Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL

Pembalasan Istri Yang Kau Anggap MANDUL
Bab 37


__ADS_3

Selepas kepergian Raditya, Rayya seperti tak memiliki lagi pijakan. Hatinya kosong tak bertuan. Andai hati bisa berbicara mungkin sudah menjerit kesakitan. Berkeluh kesah dengan meratapi kekecewaan. Sakit tetapi tak berbekas, itulah yang Raditya tinggalkan dihati Rayya.


Keseharian Rayya hanya berfokus pada pekerjaan. Rayya menjadi wanita yang gila kerja tak mengenal lelah dan penat, otaknya terus berkutat dengan banyaknya pekerjaan yang ia sendiri enggan meninggalkan.


Semua hanya pengalihan, dia tak ingin terus memikirkan sesuatu yang hanya meninggalkan asa tetapi lenyap seiring masa. Sudah hampir enam bulan senyum diwajah Rayya hanya sebatas ukiran semu. Menyejukkan hati kedua orang tuanya agar tidak kepikiran.


Kabar pria yang memenuhi hatinya pun tak kunjung datang. Entah masih bernyawa atau tidak. Rayya pasrah, ikhlas meski itu berat, takdir hidupnya memang harus sekejam ini. Namun, Rayya tak menyalahkan siapapun. Setiap akhir pekan ia ikut pengajian di pesantren milik keluarga dari Kakak iparnya. Mencari ketenangan dan kedamaian disana.


"Jika bahagiaku belum ingin singgah, aku sabar hingga takdir itu membawaku pada masa yang indah. Entah kamu atau yang lain. Rencanaku hanya angan. Harapanku hilang oleh kenyataan. Tak ada luka yang membekas, selain luka yang kamu torehkan di relung hatiku yang mendalam."


"Aku tak lagi menunggu, aku ikhlas melepasmu. Entah masih hidup atau sudah terkubur. Yang ingin kulakukan saat ini hanya kembali belajar berpijak tanpa bayang-bayang yang membuatku lemah."


Bulir air mata keluar dari pelupuk mata. Rayya tersenyum menatap langit senja. Langkahnya terhenti di atas hamparan pasir putih yang membentang luas. Tak ada kata lagi yang mampu mendefinisikan hati, karena kecewa telah ia lalui. Kini waktunya kembali dengan jiwa yang waras.


Rayya melangkah menjauh dan berharap sakitnya berlalu terbawa ombak. Pulang dengan senyum baru meski belum seceria dulu.


Malam ini Rayya kembali mendapatkan undangan makan malam dari salah satu klien perusahaan Mamahnya.


Gamis navy menjadi pilihan untuk datang ke acara yang sudah disiapkan oleh rekan bisninya. Meski sungkan karena hanya datang sendirian tetapi Rayya tak ingin mengecewakan.


"Kenapa tidak membuka lowongan untuk sekertaris atau asisten lagi, Sayang? Agar kamu ada yang menemani jika ada undangan seperti ini. Atau mau ditemani Mamah saja?" Tetiba perasaan Mamah tidak enak.

__ADS_1


"Mah, Rayya bukan anak TK yang pergi ke undangan diantar oleh Mamahnya. Lagian sudah terbiasa juga. Rayya baik-baik saja Mah, jangan khawatir! Sebelum larut aku sudah akan sampai di rumah."


Mamah Ceri mengantar Rayya sampai di halaman sedangkan Papah Tio hanya menggelengkan kepala melihat interaksi istri dan anaknya dari meja makan.


"Rayya berangkat ya, Mah." Rayya menyalami tangan Mamah dengan takjim. Dia mengendarai mobilnya menuju restoran mewah yang tak jauh dari kediamannya.


Senyuman dari seorang pria menyapa, beruntung ada sekertaris beliau yang ikut serta. Rayya enggan andai tak ada pihak ketiga yang hadir di antara mereka.


"Selamat malam, Bu Rayya."


"Malam Pak Leo." Rayya sedikit menyunggingkan senyum dengan kepala menunduk. Dia tidak terus menatap dengan intens, kemudian mengulurkan tangannya ke arah sekertaris cantik.


"Maaf jika saya terlambat, Pak." Rayya melirik kopi yang diminum pria itu tinggal setengah dan jus yang diminum sekertarisnya tersisa sedikit.


