Pelangi Diujung Senja

Pelangi Diujung Senja
Perihal Senja 4


__ADS_3

Setelah Safa


sholat, ia pun langsung memakai sepatunya dan bergegas pergi dari tempat


tersebut, namun Yudha masih saja membuntutinya sampai parkiran.


‘’ Mau bareng


ama aku? Aku bawa motor. ‘’


‘’ Mau kamu itu


apa sih! ‘’


‘’ Aku kan Cuma


mau nawarin bareng aja. ‘’


‘’ Maaf aku bawa


sepeda. ‘’


‘’ Terus


latiannya kapan? ‘’


‘’ Gini aku


punya persyaratan. Untuk hari – hari ini aku hanya bisa latian sehabis pulang sekolah


paling 1 jam. Terus saat aku nanti ujian kita break dulu. Tapi setelah ujian


kita mulai serius latian, mungkin bisa diluar sekolah. Jadi untuk itu jangan


ganggu aku dulu. Aku mau fokus ujian. Paham? Assalamu’alaikum. ‘’


Safa pun pergi


dengan mengayuh sepedanya itu. Entah mengapa sifat Safa jadi sedikit judes


dengan Yudha, padahal Yudha bersikap seolah – olah ingin berteman dengannya.


Memang Safa sedikit risih ketika ada cowok yang ada didekatnya rasanya tidak


enak jika Yudha bersikap seperti itu padanya. Itu sangat berlebihan sekali


baginya.


Setelah sampai


rumah, diketuknya daun pintu tersebut, Safa memberi salam dan segera masuk


kedalam rumah. Ternyata dirumah tak ada seorang pun yang ada. Safa pun langsung


menuju kamar dan segera mengganti bajunya itu. Safa lalu membuka tudung makan


yang ada diatas meja. Lalu Safa pun makan dengan lahabnya seolah – olah dirinya


sedang puasa selama beberapa hari lamanya.


‘’ Kenapa ya aku


seolah – olah benci sama si Yudha itu? Padahal dia pun juga baik sama aku. Tapi


rasanya aneh ketika ada cowok yang dekat dengan ku saat ini. Dia juga lumayan


keren kok, tapi kenapa sikapnya kayak gitu sama aku coba. ‘’


Tiba – tiba ada


suara ketukan dari luar rumah. Suara itu terus – terus memanggil nama Safa. Dan


tak asing rasanya ketika Safa mendengar suara yang memanggilnya itu. Safa pun


langsung membuka pintu tersebut, dan ternyata dia adalah Adel yang membawa


bingkisan untuk Safa.


‘’ Salam dulu


kalau mau kerumah orang. ‘’


‘’ Hehe.


Assalamu’alaikum. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. Ada apa? ‘’


‘’ Ini untuk


kamu dari mamaku. ‘’


‘’


Ini apa? ‘’


‘’ Ini roti.


Tadi mamabuatnya banyak makanya


diberikan aja buat kamu. ‘’


‘’ Syukron. ‘’


Safa dan Adel


pun duduk di kursi depan rumah. Safa membawakan minuman yang ada didalam


kulkasnya.


‘’ Adanya Cuma air


dingin. ‘’


‘’ Lah nggak


masalah. Lagipula aku kesini juga mau omong sama kamu. ‘’


‘’ Ngomong


apaan? ‘’


‘’ Ini


hubungannya tentang anak tadi. Namanya Yudha Anggito, dari kelas 11 IPA B. Dia


anak konglomerat. Bapaknya pemilik hotel bintang lima yang ada di kota ini, dan


banyak lagi perusahaan yang lainnya. Dia pindah sekolah dikarenakan disuruh


ngurus perusahaan yang ada dikota ini. Selain ganteng dia juga jago main musik.


Dirumahnya ada tempat musik yang berbagai macam alat musik. Dan lagi dia masih


jomblo. ‘’


‘’ Sepertinya


kamu tau semua tentang dirinya. ‘’


‘’ Sekarang itu


jamannya udah canggih Fa. Kamu aja yang kudet nggak punya hp. Memangnya kamu


nggak mau minta ke Ayahmu Hp? Biar bisa stalking orang – orang. ‘’


‘’ Itu nggak


penting bagiku saat ini. Yang terpenting adalah gimana caranya aku dapet


beasiswa buat kuliahku nanti. ‘’


‘’ Kamu itu aneh


Fa. Masa jaman sekarang ada orang yang modelannya kayak kamu sih. ‘’


‘’ Ada kok. ‘’


‘’ Iya kamu


sendiri. ‘’


‘’ Sebaiknya aku


jangan deket – deket ama dia ya. ‘’


‘’ Loh memangnya


kenapa? Bukannya itu malah bagus ya? Kamu bisa pacaran sama anak orang kaya. ‘’


‘’ Aku merasa

__ADS_1


kalau aku deket ama dia malah nanti ada masalah yang lebih besar lagi. Lagipula


aku nggak sederajat ama dia Del. ‘’


‘’ Iya juga sih.


