Pelangi Diujung Senja

Pelangi Diujung Senja
Yusuf dan Anis ? (2)


__ADS_3

Safa


pun kaget ketika mendengat Hp nya itu berbunyi. Dan dilihatnya Hp itu yang


bertuliskan ‘’Adik Tercinta’’ sontak Safa pun langsung tertawa geli membaca


itu. Lalu Safa pun kebingungan gimana caranya menjawab telfon itu. Hinggan


Yudha sudah ke dua kalinya menelfon Safa.


‘’


Aduh ini gimana sih caranya. Pokok geser – geser aja yak. ‘’


Dan


ternyata telfonnya malah mati ketika Safa geser ke arah menolak panggilan.


Yudha pun tanpa menyerah menelfon Safa lagi.


‘’


Kalau tadi nggak kejawab jadi arahnya berlawan dong biar bisa kejawab. ‘’


Safa


pun mengubah arah gesernya dan telfon pun terjawab.


‘’


Kakak angkatnya lama banget sih. ‘’ gertak Yudha


‘’


Assalamu’alaikum. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. ‘’


‘’


Kamu nggak ngajarin aku gimana caranya mainin Hp ini. ‘’


‘’


Aduh bodohnya aku udah tau kalau kakak itu kudet banget yak kenapa tadi nggak


ngajarin dulu. ‘’


‘’


Itu salahmu. Ada apa kok telfon ? ‘’


‘’


Mau mastiin kalau kakak bilang Aamiin. ‘’


‘’


Hah ? ‘’


‘’


Ayo bilang Aamiin. ‘’


‘’


Nggak deh. ‘’


‘’


Bilang lah kak sekali aja. ‘’


‘’


Iya iya Aamiin. ‘’


‘’


Makasih kak. ‘’


Panggilan


itu pun langsung terputus secara tiba – tiba.


‘’


Nih anak kurang kerjaan banget yak. ‘’


Safa


teringat akan jaket Yusuf yang belum dia cuci. Safa pun mencuci jaket tersebut


dan menjemurnya dibawah sinar terik matahari. Setelah mencuci jaket, Safa


teringat akan kejadian kemarin Saaf Yusuf memberikan jaketnya dan membawanya


pergi dari acara itu. Dibukanya buku puisi dan ia pun mulai menuliskan akan


perasaannya itu.


Ingin


rasanya hati bertanya,,,


Namun


mulut tak mampu berkata


Ingin


rasanya mengungkapkan rindu,,,


Namun


kaki tak mampu menegu!


Lantas


bagaimanakah aku ?


Yang


terperangkap dalam belenggu ?


Safa


pun akhirnya tidak paham akan perasaannya sekarang ini. Hatinya ingin bertahan


dengan Yusuf, namun mengapa dia tak memberikan kesempatan pada Yudha ? bukankah


Yudha sudah bersusah payah menyakinkan Safa.


Ayah


sudah pulang dari kerjanya. Tiba – tiba Ayah mendengar ada suara Hp dari kamar


Safa. Dan diangkatnya Hp tersebut ternyata dari ‘’Orang aneh’’ yang dimaksut

__ADS_1


adalah Yudha.


‘’


Assalamu’alaikum kak. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. Ada apa telfon anak saya. Dan ini Hp nya siapa? ‘’


Yudha


pun kaget dan langsung memutuskan panggilannya tersebut.


Safa


masuk ke kamar dan kaget melihat Ayah sudah memegang Hp yang diberikan Yudha


tadi.  Ayah yang melihat Safa masuk pun


langsung memasang wajah yang serius bahkan tidak ada celah sedikitpun untuk


Safa mengalihkan pandangannya dari Safa.


‘’


Ayah mau tanya. Ini Hp siapa ? ‘’


‘’


Itu Hp Safa Yah. ‘’


‘’


Dari siapa dan mengapa dia ngasih ini ? ‘’


‘’


Dari temen Safa katanya kado buat ulang tahun Safa. ‘’ Jawab Safa sambil


menundukkan wajahnya dari hadapan Ayahnya itu


‘’


Ulang tahun kamu masih bulan depan kenapa dia ngasihnya sekarang? ‘’


‘’


Katanya kalau bulan depan sudah nggak bisa ketemu lagi. ‘’


‘’


dia laki – laki ? ‘’


‘’


Iya Yah. ‘’


‘’


Nanti kembalikan Hp ini segera. Ayah nggak mau kamu terima kayak ginian dari


orang lain. ‘’


‘’


Tapi Yah ini rejeki. Kenapa kita menolak rejeki ? lagipula Ayah juga nggak


pernah beliin Hp buat Safa. Safa slalu dibilang kudet gaptek atau yang lainnya


yah. ‘’


Tanpa


Ayahnya pun hanya bisa menangis tersedu – sedu dikamarnya.


‘’


Maaf Yah Safa udah bilang gini ke Ayah. ‘’ Kata Safa dalam hati yang merasa


sangat bersalah pada Ayahnya.


Safa


pun dengan segera menelfon Yudha dan mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan


Yudha di taman sekitar pedesaannya itu. Safa denagn cepat mengganti baju dan


mengayuhkan sepedanya menuju ke taman tersebut. sesampai disana ternyata Yudha


sudah duduk di bangku bawah pohon yang rindang. Safa yang melihat Yudha pun


langsung menghampirinya.


