
Keesokan
harinya Safa tidak menuju ke kelas namun ia menuju ke perpustakaan langsung.
Disana hanya terdapat beberapa murid dan seorang penjaga perpustakaan. Safa
mengembalikan buku novelnya yang ia pinjam kemarin dan langsung menyiapkan buku
matematika sebelum akhirnya Bu Titin datang dan mengajarinya matematika.
Tak
begitu lama kemudian Bu Titin datang dengan membawa banyak lembaran – lembaran
soal yang akan dikerjakan oleh Safa buat latiannya. Karna 3 hari lagi lomba
tersebut akan dilaksanakan. Safa terus belajar dan belajar hinggan hari sebelum
lomba pun telah datang
‘’
Fa besok siap – siap ya karna besok kamu sudah mulai lombanya. Ibu hanya bisa
berdoa semoga kamu mendapatkan hasil yang terbaik dan bisa membanggakan
sekolah. Ibu yakin dengan kemampuanmu ini kamu bisa jadi juara. ‘’
‘’
Aamiin Bu. Makasih Bu semoga seperti itu, saya akan berusaha semaksimal
mungkin. ‘’
‘’
Kalau begitu kamu pulang dan istirahat sebelum besok kamu akan tempur melawan
soal – soal. Jaga kesehatanmu juga ya Fa. ‘’
‘’
Iya Bu siap. Assalamu’alaikum. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. Hati – hati Fa pulangnya. ‘’
‘’
Iya Bu. ‘’ Safa pun berjalan pulang menuju ke rumah dengan mengayuh sepedanya
itu. Setelah sampai dirumah Safa melihat ibunya yang sedang memasak didapur.
‘’
Assalamu’alaikum. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam nduk. ‘’ teriak Ibu Safa dari dalam dapur
Safa
pun setelah menaruh tasnya dan mengganti bajunya langsung menuju dapur untuk
membantu ibunya itu.
‘’
Loh Ibu ada pesanan kah ? ‘’
‘’
Nggak kok nduk. Ibu masak buat kamu dan Ayahmu nanti. ‘’
‘’
Tapi ini nggak seperti biasanya Bu ? ‘’
‘’
Lihat ini tanggal berapa ? ‘’
‘’
Ini tanggal 23 Bu. Oh iya Safa baru ingat ini kan anniversary nya Ayah sama Ibu
kan ? cie – cie Ibuk ternyata ini hari spesial kan. Ehem – ehem. ‘’
‘’
Kamu itu jangan godain Ibu kayak gitu dong. Bantu Ibu gih. ‘’
Safa
dan Ibu pun memasak berbagai macam makanan yang ada. Hari ini adalah hari
spesialnya kedua orang tuanya itu setelah sekian lama menikah. Setelah semua makanan telah jadi, Safa pun
langsung menatanya di meja makan serapi dan sebagus mungkin. Safa teringat akan
kado yang telah ia siapkna sejak 3 bulan yang lalu dimana ia akan
menyerahkannya nanti kepada Ayah dan Ibunya itu.
Ayah
pun pulang dimana ia terkejut banyak makanan yang ada di meja makan. Ternyata
Ayah juga lupa akan hari tersebut.
‘’
Loh kok banyak makanan ? ‘’
‘’
Ayah ini kok nggak peka sih. Ini kan tanggal 23. ‘’
‘’
Ayah pun tersenyum dan langsung mengeluarkan bingkisan kecil yang ada
disakunya. Dibukanya kotak kecil itu dan ternyata cincin kecil yang sangat cantik
untuk Ibu. Ibu yang melihatnya pun tersipu malu, pipinya menjadi merah merona.
Safa yang melihat kemesraan kedua orang tuanya pun tersenyum bahagia.
