Pelangi Diujung Senja

Pelangi Diujung Senja
Perihal Senja 3


__ADS_3

PERIHAL SENJA


Perihal Senja!


Jangan cepat berlalu


Ingin kusapa lebih lama


Ingin ku sanjung selalu


Namun kini bulan tlah datang


Menenggelamkan senjaku hilang


Berharap kan bertemu lagi


Dalam lain hari!


Tetaplah ingat senjaku


Aku rindu..


Aku rindu..


Aku rindu!


SELALU!


Tak disangka


semua tepuk tangan akan puisi yang dibacakan Safa tersebut. Hingga Pak Adam pun


tersenyum mendengar puisi yang dibacakan Safa tersebut.


‘’ Bagus sekali.


Bahasanya mudah dimengerti dan langsung pada intinya. Cara bacamu juga sangat


menghayati. Memangnya kamu sedang rindu siapa? ‘’ tanya Pak Adam penasaran


‘’ Rindu masakan


ibu pak. ‘’


Semua tertawa


mendengar apa yang dikatakan Safa tersebut. Safa pun tersenyum dan menunduk


malu. Matanya melihat kearah Adel yang sedang senang ketika melihatnya dalam


kesusahan tersebut.


‘’ Baik Safa


silahkan duduk kembali dan saya akan mengakhiri pelajaran ini. ‘’


Safa pun kembali


kebangkunya sedangkan Adel yang masih terus menertawakannya itu. Safa hanya


memalingkan pandangannya pada Adel. Bel istirahatpun sudah berbunyi, sedangkan


pak Adam pun pergi meninggalkan kelas.


‘’ He Fa jangan


marah. ‘’ Usil Adel pada Safa


‘’ Enggak kok.


‘’


‘’ Lihat itu


alismu udah nyambung jadi satu. ‘’ tawa Adel jahat


‘’ Iya iya ini


aku senyum. Hiiiii. ‘’ sambil menunjukkan muka konyolnya


‘’ Ayuk


kekantin. Aku traktir deh. Itung – itung tanda maaf aku padamu. ‘’


‘’ Ayuk ayuk tapi


aku sholat dulu. Kamu udah mulai sholat belum? ‘’


‘’ Iya aku ikut


sholat juga kok. ‘’


Mereka pun


akhirnya ke mushola sebelum ke kantin. Setelah sholat langkah mereka menuju


kantin dengan memesan makanan yang ada disana. Safa memesan satu mangkok bakso


dan jus buah naga kesukaannya tersebut.


‘’ Aku masih


ingat dia nggak suka sama jus buah naga. ‘’ Kata Safa tersenyum


‘’ Dia siapa?


Laki – laki tadi pagi.? ‘’


‘’ Namanya


Yusuf. ‘’


‘’ Pasti dia


tampan kan. Biasanya yang namanya Yusuf itu orangnya tampan. ‘’


‘’ Iya dia


tampan dan juga agamanya kuat. ‘’


‘’ Pantes kamu


suka. Tipemu kan kayak itu aja. Kapan sih aku bisa liat kamu pacaran. Padahal


kan kamu juga nggak jelek – jelek amat. ‘’


‘’ Aku nggak


bakal pacaran Del. Karna bagiku itu tidak penting. ‘’


‘’ Kalau Yusuf nembak


kamu gimana? ‘’


‘’ Nggak mungkin


juga sih. Aku tau dia seperti apa. Ya memang dia care ke teman ceweknya. Tapi


kalau pacaran dia nggak bakal melakukan itu. ‘’


‘’ Pacaran


Syar’i kan bisa. ‘’


Safa tertawa


mendengar apa yang dikatakan Adel tersebut


‘’ Kenapa


tertawa? ‘’


‘’ Nggak ada Del


yang namanya pacaran Syar’ i. Pacaran itu pasti nanti ujung – ujungnya putus.


