
‘’ hmm, gimana
ya perasaan Yusuf padaku? Aku sangat penasaran sekali dengan hal itu. Apa dia
suka atau atau bahkan aku hanya dianggap teman biasa baginya itu. Ternyata ini
yang Adel maksud digantung itu. Rumit juga kan. Yasudahlah nggak usah terlalu
difikir mending tidur dulu biar bisa sholat tahajud. ‘’
Safa pun tidur
dengan nyenyak berselimutkan selimut yang sangat lembut sekali dan didekapnya
ada boneka yang selalu menemaninya tidur. Jangan salah sangka, boneka itu
adalah pemberian dari Ayahnya saat ulang tahunnya 17 tahun kemarin.
Sekitar pukul
03.00 Safa bangun dan segera mengambil air wudhu lalu sholat tahajud seperti
biasanya. Kali ini dia bertingkah aneh sekali, Safa selalu senyum – senyum
kayak orang gila lagi. Safa mengingat kejadian kemarin saat Yusuf menghampirinya
dan ada didekatnya hingga suaranya nyaris selalu terngiang ngiang ditelinga
Yusuf.
Safa sudah siap
untuk pergi menuju kesekolah dengan mengayuh sepedanya seperti biasanya. Safa
kali ini mengayuhnya dengan sedikit cepat agar dia bisa bercerita dengan Adel
sahabatnya itu. Setelah sampai disekolah ditaruhnya sepedanya di parkiran dan
Safa langsung berlari menuju kelas. Tak disangka setelah dia sampai didepan
pintu kelas sudah ada Yudha yang menunggunya.
‘’ Pagi – pagi
udah buat mood orang ancur. ‘’
‘’ eeh Arafah
gimana nih latiannya itu? ‘’
‘’ Sekarang
jangan panggil saya Arafah. Panggil saja kak Safa. ‘’
‘’ Kak Safa?
Emangnya harus gitu? ‘’
‘’ Iya lah kan
aku lebih tua dari kamu. ‘’
‘’ Nggak ada
yang lain gitu? Kayak sayang atau beb atau honey atau say gitu. Masa aku harus
manggil kak sih! ‘’ gertak Yudha pada Safa
‘’ Mau atau
nggak? Kalau nggak mau ya udah aku juga nggak bakal latian sama kamu. Simpel
kan. ‘’
‘’ Oke oke. Tapi
aku juga ada syarat. ‘’
‘’ Eh ngapain
ikut – ikut ada syaratnya juga. ‘’
‘’ Ya kalau
nggak mau kamu bakal aku panggil sayang dan biar seluruh sekolah tau sekalian.
‘’
‘’ Oke oke apa
syaratnya? Jangan rumit – rumit. ‘’
‘’ Nanti saat
istirahat makan dikantin sama aku. ‘’
‘’ Aku nanti mau
sholat. ‘’
‘’ Iya aku
tungguin. ‘’
‘’ Ngapain nungguin.
Ikut sekalian gitu. ‘’
‘’ Hehe aku
masih berhalangan. ‘’
‘’ Berhalangan
apaan? Kamu kan bukan cewek. ‘’
‘’ Hmm, jujur ya
aku sebenernya udah lupa bacaan sholat. Makanya aku jarang sholat atau bahkan
nggak pernah sama sekali. ‘’
Safa tanpa
berkata apapun langsung masuk kelas. Safa merasa moodnya udah ancur ketika
melihat Yudha tadi. Apalagi dengan yang dikataka Yudha barusan tadi. Ingin
rasanya Safa nggak usah ketemu Yudha selama – lamanya.
‘’ Kamu kenapa?
‘’ tanya Adel
‘’ Seketika mood
ku ancur pas liat Yudha ada didepan kelas pagi – pagi. ‘’
‘’ Bagus dong.
