
Sampai
dirumah, Safa meletakkan tasnya di kamarnya. Ia sibuk mencari Ayahnya yang
ternyata ada dibelakang rumah. Safa takut ingin membicarakan masalah ini pada
Ayahnya itu. Namun bagaimana lagi, ia juga tak ingin bila melewatkan moment
tersebut dengan sahabat kecilnya itu.
‘’
Aku harus berani. ‘’ gumam Safa dalam hati
Safa
pun memberanikan dirinya untuk bicara dengan Ayahnya yang sedang memberi makan
kambing dibelakang rumah.
‘’
Yah, Safa ingin bicara. ‘’
‘’
Iya nduk bicara aja. ‘’
‘’
Yah Safa minta ijin buat nanti malam hadir di acaranya Anis. ‘’
‘’
Itu malem ? ‘’
‘’
Iya Yah. Ini terakhirnya Safa bisa ngerayain ulang tahunnya Anis bareng –
bareng. ‘’
‘’
Memangnya Anis mau kemana ? ‘’
‘’
Dia mau kuliah di Kalimantan ikut Papa nya. ‘’
Ayah
Safa pun duduk dan menyuruh anak kesayangannya itu untuk duduk di dekatnya.
‘’
Gini nduk. Bukannya Ayah mau ngelarang kamu. Tapi itu kan acaranya malam dan
Ayah pun nggak bisa nganter kamu. Ayah ada janji sama temen Ayah kalau mau njalin
kerja sama bareng. ‘’
‘’
Kalau gitu Safa berangkat sendiri nggak papa. ‘’
‘’
Jangan nduk. Kamu itu perempuan. Perempuan itu nggak baik keluar malem. Selain
nggak enak dipandang masyarakat dan juga takut menyebar fitnah. Tapi kalau
keluarnya sama Ayah kan nggak mungkin masyarakat sekitar mau bilang neko –
neko. ‘’
‘’
Trus Safa gimana Yah ? ‘’
‘’
Gimana kalau kamu kasih kadonya aja lalu segera pulang sama Ayah. Nanti Ayah
temenin kamu sebentar aja deh. ‘’
‘’
Beneran Yah ? ‘’
‘’
Iya nduk. ‘’
‘’
Syukron Yah. ‘’
‘’
Tapi Ayah punya syarat buat kamu. ‘’
‘’
Syarat ? Apa Yah ? ‘’
‘’
Tadi Ayah dikasih tau sama Bu Titin tentang kamu terpilih sebagai perwakilan
untuk olimpiade matematika. Ayah ingin kamu ikut itu. ‘’
‘’
Hmm, In Syaa Allah Yah. ‘’
‘’
Ayah ingin kamu berprestasi dalam bidang akademik. Kamu ikut lomba olimpiade
itu, banggakan Ayah nduk. ‘’
Ayah
pun setelah mengucapkan itu langsung berdiri dan pergi meninggalkan Safa yang
masih terdiam disitu.
‘’
Sebenernya aku suka banget ama lomba musikalisasi puisi itu. Tapi Ayah ingin
aku ikut lomba olimpiade matematika. Apa aku harus ambil keduanya ya ? tapi aku
__ADS_1
malah takut kalau semuanya malah jadi ancur gara – gara aku bingung fokus
kemana. Ya Allah kenapa sulit banget yak ambil keputusan ini. ‘’
Terdengar
dari luar ada yang memanggil nama Safa, namun Safa masih tetap pada lamunannya
itu. Safa baru sadar ketika orang itu memegang bahu Safa hingga Safa pun
terkejut akan hal itu.
‘’
Astaughfirullah. ‘’
‘’
Assalamu’alaikum Fa. Kenapa ngelamun ? ‘’ tanya Adel yang ternyata orang yang
tadi manggil – manggil nama Safa.
‘’
Wa’alaikumsalam Del. Aku Cuma bingung aja. ‘’
‘’
Bingung kenapa ? ‘’
‘’
Bingung milih diantara dua hal. ‘’
‘’
Kalau menurut aku pilih aja Yudha daripada Yusuf yang belum pasti akan
perasaannya itu padamu. ‘’
‘’
Eh, aku nggak bicara soal itu Del. ‘’
‘’
La trus kenapa ? ‘’
‘’
Aku bingung, tadi Bu Titi manggil aku buat aku ikut lomba olimpiade matematika.
