
Safa
pun melanjutkan membacanya, namun Yudha yang ada didepannya hanya melihat ia
membaca. Safa merasa risih saat Yudha melakukan hal tersebut.
‘’
Kamu kenapa liatin kayak gitu ? ‘’
‘’
Kamu itu apaan sih ? ‘’
‘’
Ya manusia lah masa setan ? ‘’
‘’
Tapi kali ini setannya imut yak. ‘’
‘’
Hehe kamu kalau bilang lagi aku tampol pakai novel ini. ‘’ ancam Safa geregetan
‘’
Nggak papa tapi habis ini aku boleh dapat nomer kamu ya. ‘’
‘’
Bodoamat. Kalau kamu nggak bisa tenang mending kamu pergi aja deh. ‘’
Yudha
langsung mengambil Hp nya Safa dan memasukkan nomernya secara diam – diam, Safa
yang terfokus membaca pun tak melihat kejadian tersebut.
‘’
Ya udah aku pergi dulu. ‘’
Yudha
pun berdiri dan beranjak pergi dari tempat duduknya itu
‘’
Yudha, nanti kita latian ditaman seperti biasa. ‘’
Yudha
pun langsung menoleh dan hanya tersenyum membalas perkataan dari Safa. Safa
yang tak menghiraukan senyuman dari Yudha dan langsung melihat Hp nya.
Dilihatnya Hp tersebut ternyata sudah ada nomernya Yudha dan Safa pun teriak
nama Yudha. Yudha yang akan beranjak pergi pun langsung lari kegirangan setelah
mendapatkan apa yang ia mau tersebut. Safa yang jengkel melihat tingkah Yudha
pun langsung menghapus nomer Yudha dari Hp nya itu.
‘’
Ngapain nyimpenin nomer dia coba ? nggak penting amat sih. ‘’
Lalu
ada pesan masuk dari Usna yang mengirimkan nomer Yusuf. Safa pun kegirangan
melihatnya, nomer tersebut langsung Safa simpan di Hp nya.
‘’
Alhamdulillah, kalau jodoh mah nggak kemana kok. Hehe ‘’ katanya lirih sambil
senyum – senyum sendiri.
Hari
sudah mulai sore namun Yudha dan Adel pun belum datang juga di taman tersebut.
Safa yang dari tadi sendiri sambil menikmati pemandangan sekitar pun mulai
bosan. Dibukanya Hp nya dan ternyata Safa melihat siaran langsung dari akun
sosmednya Yusuf. Yusuf ternyata sedang mengajarkan mengaji Anis. Mereka
terlihat seperti sudah akrab sekali, ya karna memang dulu Anis adalah teman
Yudha SMP juga jadinya nggak heran kalau Yusuf bisa kenal Anis.
‘’
Hm, kalau liat mereka seperti ini rasanya kok sakit yak ? padahal nggak
berdarah. Tapi mereka cocok sih, Anis yang sudah mulai memakai hijab dia cantik
dan Yusuf yang ganteng. Rasanya aku harus mundur aja daripada harus kayak gini.
‘’
Tiba
– tiba ada yang mengagetkan dirinya dari belakang, ternyata dia adalah Yusuf.
Yusuf duduk didekat Safa yang sedang melihat siaran langsung dari akunnya
Yusuf.
‘’
Jangan diliatin mulu, nanti sakit loh. ‘’
__ADS_1
‘’
Apaan sih biarin aja. Apa urusannya sama kamu ? ‘’
‘’
Kalau kamu sakit nanti aku malah jadi perhatian dong. ‘’
‘’
Ya nggak usah perhatian aja. ‘’
‘’
Ya kan kasian kamu nggak ada yang ngucapin semoga sembuh. ‘’
‘’
Bodoamat. ‘’
‘’
Ya udah lalu gimana nih dengan latian kita ? kemarin aku sudah liat puisi yang
kamu kirim lewat Adel kan ? aku juga sudah buat untuk instrumen puisi tersebut.
‘’
Safa
dan Yudha pun berlatih di taman yang lumayan ramai oleh anak – anak kecil yang
sedang bermain bola. Setelah selesai berlatih Yudha yang melihat pertandingan
bola tersebut pun langsung mengajak Safa untuk ikut gabung. Namun Safa
menolaknya.
‘’
Ayo Fa ikut main bola. ‘’
‘’
Nggak ah, aku kan pakai rok. ‘’
‘’
Trus apa hubungannya ? kamu manjat pohon aja bisa kok. ‘’
Memang
benar Safa adalah orang yang diajarkan oleh Ayahnya untuk serba bisa, namun
karena saat itu ia malu dengan Yudha akhirnya Yudha pun yang terjun ke dalam
pertandingan tersebut dan tak mengajak Safa. Safa yang melihat tingkah aneh
Yudha yang menendang bola hanya bisa tertawa dan mengarahkan kemana bola
bermain bola. Saat Yudha memasukkan bola ke gawang sontak dia langsung berdiri
di depan Safa dan berteriak ‘’GOL!’’
