
"Minum dulu, Bu!" Raditya memberikan secangkir teh hangat untuk Rayya agar dia sedikit tenang. Raditya paham, meski dendamnya sudah terbalaskan tetapi belum mampu membuat Rayya tenang. Mungkin lega karena Reza sudah diurus pihak yang berwajib. Namun, Masib ada PR untuk mengembalikan kembali perusahaan sang Papah setelah keuangan morat-marit.
"Jangan terlalu dipikirkan, nanti Ibu bisa sakit. Jalani dan syukuri pencapaian hari ini. Saya siap membantu Ibu untuk mengembalikan kembali perusahaan Pak Tio."
Rayya tertegun mendengar ucapan Raditya. Pria itu sangat baik sekali, dan ingin terus membantunya. Rayya sampai malu jika mengingat tempo hari memaksa pria itu untuk menghamilinya. Sesuatu yang murah andai ada orang tau akan kelakuannya.
"Terimakasih kamu mau membantu saya. Saya berhutang budi dengan kamu. Saya pun tidak menyangka kamu bisa membantu saya sampai hal serumit ini." Rayya memajukan tubuhnya dan bersedekap di atas meja. Ada hal yang ingin ia tanyakan pada Raditya.
"Pak Radit, bagaimana anda bisa mengenal Nora? Sedangkan dengan saya saja anda baru kenal."
"Nora adalah sepupu saya, maaf jika dia telah membuat ibu kecewa. Atas nama keluarga, sekali lagi saya minta maaf. Tapi sebenarnya Nora perempuan baik, hanya saja sejak lulus SMA kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Itu yang membuat Nora menjadi tertekan dan mulai masuk pergaulan bebas. Sampai dimana dia menjadi selingkuhan dan menjadi istri kedua dari mantan suami Ibu."
Untuk yang kesekian kalinya Rayya tertegun mendengar ucapan Raditya. Terlebih suatu kebetulan yang tak terduga. Ternyata perempuan yang menjadi selingkuhan suaminya adalah sepupu dari pria yang tempo hari akan dia minta untuk menghamilnya.
Rayya menggelengkan kepala, andai Raditya tidak kuat iman dan mengiyakan. Akan jadi apa nasib dan keluarganya. Dia akan memiliki anak dari sepupu madunya. Sontak Rayya bergidik ngeri, beruntung Raditya tak segila Nora.
"Bu Rayya."
"Eh iya Pak Radit, maaf. Untuk Nora, saya sudah memaafkannya. Apalagi secara tidak langsung dia pun telah membantu saya lepas dari Mas Reza. Meskipun hati saya pernah sakit hati karena dia. Semoga hidupnya lebih baik lagi dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Terutama dengan saya!" Rayya kembali meminum teh hangatnya. Menikmati kehangatan yang sampai di tenggorokan dan dada.
"Memang sudah mantap?"
Uhuk
Uhuk
Uhuk
"Pelan-pelan, Bu!" ucap Raditya dengan tatapan kekhawatiran.
__ADS_1
Wajah Rayya merona, sekilas dia menatap Raditya dan meraih gelas air mineral. Pertanyaan Raditya membuatnya mengingat akan dirinya yang pernah mengatakan jika mau menjadi istri dari pria itu. Padahal saat ini semua sudah berubah. Kehamilannya sudah bukan lagi yang utama untuk membuktikan.
Rayya berpikir ingin memulihkan dulu hati yang sakit. Meski tak menutup hatinya dan lebih memasrahkan diri pada yang lebih berhak atas dirinya, karena pengalaman membuatnya belajar. Jika apa yang ia inginkan belum tentu terbaik di mata Tuhan terlebih telah mengecewakan orang tua. Dia lebih ingin pasrah dan menjalaninya dengan apa adanya. Namun, jika kedua orang tuanya sudah setuju maka dia akan menurut.
Rayya kembali mengangkat kepalanya setelah berhasil menormalkan kembali dirinya. Rayya berdehem sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Raditya.
"Bagaimana jika saya berubah pikiran? Jujur setelah ini saya masih ingin memperbaiki semua keonaran yang Mas Reza lakukan. Memperbaiki semua kesalahan yang mas Reza perbuat. Lalu menyembuhkan sakit hati saya yang masih terlikta. Dan untuk permintaan kemarin itu karena hati tertutup dendam," jelas Rayya. Dia berharap Raditya bisa paham dan mengerti akan kondisi saat ini.
"Tidak mengapa karena semua memang butuh waktu. Asal jangan membuka hati lagi untuk yang lain," sahut Raditya kemudian beranjak dari duduknya dan segera keluar dari sana.
