
Safa
pun kaget ketika mendengat Hp nya itu berbunyi. Dan dilihatnya Hp itu yang
bertuliskan ‘’Adik Tercinta’’ sontak Safa pun langsung tertawa geli membaca
itu. Lalu Safa pun kebingungan gimana caranya menjawab telfon itu. Hinggan
Yudha sudah ke dua kalinya menelfon Safa.
‘’
Aduh ini gimana sih caranya. Pokok geser – geser aja yak. ‘’
Dan
ternyata telfonnya malah mati ketika Safa geser ke arah menolak panggilan.
Yudha pun tanpa menyerah menelfon Safa lagi.
‘’
Kalau tadi nggak kejawab jadi arahnya berlawan dong biar bisa kejawab. ‘’
Safa
pun mengubah arah gesernya dan telfon pun terjawab.
‘’
Kakak angkatnya lama banget sih. ‘’ gertak Yudha
‘’
Assalamu’alaikum. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. ‘’
‘’
Kamu nggak ngajarin aku gimana caranya mainin Hp ini. ‘’
‘’
Aduh bodohnya aku udah tau kalau kakak itu kudet banget yak kenapa tadi nggak
ngajarin dulu. ‘’
‘’
Itu salahmu. Ada apa kok telfon ? ‘’
‘’
Mau mastiin kalau kakak bilang Aamiin. ‘’
‘’
Hah ? ‘’
‘’
Ayo bilang Aamiin. ‘’
‘’
Nggak deh. ‘’
‘’
Bilang lah kak sekali aja. ‘’
‘’
Iya iya Aamiin. ‘’
‘’
Makasih kak. ‘’
Panggilan
itu pun langsung terputus secara tiba – tiba.
‘’
Nih anak kurang kerjaan banget yak. ‘’
Safa
teringat akan jaket Yusuf yang belum dia cuci. Safa pun mencuci jaket tersebut
dan menjemurnya dibawah sinar terik matahari. Setelah mencuci jaket, Safa
teringat akan kejadian kemarin Saaf Yusuf memberikan jaketnya dan membawanya
pergi dari acara itu. Dibukanya buku puisi dan ia pun mulai menuliskan akan
perasaannya itu.
Ingin
rasanya hati bertanya,,,
Namun
mulut tak mampu berkata
Ingin
rasanya mengungkapkan rindu,,,
Namun
kaki tak mampu menegu!
Lantas
bagaimanakah aku ?
Yang
terperangkap dalam belenggu ?
Safa
pun akhirnya tidak paham akan perasaannya sekarang ini. Hatinya ingin bertahan
dengan Yusuf, namun mengapa dia tak memberikan kesempatan pada Yudha ? bukankah
Yudha sudah bersusah payah menyakinkan Safa.
Ayah
sudah pulang dari kerjanya. Tiba – tiba Ayah mendengar ada suara Hp dari kamar
Safa. Dan diangkatnya Hp tersebut ternyata dari ‘’Orang aneh’’ yang dimaksut
__ADS_1
adalah Yudha.
‘’
Assalamu’alaikum kak. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. Ada apa telfon anak saya. Dan ini Hp nya siapa? ‘’
Yudha
pun kaget dan langsung memutuskan panggilannya tersebut.
Safa
masuk ke kamar dan kaget melihat Ayah sudah memegang Hp yang diberikan Yudha
tadi. Ayah yang melihat Safa masuk pun
langsung memasang wajah yang serius bahkan tidak ada celah sedikitpun untuk
Safa mengalihkan pandangannya dari Safa.
‘’
Ayah mau tanya. Ini Hp siapa ? ‘’
‘’
Itu Hp Safa Yah. ‘’
‘’
Dari siapa dan mengapa dia ngasih ini ? ‘’
‘’
Dari temen Safa katanya kado buat ulang tahun Safa. ‘’ Jawab Safa sambil
menundukkan wajahnya dari hadapan Ayahnya itu
‘’
Ulang tahun kamu masih bulan depan kenapa dia ngasihnya sekarang? ‘’
‘’
Katanya kalau bulan depan sudah nggak bisa ketemu lagi. ‘’
‘’
dia laki – laki ? ‘’
‘’
Iya Yah. ‘’
‘’
Nanti kembalikan Hp ini segera. Ayah nggak mau kamu terima kayak ginian dari
orang lain. ‘’
‘’
Tapi Yah ini rejeki. Kenapa kita menolak rejeki ? lagipula Ayah juga nggak
pernah beliin Hp buat Safa. Safa slalu dibilang kudet gaptek atau yang lainnya
yah. ‘’
Tanpa
Ayahnya pun hanya bisa menangis tersedu – sedu dikamarnya.
‘’
Maaf Yah Safa udah bilang gini ke Ayah. ‘’ Kata Safa dalam hati yang merasa
sangat bersalah pada Ayahnya.
Safa
pun dengan segera menelfon Yudha dan mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan
Yudha di taman sekitar pedesaannya itu. Safa denagn cepat mengganti baju dan
mengayuhkan sepedanya menuju ke taman tersebut. sesampai disana ternyata Yudha
sudah duduk di bangku bawah pohon yang rindang. Safa yang melihat Yudha pun
langsung menghampirinya.
