Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL

Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL
Bab 32


__ADS_3

Rayya berulangkali memukul dada Raditya tanpa pria itu menghindar. Radit membiarkan Rayya meluapkan kekesalannya karena merasa dibohongi. Lebih tepatnya Radit tidak jujur jika dirinya lah yang membantu. Radit bak penyelamat, dia ksatria yang datang disaat Rayya tak berdaya. Namun, ketidak jujurannya membuat Rayya kesal.


"Kakak ngeselin! Kakak kenapa tidak jujur saja? Kakak kenapa begitu sama Rayya? Kakak mau jadi ksatria baja hitam yang membantu diam-diam? Rayya nggak suka, Kakak menyebalkan sekali! Bahkan Kakak membiarkan Rayya kebingungan, nervous, menghadapi CEO Sana Company yang sok sibuk itu. Jika Rayya tau itu Kakak. Sudah Rayya ajak ngopi bareng dari pada bikin orang ketar ketir tiap kali ingin meeting!" Rayya meluapkan semua unek-unek di hatinya. Dia masih tak habis pikir Raditya bisa melakukan itu semua padanya.


"Maaf Rayya, maaf! Kakak hanya ingin membantu dan takut kamu minder jika tau Kakak yang menolongnya, sedangkan kamu belum tau Kakak sebenarnya. Otomatis kamu akan menolak jika kamu tau asisten kamu yang membantu semuanya. Rayya yang kemarin itu gengsinya cukup besar. Mengalahkan langit sebelum tau siapa Raditya."


Rayya menghela nafas kasar, dia bersedekap dada dengan wajah ditekuk. Rayya akui sebelumnya memang ia sempat angkuh. Mungkin itu efek terbelenggu dendam masa lalu dan sakit hatinya tak ingin terlihat lemah.


Raditya melirik asisten Yogi, meminta beliau untuk keluar sebentar karena akan ada yang ingin dibicarakan oleh Rayya.


"Baik Bos, pintu saya buka sedikit."


"Hhmm..."


"Rayya, besok aku akan membawa keluargaku datang ke rumahmu. Persiapkan dirimu untuk menerima kesungguhan hatiku. Bagaimana, apa sudah ada lampu hijau? Atau Kakak harus berhenti sebelum besok datang?" tanya Raditya yang mendadak serius. Jarak di antara keduanya tak terlalu jauh tapi Raditya masih bisa menjaga pandangannya meski godaan begitu besar.


Rayya yang masih sedikit kesal mendadak terdiam mencerna apa yang Raditya katakan. Dia tau pertanyaan ini pasti akan datang dan dia sudah memiliki jawaban atas semua keraguannya.


Setelah semalam meminta petunjuk dan melangitkan keluh kesah serta keraguan yang ada, Rayya mendapatkan apa yang ia inginkan. Allah memberi petunjuk atas apa yang membuat hatinya gamang.


Rayya menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Raditya. Dia menetralkan degup jantungnya yang tiba-tiba menjadi hingga membuat Rayya mengigit bibir bawahnya.


"Apa Kakak mau terima apapun keputusan Rayya, sekalipun itu penolakan?" lirih Rayya dengan hati-hati.

__ADS_1


Helaan nafas berat dari Raditya mulai terdengar, dan itu membuat Rayya memejamkan matanya dengan kuat. Bukan ingin mematahkan, hanya saja Rayya ingin tau bagaimana kesiapan hati pria itu andai ia menolak dan kembali membuat kecewa.


"Jika usahaku, penantianku dan doaku belum bisa menyatukan kita. Aku yakin Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik dari rencanaku."


Jawaban Raditya membuat Rayya semakin menggigit bibir bawahnya. Dia menarik dalam nafasnya lalu berbalik membelakangi Raditya, membuat pria itu menyimpulkan jika Rayya akan menolak niat baiknya.


Raditya tersenyum setelah menghela nafas berat. Tidak mengapa, mungkin takdirnya hanya untuk membantu bukan menjadi teman hidup. Dia dengan lapang dada menerima kenyataan pahit yang akan kembali ia dapatkan setelah hampir tiga tahun mengikhlaskan.


"Kakak keluar ya, maaf jika terkesan memaksa. Mungkin kita hanya ditakdirkan menjadi saudara dan partner kerja. Semoga kamu mendapatkan jalan yang terang dan dipertemukan imam yang bisa membimbingmu ke surga."