‘’
Ehem cie – cie kalau gitu Ayah pakaikan cincinnya pada iBu dong biar Safa
abadikan moment ini. ‘’
‘’
Kamu itu godain Ibu mu saja, liat pipinya jadi merah itu loh. ‘’ Kata Ayah
__ADS_1
tertawa
Ayah
pun langsung memakaikan cincin ke jari Ibu, sedangkan Safa yang menahan tawanya
langsung menyiapkan Hp nya untuk mengabadikan moment tersebut. Ayah menyium
kening Ibu dan berkata ‘’ Jadilah makmum ku yang slalu bersamaku hingga aku tak
lagi bernyawa. ‘’
Ibu
hanya tersenyum manis dan mempersilahkan semuanya untuk makan bersama saat itu.
Karna itu hari spesialnya Ayah dan Ibu maka setiap moment nya Safa mengambil
foto. Safa mengambil sebuah bingkisan yang lumayan besar dari kamarnya.
Bingkisan itu berbentuk Persegi panjang yang besar.
‘’
Ini hadiah dari Safa buat Ayah sama Ibu. ‘’
Ibu
pun langsung membukanya dan ternyata isinya adalah foto mereka bertiga saat
pergi ke acara nikahannya saudaranya dulu.
‘’
Safa sudah siapin ini semua untuk Ayah dan Ibu. Safa minta fotonya pada Pak Poh
dan Safa cetak ukuran besar ini. Selama ini kita kan nggak punya foto buat
dipajang di dinding rumah. ‘’
Ayah
pun langsung memeluk Safa dan Ibu nya itu. Keluarga tersebut tampak bahagia dan
terkesan harmonis. Meski Safa kekurangan materi namun Safa bersyukur bisa
mendapatkan Sayang yang besar dari Ayah dan Ibunya itu.
Setelah
acara makan – makan itu selesai, Safa pun langsung menuju kamarnya dan membuka
foto – foto. Rasanya Safa tak ingin besar dulu agar bisa menjadi anak kecil
kesayangannya Ayah dan Ibu.
‘’
Andaikan aku bisa menghentikan waktu, agar aku bisa slalu bersama Ayah dan Ibu.
Ini adalah moment spesial yang aku abadikan. Kalau gitu aku taruh aja di sosmed
yang tadi udah diajarin Adel caranya. ‘’
Safa
pun sibuk dengan Hp yang dimainkannya itu. Safa meng upload foto tersebut di
instagram hingga Yusuf adalah orang pertama yang like foto Safa. Safa pun
terkejut dan langsung stalker instagramnya Yusuf. Ternyata Yusuf sering upload
video nya mengaji, rasanya tenang ketika ndengerin Yusuf baca Al Qur’an. Namun
langsung menaruh Hp nya dan tak berkata apa – apa langsung tidur.
Paginya
sekitar pukul 02.00 Safa bangun dan sholat tahajud. Setelah sholat, Safa
langsung membaca buku dan belajar soal – soal yang ada. Ini adalah hari dimana
Safa akan berperang denga soal – soal yang mungkin akan membuat kepalanya
pusing. Safa belajar hingga Adzan Shubuh pun berkumandang. Safa lalu mengambil
air wudhu dan melaksanakan sholat. Setelah itu Safa langsung mandi karena pagi
– pagi ia harus sudah sampai disekolahnya itu.
‘’
Loh Ayah kok udah rapi mau kemana Yah ? ‘’
‘’
Ayah mau antar kamu ke sekolah. ‘’
‘’
Nggak usah Yah, Safa bisa kok berangkat sendiri. Takut nanti pekerjaan Ayah
jadi terganggu karena nganterin Safa.
‘’
Nggak kok. Kan Cuma anterin kamu sampai sekolah aja. Lagipula Ayah searah kok
kerja nya sama arah sekolahmu itu. Ayuk jangan banyak bicara nanti kamu telat
loh. ‘’
Safa
pun langsung naik motor Ayah dan melaju menuju ke sekolah. Di sekolah ternyata
hanya ada beberapa siswa sudah ada disana.
