
PERIHAL SENJA
Perihal Senja!
Jangan cepat berlalu
Ingin kusapa lebih lama
Ingin ku sanjung selalu
Namun kini bulan tlah datang
Menenggelamkan senjaku hilang
Berharap kan bertemu lagi
Dalam lain hari!
Tetaplah ingat senjaku
Aku rindu..
Aku rindu..
Aku rindu!
SELALU!
Tak disangka
semua tepuk tangan akan puisi yang dibacakan Safa tersebut. Hingga Pak Adam pun
tersenyum mendengar puisi yang dibacakan Safa tersebut.
‘’ Bagus sekali.
Bahasanya mudah dimengerti dan langsung pada intinya. Cara bacamu juga sangat
menghayati. Memangnya kamu sedang rindu siapa? ‘’ tanya Pak Adam penasaran
‘’ Rindu masakan
ibu pak. ‘’
Semua tertawa
mendengar apa yang dikatakan Safa tersebut. Safa pun tersenyum dan menunduk
malu. Matanya melihat kearah Adel yang sedang senang ketika melihatnya dalam
kesusahan tersebut.
‘’ Baik Safa
silahkan duduk kembali dan saya akan mengakhiri pelajaran ini. ‘’
Safa pun kembali
kebangkunya sedangkan Adel yang masih terus menertawakannya itu. Safa hanya
memalingkan pandangannya pada Adel. Bel istirahatpun sudah berbunyi, sedangkan
pak Adam pun pergi meninggalkan kelas.
‘’ He Fa jangan
marah. ‘’ Usil Adel pada Safa
‘’ Enggak kok.
‘’
‘’ Lihat itu
alismu udah nyambung jadi satu. ‘’ tawa Adel jahat
‘’ Iya iya ini
aku senyum. Hiiiii. ‘’ sambil menunjukkan muka konyolnya
‘’ Ayuk
kekantin. Aku traktir deh. Itung – itung tanda maaf aku padamu. ‘’
‘’ Ayuk ayuk tapi
aku sholat dulu. Kamu udah mulai sholat belum? ‘’
‘’ Iya aku ikut
sholat juga kok. ‘’
Mereka pun
akhirnya ke mushola sebelum ke kantin. Setelah sholat langkah mereka menuju
kantin dengan memesan makanan yang ada disana. Safa memesan satu mangkok bakso
dan jus buah naga kesukaannya tersebut.
‘’ Aku masih
ingat dia nggak suka sama jus buah naga. ‘’ Kata Safa tersenyum
‘’ Dia siapa?
Laki – laki tadi pagi.? ‘’
‘’ Namanya
Yusuf. ‘’
‘’ Pasti dia
tampan kan. Biasanya yang namanya Yusuf itu orangnya tampan. ‘’
‘’ Iya dia
tampan dan juga agamanya kuat. ‘’
‘’ Pantes kamu
suka. Tipemu kan kayak itu aja. Kapan sih aku bisa liat kamu pacaran. Padahal
kan kamu juga nggak jelek – jelek amat. ‘’
‘’ Aku nggak
bakal pacaran Del. Karna bagiku itu tidak penting. ‘’
‘’ Kalau Yusuf nembak
kamu gimana? ‘’
‘’ Nggak mungkin
juga sih. Aku tau dia seperti apa. Ya memang dia care ke teman ceweknya. Tapi
kalau pacaran dia nggak bakal melakukan itu. ‘’
‘’ Pacaran
Syar’i kan bisa. ‘’
Safa tertawa
mendengar apa yang dikatakan Adel tersebut
‘’ Kenapa
tertawa? ‘’
‘’ Nggak ada Del
yang namanya pacaran Syar’ i. Pacaran itu pasti nanti ujung – ujungnya putus.
Kalau tidak menikah ya bakal berpisah. ‘’
Adel pun
__ADS_1
mengerti apa yang dikatakan Safa ada benarnya juga. Kadang Adel ingin rasanya
mempunyai pandangan seperti halnya Safa. Namun kadang Adel belum mampu untuk
melakukannya.Apalagi saat ini Adel mempunyai cowok yang mungkin sempurna
baginya. Ia tampan dan juga mempunyai kepopuleran yang ada disekolah tersebut.
lagipula pacar Adel juga baik. Nggak bakal neko – neko juga sepertinya. Adel
berfikir kalau dia juga nggak bakal melampaui batasan tersebut. Ia tau mana
yang baik baginya dan yang tidak baik juga baginya.