Dengan kalem dan tatapan teduh Raditya pemit. Sesuai dengan rencananya, setelah Rayya tau siapa dirinya yang sebenernya. Raditya akan kembali ke tempat asalnya. Ke Sana Company. Bukan untuk meninggalkan Rayya begitu saja. Dia masih terus membantu, tetapi karena semua sudah pulih. Maka tugasnya sebagai asisten sudah berakhir. Radit yakin kini Rayya sudah bisa kembali menghandle semuanya.


"Kak.." Seruan dari Rayya menghentikan langkah Raditya yang sudah akan mendekati pintu. Dia terdiam dengan tubuh tegapnya dan menunggu Rayya melanjutkan ucapannya.


Senyum kebahagiaan terbit di wajah Raditya. Dia mengusap wajahnya dengan melantunkan kalimat syukur karena Rayya memberikan lampu hijau. Wajahnya merona dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya selangkah lagi dia bisa meminang wanita pujaan hati. Waktu dan rasa kecewa yang sempat singgah kini menghasilkan sesuatu kebahagiaan. Asa mulai datang, memiliki keluarga utuh bersama Rayya.


Rayya melirik dan melihat ekspresi dari Raditya. Ada rasa haru saat melihat pria yang gagah dengan hati lembut hampir meneteskan air matanya yang mahal hanya untuk wanita seperti dirinya. Rayya bersyukur begitu sangat diinginkan. Sebentar lagi dia akan kembali mengabdi dan kembali melakukan perannya sebagai istri.


"Terimakasih telah menerima Kakak. Kakak kira kamu kembali tergoda dengan mantan suami setelah kemarin datang mengunjungi."


"Dia hanya masa lalu yang hanya singgah sesaat dan berlalu meninggal luka. Yang sekarang adalah masa depan yang aku harap bisa membimbingku ke surga."


"InsyaAllah Rayya, besok aku datang bersama keluargaku. Jangan lupa singgah di seperempat malam terakhir! Kita lantunkan doa sebelum menyatukan asa. Assalamualaikum calon istri."

__ADS_1


Rayya mengulum senyum mendengar kata lembut yang keluar dari bibir Raditya. Dia mengangguk dan membalas salam pria itu.


"Wa'allaikumsalam calon imam. Hati-hati di jalan!"


Ada perasaan lega yang singgah di hati kedua insan yang ingin menyatu dalam ikatan pernikahan. Malam ini pun Rayya kambali terbangun di jam tiga pagi. Dia kembali meminta dengan kerendahan hati semoga pernikahannya kali ini diberi keberkahan.


Begitupun dengan Raditya yang juga tengah menengadahkan kedua tangan dengan menggumamkan doa dan harapan. Keduanya berharap doa mereka dipersatukan dan lamaran hari ini berjalan dengan lancar.


BRAK


"Rayya," lirih Raditya sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.


Persiapan yang sudah sangat matang dengan keluarga dan sanak saudara yang datang mengiringi acara lamaran yang kan digelar, seketika kalut karena mobil yang dikendarai asisten Yogi mengalami kecelakaan. Entah apa yang terjadi dengan mobil tersebut, tetapi sebelumnya mobil itu malaju dengan kecepatan sedang cenderung cepat dan tiba-tiba oleng lalu menabrak pembatas jalan.


"Raditya!" Kakek Prio segera berlari tergopoh-gopoh mendekati mobil yang tak jauh dari mobil yang beliau tumpangi. Kakek Prio tercengang melihat kondisi Raditya yang sudah tak sadarkan diri dengan wajah yang bersimbah darah.


Suara dentuman sebelum terjadinya kecelakaan memang sangatlah kencang. Entah apa yang terjadi sebelumnya, tapi jika dilihat dari luka yang Raditya dan asisten Yogi alami dapat dipastikan jika mobil membanting stir dengan kekuatan yang besar.


Prang


Rayya terkesiap saat gelas yang ia ingin raih terjatuh ke lantai. Bahkan kini kakinya terkena pecahan gelas hingga mengeluarkan darah segar.


"Ya Allah sakitnya," keluh Rayya. Hatinya mendadak tak tenang. Jantung Rayya berdegup kencang hingga dia memutuskan untuk duduk kembali di kursi rias.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa dadaku terasa sakit?"


__ADS_2