Pelangi Diujung Senja

Pelangi Diujung Senja
Pesta Ulang Tahun 3


__ADS_3

Yusuf hanya tersenyum menjawab perkataan Adel tadi. Tak begitu lama kemudian Ayah


Safa pun datang. Ayah Safa kaget melihat Safa yang sudah basah kuyup disitu.


Ayah Safa bergegas menghampiri mereka dan menanyakan langsung pada mereka.


‘’


Assalamu’alaikum. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. ‘’


‘’


Loh ini Safa kenapa ? ‘’


‘’


Gini Om tadi Safa diceburin ama Sandra. ‘’


‘’


Loh kok bisa sih. Beraninya nyeburin anak Ayah ini ya. ‘’


‘’


Yah mau kemana ? jangan kedalam. Sandra anak dari yayasan Safa takut kalau Safa


nanti malah di kluarin dari sekolah. Bentar lagi ujian. Biarkan saja dia


seperti itu. ‘’


‘’


Tapi nak harga dirimu udah diinjak – injak sama mereka. Memeng kita miskin tapi


ya kan kita juga manusia. Seharusnya diperlakukan seperti manusia juga to. ‘’


Safa


yang hanya menunduk dengan perkataan Ayahnya itu langsung menuju motor Ayahnya


dan mengajak Ayahnya pulang. Sebenernya Safa juga ingin marah, namun ia takut


kalau Papa nya Sandra berlaku tidak adil padanya dan malah akan mengeluarkan


dirinya sebelum ujian tersebut. Setelah sampai rumah, Ibu yang sudah menunggu


mereka pulang pun kaget karena melihat Safa yang sudah basah kuyup.


‘’


Assalamu’alaikum. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. Loh Yah ini Safa kenapa ? ‘’


‘’


Udah Ayah bilangin kalau nggak usah dateng ke acara itu. Tapi Safa tetep aja


ngeyel. Dan sekarang dia malah kayak gitu kan. ‘’


‘’Maaf


Yah. ‘’ Safa hanya menundukkan kepalanya


‘’


Ya udah kalau gitu ibu buatin teh anget. Kamu segera ganti baju kamu ya. ‘’


Safa


pun segera pergi ke kamarnya untuk ganti baju. Ibu membawakan teh anget kedalam


kamar Safa. Dan memberika minyak telon agar badan Safa nggak dingin lagi biar


nggak masuk angin.


‘’


Nduk kalau Ayah bicara itu mbok ya manut toh. ‘’


‘’


Iya Buk Safa salah. Maaf. ‘’


‘’


ya udah kalau gitu kamu tidur dulu ya. Biar nggak sakit. ‘’ Ibu pun langsung


meninggalkan Safa yang masih terdiam disana.


Safa


membuka lembaran puisinya, karna mungkin saat ini bukunya adalah teman


curhatnya yang mampu menuangkan pikirannya saat itu juga.


Apakah benar sampai kapanpun rumput


takkan bisa menjadi bunga ? yang hanya disepelekan akan keberadaannya dan


bahkan diinjak akan hadirnya. Apakah benar bunga yang selalu dikerumini kupu –


kupu yang indan namun rumput hijau pun tiada guna ? tertindas dan tersingkirkan!


Rasanya


Safa sudah lega ketika menulisnya pada bukunya itu. Setelah selesai Safa pun


tertidur pulas.


Tak disangka ternyata jam sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi, ternyata Safa


terlambat untuk melaksanakan sholat tahajud nya itu. Safa yang mendengar adan


Shubuh segera mengambil air wudhu dan melaksanakn sholat Shubuh. Safa berdoa


agar dirinya diberikan kesabaran yang melimpah saat menghadapi maslah yang


dihadapinya itu. Setelah sholat, Safa yang teringat akan jaket yang di


pinjamkan Yusuf pun Ia pegang. Safa tersenyum saat mengingat kejadian kemarin


yang menimpanya itu.


‘’


Ternyata ada hikmahnya juga ya. ‘’ Kata Safa yang senyum kesenangan memegang


jaket nya Yusuf itu.


Pagi


– pagi sekali Adel sudah datang kerumah Safa. Safa yang melihat Adel sudah ada didalamnya


pun kaget seketika.