‘’
Assalamu’alaikum. ‘’
‘’
Wa’alaikumsalam. Ada apa kak ? kenapa nggak telfon aja kalau rindu ? ‘’
‘’
Ini Hp nya aku kembaliin. Syukron. ‘’
‘’
Loh kenapa ? apa kakak dimarahin sama Ayahnya kakak tentang hal ini ? aku beri ini
dengan ikhlas kak. ‘’
‘’
Kalau Ayah sudah bicara kembalikan ya kembalikan. Maaf aku nggak bisa terima
itu. ‘’ sambil memberikan Hp tersebut pada Yudha dan beranjak pergi
meninggalkan Yudha.
Safa
berat rasanya bicara seprti itu kepada Yudha. Padahal dia sudah memberikan Hp
tersebut dengan ikhlas dan sangat berharap sekali kalau Safa menerimanya. Dan
kini Yudha mungkin sedang marah atau bahkan kecewa dengan perkataannya Safa
tersebut.
Safa
mengayuh sepedanya menuju pulang ke rumah. Setelah sampai rumag dilihatnya
Ibunya yang sedang menjahit baju Ayahnya itu. Safa memeluk ibu nya sangat erat,
ingin rasanya ia menangis namun tak kuat hati jika ibu melihatnya maka ia akan
memikirkan Safa.
__ADS_1
‘’
Kenapa nduk tumben kayak gini ? ‘’
‘’
Safa Cuma pengen peluk Ibuk. ‘’
‘’
Iya peluk aja. Emangnya ada masalah apa nduk ? ‘’
‘’
Nggak kok Buk. ‘’
‘’
Tanpa kamu bilang ke Ibu sudah tau kok nduk. Pasti kamu berantem sama Ayahmu
lagi kan. ‘’
Safa
hanya menganggukkan kepalanya itu.
‘’
Mbok ya manut dengan yang dibilang Ayah mu itu. Ayah kayak gitu karna pengen
anaknya sesuai dengan harapan orang tua. ‘’
‘’
Iya Buk Safa ngerti. ‘’
Safa
pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Entah mengapa tiba – tiba air mata Safa
keluar dengan sendirinya. Ia langsung menatap langit – langit agar air matanya
tak menetes kebawah namun alhasil semua itu percuma saja. Karna sebuah hati
takkan pernah dapat dibohongi.
‘’
Ini kenapa kok air matanya keluar terus sih. Padahal Safa nggak nyuruh keluar
loh. ‘’ sambil mengusap air matanya sendiri.
Safa
pun akhirnya tertidur hingga pukul 17.00 . Ketika bangun dia lupa untuk sholat
Ashar dengan cepat ia mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Ashar sebelum
terlambat. Setelah sholat, Safa pun membersihkan rumah seperti menyapu lantai,
merapikan ruang tamu, cuci piring, bahkan memberi makan kambing yang ada
dibelakang rumah.
Adzan
maghrib pun sudah terdengar. Safa mengambil air wudhu dan melaksanakn sholat
Maghrib. Ibu dan Ayahnya sudah menunggu Safa di ruang makan untuk makan
bersama. Safa hanya diam melihat Ayah yang ada dihadapannya itu. Ia bahkan tak
melihat ke arah Ayahnya.
‘’
Safa gimana tentang lomba olimpiade mu? ‘’
Safa
hanya terdiam dan tak menjawab pertanyaan dari Ayahnya itu.
‘’
Mbok ya biarin Safa makan dulu nanti baru tanya Yah. ‘’
‘’
Ya kalau Safa marah sama Ayah nggak ppa. Ayah memang pantes digituin kok. ‘’
‘’
Safa nggak marah kok Yah. ‘’ kata Safa lirih
‘’
La trus kenapa ? ‘’
‘’
Safa sudah selesai makan. Safa langsung kekamar dulu Buk. ‘’ kata Safa lalu
beranjak pergi dari ruang makan. Ayah yang melihat tingkah anaknya pun langsung
memasang wajah lesu
‘’
Biarkan Safa tenang dulu Yah. ‘’ kata Ibu kepada Ayah
Safa
belajar sebentar sebelum akhirnya adzan Isya’ telah berkumandang. Setelah
sholat Isya’ Safa melanjutkan belajarnya lagi. Karna beberapa hari lagi Safa
akan melaksanakan ujian nasional. Safa dengan giat terus belajar agar ia
mendapat nilai yang membanggakan kedua orang tuanya dan semoga dia mendapat
beasiswa untuk ia dapat kuliah.
Keesokan
harinya, Safa mengayuh sepedanya menuju ke sekolah. Ini adalah hari terakhir
seperti pelajaran biasanya. Karna 2 hari lagi Safa akan ujian nasional. Kini
Safa sedang terfokus pada ujiannya. Kemana – mana yang dibawa hanya buku
pelajarannya itu. Safa bahkan menghiraukan Yudha yang selalu ingin mengajaknya
bicara atau bahkan memberikan perhatian kecil pada Safa.
Hari
itu adalah hari Minggu, Safa belajar dengan sangat tekun sekali. Karna besok
adalah ujiannya yang akan ia hadapi sebelum akhirnya akan meninggalkan masa SMA
__ADS_1
nya itu. Ada suara ketuka dari luar pintu kamar Safa. Lalu Safa membuka pintu
tersebut, dan ternyata Ayah sudah berdiri di depan pintu itu.