Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL

Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL
Bab 45


__ADS_3

Senyum calon Mamah dan Papah terlihat jelas saat keduanya menatap layar yang memperlihatkan bayi mungil bergerak dengan kaki tangan yang sudah lengkap. Begitu bahagianya pasutri ini. Terlebih Rayya yang terharu hingga menitikkan air mata.


"Sehat ya Pak, Bu, baby gemoy sebentar lagi akan launcing."


"Masih lama Dok, masih lima bulan lagi. Padahal sudah tidak sabar menyambutnya," sahut Rayya yang kemudian turun dari atas brangkar dengan dibantu oleh Raditya. Keduanya duduk kembali di kursi mendengarkan arahan dari Bu Dokter.


"Tidak akan terasa lama jika Ibunya nyaman dan selalu happy. Apa lagi kalau Papahnya support, memberi perhatian-perhatian dan pengertian. Sudah pasti semua akan dijalani dengan mudah."


"Alhamdulillah suami saya, good father." Rayya tertawa menatap wajah Raditya yang bersemu saat dirinya sengaja menggoda.


Sepulangnya dari sana, seperti biasa mereka akan belanja bulanan, makanan, jajanan, serta susu hamil. Kegiatan Rayya pun tak berbeda dengan kebiasaannya. Hanya saja semakin perutnya membesar Rayya dianjurkan untuk mengikuti senam.


Raditya pun semakin sibuk dalam bekerja hingga pulang larut. Dia sengaja menyelesaikan semua pekerjaan yang sekiranya bisa cepat selesai agar saat Rayya melahirkan, dia bisa fokus dulu menemani sang istri.


Kehidupan keduanya pun semakin dipenuhi dengan bunga-bunga bertebaran dimana-mana. Hati mereka semakin dipenuhi cinta yang semakin hari semakin mendalam.


Hingga acara tujuh bulan kandungan Rayya yang digelar dikediaman keduanya menampilkan pasangan romantis ini disetiap moment. Disana ada Rayya, disitu ada Raditnya. Sampai semua koleksi foto selalu ada mereka berdua.


"Sayang, jangan banyak-banyak makan nasinya. Ingat dokter sudah melarang makan banyak-banyak nasi karena baby kita sudah gemoy sekali."


"Tapi aku laper, Mas. Masa nggak boleh makan. Kamu tega sekali, lihat badanku kecil begini." Tubuh Rayya memang masih seperti dulu. Tidak berubah membesar, hanya saja bobot putri mereka sudah semakin besar jika diukur dengan usia kandungannya.


"Ya sudah, tetapi jangan banyak-banyak ya!"


Acara yang dihadiri oleh banyak kerabat dan keluarga yang datang membuat Bumil itu semakin lupa dengan persyaratan yang diberikan oleh suaminya. Makan tanpa jeda karena asyik mengobrol dengan adik serta Kakak iparnya.


Malam berganti, hari-hari pun begitu cepat berlalu sampai tak terasa jika kandungan Rayya sudah membesar dan memasuki bulannya. Raditya pun sudah siap siaga kapan hari sang istri melahirkan. Dia begitu antusias dan tak lupa mendekor kamar putrinya dengan warna-warna soft. Pink, ungu muda dan biru langit menjadi satu kesatuan yang cantik.

__ADS_1


"Sudah Mas, istirahat dulu! Itu badan kamu sudah penuh cat begitu."


"Kucingnya belum jadi Sayang," sahut Raditya. Ya, Raditya tengah menggambar kepala kucing lucu di dinding kamar putrinya.


"Itu Hello Kitty Mas, bukan kucing. Eh ada Doraemon juga, kok jadi banyak kepala kucing disini Mas? Awas saja kalau ada kepala Tom juga. Aku nggak mau!"


"Nggak dong Sayang, kamu nich. Tom kan laki-laki."


"Memang Doraemon itu cewek?" tanya Rayya dengan mengerutkan keningnya.


"Coba besok aku cek dulu ya, tapi gimana kalau sudah terlanjur begini? Habisnya lucu Sayang."


"Sebisa Mas saja dech, mau dipenuhi dengan kepala kucing juga nggak apa-apa. Asal jangan yang garong aja!" celetuk Rayya.