‘’


Loh Del kok udah disini aja kamu ? ‘’


‘’


Iya mau jemput kamu buat pergi ke sekolah. Tadi aku kesini pakai sepeda jadinya


biar bisa bareng sama kamu Fa. ‘’


‘’


Ya udah kalau gitu ikut sarapan dulu yuk. ‘’


Safa


dan Adel pun sarapan makanan yang sudah dimasak Ibu tadi pagi. Setelah selesai

__ADS_1


makan, mereka pun pergi kesekolah dengan mengayuh sepedanya masing – masing. Di


alam perjalanan menuju sekolah Adel ingin rasanya bertanya tentang Yusuf


kemarin.


‘’


Fa aku mau nanya. ‘’


‘’


Iya apa Del. ‘’


‘’


Kemarin itu cowok yang kamu maksut kan ? ‘’


‘’


Hehe iya Del. Gimana orangnya ? ‘’


‘’ Cakep Fa. Kalau gitu


milih Yusuf aja daripada Yudha. ‘’


‘’ Yudha udah pacaran


sama Anis Del. ‘’


‘’


Apa ? ‘’sambil mengerem mendadak hingga Safa pun langsung kaget dengan yang


dilakukan Adel tersebut


‘’ Astaughfirullah.


Kamu kenapa Del ? ‘’


‘’ Aku hanya kaget pas


kamu ngomong gitu. Bukannya dia udah ngomong suka ke kamu ya ? ‘’


‘’ Loh kok kamu tau ?


‘’


‘’ Bahkan seluruh


sekolah udah tau Fa. ‘’


‘’ Hah kok kamu baru


bilang sih Del. Kok tau semua gitu ? ‘’


‘’ Makanya Fa kamu


jangan kudet – kudet amat, ya gini kan jadinya. ‘’


‘’


Ya udahlah Del pasti smua ini juga bakal ada hikmahnya kan. Kayak kemarin juga


ada hikmahnya. ‘’


‘’


Hikmahnya ? apaan ? ‘’


‘’


Aku bisa ketemu Yusuf. Hehe ‘’


‘’


Hm,iya juga sih. Tapi tetep aja aku khawatir sama kamu kemarin Fa. ‘’


‘’


Iya iya Del maaf. ‘’


pun meneruskan ayunana sepedanya menuju ke sekolah. Adel khawatir jika Safa


malah jadi tenar karena sebuah pelecehan dari teman – temannya, biasanya ini


dinamakan Bullying yang bahkan udah banyak korban yang mati karena masalah


remaja ini. Tapi Adel percaya kalau Safa orangnya kuat menghadapi ini semua,


makanya Adel hari ini mau ngajak Safa buat berangkat ke sekolah bareng – bareng.


Takutnya kalau sudah sampai di sekolah malah Safa dihina terus – menerus.


Setelah


sampai di sekolah, mereka pun menaruh speda di parkiran. Lalu mereka menuju ke


kelas. Sepanjang perjalanan menuju ke kelas semua orang rasanya melihat mereka


seperti oranga aneh sekali.


‘’


Eh Del semua kok liatin kita kayak gitu ya. Memangnya aku teroris apa ? ‘’


‘’


Bodoamat Fa. Biarin aja mungkin mereka pada iri. ‘’


Safa


pun akhirnya mengerti apa yang dikatakan Adel padanya barusan itu. Mereka yang


menuju kelas pun melihat adanya kehadiran Yudha yang sudah menunggu di depan


pintu kelas mereka.


‘’


Aku duluan dulu ya Fa. ‘’ kata Adel pergi masuk ke kelas


‘’


Assalamu’alaikum. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. Ada apa ? ‘’ tanya Safa lirih dan menundukkan pandangannya itu


‘’


Aku minta maaf. ‘’


‘’


Seharusnya aku yang kemarin trima kasih pada kamu karna udah bantu aku. ‘’


‘’


Iya sama – sama. Tapi kamu nggak marah kan sama aku ? ‘’


‘’


Nggak kok. Ngapain juga aku marah pada kamu. ‘’


‘’


Soal Anis aku nggak pacaran sama dia. ‘’


Ketika


mendengar hal itu tanpa berkata apapun Safa langsung menuju ke kelasnya dan


menaruh tasnya di meja. Rasana ia tak perlu lagi bertemu dengan yang namanya


Yudha itu. Safa mulai menyabarkan hatinya yang mulai rumit karena terlalu


banyaknya masalah yang menimpanya itu.