‘’ Terus kamu
habis SMA mau ngapain? ‘’
‘’ Hmm gimana ya
Del. Sebenernya Ayah ingin nya aku jadi seorang tenaga kesehatan sih kayak
dokter atau perawat atau farmasi gitu. ‘’
‘’ Lalu? ‘’
‘’ Tapi aku
nggak punya biaya untuk kuliah. Makan saja aku udah sangat bersyukur sekali. Lagipula
aku juga takut sama darah.‘’
‘’ Bukannya ada
program bidikmisi. Lagipula kamu kan pintar. Coba aja dulu Fa. ‘’
‘’ Iya juga ya.
Gimana kalau kamu juga ikut Del biar bisa bareng aku. ‘’
‘’ Iya pasti
lah. Eeh tadi kamu bilang kalau itu keinginan Ayahmu ya? Kok gitu? ‘’
‘’ Hehe iya Del.
Sebenernya aku ingin jadi seorang penulis terkenal. Tapi Ayah sama Ibu bilang
kalau itu dijadikan hobi sampingan aja. Lagipula ini itung – itung aku
membanggakan kedua orang tuaku Del. Ya meski harus ngorbanin apa yang menjadi
keinginanku itu. ‘’
‘’ Kalau kata
Mama ku aku boleh melakukan apa saja yang penting itu baik buat aku. ‘’
‘’ Sifat orang
tuakan beda – beda Del. Yang sama hanya semua orang tua ingin anaknya lebih
tinggi dari keadaannya sekarang. ‘’
‘’ Iya juga sih.
‘’
Merekapun
berbincang bincang dan makan makanan yang dipesan tadi. Tak lama bel masukpun
berbunyi. Safa ingin masuk kelas namun ada seseorang yang memanggilnya dari
belakang sehingga ia menoleh kearah suara tersebut.
‘’ Safa!’’
‘’ Iya ada apa?
‘’
‘’ Kamu
‘’ Oh gitu.
Makasih ya. ‘’
Safa pun
berjalan menuju keruangan Pak Adam tersebut. ketika sudah sampai didepan pintu
lalu Safa mengetuk pintinya.
‘’
Assalamu’alaikum. ‘’
‘’Wa’alaikumsalam.
Silahkan masuk nak. ‘’
Safa pun masuk
dan duduk didepan Pak Adam
‘’ Ada apa Pak
kok manggil saya kesini? ‘’
‘’ Kita akan
adakan lomba setelah kamu ujian nanti. ‘’
‘’ Lomba apa ya
pak? ‘’
‘’ Lomba
musikalisasi puisi. Kamu kan sangat pandai membawakan sebuah puisi. Apalagi
puisi tentang rindu tadi. ‘’
‘’ kalau
musikalisasi puisi kan pakai musik pak? Saya nggak bisa main alat musik pak. ‘’
‘’ Tenang, saya
sudah pilih orang yang akan menggiringi kamu nanti. ‘’
‘’ Siapa Pak? ‘’
Tiba – tiba ada
suara ketukan dari luar ruangan. Masuklah laki – laki tersebut dan duduk di
kursi yang ada didekat Safa. Safa pun terkejut ternyata laki – laki itu yang ia
bantu saat pagi hari itu.
‘’ Wah kita
bertemu lagi. Padahal aku udah cari kamu kemana mana loh. ‘’ kata laki – laki
tersebut yang membuat Safa malu dan menundukkan wajahnya.
‘’ Ini orang
yang akan menggiringi kamu saat lomba itu. Dia sangat pandai memaikan gitar.