‘’
‘’
Loh bagus dong malahan. ‘’
‘’
Bentar aku belum selesai dengan ceritaku itu Del. ‘’
‘’
Maaf maaf iya lanjutin aja dulu. ‘’
‘’
antara lomba olimpiade atau musikalisasi puisi. Tadi Ayah bilang ke aku kalau
aku harus ikut lomba olimpiade itu. Tapi kalau aku milih olimpiade trus lomba
musikalisasiku gimana ? padahal aku suka dengan lomba puisi itu Del. ‘’
‘’
Hmm, gimana ya kenapa kamu nggak milih keduanya aja ? ‘’
‘’
Aku takut kalau aku milih keduamya nanti malah aku jadi tidak fokus dan bahkan
akan ngehancurin semuanya itu. Aku taku orang mengecewakan orang yang sudah percaya
sama aku Del. ‘’
‘’
Iya juga sih. Kenapa kamu nggak motong diri jadi dua gitu biar bisa ikut
semuanya. Hehe. ‘’
‘’
Ya kalau bisa mah udah aku lakuin dari dulu. ‘’
‘’
Ayahmu udah tau hal ini ? ‘’
‘’
Belum yang aku ikut lomba musikalisasi puisi itu. ‘’
‘’
Kalau Ayahmu tau gimana ? ‘’
‘’
Ya mungkin aku malah disuruh fokus yang lomba olimpiade matematika saja.
Lagipula Ayah nggak begitu suka sama yang namanya puisi. Katanya terlalu lebay
gitu. Padahal kan aku suka banget. ‘’
‘’
Hm, rumit juga ya ngambil keputusan ini. ‘’
‘’
Eh, kamu kesini memangnya mau ngapain ? ‘’
‘’
Aku mau nitip kado buat Anis karna aku nggak bisa dateng nanti. ‘’
‘’
Kalau gitu ayuk ke kamarku dulu bantu aku buat bungkus kadoku nanti. ‘’
Safa
__ADS_1
dan Adel pun melangkah menuju kamarnya Safa. Dibukanya pintu kamar tersebut dan
ternyata Adel terpana dengan hiasan dinding kamar Safa yang banyak dreamcatcher
yaitu sebuah benda yang kata orang – orang bisa menjadi penangkal mimpi buruk.
‘’
Wah ternyata kamu penyuka dreamcatcher yak. ‘’
‘’
Hehe nggak juga sih. Ini kado Anis disetiap ulang tahunku itu. Tapi yang tahun
kemarin Anis nggak ngasih kado lagi. ‘’
‘’
Loh memangnya kenapa ? ‘’
‘’
Paling dia lupa atau sibuk dengan urusannya yang lain. ‘’
‘’
Kata orang dreamcatcher itu buat penangkal mimpi buruk yak. ‘’
‘’
Aku sih nggak percaya gituan Del. Tapi Anis percaya, dulu aku sering mimpi
buruk sampai sering mengigau segala, alhasil Anis beliin aku dreamcatcher buat
penangkal impi buruk itu. ‘’
‘’
Trus kamu nggak mimpi buruk lagi ? ‘’
‘’
Ya nggak. Tetep aja sih. Tapi aku menghargai pendapat Anis soal itu. ‘’
‘’
Aku tau kalau itu namanya dreamcatcher dari film korea The Heirs itu loh. ‘’
‘’
Hehe aku nggak tau film itu Del. ‘’
‘’
Ternyata kudetmu udah kebangetan juga yak. ‘’
‘’
Hehe ya beginilah aku. Nonton TV aja aku jarang banget. ‘’
‘’
Trus kegiatanmu dirumah ngapain oy. ‘’
‘’
Ya gni – gini aja lah. ‘’
‘’
Iya iya terserahmu deh. Trus kadomu buat Anis apaan ? ‘’
Safa
pun mengeluarkan dreamcatcher berwarna pink dengan bentuk yang berbeda dengan
yang ada di kamar Safa. Dreamcatcher itu terdapat seperti kulit kerang yang
berwarna merah berbeda dengan warna bulunya. Dreamcatcher yersebut lumayan
besar daripada yang ada di dalam kamar Safa.
‘’
Wih bagus banget, tapi kok kayaknya beda yak. ‘’
‘’
Iya ini dreamcatcher nya yang bisa ngluarin suara pas kena hembusan angin. ‘’
‘’
Wih keren banget. ‘’
‘’
Ya udah ayuk bantu aku bungkus kadonya. Aku nggak begitu bisa buat bungkus kado
ini. ‘’
Adel
pun membantu Safa membungkus kado yang akan diberikan Safa buat Anis nanti
malam itu. Tak lama kemudian kado sudah terbungkus rapi. Setelah itu, Adel pamit pulang dan beranjak pergi dari rumah
Safa. Safa yang terdiam didepan rumah terus memikirkan masalah yang dihadapinya
saat itu. Lalu ia menuju kekamar dan membuka buku puisinya itu. Mulailah ia
menulis apa yang dirasakannya saat itu.
Tentang
Bimbang
Dirimu merumitkan otakku
Mengapa harus diantara dua hal?
Aku lemah akan hal itu
Otakku seakan berputar kearah yang berbeda
Bisakah kau menyingkir dari pandanganku
Bukan ku tak mau mengenalmu
Namun aku takut akan kehadiranmu
Dimana hal yang itu susah bagiku
Mohon pergilah! Pergilah!
__ADS_1