__ADS_1


‘’


Safa Safa kamu dipanggil Bu Titin. ‘’ teriak teman Safa


‘’


Iya makasih ya. ‘’


‘’


Sama – sama. ‘’


Safa


pun menuju ke ruang Bu Titin, mungkin kali ini ia akan ditanya tentang


keputusannya itu. Safa bingung dengan hal ini. Apa yang akan ia putuskan.


Apakah ia akan memilih lomba olimpiade? Atau kah lomba musikalisasi puisi ?


atau bahkan keduanya ? semua itu sangat rumit sekali.


Safa


pun masuk ke dalam ruang Bu Titin ternyata Bu Titin sudah duduk di kursinya dan


menyuruh Safa duduk berhadapan dengannya. Safa memasang wajah lesu dimana dia


bingung akan keputusan ini.


‘’


Gimana ? kamu sudah buat keputusannya ? ‘’


‘’


Hm, Bismillah saya siap untuk ikut olimpiade matematika Bu. ‘’


‘’


Alhamdulillah ini Ibu yang tunggu – tunggu dari kemarin Fa. ‘’


‘’


Iya Bu. ‘’


‘’


Kalau gitu nanti 4 hari sebelum lomba kita akan belajar privat. 5 hari lagi kan


kamu akan ujian nasional jadi Ibu harap kamu fokus dulu untuk ujian lalu nanti


kita bisa fokus lomba olimpiadenya ya. ‘’


‘’


Iya Bu makasih. Saya ke kelas dulu bu. Takut telat pelajaran Pak Adam. ‘’


‘’


Iya Silahkan. ‘’


‘’


Assalamu’alaikum. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam. ‘’


Safa


pun kembali kekelasnya. Ternyata disana sudah ada Pak Adam yang memulai


pelajarannya itu. Safa pun meminta maaf karna telah telat mengikuti pelajaran


tersebut.


‘’


Maaf pak saya telat. Tadi masih dipanggil Bu Titin. ‘’


‘’


Iya nggak papa kok. Fa kamu sudah latian sama Yudha ? ‘’


‘’


Belum pak. Saya belum ada inspirasi buat latihan dulu. ‘’


‘’


Kalau gitu cepet latihan ya biar bagus penampilannya itu. ‘’


‘’


Siap pak. ‘’


Safa


duduk dikursinya dimana wajahnya dari tadi slalu musam dan bahkan tidak seperti


Safa biasanya yang slalu ceria dan gembira. Baru kali ini Safa memikirkan hal


yang sangat berat baginya. Selain pilihan itu Safa juga memikirkan dirinya


dihadapan yang lain. Meski kadang Safa bodoamat namun hati Safa rasanya teriris


ketika teringat kejadian yang menimpanya kemarin itu.


Setelah


selesai pelajarannya Pak Adam tiba – tiba Usna adiknya Yusuf datang menghampiri


Safa. Usna membawa sebuah bingkisan kecil yang ia bawa dari kak Yusuf. Safa pun


membuka bingkisan itu, ternyata itu adalah wedang jahe yang sengaja Yusuf buat


untuk Safa karna mungkin kejadian kemarin akan buat Safa sakit


‘’


Katakan pada kakak mu Syukron ya dek. ‘’


‘’


Iya kak. Kalau gitu aku pergi dulu ya. Assalamu’alaikum. ‘’


‘’


Wa’alaikumsalam dek. ‘’


‘’


Cie – cie yang udah diperhatiin Yusuf. Ehem – ehem. ‘’ ejek Adel yang ada


didekatnya


‘’


Hehe nggak kok. Ini dia Cuma perhatian takut kalau aku sakit. ‘’


‘’


Ya sama saja lah Fa. ‘’


Safa


hanya tersenyum malu ketika Adel mulai punya kesempatan untuk mengejeknya.


Cowok Adel yang bernama Bryan pun datang untuk mengajak Adel pergi ke kantin


bersmanya. Adel mengajak Safa untuk ikut bersamanya juga, namaun Safa


menolaknya takut kalau ia akan menganggu mereka berdua. Akhirnya Adel dan Bryan


menuju ke kantin berdua, sebenarnya Adel khawatir karna Safa sendiri setelah


kejadian kemarin yang sangat memukul bagi Safa.

__ADS_1


__ADS_2