
‘’ Kemegahan apapun didunia takkan mampu mengalahkan
kebersamaan luar biasa ini. Atau bahkan dunia berusaha memecahkannya, aku akan
tetap berusaha menjadi benteng dimana aku yang akan dihancurkan terlebih dahulu
demi sosok yang aku jaga yaitu Ayah dan Ibu. ‘’
Dalam
curhatannya tersebut ia mulai tersadar akan undangan yang ia terima tadi pagi
dari Anis. Otaknya mulai hancur ketika memikirkan hal tersebut. Rasanya sangat
sulit mengatakan hal ini pada Ayah. Hanya saja Safa mudah sekali kecewa jika
Ayahnya tidak menyetujui hal tersebut. Karna memang Ayahnya Safa juga tidak
begitu peduli dengan hal yang tidak penting bagi Safa. Ia hanya peduli dengan
pendidikan anaknya tersebut, hingga akhirnya Safa menjadi sosok yang sangat
cerdas disekolahnya.
‘’ Aku harus
berani bilang ke Ayah. Kalau Ayah setuju ya Alhamdulillah. Kalau nggak setuju
jangan kecewa mungkin Ayah punya alasan lain untuk menolaknya. ‘’
Jantung Safa
ingin rasanya copot ketika Safa melihat Ayah sedang membaca korang dan meminum
kopi buatan dari Ibu. Safa mulai mendekati Ayahnya dan memberanikan diri untuk
bisa meminta izin kepada Ayahnya itu.
‘’ Ada apa nduk?
Tumben deket – deket Ayah. ‘’
‘’ Yah kalau
Safa minta izin buat hadir di ulang tahunnya Anis boleh atau tidak? ‘’
‘’ Iya hadir
saja. ‘’
‘’ Masalahnya
acaranya itu malam. ‘’
‘’ Kamu udah tau
gimana jawaban Ayah kalau kamu keluar malam kan. ‘’
‘’ Iya Yah. Tapi
gimana kalau Ayah aja yang antar nanti Safa disana Cuma sebentar buat ucapin
selamat dan ngasih kadonya. ‘’
‘’ Dikasih
disekolah kan bisa. ‘’
‘’ Baik Yah. ‘’
Safa pun pergi
ke kamarnya kembali. Sebenarnya Safa sudah mengerti apa yang akan dikatakan
Ayahnya tersebut. Namun ia berusaha mencoba membujuk Ayahnya, namun Safa pun
tak kunjung berhasil. Bahkan kini rasanya undangan itu sama sekali tak ada
gunanya dimatanya. Rasa kecewa dan sedihpun melanda Safa saat itu. Namun mau
giaman lagi, ketika Ayah Safa berkata tidak itu artinya juga tidak.
Keesokan harinya
seperti biasa Safa berangkat sekolah dengan mengayuh sepedanya. Ketika ditengah
perjalanan menuju sekolah, Safa melihat nenek tua yang membawa seorang anak di
pinggir jalan yang sepertinya cucunya sedang kesakitan. Safapun menghampirinya.
‘’
Assalamu’alaikum. Ada apa nek kok kayaknya cucunya kesakitan? ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. Iya ini cucu saya sakit perut. Dia belum makan dari kemarin.
‘’
Safa pun membuka
tasnya dan memberikan bekal yang Ibunya bawakan tadi untuk Safa. Safa
memberikan bekal tersebut kepada nenek itu. Lalu cucu nenek itupun tersenyum
bahagia ketika Safa memberikan bekalnya pada cucu nenek itu.
‘’ Ini dek
dimakan ya. Masakan Ibunya Safa paling enak sedunia loh. ‘’ kata Safa yang
tersenyum melihat anak itu makan dengan sangat lahab sekali.
‘’ Makasih nak.
‘’
‘’ Iya sama –
sama nek. ‘’
Safa pun
melanjutkan perjalanannya dengan mengayuh sepedanya. Sepertinya dia merasa
senang sekali bahkan ia tia ingat apa masalah yang ia alami saat itu.
Sesampainya disekolah, Safa langsung menaruh sepedanya diparkiran. Ia bergegas
__ADS_1
menuju kelas. Kebiasaannya yang selalu jalan cepat atau bahkan lari menuju
kelas. Saat Safa lari ternyata Safa melihat siswa laki – laki yang berseragam
berbeda dengannya lagi. Laki – laki tersebut memakai kopyah berwarna hitam dan
sepertinya juga kebingungan seperti anak kemarin yang ia tolong.
‘’ Kenapa slalu
aku yang seperti ini. ‘’
Safa pun
akhirnya menghampirinya
‘’ Mas ruang
guru ada disebelah sana. ‘’
Laki – laki
itupun menoleh kearah Safa. Laki – laki dengan ciri – ciri tinggi sekitar 170 cm. Berkulit putih
berhidung mancung dan bola matanya yang bersinar.
‘’ Loh Safa? ‘’
tanya laki – laki tersebut
‘’ Abdullah
Yusuf El Fatah! ‘’ teriak Safa kegirangan
Iya dia adalah
laki – laki yang Safa suka sejak masih SMP. Namun cintanya terbelenggu dengan
sekolahnya yang berbeda. Kisah cinta yang sekali lagi akan dimulai dengan sebuah
pertemuan yang tidak di sangka – sangka oleh keduanya. Safa tak pernah
mengungkapkan perasaannya pada Yusuf, padahal Yusuf pun kadang memberikan
perhatian kecil saat SMP dulu. Hanya saja Safa tak mau ke-PD an akan hal
tersebut. Safa sekarang pun masih memendam rasanya pada Yusuf dan akhirnya ini
awal pertemuannya kembali.