Tapi kalau dia sukanya ama kamu gimana? Lagipula cowok yang kamu suka itu juga


belum pasti kan suka sama kamu, kamu terus digantungin aja. ‘’


‘’ Itu namanya


bukan digantungin Del. Kita saling menyimpan rasanya masing – masing agar kelak


ketika waktu itu sudah tepat bisa kita ungkapin semuanya. ‘’


‘’ Lalu kapan


waktunya? ‘’


‘’ Itu aku juga


tidak tau. Biarkan seperti ini saja. Lagipula kita kan sebentar lagi mau ujian.


Fokus aja disitu biar kita lulus bareng – bareng. ‘’


‘’ Aamiin Ya


Rab. ‘’


Ibu Safa pun


pulang dan melihat adanya kehadiran Adel disitu.


‘’


Assalamu’alaikum. ‘’ kata Ibu Safa


‘’


Wa’alaikumsalam ‘’


‘’ Loh Adel ada


disini. ‘’


‘’ Iya Buk tadi


Adel bawa roti dari mamanya. ‘’


‘’ Loh masa?


Makasih ya Del. Kalau gitu Ibu kedalam dulu. ‘’


‘’ Iya tan sama


– sama. ‘’


Ibu Safa pun


masuk kedalam rumah. Tidak lama kemudian Adel pamit untuk pulang karena sudah


sore. Saat Adel pulang, Safa membantu Ibunya bersih – bersih rumah. Setelah


bersih – bersih rumah, Safa menuju kekamarnya lalu mengerjakan tugas yang


diberikan disekolah tadi. Safa lalu teringat akan perkataan Adel tentang Yudha


tadi sore.


‘’ Ternyata


benar dugaanku dia anak orang kaya. Nggak mungkin juga aku bakal suka ama dia,


lagipula dia juga adik kelas. Nggak mungkin aku bakal suka brondong. Hehe. ‘’


Adzan Maghrib


pun sudah terdengar ditelinga Safa. Safapun langsung mengambil air wudhu dan


melaksanakan sholatnya. Safa berdoa semoga ujiannya dilancarkan oleh Allah SWT.


Setelah itu Safa membaca A l Qur’an dan terus berdzikir untuk menunggu waktu


Isya’ sekalian. Setelah sholat Isya’ Safa membuka buku puisinya. Dilihatnya


puisi yang cocok buat lomba tersebut, Namun Safa malah merasa bingung ketika


membuka puisi tersebut.


nih. Aku bingung mau pilih yang mana. Apa aku buat puisi sendiri aja ya. ‘’


Tiba – tiba


terdengar suara ketuka dari luar kamar Safa. Lalu Safa membuka pintu tersebut,


ternyata Ayah yang sedang berdiri didepn pintu itu.


‘’ Loh ada apa


Yah? ‘’


‘’ Ayo ikut Ayah


ke Pondok Pesantren yang ada dikampung sebelah itu. ‘’


‘’ Memangnya


Ayah mau ngapain disana? ‘’


‘’ Ayah ingin


sowan ke pondok pesantren itu. Ayo kamu temenin Ayah. ‘’


‘’ Baik Yah,


tapi Safa ganti baju dulu ya. ‘’


Safa pun segera


ganti baju dan kedepan rumah. Ternyata Ayah sudah menunggu Safa didepan rumah


dengan menaiki motor. Safa pun segera naik motor dan digonceng sama Ayah menuju


pondok pesantren yang akan ditujunya tersebut.  Tak lama kemudian sampailah mereka di pondok pesantren itu. Disana


banyak santri yang sedang mengaji, sungguh suasana pondok tersebut menyejukkan


hati. Berhentilah Ayah didepan Rumah pemilik pondok pesantren tersebut.


‘’Assalamu’alaikum.


‘’ teriak Ayah dari luar rumah itu


‘’


Wa’alaikumsalam. ‘’ keluarlah pria yang sepadan dengan Ayah dengan pakaian


jubah putih yang dikenakannya.


‘’Pak Ustad. ‘’


Kata Ayah sambil memeluk orang itu


‘’ Ahlan


Wasahlan. Monggo – monggo masuk kedalam dulu. ‘’


Kami pun masuk


kedalam rumah yang cukup sederhana namun terkesan akan banyaknya ukiran arab


dari dalam rumah.