Nanti kamu diskusikan saja sama dia apa yang akan kalian kolaborasikan saat
lomba. Buatlah bangga sekolah ini. ‘’
‘’ Siap pak. ‘’
‘’ Baiklah
__ADS_1
kalian cepat pergi kekelas masing – masing. ‘’
‘’
Assalamu’alaikum Pak. ‘’ salam Safa
‘’
Wa’alaikumsalam. ‘’
Safa dan laki –
laki itupun keluar dari ruangan Pak Adam.
‘’ Hay Arafah,
kenalin namaku Yudha Anggito. Panggil saja Yudha. ‘’
Safa hanya
tersenyum dan segera pergi dari posisinya itu. Namun Yudha malah selalu mengikuti
arah langkah Safa. Dan Safa pun akhirnya jengkel dengan ulah Yudha.
‘’ Kamu kenapa
ngikutin aku sih! ‘’ bentak Safa jengkel
‘’ Aku pengen
tau kelasmu dimana. ‘’
‘’ Aku anak IPA
kelas 12A dan jangan iktin aku lagi. ‘’
‘’ Baiklah nanti
setelah pulang sekolah aku kesana. ‘’
‘’ Heeh! ‘’
teriak Safa yang ternyata Yudha sudah menghilang dari pandangannya saat itu.
‘’ Cepet banget
anak itu larinya. ‘’
Safa pun masuk
kelas dan mulai mengikuti pelajaran yang ada dikelasnya tersebut. waktu demi
waktu pun berlalu. Bel pulang sudah terdengar diseluruh warga sekolah. Safa pun
bergegas dengan cepat agar dirinya tak bertemu dengan anak itu lagi. Namun Safa
terlambat, ternyata Yudha sudah berada didepan pintu kelasnya.
‘’ Aduh gawat.
‘’
‘’ Kenapa Fa? ‘’
tanya Adel yang ada didekatnya
‘’ Del tolongin
usirin anak yang ada didepan pintu itu dong. Dia pasti lgi nyariin aku. ‘’
sambil menunjuk kearah Yudha
‘’ Oke oke siap.
‘’
Adel pun
berjalan menuju Yudha yang sedang menunggu keberadaan Safa didepan pintu.
‘’ Heh nyari
siapa? ‘’
‘’ Nyari Arafah.
Apa dia sudah pulang? ‘’
‘’ Arafah? Tapi
disini nggak ada yang namanya Arafah. Adanya Nisafa Arafah. ‘’
Safa pun yang
mendengar apa yang dikatakan Adel makin jengkel.
‘’ Aduh aku
tolol udah salah suruh orang. Ngapain si Adel malah memperjelas semuanya.
Bodohnya!! ‘’ gertak Safa dalam hati
‘’ Oh jadi nama
panjangnya itu Nisafa Arafah ya? Terus dimana dia sekarang? ‘’
‘’ Itu. ‘’
sambil menunjuk kearah Safa yang sedang ngumpet dibawah bangku.
Safa pun
akhirnya keluar dan bertemu dengan Yudha. Dengan wajah yang musam Safa menatap
mata Adel penuh dengan kejengkelan. Ingin rasanya Safa membunuh Adel yang sudah membantu membongkar
semuanya itu.
Safa pun pergi
tanpa berkata apapun. Adel hanya tertawa jahat melihat tingkah Safa yang
seperti itu. Safa yang terus dikejar – kejar oleh Yudha pun berhenti didepan
mushola. Ia masuk dan mengambil air wudhu. Yudha yang kebingungan dengan
tingkah Safa pun bertanya apa yang dilakukan Safa itu.
‘’ Kamu mau
sholat? ‘’
Tanpa berkata
apapun Safa melaksanakan sholat Dhuhur. Yudha hanya melihat Safa dan bergumam
pada hatinya
‘’ Subhanallah
memang idaman ini. ‘’
Setelah Safa
sholat, ia pun langsung memakai sepatunya dan bergegas pergi dari tempat
tersebut, namun Yudha masih saja membuntutinya sampai parkiran.
‘’ Mau bareng
ama aku? Aku bawa motor. ‘’
‘’ Mau kamu itu
apa sih! ‘’
‘’ Aku kan Cuma
mau nawarin bareng aja. ‘’
__ADS_1
‘’ Maaf aku bawa
sepeda. ‘’