Pagi – pagi udah apel. ‘’
‘’ Bukan itu
masalahnya. ‘’
‘’ La trus
kenapa? ‘’
‘’ Tau nggak sih
kemarin aku ketemu sama Yusuf lagi. Ternyata dia anak pemilik pondok pesantren
yang ada sebelah kampungku itu. ‘’
‘’ Masa? Waah
ternyata dia anak orang alim juga ya. Trus kamu mau masih sama dia? Berat loh
ya. ‘’
‘’ Kalau itu aku
nggak tau. Karna kan emang aku suka dia dari sejak SMP rasanya aneh bila aku
ketemu dia juga. ‘’
‘’ Aneh
maksutnya? ‘’
‘’ Iya masa
kalau ketemu dia rasanya aku nggak pernah liat matanya apalagi jantung ini
rasanya ingin copot seketika. ‘’
‘’ Haha itu
namanya kamu sudah Cinta sama dia. ‘’
‘’ Iya kayaknya
malah dari dulu. ‘’
Tiba – tiba bel
masukpun berbunyi nyaring di teling semua warga sekolah. Seperti biasanya
kegiatan belajar mengajarpun dilaksanakan kembali. Safa sama sekali tidak fokus
dengan pelajaran matematika, padahal dia sangat senang dengan pelajar itu. Bu
Titin yaitu guru matematika slalu memperhatikan Safa yang tidak konsen pada
pelajaran tersebut. Bu Titin pun menghampiri Safa lebih dekat untuk
menanyakannya.
‘’ Safa kamu ada
masalah dari tadi kok kayaknya gelisah. ‘’
‘’ Maaf bu saya
mungkin kurang enak badan. ‘’
‘’ Baiklah nanti
setelah istirahat kamu ke ruang ibu dulu ya. ‘’
‘’ Siap bu. ‘’
Bu Titin pun
kembali lagi ke bangku guru untuk mengajar matematika
‘’ Mampuskan
kalau kamu gini terus. ‘’ kata Adel lirih
Safa hanya
mengeluh pasrah dengan semuanya, mungkin kali ini dia akan ditanya macam –
macam oleh Bu Titin atau bahkan akan dimarahi. Karna Bu Titin slalu
mengedepankan atau bahkan mendahulukan Safa daripada siswa yang lain. Karna
Safa adalah murid Bu Titin yang paling dibanggakan. Nilai matematika Safapun
tidak pernah turun, bahkan naik terus.
Setelah
pelajaran matematika kini pergantian pelajaran yaitu pelajaran PKN, Namun karna
gurunya tidak ada makanya hanya diberi tugas. Safa dengan cepat mengerjakannya,
karna kalau istirahat takutnya dia malah nggak bisa nepatin janji semuanya
yaitu bertemu dengan Bu Titin dan Yudha yang resek itu. Setelah selesai Safa
pun pergi ke ruangan Bu Titin. Diketuknya pintu itu dan masuklah Safa.
Dilihatnya ada anak perempuan disana.
‘’
Assalamu’alaikum. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. ‘’
‘’ Bu Titinnya
ada? ‘’
__ADS_1
‘’ Bu Titin
masih ngambil berkas sebentar kak. ‘’
Safa pun lalu
duduk didekat anak itu. Safa sepertinya kenal dengan anak yang ada didekatnya
itu. Lalu Safa pun penasaran dengan dia.
‘’ Memangnya
kamu ada urusan apa disini dek ? ‘’
‘’
Oh aku wakil ketua osis kak mau tanya tentang program sekolah pada Bu Titin. ‘’
Lalu
Safa teringat akan kata Yusuf yang adeknya adalah wakil ketua osis. Sontak Safa
langsung teriak tentang hal itu pada anak itu.
‘’
Loh kamu Usna yak. Kok kamu berubah gini dek. Aku hampir tidak mengenalimu. ‘’
‘’
Kak Safa bukan hampir tak mengenaliku, tapi kak Safa sudah lupa dengan wajahku.