Kalau tidak menikah ya bakal berpisah. ‘’


Adel pun

__ADS_1


mengerti apa yang dikatakan Safa ada benarnya juga. Kadang Adel ingin rasanya


mempunyai pandangan seperti halnya Safa. Namun kadang Adel belum mampu untuk


melakukannya.Apalagi saat ini Adel mempunyai cowok yang mungkin sempurna


baginya. Ia tampan dan juga mempunyai kepopuleran yang ada disekolah tersebut.


lagipula pacar Adel juga baik. Nggak bakal neko – neko juga sepertinya. Adel


berfikir kalau dia juga nggak bakal melampaui batasan tersebut. Ia tau mana


yang baik baginya dan yang tidak baik juga baginya.


‘’ Terus kamu


habis SMA mau ngapain? ‘’


‘’ Hmm gimana ya


Del. Sebenernya Ayah ingin nya aku jadi seorang tenaga kesehatan sih kayak


dokter atau perawat atau farmasi gitu. ‘’


‘’ Lalu? ‘’


‘’ Tapi aku


nggak punya biaya untuk kuliah. Makan saja aku udah sangat bersyukur sekali. Lagipula


aku juga takut sama darah.‘’


‘’ Bukannya ada


program bidikmisi. Lagipula kamu kan pintar. Coba aja dulu Fa. ‘’


‘’ Iya juga ya.


Gimana kalau kamu juga ikut Del biar bisa bareng aku. ‘’


‘’ Iya pasti


lah. Eeh tadi kamu bilang kalau itu keinginan Ayahmu ya? Kok gitu? ‘’


‘’ Hehe iya Del.


Sebenernya aku ingin jadi seorang penulis terkenal. Tapi Ayah sama Ibu bilang


kalau itu dijadikan hobi sampingan aja. Lagipula ini itung – itung aku


membanggakan kedua orang tuaku Del. Ya meski harus ngorbanin apa yang menjadi


keinginanku itu. ‘’


‘’ Kalau kata


Mama ku aku boleh melakukan apa saja yang penting itu baik buat aku. ‘’


‘’ Sifat orang


tuakan beda – beda Del. Yang sama hanya semua orang tua ingin anaknya lebih


tinggi dari keadaannya sekarang. ‘’


‘’ Iya juga sih.


‘’


Merekapun


berbincang bincang dan makan makanan yang dipesan tadi. Tak lama bel masukpun


berbunyi. Safa ingin masuk kelas namun ada seseorang yang memanggilnya dari


belakang sehingga ia menoleh kearah suara tersebut.


‘’ Safa!’’


‘’ Iya ada apa?


‘’


‘’ Kamu


‘’ Oh gitu.


Makasih ya. ‘’


Safa pun


berjalan menuju keruangan Pak Adam tersebut. ketika sudah sampai didepan pintu


lalu Safa mengetuk pintinya.


‘’


Assalamu’alaikum. ‘’


‘’Wa’alaikumsalam.


Silahkan masuk nak. ‘’


Safa pun masuk


dan duduk didepan Pak Adam


‘’ Ada apa Pak


kok manggil saya kesini? ‘’


‘’ Kita akan


adakan lomba setelah kamu ujian nanti. ‘’


‘’ Lomba apa ya


pak? ‘’


‘’ Lomba


musikalisasi puisi. Kamu kan sangat pandai membawakan sebuah puisi. Apalagi


puisi tentang rindu tadi. ‘’


‘’ kalau


musikalisasi puisi kan pakai musik pak? Saya nggak bisa main alat musik pak. ‘’


‘’ Tenang, saya


sudah pilih orang yang akan menggiringi kamu nanti. ‘’


‘’ Siapa Pak? ‘’


Tiba – tiba ada


suara ketukan dari luar ruangan. Masuklah laki – laki tersebut dan duduk di


kursi yang ada didekat Safa. Safa pun terkejut ternyata laki – laki itu yang ia


bantu saat pagi hari itu.


‘’ Wah kita


bertemu lagi. Padahal aku udah cari kamu kemana mana loh. ‘’ kata laki – laki


tersebut yang membuat Safa malu dan menundukkan wajahnya.


‘’ Ini orang


yang akan menggiringi kamu saat lomba itu. Dia sangat pandai memaikan gitar.