"Bagaimana jika saya tetap menolak anda?" tanya Rayya
"Tidak ada penolakan lagi setelah yang pertama saya sudah mengikhlaskan tapi ternyata tak sesuai harapan," tegas Raditya membuat Rayya mengerutkan kening.
Sampai jam pulang kantor Rayya tak kunjung keluar ruangan. Dia bertekad untuk menyelesaikan masalah yang ada di kantor sang Papah sedangkan Raditya dia tugaskan menghendle pekerjaan di kantor Mamah Ceri untuk menggantikannya.
"Aku harus mendapatkan perusahaan yang mau membantu memberikan 30% sahamnya agar perusahaan ini masih tetap berdiri. Tapi siapa? Sedangkan perusahaan Weda sudah memiliki image tidak baik. Andaipun ada aku tidak yakin perusahaan itu benar-benar mau bekerjasama."
Ketukan pintu dari luar membuatnya mengangkat kepala. Pak Prio masuk kemudian duduk berseberangan dengannya.
"Tidak makan dari pagi, bagaimana jika sakit? Dan ini juga sudah jam pulang kantor, pulanglah Nak! Jangan memaksakan diri, masih ada hari esok. Kamu pun harus mengistirahatkan tubuh dan pikiranmu!" ucap beliau dengan menatap iba.
Beliau tak menyangka nasib Rayya sedemikian sulitnya. Ada rasa bersalah dengan mendiang Kakek Rayya. Namun, semua sudah terjadi. Kini saatnya beliau membantu sebisa mungkin.
"Iya Kek, Kakek duluan saja. Sebentar lagi Rayya pulang. Terimakasih telah mendampingi dan membantu Rayya," lirih Rayya dengan mata berkaca-kaca.
"Iya Nak, sudah menjadi tugas Kekek. Ya sudah Kakek pulang duluan ya!" pamit Kakek kemudian meninggalkan Rayya yang terdiam di tempat. Wanita itu menghela nafas berat sebelum akhirnya membereskan mejanya.
Pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka membuat Rayya menghentikan pergerakannya. Dia menoleh ke arah pintu. Rayya pikir Pak Prio yang kembali masuk tetapi seseorang yang belum siap Rayya temui saat ini.
__ADS_1
Rayya terdiam sejenak, dadanya mendadak sesak melihat seseorang
masuk dengan tatapan sendu. Ingin rasanya Rayya menjerit dan memohon ampun, tetapi lidahnya seakan kelu hanya untuk mengungkapkan permintaan maaf untuk beliau.
"Papah..."
"Papah hiks...hiks...hiks ..."
Rayya berlari memeluk sang Papah. Air matanya tumpah dengan Isak tangis yang terdengar menyakitkan. Pria yang tak ada hubungan darah tetapi sangat menyayangi dan merawatnya dari bayi telah ia kecewakan. Kini beliau hanya bisa diam menatap putrinya kepayahan dan menyesal karena tidak bisa tegas.
"Maafin Papah..."
Dengan cepat Rayya menggelengkan kapala. Dia merenggangkan pelukannya menatap wajah sang Papah yang sudah meneteskan air mata di wajah yang sudah semakin tua.
"Rayya yang salah, hiks ...Rayya yang harusnya minta maaf. Maafin Rayya Papah, maaf tak mendengarkan ucapan Papah hiks...Hiks..."
Papah Tio kembali memeluk putrinya. Sebesar apapun kekecewaan yang beliau rasakan tak sebanding rasa penyesalan karena gagal melindungi putrinya dari pria lain. Kehancuran anaknya adalah kehancuran dirinya juga. Meski tak sedarah tapi anak tetaplah anak. Intan permata yang selalu akan dijaga sampai ia menutup mata.
"Papah maafin kamu, Nak!" lirih Papah dengan suara menahan Isak tangis.
"Maaf telah membuat Papah sedih, Rayya janji akan memperbaiki ini semua Pah. Hiks...Hiks... Rayya janji, dan Rayya tidak akan melawan Papah lagi."
Papah Tio mengukir senyum, di balik wajah sendu dan pipi yang masih basah. Beliau mengusap lembut air mata Rayya dengan menggelengkan kepala.
"Jangan kamu pikirkan perusahaan ini, ini hanya titipan. Tidak sepenting hati dan diri kamu yang hancur, Nak. Jika memang rejeki, perusahaan ini akan bangkit kembali. Namun, jika belum berarti belum milik."
Rayya semakin terisak mendengar ucapan sang Papah. Dia kembali memeluk Papah dengan rasa bersalah yang mendalam.
...****************...
__ADS_1
Di Bab ini, kalian sedih tidak? Aku sampai menahan sesak menulisnya. Jujur aku nangisππ
Jangan lupa like, coment dan vote ya. Terimakasih πππ€π€