘’


Itu penting kak. Karna aku suka kakak dari awal kita ketemu. Dari kakak yang


bantu aku. Aku yang sering liat kakak sholat dan baca Al Qur’an. Aku suka karna


itu semua. ‘’


‘’


Perasaan suka itu perlahan akan hilang ketika kamu sudah nggak ketemu orangnya


lagi. Dan terima kasih buat makanannya ini. Assalamu’alaikum. ‘’ Safa pun pergi


meninggalkan Yudha sendiri disana dengan kebingungan.


‘’


Wa’alaikumsalam. Aku bakal terus berusaha kak! ‘’ teriak Yudha dari tempat


tersebut


Safa


yang tak menghiraukan perkataan Yudha pun langsung pergi tanpa melirik ke arah


Yudha. Safa berjalan menuju kelas yang menaruh kepalanya diata meja dengan


pemikiran yang sangat bingung sekali. Safa merasa dirinya sekarang sedang


diambang kegalauan yang berat. Ingin rasanya dia bisa menyelesaikan dengan


seketika itu juga, namun hatinya menyiut ketika sudah berhadapan dengan semua


itu juga.


Adel


yang melihat Safa tergeletak di atas bangku langsung menghampirinya.


Diletakannya kepala Safa dibahunya itu.


‘’


Menangislah jika dirimu ingin menangis. ‘’


‘’


Aku tak mau menangis. ‘’


‘’


Lalu apa maumu? ‘’


‘’


Tetap seperti ini jangan pindah posisi. ‘’


Dalam


hati Adel pun bergumam ingin rasanya ia duduk biasa, bahunya sudah lama seperti


itu. Itu kesalahannya kenapa Adel tadi naruh kepalanya Safa dibahunya.


‘’


Bisa – bisa nanti manggil tukang urut buat urutin bahu nih. ‘’ gumam Adel dalam


hati


Tak


lama kemudian tiba – tiba Anis datang ke kelas Safa dan menghampiri Safa yang


sedang bersandar di bahunya Adel.


‘’


Loh kenapa Safa? ‘’ tanya Anis


‘’


Nggak kok aku Cuma kecapekan aja. ‘’


‘’


Beneran nggak papa ? ‘’


‘’


Iya bener. Ada apa kok kesini. ‘’


‘’


Oh aku Cuma mau bilang. Nanti pesta ulang tahunku kalian harus datang ya. ‘’


‘’


Maaf aku nggak bisa datang. Ada acara keluarga dirumah. Lagipula Papa sama


Mamaku nanti kumpul. Ini moment penting bagiku. ‘’ saut Adel kepada Anis


‘’


Hmm, Aku In Syaa Allah. ‘’


‘’


Fa ini ulang tahunku sebelum akhirnya mungkin kita nggak ketemu lagi. Karna


habis lulus aku akan pergi ke Kalimantan nyusul Papaku disana. ‘’


‘’


Iya nanti aku usahain deh. ‘’


‘’


Beneran ya. Nanti jangan telat. Kalau gitu aku pergi dulu. Assalamu’alaikum. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. ‘’

__ADS_1


__ADS_2