Rayya hanya tersenyum menanggapi apa yang diucapkan beliau. Tak menggubris tak juga memasukan ke hati. Rayya sadar jika beberapa bulan terakhir ini banyak yang mendekatinya. Dari mulai CEO hingga karyawan. Ada pula yang datang ingin mengkhitbah tetapi Rayya belum minat.


Jamuan pun di terima dengan baik oleh Rayya, makan malam berlangsung tanpa drama. Hanya percakapan ringan hingga makanan habis tak tersisa. Rayya melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan angka sebelas. Sudah waktunya pulang sebelum kedua orang tuanya mengkhawatirkan.


"Sepertinya sudah saatnya saya pamit Pak Leo, terima kasih atas jamuannya. Saya sangat berkesan," ucap Rayya tulus. Tak Rayya pungkiri jika Pak Leo memperlakukan dengan cukup baik dan sopan. Sekertarisnya pun ikut nimbrung mencairkan suasana.


"Sama-sama Bu Rayya, saya harap ada pertemuan selanjutnya. Entah di tempat yang sama atau di tempat lain. Yang tentunya bisa membuat kita semakin dekat."

__ADS_1


Rayya menganggukkan kepalanya, dia tersenyum mencerna setiap yang diucapkan oleh Pak Leo. Melihat Rayya yang diam pria itu pun hanya tersenyum kalem.


"Di habiskan dulu minumnya sebelum pulang Bu Rayya dan hati-hati di jalan!"


"Oh iya," jawab Rayya kembali meminum jus strawberry kesukaannya. Begitu pun pria yang ada dihadapannya dan juga sekertaris beliau. Namun, mata Rayya semakin berat dengan kepala berdenyut dan rasa tak nyaman di tubuhnya. Entah apa yang telah dia minum atau makan. Dirinya mendadak meriang.


"Kenapa Bu Rayya sepertinya anda sedang tidak baik-baik saja?" tanya Pak Leo yang sadar akan kondisi Rayya. Sedikit senyum terulas mulus tanpa ada yang tau. Sementara Rayya masih berusaha untuk menguatkan diri dan memutuskan untuk segera masuk mobil.


"Kenapa dengan tubuhku? Setelah kenyang mengapa begini? Apa aku alergi makanan? Sepertinya aku harus cepat-cepat ke rumah sakit terdekat. Ini tidak bisa aku biarkan."


Rayya menatap curiga dengan pria yang sejak tadi seakan menahannya untuk tidak buru-buru pulang. Dia menjaga jarak saat pria itu tetiba mendekat dan ingin menyentuhnya. Sebenarnya ingin membantu dirinya yang mulai oleng, tetapi Rayya cukup sadar diri akan batasan dan terus berusaha untuk sadar. Meskipun kepalanya sudah begitu berat.


"Bu Rayya, saya bantu ya Bu. Sepertinya Ibu tidak bisa pulang sendiri. Mari saya saja yang mengendarai mobil Ibu. Setelahnya saya akan naik taksi pulangnya," ucap sekertaris cantik yang membersamai mereka.


Mau tak mau Rayya menyetujuinya, sudah tak ada pilihan lain terlebih dia sudah ingin masuk ke dalam mobil dan membuka hijabnya karena begitu panas.


Rayya yang entah sadar atau tidak malah memasuki mobil Pak Leo, meninggalkan mobilnya dengan sekertaris cantik yang mengendarai. Tanpa Rayya tau Pak Leo menyusul duduk di jok belakang.


Entah apa niat Pak Leo, yang jelas Rayya sedang tak baik-baik saja.


"Bawa ke hotel tempat biasa, saya sudah tidak bisa menunggu lama!" titah Pak Leo kepada Sekertarisnya.

__ADS_1


Mendengar suara seorang pria, Rayya yang ingin membuka hijabnya kembali menutup kerudung bagian depan. Meski rasa tubuhnya sudah tak karuan tetapi otak Rayya sebisa mungkin masih berusaha tetap sadar.


Lenguhan tanpa sadar Rayya lontarkan saat tubuhnya semakin ingin menggeliat kuat. Mobilpun sudah sampai di pelataran hotel dan dengan sigap Pak Leo mengangkat tubuh Rayya untuk membawanya masuk.


__ADS_2