Nanti kamu diskusikan saja sama dia apa yang akan kalian kolaborasikan saat


lomba. Buatlah bangga sekolah ini. ‘’


‘’ Siap pak. ‘’


‘’ Baiklah

__ADS_1


kalian cepat pergi kekelas masing – masing. ‘’


‘’


Assalamu’alaikum Pak. ‘’ salam Safa


‘’


Wa’alaikumsalam. ‘’


Safa dan laki –


laki itupun keluar dari ruangan Pak Adam.


‘’ Hay Arafah,


kenalin namaku Yudha Anggito. Panggil saja Yudha. ‘’


Safa hanya


tersenyum dan segera pergi dari posisinya itu. Namun Yudha malah selalu mengikuti


arah langkah Safa. Dan Safa pun akhirnya jengkel dengan ulah Yudha.


‘’ Kamu kenapa


ngikutin aku sih! ‘’ bentak Safa jengkel


‘’ Aku pengen


tau kelasmu dimana. ‘’


‘’ Aku anak IPA


kelas 12A dan jangan iktin aku lagi. ‘’


‘’ Baiklah nanti


setelah pulang sekolah aku kesana. ‘’


‘’ Heeh! ‘’


teriak Safa yang ternyata Yudha sudah menghilang dari pandangannya saat itu.


‘’ Cepet banget


anak itu larinya. ‘’


Safa pun masuk


kelas dan mulai mengikuti pelajaran yang ada dikelasnya tersebut. waktu demi


waktu pun berlalu. Bel pulang sudah terdengar diseluruh warga sekolah. Safa pun


bergegas dengan cepat agar dirinya tak bertemu dengan anak itu lagi. Namun Safa


terlambat, ternyata Yudha sudah berada didepan pintu kelasnya.


‘’ Aduh gawat.


‘’


‘’ Kenapa Fa? ‘’


tanya Adel yang ada didekatnya


‘’ Del tolongin


usirin anak yang ada didepan pintu itu dong. Dia pasti lgi nyariin aku. ‘’


sambil menunjuk kearah Yudha


‘’ Oke oke siap.


‘’


Adel pun


berjalan menuju Yudha yang sedang menunggu keberadaan Safa didepan pintu.


‘’ Heh nyari


siapa? ‘’


‘’ Nyari Arafah.


Apa dia sudah pulang? ‘’


‘’ Arafah? Tapi


disini nggak ada yang namanya Arafah. Adanya Nisafa Arafah. ‘’


Safa pun yang


mendengar apa yang dikatakan Adel makin jengkel.


‘’ Aduh aku


tolol udah salah suruh orang. Ngapain si Adel malah memperjelas semuanya.


Bodohnya!! ‘’ gertak Safa dalam hati


‘’ Oh jadi nama


panjangnya itu Nisafa Arafah ya? Terus dimana dia sekarang? ‘’


‘’ Itu. ‘’


sambil menunjuk kearah Safa yang sedang ngumpet dibawah bangku.


Safa pun


akhirnya keluar dan bertemu dengan Yudha. Dengan wajah yang musam Safa menatap


mata Adel penuh dengan kejengkelan. Ingin rasanya Safa membunuh Adel yang sudah membantu membongkar


semuanya itu.


Safa pun pergi


tanpa berkata apapun. Adel hanya tertawa jahat melihat tingkah Safa yang


seperti itu. Safa yang terus dikejar – kejar oleh Yudha pun berhenti didepan


mushola. Ia masuk dan mengambil air wudhu. Yudha yang kebingungan dengan


tingkah Safa pun bertanya apa yang dilakukan Safa itu.


‘’ Kamu mau


sholat? ‘’


Tanpa berkata


apapun Safa melaksanakan sholat Dhuhur. Yudha hanya melihat Safa dan bergumam


pada hatinya


‘’ Subhanallah


memang idaman ini. ‘’


Setelah Safa


sholat, ia pun langsung memakai sepatunya dan bergegas pergi dari tempat


tersebut, namun Yudha masih saja membuntutinya sampai parkiran.


‘’ Mau bareng


ama aku? Aku bawa motor. ‘’


‘’ Mau kamu itu


apa sih! ‘’


‘’ Aku kan Cuma


mau nawarin bareng aja. ‘’

__ADS_1


‘’ Maaf aku bawa


sepeda. ‘’


__ADS_2