‘’ Kamu ternyata
sekolah disini? Sudah hampir 3 tahun nggak ketemu ya. ‘’ kata Yusuf yang
tersenyum melihat Safa menundukkan pandangannya merasa malu.
Ingin rasanya
Safa berteriak hingga dunia tau gimana rasanya ketika rindunya berakhir dengan
sebuah pertemuan tersebut.
‘’ Iya. Kamu ada
apa kok kesini? ‘’
ruang guru. Mau kasih surat ijin karna adikku sakit. ‘’
‘’ Loh memangnya
Usna sekolah disini? ‘’
‘’ Memangnya
kamu nggak tau? Padahal dia wakil ketua osis disini. ‘’
Ya begitulah
Safa yang sangat kudet sekali. Ketua osisnya saja Safa nggak tau apalagi
wakilnya. Safa memang tidak begitu peduli dengan yang ada disekitarnya
tersebut. kadang Ia sekolah belajar dan langsung pulang.
‘’ Hehe aku
jarang update disekolah. ‘’
‘’ Ternyata kamu
nggak berubah ya. ‘’
Safa pun hanya
tersenyum mendengar perkataan Yusuf. Dirinya seakan akan salah tingkah dengan
ucapan Yusuf tersebut yang membuat dia ingin rasanya melayang setinggi – tingginya.
‘’ Aku duluan.
Nanti takut telat. Assalamu’alaikum ‘’ kata Yusuf beranjak pergi
‘’
Wa’alaikumsalam. ‘’
Yusuf pun pergi
meninggalkan Safa disana sendiri. Setelah bayangnya lenyap Safa pun teriak
kegirangan seperti orang yang keluar dari penjara setelah berabad – abad tahun
lamanya. Safa pun lari menuju kelasnya dengan tersenyum – tersenyum sendiri.
Setelah sampai kelas, Safa pun menaruh tasnya diatas bangku dan masih tetap
sama tingkahnya.
‘’ Eh fa kamu
kenapa? Jangan gila ini masih pagi. ‘’ Kata Adel yang duduk didekatnya
‘’ Kamu tau aku
tadi bertemu siapa? ‘’
‘’ Yang pasti
bukan netizen lagi kan. ‘’
__ADS_1
‘’ Ini lebih
dari itu? Siapa ayo cepat tebak. ‘’
‘’ Palingan
Temen lama. Nggak mungkin juga kalau cinta lama yang baru saja bertemu setelah
bertahun – tahun lamanya bertemu kembali. ‘’ Tebak Adel
‘’ Loh kamu kok
tau? Padahal aku belum bilang. ‘’
‘’ Hah apa?
Tebakanku bener? Kamu nggak sakit kan Fa? ‘’
‘’ Sakit kenapa?
‘’
‘’ Ya kalik masa
kamu punya cowok gitu? ‘’
‘’ Bukan. Dia
sebenernya temen lamaku. Aku suka sama dia sudah dari dulu, Cuma aku diem aja
sih. ‘’
‘’ Kenapa nggak
ungkapin aja! ‘’
‘’ Gengsi lah.
Aku kan cewek. ‘’
‘’ Kenapa
gengsi? Kalau kamu nggak bertindak cepat dia keburu diambil orang loh. ‘’
‘’ Dia nggak
kayak gitu. Dia nggak mungkin pacaran Del. ‘’
Adel pun
menghela nafas dan mengira kalau Laki – laki itu bentuknya sama kayak Safa yang
kayak gitu. Tanpa bicara lagi Adel membiarkan temannya itu tersenyum sendiri.
‘’ Aku biarkan
saja dia gila dulu. ‘’ Kata Adel lirih
Bel masukpun
sudah terdengar. Kegiatan belajar mengajarpun dimulai lagi. Semua murid sangat
serius mendengar penjelasan dari guru. Pada saat itu pelajaran Bahasa
Indonesia, semua murid disuruh membuat puisi yang bertemakan Cinta. Safa dengan
cepatnya membuat dan selesai terlebih dahulu.
‘’ Pak, Safa
sudah selesai. ‘’ teriak Adel kepada gurunya yang ada didepan
‘’ Benar safa
sudah selesai? Kalau begitu silahkan maju didepan dan bacakan. ‘’
‘’ Tapi pak saya
malu. ‘’
‘’ Kenapa malu?
Kamu harus berani. ‘’
Safa pun
kedepan, rasanya jantungnya ingin copot seketika ketika ia disuruh maju
kedepan. Semua menatap Safa dengan begitu serius.
‘’ Gimana nih
aku malu. ‘’ gumamnya dalam hati
Safa pun
membacakan puisinya dengan selalu melihat diatas tanpa menatap mata murid yang
lainnya. Adel temannya hanya menahantawa dibangkunya. Ya seperti itu persahabatannya, kadang juga menyebalkan namun
mereka tak pernah akan kenal namanya berantem.
PERIHAL SENJA
Perihal Senja!
Jangan cepat berlalu
Ingin kusapa lebih lama
Ingin ku sanjung selalu
Namun kini bulan tlah datang
Menenggelamkan senjaku hilang
Berharap kan bertemu lagi
Dalam lain hari!
Tetaplah ingat senjaku
Aku rindu..
Aku rindu..
Aku rindu!
SELALU!
__ADS_1