
Safa pun pulang menuju rumah. Hatinya gelisah karena
mendapatkan kabar tentang Ayahnya itu. Setelah sampai rumah, Safa pun berteriak
memanggil nama ibunya. Ibu Safa pun keluar dan melihat anaknya yang sedah
tertatih – tatih berjalan menujunya. Safa pun langsung memeluk ibunya dan
menangis tersedu – sedu.
‘’ Ibu, Ayah sudah meninggalkan kita kan. ‘’
Ibu nya yang mendengarkan perkataan Safa langsung terharu
dan meneteskan air mata. Ibu semakin erat memeluk Safa dan berusaha menghapus
air mata yang mengalir dipipinya itu.
‘’ Kamu harus ikhlas nduk. Ayahmu disana sudah bahagia. ‘’
‘’ Safa sudah salah bu. Seharusnya Safa nggak usah nyuruh
Ayah anterin Safa. ‘’
‘’ kematian adalah takdir yang tak dapat ditentukan kapan
datangnya nduk. Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti ini. ‘’
‘’ Safa ingin liat makam Ayah Bu. ‘’
‘’ Iya nduk. ‘’
Ibu Safa dan Safa pun menuju ke makam Ayahnya yang diantar
oleh Yudha dan Adel. Setelah sampai di makam Ayahnya, Safa pun langsung memeluk
batu nisan Ayahnya itu. Safa terus menyalahkan dirinya yang seakan – akan semua
kejadian yang menimpa Ayahnya adalah ulahnyn Ayahnya itu. Safa terus
menyalahkan dirinya yang seakan – akan semua kejadian yang menimpa Ayahnya
adalah ulahnya.
‘’ Ayah kenapa kesana duluan ? apa Ayah nggak sayang sama
Safa ? Maafkan Safa yang udah sering ngebantah peribtah Ayah. Sekarang Safa
baru sadar kalau yang Ayah lakuin buat Safa itu semata – mata hanya untuk
kebaikan Safa. Namun kadang Safa egois dengan keinginan Safa. Kini semua telah
__ADS_1
terlambat. Safa nggak bisa minta maaf kepada Ayah. ‘’
‘’ Udah nduk jangan bicara kayak gitu. Kasian Ayahmu jika
dia mendengarnya. Doain Ayahmu disana tenang. Dan kamu harus jadi anak yang
sholehah agar ayahmu bangga disana. ‘’
Safa hanya memeluk Ibunya. Safa berusaha untuk berhenti
menangis, namun air matanya selalu menetes. Ia pun melihat ke awan, ternyata
kali ini air matanya tetap saja menetes. Ibu yang melihat kondisi anaknya itu
langsung mengajak Safa untuk pulang.
Setelah sampai di rumah Safa pun langsung masuk ke dalam
kamar sedangkan Ibu dan temannya berada di luar rumah.
‘’ Kalau gitu saya mau pamit pulang dulu tan. ‘’ Kata Yudha
‘’ Ibu sangan berterima kasih sama kamu, Ibu udah
menyusahkan kamu. Kalau Ibu ada uang nanti Ibu akan menyicilnya. ‘’
‘’ Jangan gitu Tan. Ini semua aku lakuin ikhlas kok. Kalau
‘’ Ya sudah kalau begitu sekali lagi saya berterima kasih
ya. ‘’
‘’ Iya sama – sama Tan. ‘’
‘’ Kamu juga pulang Del ? ‘’
‘’ Iya Tan kapan – kapan saya akan kesini lagi menjenguk
Safa. ‘’
‘’ Ya sudah kalau begitu kalian hati – hati ya. ‘’
‘’ Iya Tan. Assalamu’alaikum. ‘’
‘’ Wa’alaikumsalam. ‘’
Adel dan Yudha pun pulang. Sedangkan Adel yang masih
terpukul dengan kejadian ini berusaha untuk menenangkan hati dan menyendiri
dikamarnya itu. Kadang dihati Safa rasanya seakan tak percaya dengan semua ini.
__ADS_1
Ingin dia memutar waktu dan mencegah apa yang sudah terjadi. Namu apalah dia
hanya manusia lemah dan hanya pasrah kepada Sang Pemilik Dunia ini yaitu Allah.
‘’ Entah seperti apa takdir yang Engkau berikan ini. Aku yakin semua ini pasti yang terbaik
bagiku, hanya saja aku belum mengetahui seluruhnya. Sabarkanlah aku Ya Allah
agar aku tetap berada di jalan-Mu itu. Aamiin. ‘’
Safa yang melihat buku puisinya yang tergeletak diatas meja
belajar pun langsung mengambilnya dan sebuah bolpoin. Ditulisnya perasaannya
saat ini juga.
‘’ Jeritan Rumput ‘’
Tak ku sangka
Hijauku tiada guna
Tak ku kira
Tubuhku mulai tersisa
Menginjak dan terinjak
Memanas dan terpanas
Namun apa kau tau ?
Jeritan rumputpun tiada guna
Karna engkau berada disana!
Jeritan rumputku berkata
Tiada hati yang rela
Bila tiada dirinya
Jeritan rumputku bersuara
Seperti halnya yang dirasa
Setelah Safa menuangkan perasaannya dalam tulisan ia pun
sedikit lega dengan semuanya. Safa hanya ingin bila dirinya harus menjadi orang
yang kuat dan harus menjadi apa yang Ayahnya inginkan tersebut.
__ADS_1