
Persidangan berjalan cukup alot, karena Reza dan Ibu Hanum terus mengelak dan menyerang Rayya balik atas kasus dana perusahaan yang habis diambil olehnya. Ibu dan anak itu tampak kompak menuduh Rayya boros dan selalu meminta uang yang besar untuk mencukupi kehidupanya yang mewah. Hingga membuat Reza harus melakukan tindak korupsi demi mencukupi kebutuhan sang istri.
"Bagaimana mungkin saya bertindak demikian? Anda yakin uang itu habis dengan saya? Jika itu tidak benar, maka saya akan pastikan kamu lebih lama lagi mendekam di penjara!" ucap Rayya tegas. Lagi-lagi Raditya membawa bukti yang sangat Rayya butuhkan. Entah dia dapat dari mana, sedangkan sebelumnya belum ada pembahasan. Rayya pun tidak memintanya untuk datang ke pengadilan tetapi pria itu dengan sukarela datang mendampingi dan membantu.
"Apa?" tanya Rayya lirih.
"Kasih saja, semoga ini bisa membantu anda," jawab Raditya dengan berbisik.
Lagi dan lagi Reza menatap sengit pria yang mendekati Rayya. Mulai curiga dengan gerak gerik dan apa yang Raditya berikan karena pada kasus sebelumnya pria itu yang membuatnya kalah. Reza mengepalkan kedua tangannya melihat kedekatan Rayya dan pria itu. Interaksi sederhana yang membuat hatinya meradang.
Rayya tercengang melihat berkas yang Raditya berikan. Perlahan dia menoleh ke arah Radit dengan mengingat kembali data-data pribadinya yang masih aman bersamanya. Lalu bagaimana bisa pria itu mendapatkan transaksi beberapa rekening miliknya selama menikah dengan Reza. Data keluar masuk dana yang berlangsung selama dua tahun.
Tindakannya tak terbaca, kalem tetapi begitu tepat sasaran. Itulah Raditya, asisten yang ia minta dari sang Mamah. "Siapa dia sebenarnya?"
"Eheeem... Bukan saatnya anda memperhatikan saya, Bu Rayya! Kini kesaksian dari anda tengah ditunggu pihak pengadilan," ucap Raditya mengingatkan.
Mata Rayya berulang kali mengerjab, dia menghela nafas berat menahan malu saat kepergok memperhatikan wajah Raditya, kemudian kembali memfokuskan diri pada persidangan.
__ADS_1
"Disini, ada bukti dana yang selama ini saya terima sejak awal saya menikah dengan saudara Reza. Bukan hanya satu bank, tapi ada tiga bank yang bisa membuktikan berapa saja uang yang masuk dari rekening beliau. Belum pernah dia memberikan jatah bulanan lebih dari tiga juta. Sedangkan kebutuhan terus bertambah, apa lagi semenjak mertua saya ikut hadir di tengah-tengah keluarga kami. Saya selalu mencukupi kebutuhan rumah tangga dengan mengambil uang tabungan pribadi saya yang terkumpul sejak masih lajang."
"Itu tidak benar, mana ada istri CEO hanya mendapatkan jatah tiga juga perbulan? Saya tidak terima, kamu menuduh anak saya pelit!" sentak Ibu Hanum menyepak kesaksian Aretha.
Suasa mendadak panas, sedangkan Reza menundukkan kepala dengan mengingat kembali semuanya. Dia mengeratkan rahangnya, melirik Radit yang nampak kalem dengan wajah ramah menatap lurus kedepan.
Hakim mengetuk palu meminta Ibu Hanum untuk tenang. Hingga suasana yang sempat riuh karena suara-suara yang membicarakan mereka, kini kembali hening.
"Silahkan di lanjut Ibu Rayya!"
"Baik Pak," jawab Rayya kemudian menoleh ke arah Ibu Hanum. "Betul sekali Ibu Hanum, Mas Reza memang tidak pelit tetapi itu pada Ibunya, tidak dengan saya yang begitu perhitungan. Beliau lebih mementingkan kebutuhan Ibu, dari biaya arisan, jalan-jalan, belanja, dan mendukung Ibunya bersenang-senang dengan teman sosialitanya. Dia tidak memikirkan kabutuhan rumah tangga yang sebulan bisa menghabiskan biaya setara sekali uang yang diberikan pada Ibu mertua saya untuk arisan."