‘’ Bagaimana


kabarmu? ‘’ tanya orang itu pada Ayah


‘’ Alhamdulillah


baik pak ustad. ‘’


‘’ Tumben


kesini. Ada apakah gerangan yang membuat anda kesini? ‘’


‘’ Nggak pak


ustad. Saya hanya ingin sowan kesini sebentar. Rasanya saya rindu dengan


suasana seperti ini. ‘’


‘’ Iya semenjak

__ADS_1


Abi meninggal, anda sangat jarang sekali kemari. Padahal jarak dari rumah anda


juga tidak terlalu jauh.  Ya mungkin anda


sibuk dengan pekerjaan anda kan. ‘’


‘’ Iya pak


Ustad. Makanya ketika saya rindu saya sempetin waktu untuk datang kemari. ‘’


‘’ Loh ini


anakmu? ‘’


‘’ Iya ini anak


saya namanya Nisafa Arafah. ‘’


‘’ Sepertinya


dia seumuran dengan anak saya ya. ‘’


‘’ Iya pak. ‘’


‘’ Gimana kalau


kita liat – liat pondok pesanren ini. Anda pasti sangat rindu. ‘’


Lalu mereka pun


berjalan – jalan disekitar wilayah pondok pesantren tersebut. Safa mendengar


ada yang membaca Al Qur’an dengan suara yang sangat indah sekali.


‘’ Siapa ya Yah


yang baca. Subhanallah suaranya indah. ‘’


‘’ Itu anak laki


– laki saya. Monggo kalau kamu ingin liat – liat disana. ‘’


Safa pun pergi


untuk melihat siapa yang sedang dimaksud pak Ustad tersebut. Safa melihat dari


luar pintu dan meliriknya secara perlahan. Tak disangka ternyata anak dari Pak


Ustad tadi adalah Yusuf teman SMP Safa.


‘’ Subhanallah.


Aduh ini kenapa jantung rasanya pengen copot coba. ‘’


Tiba – tiba


Yusuf tau siapa yang sedang mengintipnya saat baca A l Qur’an. Yusuf pun


menghampiri Safa, namun Safa tak tau akan kehadiran Yusuf yang sudah ada


didekatnya tersebut.


‘’


Assalamu’alaikum. ‘’ Salam Yusuf


‘’


Wa’alaikumsalam. ‘’ sontak Safa langsung salah tingkah ketika Yusuf sudah ada


di dekatnya itu.


‘’ Loh kok bisa


ada disini? ‘’


‘’ Iya tadi Ayah


katanya mau sowan di pondok pesantren ini. ‘’


‘’ Oh ternyata


Ayahmu dulu pernah belajar di pondok pesantren ini. ‘’


‘’ Iya


begitulah. Kamu juga anak pemilik pondok pesantren ini kan. ‘’


‘’ Iya kok kamu


tau? ‘’


‘’ Iya tadi


Abimu yang beri tau aku. Suaramu baca Al Qur’an bagus. ‘’


‘’ Alhamdulillah


ini juga masih belajar kok. ‘’


‘’ Hmm, Kalau


gitu aku pergi dulu ya. Takut nanti Ayah nyariin aku. ‘’ Safa pun beranjak


pergi dari tempat itu.


‘’ Safa, Ihzar.


‘’ teriak Yusuf


‘’ Syukron. ‘’


jawab Safa dari kejauhan


Safa pun kembali


kerumah yang tadi pertama kali dia datangi bersama Ayahnya itu. Safa dari tadi


slalu kepikiran tentang pertemuannya tadi dengan Yusuf. Ingin rasanya teriak bahagia


hingga dunia tau betapa bahagianya dia saat bertemu dengan Yusuf tadi. Namun


tak mungkin juga, banyak orang disana. Malah nanti Safa dikira orang sakit jiwa


yang baru keluar dari rumah sakit.


Safa dan Ayahnya


pun pulang kerumah setelah lama sowan ke pondok pesantren tersebut. Safa dari


tadi terliha sedang senyum – senyum sendiri, namun Ayah tak begitu


memperhatikan tingkah laku anaknya itu. Setelah sampai dirumah, Safa segera


pergi kekamarnya itu. Dibukanya buku puisi dan dia mulai membuat puisi tentang


hatinya itu.


‘’ Senja Di Ujung Lentera ‘’


Sinarnya mulai redup


Adanya kehadiran rembulan


Cahayanya di ufuk barat


Tanda datangnya kegelapan


Angin yang mengalun dingin


Dan awan yang tak nampak


Senja yang terakhir


Diujung lentera yang bersinar


Disana aku berkata


Adakah hati yang diinginkan?


Adakah nama cinta yang terkurung?


Atau bahkan adakah rindu yang


membelenggu?


Kuukir tangis di ujung senjaku


Menunggu datangnya surya


Ditemani Sang Lentera


Namun lalu aku berfikir

__ADS_1


Adakah namaku dihatinya?


__ADS_2