Pagi ini Rayya merasakan tubuhnya terasa aneh. Setelah sholat subuh, pinggangnya terasa sakit. Belum lagi dia yang mondar mandir masuk kamar mandi. Sungguh ujian sekali.


"Kamu kenapa Sayang? Kok aku lihat bolak balik kamar mandi terus?"


Raditya tidak langsung menjawab. Dia melihat perubahan tubuh Rayya yang sedikit membesar dengan perut yang terlihat maju dan lebar sekali. MasyaAllah, rasanya Raditnya tidak tega jika melihat Rayya berjalan tetapi entah kuat atau tidak mengangkat tubuh sang istri yang sudah mencapai 60kg.


"Mas!"


"Eh iya Sayang, aku kuat kok. Bisa-bisa!"


Wajah Rayya seketika merona. Bukan marah tepatnya ia menahan kesal. Mana tubuhnya lagi tidak enak sekali. Menahan rasa yang sulit didefinisikan tetapi suaminya malah memikirkan berat tubuhnya yang sudah semakin bertambah. Sungguh membuatnya ingin bercuap-cuap emosi.


"Eh nggak kok Sayang. Mas tidak memikirkan apapun Sayangku," ucap Raditya dengan lembut. Merayu Rayya agar tidak merajuk. Namun, sudah kadung ngambek hingga dia tiba-tiba diusir dari kamar.

__ADS_1


"Mending kamu keluar aja dech Mas, duh aku ingin mencakar kamu jadinya." Rasa yang tadi tak terlalu sering ia rasakan. Kini malah semakin terasa di bawah perut hingga membuat wajahnya berubah menjadi pucat.


"Tapi kamu kok seperti sedang menahan sesuatu, Sayang? Mau ke kamar mandi? Mau buang air besar apa gimana, Sayang?"


"Aduh Mas, perut aku. Huh...Huh...Huh..."


Tanpa banyak bertanya lagi Raditya segera mengangkat tubuh Rayya. Pelan terasa berat, sekali hentak takut Rayya dan bayinya tersentak. Akhirnya dengan kekuatan empat lima dan kekuatan mendalam dari jiwa raga Raditnya mampu mengangkat tubuh sang istri dan menuruni tangga menuju mobil.


"Sakit Mas, astaghfirullah ya Allah..."


"Sabar Sayang! Aku ngebut nich." Raditya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tak peduli dikejar polisi karena memasuki jalur Busway. Yang terpenting saat ini Rayya bisa cepat ditangani dokter. Namun, agaknya sang bayi sudah tak sabar ingin keluar. Kedua mata Raditya membola saat melihat sang istri yang tiba-tiba mengeluarkan cairan bening hingga membuka kain segitiga karena tidak nyaman basah.


"Mas mulas sekali, ini ketubannya sudah pecah Mas. Ya Allah kenapa berasa jauh sekali rumah sakitnya? Apa pindah itu gedung, Mas?"


"Sabar Sayang! Itu ada busway berhenti di halte. Sabar ya, sebentar lagi aku akan tancap gas. Pegangan Sayang!"


"Aaagghhh Mas!" Bukan berpegangan Rayya justru berteriak dan sedikit mengejan disusul dengan suara bayi yang menangis.


Raditya hampir saja menabrak pembatas jalan saat melihat bayinya keluar begitu saja. Bahkan kini Rayya sedang kesulitan menahan bayinya agar tidak terjatuh.


"Mas, anak kita..."


"Sayang, ini kita masih berada di jalan loh. Rumah sakitnya belum pindah, kenapa kamu sudah lahiran?"


"Mas kamu jangan bercanda! Ini gimana?"


"Ada polisi Sayang, kita harus segera melarikan diri!"

__ADS_1


Rayya menghela nafas berat, rasa sakit sudah hilang kini malah berganti dengan kepanikan. Sungguh membuat gelisah. Ini kelahiran yang luar biasa. Rasanya Rayya sudah lemas hingga mendekap bayinya saja serasa gemetaran.


Raditya menepikan mobilnya dan meminta team medis untuk membantu sang istri. Buru-buru semua dikerahkan hingga kini Rayya dan bayinya dibawa ke UGD untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara Raditya sedang berurusan dengan polisi karena terkena pelanggaran.


__ADS_2