‘’


Assalamu’alaikum. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. Ada apa kak ? kenapa nggak telfon aja kalau rindu ? ‘’


‘’


Ini Hp nya aku kembaliin. Syukron. ‘’


‘’


Loh kenapa ? apa kakak dimarahin sama Ayahnya kakak tentang hal ini ? aku beri ini


dengan ikhlas kak. ‘’


‘’


Kalau Ayah sudah bicara kembalikan ya kembalikan. Maaf aku nggak bisa terima


itu. ‘’ sambil memberikan Hp tersebut pada Yudha dan beranjak pergi


meninggalkan Yudha.


Safa


berat rasanya bicara seprti itu kepada Yudha. Padahal dia sudah memberikan Hp


tersebut dengan ikhlas dan sangat berharap sekali kalau Safa menerimanya. Dan


kini Yudha mungkin sedang marah atau bahkan kecewa dengan perkataannya Safa


tersebut.


Safa


mengayuh sepedanya menuju pulang ke rumah. Setelah sampai rumag dilihatnya


Ibunya yang sedang menjahit baju Ayahnya itu. Safa memeluk ibu nya sangat erat,


ingin rasanya ia menangis namun tak kuat hati jika ibu melihatnya maka ia akan


memikirkan Safa.

__ADS_1


‘’


Kenapa nduk tumben kayak gini ? ‘’


‘’


Safa Cuma pengen peluk Ibuk. ‘’


‘’


Iya peluk aja. Emangnya ada masalah apa nduk ? ‘’


‘’


Nggak kok Buk. ‘’


‘’


Tanpa kamu bilang ke Ibu sudah tau kok nduk. Pasti kamu berantem sama Ayahmu


lagi kan. ‘’


Safa


hanya menganggukkan kepalanya itu.


‘’


Mbok ya manut dengan yang dibilang Ayah mu itu. Ayah kayak gitu karna pengen


anaknya sesuai dengan harapan orang tua. ‘’


‘’


Iya Buk Safa ngerti. ‘’


Safa


pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Entah mengapa tiba – tiba air mata Safa


keluar dengan sendirinya. Ia langsung menatap langit – langit agar air matanya


tak menetes kebawah namun alhasil semua itu percuma saja. Karna sebuah hati


takkan pernah dapat dibohongi.


‘’


Ini kenapa kok air matanya keluar terus sih. Padahal Safa nggak nyuruh keluar


loh. ‘’ sambil mengusap air matanya sendiri.


Safa


pun akhirnya tertidur hingga pukul 17.00 . Ketika bangun dia lupa untuk sholat


Ashar dengan cepat ia mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Ashar sebelum


terlambat. Setelah sholat, Safa pun membersihkan rumah seperti menyapu lantai,


merapikan ruang tamu, cuci piring, bahkan memberi makan kambing yang ada


dibelakang rumah.


Adzan


maghrib pun sudah terdengar. Safa mengambil air wudhu dan melaksanakn sholat


Maghrib. Ibu dan Ayahnya sudah menunggu Safa di ruang makan untuk makan


bersama. Safa hanya diam melihat Ayah yang ada dihadapannya itu. Ia bahkan tak


melihat ke arah Ayahnya.


‘’


Safa gimana tentang lomba olimpiade mu? ‘’


Safa


hanya terdiam dan tak menjawab pertanyaan dari Ayahnya itu.


‘’


Mbok ya biarin Safa makan dulu nanti baru tanya Yah. ‘’


‘’


Ya kalau Safa marah sama Ayah nggak ppa. Ayah memang pantes digituin kok. ‘’


‘’


Safa nggak marah kok Yah. ‘’ kata Safa lirih


‘’


La trus kenapa ? ‘’


‘’


Safa sudah selesai makan. Safa langsung kekamar dulu Buk. ‘’ kata Safa lalu


beranjak pergi dari ruang makan. Ayah yang melihat tingkah anaknya pun langsung


memasang wajah lesu


‘’


Biarkan Safa tenang dulu Yah. ‘’ kata Ibu kepada Ayah


Safa


belajar sebentar sebelum akhirnya adzan Isya’ telah berkumandang. Setelah


sholat Isya’ Safa melanjutkan belajarnya lagi. Karna beberapa hari lagi Safa


akan melaksanakan ujian nasional. Safa dengan giat terus belajar agar ia


mendapat nilai yang membanggakan kedua orang tuanya dan semoga dia mendapat


beasiswa untuk ia dapat kuliah.


Keesokan


harinya, Safa mengayuh sepedanya menuju ke sekolah. Ini adalah hari terakhir


seperti pelajaran biasanya. Karna 2 hari lagi Safa akan ujian nasional. Kini


Safa sedang terfokus pada ujiannya. Kemana – mana yang dibawa hanya buku


pelajarannya itu. Safa bahkan menghiraukan Yudha yang selalu ingin mengajaknya


bicara atau bahkan memberikan perhatian kecil pada Safa.


Hari


itu adalah hari Minggu, Safa belajar dengan sangat tekun sekali. Karna besok


adalah ujiannya yang akan ia hadapi sebelum akhirnya akan meninggalkan masa SMA

__ADS_1


nya itu. Ada suara ketuka dari luar pintu kamar Safa. Lalu Safa membuka pintu


tersebut, dan ternyata Ayah sudah berdiri di depan pintu itu.


__ADS_2