Safa
yang melihatnya pun langsung tertawa seolah – olah kebahagiaan Yudha ada di
bola yang ia tendang tadi. Safa juga ikut bahagia melihat Yudha yang seakan –
akan tak pernah tertawa lepas seperti itu.
‘’
Sudah sore aku pulang dulu ya! ‘’ teriak Safa dari pinggir lapangan tersebut
‘’
Aku ikut. ‘’ jawab Yudha yang mengakhiri pertandingannya itu
‘’
Kamu mau aku antar pulang ? ‘’
‘’
Nggak usah aku bawa sepeda kok. ‘’
‘’
Ya udah kalau gitu hati – hati ya. Jangan sampai sepedanya lecet. Hehe ‘’
‘’
apaan sih. ‘’ kata Safa beranjak pergi dari tempat itu.
Safa
pun pulang ke rumah dan melihat Ayahnya sudah menunggunya dari luar rumah. Safa
bingung mengapa Ayahnya menatapnya tajam padahal ia tidak sedang pulang
terlambat lagi, bahkan hari itu masih sore, belum malam pun.
‘’
Asaalamu’alaikum. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. Dari mana aja kamu ? ‘’
‘’
Safa habis dari taman. ‘’
‘’
__ADS_1
Sama laki – laki ? ‘’
‘’
Iya Yah tapi Cuma teman. ‘’
‘’
Mana ada temen kok berduaan ditaman kayak gitu ? Ayah tadi liat kamu loh. ‘’
‘’
Maaf Yah Safa tadi latian sama Yudha. ‘’
‘’
Latian apa ? lomba musikalisasi puisi ? ‘’
‘’
Loh Ayah kok tau ? ‘’
‘’
Nggak penting Ayah tau dari mana. Kenapa kamu nggak jujur aja sama Ayah ? ‘’
‘’
Bukannya Safa nggak mau jujur, tapi Safa hanya ingin buktiin ke Ayah kalau Safa
bisa dapat juara saat lomba puisi itu. ‘’
‘’
Tapi Ayah melarang kamu buat lomba – lomba gituan kan. ‘’
‘’
Iya tapi kenapa Ayah larang aku ? padahal aku sudah nurutin apa kemauan semua
yang Ayah katakan. Tapi mengapa kemauan ku aku nggak boleh ngelakuin sendiri.
Lagipula lomba ini suruhan dari sekolah buat Safa ? ‘’
‘’
Ayah nggak suka kalau kamu lomba diluar akademik. Ayah hanya ingin mengajarkan
padamu kalau kamu itu harus mengisi waktumu dengan hal – hal yang berguna.
Seperti Hp kenapa Ayah nggak kasih kamu Hp ya karna Ayah nggak mau kalau kamu
bakal jadi remaja yang sibuk akan dunia maya nya daripada dunia nyatanya. Ayah
didik kamu seperti ini untuk masa depanmu sendiri. Kalau kamu nggak nurut sama
Ayah ngapain Ayah masih disini ? ‘’
Safa
yang meneteskan air mata pun langsung mengurungkan dirinya dalam kamar, Safa
mengunci kamarnya dan ia terus tersedu – sedu dengan apa yang dikatakan Ayahnya
tersebut. Safa sadar bahwa dirinya sekarang dalam keadaan yang sangat rapuh,
kini Ayah yang telah ia percayai malah menjadi sosok yang sangat asing baginya.
Safa mengira Ayahnya saat ini sangat egois sekali padanya.
‘’
Apa aku nggak boleh melakukan apa yang aku suka ? Apa pengorbananku selama ini
kurang banyak ? Aku yang ingin menjadi seorang pencipta puisi terkenal malah
disuruh jadi dokter ? sebenarnya aku takut dengan darah. Namun karna Ayah yang
menyuruhku untuk menjadi dokter, aku pun berusaha untuk tidak takut lagi.
Mengapa semua tak adil bagiku ? lalu tentang Yusuf ? kalau dia suka padaku
mengapa dia malah menjadikanku sosok yang hanya dipermainkan saja ? apa aku ini
batu yang nggak punya perasaan sama sekali. ‘’ Kata Safa yang hanya bisa
mengucapkannya pada boneka yang ada didekapnya itu.
Ibu
yang mengetuk kamar Safa pun bertanya mengapa semua bisa jadi seperti ini. Ibu
pun juga ikut menangis tersedu – sedu seperti Safa. Ayah yang hanya melihat
kejadian itupun langsung masuk ke kamar tanpa berkata apapun. Entah kini
perasaan semua orang seakan tak ingin terlalu memperdulikannya.
Safa
yang capek dengan isakannya pun tertidur pulas. Pagi – pagi Safa sudah menuju
ke sekolah, Safa ingin rasanya pergi menjauh dari rumah. Dengan tergesa – gesa
Safa mengayuh sepedanya, entah mengapa Safa sangat nekad dengan apa yang ia
putuskan itu.
Setelah
sampai di sekolah, Safa langsung menuju ke perpustakaan berharap tak ada orang
yang disana. Alhasil ternyata Adel sudah berada disana bersama dengan Yudha.
Safa yang menahan tangisnya pun pecah ketika melihat Adel dan langsung
memeluknya.
__ADS_1