‘’
‘’
Hehe kan emang udah lama dek. Udah hampir 3 tahun kakak nggak ketemu kamu lagi
kan. Lagipula kenapa kamu nggak nyari kakak dari dulu sih. Kakak kan rindu sama
kamu. ‘’
‘’
Hehe saya kira kakak bakal tau saya sendiri, padahal kan saya wakil ketua osis
disini. ‘’
‘’
Iya saya jarang sekali tau tentang berita – berita seperti itu. ‘’
‘’
Aku aja tau kalau kakak sekolah disini dari kak Yusuf makanya aku nyusul disini
biar bisa ketemu Kak Safa terus, eh malah Kak Safa nggak kenal aku lagi. ‘’
‘’
Yusuf? Bukannya dia tau nya karna kita kemarin ketemu ya. ‘’
‘’
Loh kak Yusuf sudah tau dari dulu kalau kakak sekolah disini. Mungkin Kak Yusuf
malu mau bilang atau dia punya alasan lain untuk nggak bilang ke kak Safa. ‘’
‘’
Iya mungkin saja sih. ‘’
Tiba
– tiba datang Bu Titin yang membawa banyak buku matematika yang ada
ditangannya. Lalu Bu Titin duduk dihadapan mereka berdua.
‘’
Loh Safa kamu udah disini aja. Apa lagi jamkos? ‘’
‘’
Hehe iya Bu tapi saya sudah mengerjakan tugasnya kok. ‘’
‘’
Baiklah. Usna saya bicara dulu sama Safa ya. Kamu disini aja dengerin nggak
papa. ‘’
‘’
Iya Bu. ‘’
‘’
Safa minggu depan bakal ada olimpiade matematika. Kamu disuruh untuk mewakili
sekolahan ini. ‘’
‘’
Maaf Bu bukannya saya nggak mau, tapi saya rasa yang pantas untuk ikut adalah
adik kelas Bu. Karna saya kan akan ujian. ‘’
‘’
Ibu yakin kamu yang bisa, karna Ibu tau kemampuanmu nak. Sekolah saat ini
sangat membutuhkan kamu. Lagipula kalau Ibu ngambil adik kelas bakal lama untuk
ngelatihnya. Tapi kalau Ibu nyuruh kamu, Ibu tau kamu udah menguasai semua
materinya itu. ‘’
‘’
Tapi Bu saya juga ada lomba musikalisasi puisi. Saya takut jika saya ikut
semuanya tapi malah saya nggak bisa fokus ke semuanya Bu. ‘’
‘’
Ibu yakin kamu bisa. Lagipula kalau soal musikalisasi puisi ada renggang waktu
3 hari setelah olimpiade matematika kan. Ini adalah kesempatan kamu nak, karna
Ibu liat hadiahnya lumayan besar. Kamu bisa mendapatkan beasiswa juga kalau
‘’
Kalau begitu beri saya waktu berfikir dulu Bu. Saya takut mengambil keputusan
yang malah bakal jadi kerugian buat semua orang yang udah mempercayakan kepada
saya. ‘’
‘’
Baik besok kamu harus sudah ada keputusannya ya. Karna Ibu juga nggak bisa
digantungin seperti ini. ‘’
‘’
Siap Bu. Kalau begitu saya permisi dulu Bu. ‘’
‘’
Baiklah. ‘’
‘’
Duluan ya dek. Assalamu’alaikum. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. ‘’
Safa
pun keluar dari ruangannya Bu Titin tersebut. ia berjalan menuju ruang kelas
kembali. Entah mengapa saat itu Ia sedang menabrak seorang perempuan yang tak
asing baginya lagi.
