
Setelah Safa
sholat, ia pun langsung memakai sepatunya dan bergegas pergi dari tempat
tersebut, namun Yudha masih saja membuntutinya sampai parkiran.
‘’ Mau bareng
ama aku? Aku bawa motor. ‘’
‘’ Mau kamu itu
apa sih! ‘’
‘’ Aku kan Cuma
mau nawarin bareng aja. ‘’
‘’ Maaf aku bawa
sepeda. ‘’
‘’ Terus
latiannya kapan? ‘’
‘’ Gini aku
punya persyaratan. Untuk hari – hari ini aku hanya bisa latian sehabis pulang sekolah
paling 1 jam. Terus saat aku nanti ujian kita break dulu. Tapi setelah ujian
kita mulai serius latian, mungkin bisa diluar sekolah. Jadi untuk itu jangan
ganggu aku dulu. Aku mau fokus ujian. Paham? Assalamu’alaikum. ‘’
Safa pun pergi
dengan mengayuh sepedanya itu. Entah mengapa sifat Safa jadi sedikit judes
dengan Yudha, padahal Yudha bersikap seolah – olah ingin berteman dengannya.
Memang Safa sedikit risih ketika ada cowok yang ada didekatnya rasanya tidak
enak jika Yudha bersikap seperti itu padanya. Itu sangat berlebihan sekali
baginya.
Setelah sampai
rumah, diketuknya daun pintu tersebut, Safa memberi salam dan segera masuk
kedalam rumah. Ternyata dirumah tak ada seorang pun yang ada. Safa pun langsung
menuju kamar dan segera mengganti bajunya itu. Safa lalu membuka tudung makan
yang ada diatas meja. Lalu Safa pun makan dengan lahabnya seolah – olah dirinya
sedang puasa selama beberapa hari lamanya.
‘’ Kenapa ya aku
seolah – olah benci sama si Yudha itu? Padahal dia pun juga baik sama aku. Tapi
rasanya aneh ketika ada cowok yang dekat dengan ku saat ini. Dia juga lumayan
keren kok, tapi kenapa sikapnya kayak gitu sama aku coba. ‘’
Tiba – tiba ada
suara ketukan dari luar rumah. Suara itu terus – terus memanggil nama Safa. Dan
tak asing rasanya ketika Safa mendengar suara yang memanggilnya itu. Safa pun
langsung membuka pintu tersebut, dan ternyata dia adalah Adel yang membawa
bingkisan untuk Safa.
‘’ Salam dulu
kalau mau kerumah orang. ‘’
‘’ Hehe.
Assalamu’alaikum. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. Ada apa? ‘’
‘’ Ini untuk
kamu dari mamaku. ‘’
‘’
Ini apa? ‘’
‘’ Ini roti.
Tadi mamabuatnya banyak makanya
diberikan aja buat kamu. ‘’
‘’ Syukron. ‘’
Safa dan Adel
pun duduk di kursi depan rumah. Safa membawakan minuman yang ada didalam
kulkasnya.
‘’ Adanya Cuma air
dingin. ‘’
‘’ Lah nggak
masalah. Lagipula aku kesini juga mau omong sama kamu. ‘’
‘’ Ngomong
apaan? ‘’
‘’ Ini
hubungannya tentang anak tadi. Namanya Yudha Anggito, dari kelas 11 IPA B. Dia
anak konglomerat. Bapaknya pemilik hotel bintang lima yang ada di kota ini, dan
banyak lagi perusahaan yang lainnya. Dia pindah sekolah dikarenakan disuruh
ngurus perusahaan yang ada dikota ini. Selain ganteng dia juga jago main musik.
Dirumahnya ada tempat musik yang berbagai macam alat musik. Dan lagi dia masih
jomblo. ‘’
‘’ Sepertinya
kamu tau semua tentang dirinya. ‘’
‘’ Sekarang itu
jamannya udah canggih Fa. Kamu aja yang kudet nggak punya hp. Memangnya kamu
nggak mau minta ke Ayahmu Hp? Biar bisa stalking orang – orang. ‘’
‘’ Itu nggak
penting bagiku saat ini. Yang terpenting adalah gimana caranya aku dapet
beasiswa buat kuliahku nanti. ‘’
‘’ Kamu itu aneh
Fa. Masa jaman sekarang ada orang yang modelannya kayak kamu sih. ‘’
‘’ Ada kok. ‘’
‘’ Iya kamu
sendiri. ‘’
‘’ Sebaiknya aku
jangan deket – deket ama dia ya. ‘’
‘’ Loh memangnya
kenapa? Bukannya itu malah bagus ya? Kamu bisa pacaran sama anak orang kaya. ‘’
‘’ Aku merasa
__ADS_1
kalau aku deket ama dia malah nanti ada masalah yang lebih besar lagi. Lagipula
aku nggak sederajat ama dia Del. ‘’
‘’ Iya juga sih.