‘’
Kalau gitu Ayah berangkat kerja dulu. Semangat ya nduk Ayah berdoa semoga kamu
mendapatkan hasil yang bisa membanggakan semua orang disekitarmu. Aamiin. ‘’
‘’
Aamiin Ayah juga hati – hati ya kerjanya. Semangat balik Yah. ‘’
Safa
pun mencium tangan Ayahnya dan meminta doa restu dari Ayahnya itu. Lalu Ayah
Safa pun pergi dan meninggalkan putri tercintanya berjuang lomba. Setelah
Ayahnya pergi, Safa langsung menuju ruangan Bu Titi, namun alhasil Bu Titin
belum ada diruangannya tersebut. Safa pun kembali sambil membaca buku – buku
dan mulai memahaminya sebentar sebelum akhirnya ia akan menghadapi soal – soal
__ADS_1
lomba.
‘’
Kak Safa! ‘’ teriak seseorang dari belakang Safa dan Safa pun langsung menoleh
ke belakang ternyata disana ada Usna yang memanggilnya.
‘’
Assalamu’alaikum kak. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam dek. ‘’
‘’
Kak aku kemarin disuruh Bu Titin buat anter kakak ke lomba karna Bu Titin nggak
bisa ke sekolah karna anaknya masih dirawat di puskesmas. Tapi nanti Bu Titin
tetep dampingin kakak kok. ‘’
‘’
Kok Bu Titin nggak bilang ya kemarin. ‘’
‘’
iya karna Bu Titin nggak tau nomer kakak, lagipula aku juga nggak tau nomer
kakak yang mana. Kakak nggakpernah hubungi aku. ‘’
‘’
Kakak sudah pernah hubungi kamu kok. Tapi yang angkat Yusuf. ‘’
‘’
Oh yang beberapa hari yang lalu saat Kak Yusuf beri salam malah dimatiin itu.
‘’
‘’
Hehe iya dek. Kakak kaget, kakak kira itu bukan nomermu makanya kakak matiin
deh. ‘’
‘’
Itu nomerku kok kaka. Kalau gitu ayo kita masuk ke dalam mobil. Kak Yusuf udah
ada disana. ‘’
‘’
Hah Yusuf juga ada ? ‘’
‘’
Iya kan yang jadi sopirnya kak Yusuf. ‘’
‘’
Dia udah punya SIM kan ? kakak takut kalau ditilang. ‘’
‘’
Iya udah lah kak. Kan umurnya kak Yusuf udah 19 tahun. ‘’
‘’
Oh iya ya dia kan umurnya lebih tua dari aku. ‘’
Safa
dan Usna pun langsung menuju ke dalam mobil, namun tiba – tiba ada seseorang
berteriak nama Safa dan berusaha mengejar mobil itu. Safa yang melihat orang
itu ternyata Adel.
‘’
Safa! ‘’ teriak Adel
Yusuf
pun langsung menghentikan mobilnya. Safa keluar dari mobil dan langsung menemui
Adel.
‘’
Ada apa Del ? ‘’
‘’
Fa aku juga ingin ikut boleh ya ? ‘’
‘’
Waah malah enak kalau ada kamu Del. Ayu ayuk. ‘’
Adel
pun langsung masuk kedalam mobil dimana tempat Safa yang tadi diduduki Adel,
dengan terpaksa Safa berada disamping Yusuf yang sedang menyetir mobil
‘’
Aduh mampus aku, gimana kalau aku salah tingkah lagi kan. ‘’ kata Safa dalam
hati
Adel
dan Usna pun menertawakan tingkah laku Safa yang mulai gerogi saat didekat
Yusuf.
‘’
Kak jangan salah tingkah gitu dong dideketnya kak Yusuf. ‘’
Yusuf
yang mendengar perkatan adeknya itu langsung tertawa kecil, sedangkan Safa kebingungan
dengan apa yang akan ia perbuat kalau tiba – tiba Yusuf tanya yang aneh – aneh
padanya. Saat perjalanan Adel yang sedang asik baca novelnya sedangkan Usna
yang hanya melirik kanan dan kiri mobil. Tiba – tiba pandangan Safa dan Yusuf
pun bersamaan, ternyata mereka berdua saling melirik malu. Safa langsung
__ADS_1
memalingkan wajahnya berlawanan dengan arah Yusuf dan tersipu malu. Ssafa
berusaha mengontrol tingkah lakunya yang aneh saat di dekat Yusuf itu.