‘’
Safa. ‘’ kata Anis
‘’
Maaf Nis aku nggak sengaja. ‘’
‘’
Iya nggak papa. Sepertinya kamu sedang melamun. Memangnya ada apa? ‘’
‘’
Oh nggak kok Nis. Aku permisi dulu ya mau kekelas. Assalamu’alaikum. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. ‘’
Safa
pun melanjutkan perjalanannya menuju ke kelas. Sampai dikelas yang ternyata jam
kosong dimanfaatkan para siswa untuk mengobrol sesama temannya, atau bahkan
main Hp atau bahkan tertawa bersama. Suasana disanapun sangat ramai sekali, hal
ini sudah biasa untuk anak jaman sekarang ini. Safa mendekati Adel yang sedang
membaca sebuah novel karya dari J.K Rowling yaitu buku Harry Potter yang dia
suka. Bahkan dia sudah mempunyai komplit buku dari karyanya J.K Rowling tersebut.
iya dia pecinta dunia sihir makanya sifatnya kayak penyihir jahat apalagi dia
suka sama grup nya shylethrin yang ada di serial Harry Potter itu. Rasanya
ingin ku tampol ketika dia bicara tentang Novelnya itu.
‘’
Assalamu’alaikum. ‘’
‘’Wa’alaikumsalam.
Gimana gimana kamu dikasih hukuman apa? ‘’
‘’
Kamu suka kalau aku dihukum ya ? ‘’
‘’
Ya bukannya gitu, tapi kan seru pas kamu dihukum gitu. Hehe bercanda kalik
jangan manyun lagi dong. Nggak cantik lagi loh. ‘’
‘’
Aku bingung. Aku harus milih mana ya antara olimpiade matematika atau lomba
musikalisasi puisi? ‘’
‘’
Pilih aja keduanya. ‘’
‘’
Tapi aku takut kalau nanti aku malah tidak fokus keduanya. ‘’
‘’
Kamu sukanya yang mana ? ‘’
‘’
Aku suka musikalisasi puisi sih. Karna kan emang aku suka puisi. ‘’
‘’
Suka puisi atau yang menggiringi itu. Cakep loh dia. ‘’
‘’
Aku nggak suka brondong Del. Lagipula dia masih bocah bagiku. ‘’
‘’
__ADS_1
Ya sudahlah terserah kamu. Ayo kita sholat trus ke kantin. ‘’
‘’
Hmm, aku nanti kekantin bareng ama tuh bocah Del. ‘’
‘’
Eh, tadi katanya nggak suka kok ini makan mau makan berdua sih. ‘’
‘’
Aku ada janji ama dia. ‘’
‘’
Ya udah kalau gitu ayo sholat dulu aja yuk. ‘’
Safa
dan Adelpun pergi menuju ke mushola. Safa dari tadi melirik ke sudut – sudut
ruangan. Ia meraa bahwa Yudha belum terlihat disekitarnya saat itu. Safa dan
Adel pun sholat, setelah sholat Adel duluan menuju kantin. Safa masih menunggu
Yudha didepan mushola sekolahan.
‘’
Dimana sih anak itu. Keburu jam istirahat habis nih. ‘’
Tiba
– tiba Yudha datang dan membawa makanan yang Ia pesan tadi.
‘’
Loh makanannya kenapa ditaruh disini? Bukannya kita mau kekantin ya? ‘’
‘’
Kita makan di taman saja. Dikantin ramai banget aku males liatnya. ‘’
Lalu
Safa dan Yudha pun pergi menuju taman yang tak jauh jaraknya dari mushola
tersebut. mereka duduk dibangku kosong dibawah pohon yang rindang dan sejuk
sekali.
‘’
Tadi katamu kamu nggak suka namanya ramai. Kenapa ? ‘’
‘’
Oh, karna saat aku dikeramaian rasanya umpek. Ingin pindah aja. ‘’
‘’Ohh.