Tapi kalau dia sukanya ama kamu gimana? Lagipula cowok yang kamu suka itu juga
belum pasti kan suka sama kamu, kamu terus digantungin aja. ‘’
‘’ Itu namanya
bukan digantungin Del. Kita saling menyimpan rasanya masing – masing agar kelak
ketika waktu itu sudah tepat bisa kita ungkapin semuanya. ‘’
‘’ Lalu kapan
waktunya? ‘’
‘’ Itu aku juga
tidak tau. Biarkan seperti ini saja. Lagipula kita kan sebentar lagi mau ujian.
Fokus aja disitu biar kita lulus bareng – bareng. ‘’
‘’ Aamiin Ya
Rab. ‘’
Ibu Safa pun
pulang dan melihat adanya kehadiran Adel disitu.
‘’
Assalamu’alaikum. ‘’ kata Ibu Safa
‘’
Wa’alaikumsalam ‘’
‘’ Loh Adel ada
disini. ‘’
‘’ Iya Buk tadi
Adel bawa roti dari mamanya. ‘’
‘’ Loh masa?
Makasih ya Del. Kalau gitu Ibu kedalam dulu. ‘’
‘’ Iya tan sama
– sama. ‘’
Ibu Safa pun
masuk kedalam rumah. Tidak lama kemudian Adel pamit untuk pulang karena sudah
sore. Saat Adel pulang, Safa membantu Ibunya bersih – bersih rumah. Setelah
bersih – bersih rumah, Safa menuju kekamarnya lalu mengerjakan tugas yang
diberikan disekolah tadi. Safa lalu teringat akan perkataan Adel tentang Yudha
tadi sore.
‘’ Ternyata
benar dugaanku dia anak orang kaya. Nggak mungkin juga aku bakal suka ama dia,
lagipula dia juga adik kelas. Nggak mungkin aku bakal suka brondong. Hehe. ‘’
Adzan Maghrib
pun sudah terdengar ditelinga Safa. Safapun langsung mengambil air wudhu dan
melaksanakan sholatnya. Safa berdoa semoga ujiannya dilancarkan oleh Allah SWT.
Setelah itu Safa membaca A l Qur’an dan terus berdzikir untuk menunggu waktu
Isya’ sekalian. Setelah sholat Isya’ Safa membuka buku puisinya. Dilihatnya
puisi yang cocok buat lomba tersebut, Namun Safa malah merasa bingung ketika
membuka puisi tersebut.
nih. Aku bingung mau pilih yang mana. Apa aku buat puisi sendiri aja ya. ‘’
Tiba – tiba
terdengar suara ketuka dari luar kamar Safa. Lalu Safa membuka pintu tersebut,
ternyata Ayah yang sedang berdiri didepn pintu itu.
‘’ Loh ada apa
Yah? ‘’
‘’ Ayo ikut Ayah
ke Pondok Pesantren yang ada dikampung sebelah itu. ‘’
‘’ Memangnya
Ayah mau ngapain disana? ‘’
‘’ Ayah ingin
sowan ke pondok pesantren itu. Ayo kamu temenin Ayah. ‘’
‘’ Baik Yah,
tapi Safa ganti baju dulu ya. ‘’
Safa pun segera
ganti baju dan kedepan rumah. Ternyata Ayah sudah menunggu Safa didepan rumah
dengan menaiki motor. Safa pun segera naik motor dan digonceng sama Ayah menuju
pondok pesantren yang akan ditujunya tersebut. Tak lama kemudian sampailah mereka di pondok pesantren itu. Disana
banyak santri yang sedang mengaji, sungguh suasana pondok tersebut menyejukkan
hati. Berhentilah Ayah didepan Rumah pemilik pondok pesantren tersebut.
‘’Assalamu’alaikum.
‘’ teriak Ayah dari luar rumah itu
‘’
Wa’alaikumsalam. ‘’ keluarlah pria yang sepadan dengan Ayah dengan pakaian
jubah putih yang dikenakannya.
‘’Pak Ustad. ‘’
Kata Ayah sambil memeluk orang itu
‘’ Ahlan
Wasahlan. Monggo – monggo masuk kedalam dulu. ‘’
Kami pun masuk
kedalam rumah yang cukup sederhana namun terkesan akan banyaknya ukiran arab
dari dalam rumah.