"Lagi pula, saya terlahir dari orang kaya. Dibesarkan dilingkungan berada, dan memiliki segalanya. Bukan orang kaya baru yang begitu nafsu saat uang menutupi dunianya! Begitu menggebu saat tau uang bisa membuatnya mendapatkan segalanya. Sampai gelap mata dan menjadikannya serakah. Saya pun tidak dididik sebagai maling, dan meminta suami saya untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Justru semenjak saya menikah dengan saudara Reza, saya belajar sabar dan mengatur jatah bulanan agar cukup tanpa kembali meminta dan berujung dihina."
Wajah Rayya merona, sikapnya tegas tetapi tidak dengan hatinya yang kembali terluka. Apa yang ia utarakan sama saja memutar kembali ingatan akan hidupnya yang begitu banyak ujian saat bersama dengan Reza. Menekan sabar dan menelan pil pahit rumah tangga yang hanya manis di awal. Mungkin ini mengapa tidak dibenarkan orang tua ikut tinggal bersama, karena rumah tangga hanya ada satu ratu yang berperan, bukan dua apa lagi tiga.
Wajah Rayya merona, dadanya sesak dan hampir saja air matanya jatuh. Raditya yang melihat kondisi Rayya yang tak baik-baik saja segera berdiri dan meminta diberi waktu wanita itu menenangkan pikiran dan kondisinya yang terlihat sangat tertekan.
__ADS_1
Papah Tio yang mengerti Raditya tak akan menyentuh Rayya, segera beranjak mendekati putrinya dan membantu Rayya untuk kembali duduk di sebelah sang istri. Sementara Raditya memberikan bukti dan berbicara sebentar pada hakim dan jaksa setelah itu segera kembali ke kursinya.
Reza semakin terdesak, hingga keputusan hakim pun jatuh membuat Ibu Hanum terduduk lemas dan menangis terisak. Sementara Reza menundukkan kepalanya menahan malu, marah, dan air mata. Entah air mata penyesalan atau air mata kekesalan.
Retha bernafas lega mendengar keputusan hakim yang memberikan hukuman penjara lima belas tahun dengan denda sebesar 450 juta. Rayya menatap nanar wajah pria yang sudah dua tahun lebih hidup bersamanya. Orang yang ia sayang dan cinta tetapi tega menyiakan dan ternyata bertindak kriminal.
Rayya menatap iba Ibu Hanum yang begitu histeris saat putranya dibawa oleh pihak berwajib ke dalam sel tahanan. Beliau begitu sedih karena tak bisa membela putranya dan menyesal telah meminta banyak uang tanpa berpikir panjang.
"Sudah lebih baik? Ayo kita pulang!" ajak Mamah Ceri membuat tubuh Rayya tersentak.
"Aku baik-baik saja, Mah. Sudah lega dan lebih tenang. Mah, Mamah punya hutang penjelasan sama aku. Aku kok curiga kalau Raditya bukan orang sembarangan. Sudah berulang kali dia membantu aku tanpa aku tau dari mana ia mendapatkan semua bukti-bukti yang aku butuhkan."
"Kamu ini, masih saja penasaran dengan asisten kamu sendiri. Dia kan dekat dengan kamu, kenapa tidak bertanya saja sendiri pada orangnya?"
"Dia terlalu menjaga jarak Mah, dan sulit di ajak ghibah. Melihat Rayya saja dia enggan," sahut Rayya mengundang gelak tawa dari sang Mamah. Kini keduanya melangkah keluar ruangan pengadilan mengikuti sang Papah dan Raditya yang sudah keluar lebih dulu.
"Bagus donk, berarti akhlaknya baik."
__ADS_1
"Iya, tapi buat aku geregetan!" sahut Rayya lagi dengan bibir mengerucut. Keduanya berjalan santai hingga tiba-tiba Rayya mendapatkan serangan yang membuatnya jatuh ke lantai.