‘’
‘’
Safa. Eh maksutnya Kak Safa aku mau tanya. ‘’
‘’
Iya apa? ‘’ sambil makan makanan yang dibawa Yudha tadi
‘’
Kakak udah punya pacar? ‘’
‘’
Oh, belum. ‘’
‘’
Alhamdulillah. Ada kesempatan dong aku? ‘’
‘’
Nggak. ‘’
‘’
Loh kok nggak? ‘’
‘’
Aku nggak mau pacaran. ‘’
‘’
Aku setia kok kak. ‘’
‘’
Iya setiap tikungan ada. ‘’
‘’
Enggak kak beneran aku setia. Ingin liat buktinya? ‘’
‘’
Enggak. ‘’
‘’
Trus kenapa nggak mau pacaran. Padahal kakak ini imut loh. ‘’
‘’
Pacaran itu hanya mendekatkan pada zina. Lagipula itu nggak penting buatku. ‘’
‘’
Tapi ada orang yang kakak suka ? ‘’
‘’
Hmm,,’’
‘’
Ya kan pasti ada. Siapa kak ? ‘’
‘’
Itu nggak penting buat kamu. ‘’
‘’
Itu penting kak. Karna aku suka kakak dari awal kita ketemu. Dari kakak yang
bantu aku. Aku yang sering liat kakak sholat dan baca Al Qur’an. Aku suka karna
itu semua. ‘’
‘’
Perasaan suka itu perlahan akan hilang ketika kamu sudah nggak ketemu orangnya
lagi. Dan terima kasih buat makanannya ini. Assalamu’alaikum. ‘’ Safa pun pergi
meninggalkan Yudha sendiri disana dengan kebingungan.
‘’
Wa’alaikumsalam. Aku bakal terus berusaha kak! ‘’ teriak Yudha dari tempat
tersebut
Safa
yang tak menghiraukan perkataan Yudha pun langsung pergi tanpa melirik ke arah
Yudha. Safa berjalan menuju kelas yang menaruh kepalanya diata meja dengan
pemikiran yang sangat bingung sekali. Safa merasa dirinya sekarang sedang
diambang kegalauan yang berat. Ingin rasanya dia bisa menyelesaikan dengan
seketika itu juga, namun hatinya menyiut ketika sudah berhadapan dengan semua
itu juga.
Adel
yang melihat Safa tergeletak di atas bangku langsung menghampirinya.
Diletakannya kepala Safa dibahunya itu.
‘’
Menangislah jika dirimu ingin menangis. ‘’
‘’
Aku tak mau menangis. ‘’
‘’
Lalu apa maumu? ‘’
‘’
Tetap seperti ini jangan pindah posisi. ‘’
Dalam
hati Adel pun bergumam ingin rasanya ia duduk biasa, bahunya sudah lama seperti
itu. Itu kesalahannya kenapa Adel tadi naruh kepalanya Safa dibahunya.
‘’
Bisa – bisa nanti manggil tukang urut buat urutin bahu nih. ‘’ gumam Adel dalam
hati
Tak
lama kemudian tiba – tiba Anis datang ke kelas Safa dan menghampiri Safa yang
sedang bersandar di bahunya Adel.
‘’
Loh kenapa Safa? ‘’ tanya Anis
‘’
Nggak kok aku Cuma kecapekan aja. ‘’
‘’
Beneran nggak papa ? ‘’
‘’
Iya bener. Ada apa kok kesini. ‘’
‘’
Oh aku Cuma mau bilang. Nanti pesta ulang tahunku kalian harus datang ya. ‘’
‘’
Maaf aku nggak bisa datang. Ada acara keluarga dirumah. Lagipula Papa sama
Mamaku nanti kumpul. Ini moment penting bagiku. ‘’ saut Adel kepada Anis
‘’
Hmm, Aku In Syaa Allah. ‘’
‘’
Fa ini ulang tahunku sebelum akhirnya mungkin kita nggak ketemu lagi. Karna
habis lulus aku akan pergi ke Kalimantan nyusul Papaku disana. ‘’
‘’
Iya nanti aku usahain deh. ‘’
‘’
Beneran ya. Nanti jangan telat. Kalau gitu aku pergi dulu. Assalamu’alaikum. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. ‘’
__ADS_1