‘’ Bagaimana
kabarmu? ‘’ tanya orang itu pada Ayah
‘’ Alhamdulillah
baik pak ustad. ‘’
‘’ Tumben
kesini. Ada apakah gerangan yang membuat anda kesini? ‘’
‘’ Nggak pak
ustad. Saya hanya ingin sowan kesini sebentar. Rasanya saya rindu dengan
suasana seperti ini. ‘’
‘’ Iya semenjak
__ADS_1
Abi meninggal, anda sangat jarang sekali kemari. Padahal jarak dari rumah anda
juga tidak terlalu jauh. Ya mungkin anda
sibuk dengan pekerjaan anda kan. ‘’
‘’ Iya pak
Ustad. Makanya ketika saya rindu saya sempetin waktu untuk datang kemari. ‘’
‘’ Loh ini
anakmu? ‘’
‘’ Iya ini anak
saya namanya Nisafa Arafah. ‘’
‘’ Sepertinya
dia seumuran dengan anak saya ya. ‘’
‘’ Iya pak. ‘’
‘’ Gimana kalau
kita liat – liat pondok pesanren ini. Anda pasti sangat rindu. ‘’
Lalu mereka pun
berjalan – jalan disekitar wilayah pondok pesantren tersebut. Safa mendengar
ada yang membaca Al Qur’an dengan suara yang sangat indah sekali.
‘’ Siapa ya Yah
yang baca. Subhanallah suaranya indah. ‘’
‘’ Itu anak laki
– laki saya. Monggo kalau kamu ingin liat – liat disana. ‘’
Safa pun pergi
untuk melihat siapa yang sedang dimaksud pak Ustad tersebut. Safa melihat dari
luar pintu dan meliriknya secara perlahan. Tak disangka ternyata anak dari Pak
Ustad tadi adalah Yusuf teman SMP Safa.
‘’ Subhanallah.
Aduh ini kenapa jantung rasanya pengen copot coba. ‘’
Tiba – tiba
Yusuf tau siapa yang sedang mengintipnya saat baca A l Qur’an. Yusuf pun
menghampiri Safa, namun Safa tak tau akan kehadiran Yusuf yang sudah ada
didekatnya tersebut.
‘’
Assalamu’alaikum. ‘’ Salam Yusuf
‘’
Wa’alaikumsalam. ‘’ sontak Safa langsung salah tingkah ketika Yusuf sudah ada
di dekatnya itu.
‘’ Loh kok bisa
ada disini? ‘’
‘’ Iya tadi Ayah
katanya mau sowan di pondok pesantren ini. ‘’
‘’ Oh ternyata
Ayahmu dulu pernah belajar di pondok pesantren ini. ‘’
‘’ Iya
begitulah. Kamu juga anak pemilik pondok pesantren ini kan. ‘’
‘’ Iya kok kamu
tau? ‘’
‘’ Iya tadi
Abimu yang beri tau aku. Suaramu baca Al Qur’an bagus. ‘’
‘’ Alhamdulillah
ini juga masih belajar kok. ‘’
‘’ Hmm, Kalau
gitu aku pergi dulu ya. Takut nanti Ayah nyariin aku. ‘’ Safa pun beranjak
pergi dari tempat itu.
‘’ Safa, Ihzar.
‘’ teriak Yusuf
‘’ Syukron. ‘’
jawab Safa dari kejauhan
Safa pun kembali
kerumah yang tadi pertama kali dia datangi bersama Ayahnya itu. Safa dari tadi
slalu kepikiran tentang pertemuannya tadi dengan Yusuf. Ingin rasanya teriak bahagia
hingga dunia tau betapa bahagianya dia saat bertemu dengan Yusuf tadi. Namun
tak mungkin juga, banyak orang disana. Malah nanti Safa dikira orang sakit jiwa
yang baru keluar dari rumah sakit.
Safa dan Ayahnya
pun pulang kerumah setelah lama sowan ke pondok pesantren tersebut. Safa dari
tadi terliha sedang senyum – senyum sendiri, namun Ayah tak begitu
memperhatikan tingkah laku anaknya itu. Setelah sampai dirumah, Safa segera
pergi kekamarnya itu. Dibukanya buku puisi dan dia mulai membuat puisi tentang
hatinya itu.
‘’ Senja Di Ujung Lentera ‘’
Sinarnya mulai redup
Adanya kehadiran rembulan
Cahayanya di ufuk barat
Tanda datangnya kegelapan
Angin yang mengalun dingin
Dan awan yang tak nampak
Senja yang terakhir
Diujung lentera yang bersinar
Disana aku berkata
Adakah hati yang diinginkan?
Adakah nama cinta yang terkurung?
Atau bahkan adakah rindu yang
membelenggu?
Kuukir tangis di ujung senjaku
Menunggu datangnya surya
Ditemani Sang Lentera
Namun lalu aku berfikir
__ADS_1
Adakah namaku dihatinya?